
"Apakah kamu sudah menyelesikan pekerjaan menyangkut mall baru kita Arga?" selidik Ayah yang baru ingat. Mengingat tadi beliau menyuruh Arga tinggal untuk menuntaskan pembahasan soal itu.
"Sudah Ayah...," jawab Arga paham.
"Bagus. Segera mungkin untuk bertemu orangtua Asha." Tuan Hendarto memberi ultimatum Arga untuk segera menemui orangtua Asha. Setelah Ayah berkata seperti itu, Arga meminta pamit.
Saat pintu ruang baca di buka, wajah cemas Paris menyambutnya di atas sofa ruang tengah. Segera meloncat dari sofa dan mendekati mereka berdua. Menanti berita dari Arga.
"Semua baik-baik saja," kata Arga yang langsung membuat Paris melonjak kegirangan. Lalu menghambur ke Asha dan memeluknya.
"Akhirnyaaaaa... Aku sangat cemas, Kaakkkk...." Paris memeluk erat tubuh Asha. Bibir Asha tersenyum sambil mengusap punggung Paris.
"Terima kasih. Kamu pasti berdoa untukku."
"Tentu saja," sahut Paris. Arga menghela napas.
"Berarti aku bisa mengajak Kak Asha kemana-mana tanpa ragu lagi."
"Hei... Asha tidak boleh kemana-mana sebelum mendapat ijin dariku," tukas Arga seraya menarik tubuh Paris dari tubuh Asha.
"Ih, mulai berlagak kakak ini," sungut Paris.
"Tidak peduli. Kalau Asha sudah menikah denganku, aku berhak memberi batasan padanya." Kali ini Arga menarik tubuh Asha agar mendekat padanya. Asha jadi tersipu.
***
Di dalam dapur, Bik Sumi resah menanti Asha yang tidak kunjung keluar dari ruang baca. Beliau sudah berpikir macam-macam. Namun setelah melihat Asha muncul di dapur bahkan bersama tuan muda, Bik Sumi lega. Asha segera mendatangi Bik Sumi dan memeluknya. Memberitahu semua baik-baik saja.
Arga duduk di kursi meja makan menyaksikan Bik sumi yang meneteskan airmata karena ikut merasa bahagia juga. Lalu membungkuk kepada tuan muda seraya mengucap terima kasih. Arga mengangguk. Saat kesempatan ini, Asha juga memberitahu perihal dia dan Arga yang harus menghadap orangtuanya.
"Jadi... kamu akan pulang kampung, Sha?" tanya Bik Sumi yang tiba-tiba menjadi sedih.
"Bik Sumi kok sedih, sih?"
"Tidak tahu. Bibik juga heran. Terlalu lama melihat tingkahmu di sini, membuat bibik ini kangen juga jika kamu tidak ada disini."
"Aku pasti kembali. Aku akan pulang kampung bersama Arga," bisik Asha. Mata Bik Sumi melebar.
"Benarkah?" tanya Bik Sumi terkejut.
"Aku terpaksa membawanya untuk bisa memperkenalkan Arga pada orangtuaku, Bi," bisik Asha. Bik Sumi mengangguk. Dahi Arga berkerut melihat Asha berbisik. Kepala Asha tiba-tiba terasa pusing. Sepertinya memang kelelahan karena kurang tidur. Bik Sumi memegangi pundak Asha. Namun saat melihat tuan muda mendekat, Bik Sumi menggeser tubuhnya.
"Kenapa, Sha? Kamu pusing lagi?" tanya Arga menahan bahu Asha. Lalu menyentuh kening dan memeriksa wajah Asha yang memang nampak pucat. Kepala Asha mengangguk. "Ayo, istirahat. Aku antar ke kamarmu." Arga membimbing tubuh itu menuju ke kamarnya. Bik Sumi tersenyum. Cemas tapi juga bahagia. Melihat tuan muda yang sangat perhatian seperti itu, Bik Sumi yakin Asha pasti akan di buat bahagia. Tidak perlu diragukan lagi.
Sesampai di kamar, Asha langsung merebah.
"Karena tadi terlalu memeras otak menghadapi ayah dan bunda, ya?" Anggukan kepala Asha yang menutup matanya dengan memijit pelan dahinya yang terasa pusing, membuat Arga merasa bersalah. Asha sempat frustasi. "Maaf, ya... Aku tidak cepat datang tadi." Tangan Arga menjulur menggantikan tangan Asha untuk memijit kepalanya.
"Itu salahku sendiri. Sengaja mendatangi beliau," sanggah Asha.
Arga mendekatkan wajahnya ke Asha dan berbisik, "Terima kasih sudah mau menerimaku dan berjuang..." Kemudian mendaratkan ciuman di pipi Asha.
__ADS_1
***
Satu hari setelah kejadian di ruang baca,
Mereka berniat mendatangi keluarga Asha hari ini, setelah Arga menyelesaikan pekerjaan di pagi hari. Jadi setelah jam makan siang, Asha dan Arga berangkat bersama.
Dengan mengendarai mobil milik Arga, mereka berdua berangkat ke kota kecil tempat Asha di lahirkan. Rendra di beri tanggung jawab menangani semua pekerjaan selama Arga bepergian menuntaskan misi. Namun ponsel Arga akan selalu on jika Rendra butuh nasehatnya.
Estimasi penyelesaian misi ini hanya satu hari. Jadi Arga tidak pergi lama. Tadi malam Asha bisa tidur dengan nyenyak. Bukan akibat rasa bahagia yang meluap, tapi karena obat yang sudah di berikan dokter. Dia sakit lagi.
"Tidurlah dulu. Apakah ini masih jauh?"
"Aku akan menyalakan map. Kamu akan sampai tanpa menunggu petunjukku," kata Asha sambil menyalakan handphonenya. Namun terdengar suara beep yang artinya baterai lemah. "Ponselku baterainya sedikit, hampir habis. Aku lupa mengisi karena tertidur nyenyak tadi malam."
"Pakai ponselku," kata Arga tanpa menoleh. Masih tetap melihat ke depan. Asha ragu. Selama ini dia tidak pernah sekalipun menyentuh ponsel itu. Dia merasa tidak berhak membuka ponsel itu. "Kenapa, Sha? Aku yakin baterainya penuh."
"Bukan. Aku belum pernah menyentuh handphone-mu."
"Kenapa? Kamu takut melihat hal-hal yang tidak ingin kamu lihat?" tanya Arga seperti paham apa yang ada di dalam benak perempuan muda ini. Asha mendengkus karena itu benar. "Kalau begitu kamu harus membuka handphone-ku sekarang, agar kamu tahu apa saja yang ada di sana. Kamu memang perlu tahu itu... Jangan berpikir panjang. Kita dalam perjalanan ini karena kita berdua akan jadi satu dalam sebuah ikatan suci. Kamu berhak atas itu." Arga tahu itu.
Lalu Asha menyentuh ponsel Arga.
"Handphone-mu terkunci." Asha menunjukkan layar ponsel yang ada pada posisi layar terkunci.
"Password-nya ulangtahunmu." Asha sedikit merasa takjub. Saat mengetikkan tanggal lahirnya, ponsel itu mulai terbuka. Arga benar-benar memakai tanggal ulangtahunnya sebagai password. "Semuanya selalu berkaitan denganmu, Sha," ujar Arga pelan sambil menoleh. "Semuanya berisi tentangmu." Ada rasa sejuk menyerbu rongga dadanya.
"Terima kasih...." Kalimat itu meluncur tanpa sadar. Semua itu karena rasa bersyukurnya.
"Terima kasih saja kalau kita sudah sah."
"Apa hubungannya...," gumam Asha sambil mencibir.
"Otakmu selalu mengarah ke sana."
"Memangnya kamu tidak?"
"Perempuan beda sama laki-laki."
"Untuk hal itu tidak ada yang beda. Perempuan dan laki-laki itu sama. Yang beda hanya cara menahannya saja.
"Tidak tahu," putus Asha menghentikan pembicaraan ini. Menyodorkan ponsel Arga setelah menyetel map. Arga terkekeh.
***
Perjalanan hanya membutuhkan waktu hampir satu jam. Tidak begitu jauh. Hanya saja karena belum pernah ke rumah Asha, Arga perlu melihat map berkali-kali. Asha masih tertidur lelap.
"Sha," panggil Arga lembut seraya menyentuh bahu perempuan muda ini. Asha menggeliat dan membuka mata. Bola mata itu melihat kekanan dan ke kiri. "Kita sudah sampai sesuai peta. Tapi aku tidak tahu rumah kamu yang mana," kata Arga sambil melihat ke sebuah gang besar. Asha hapal sekali daerah ini. Di sini tanah kelahirannya.
"Masuk lurus saja. Setelah perempatan jalan, belok kanan." Asha memberi petunjuk.
"Baiklah. Jangan tidur lagi, Sha. Tiba-tiba aku cemas." Arga menyuarakan keadaan hatinya.
"Oh, ya?" Asha tergelak. Tuan mudanya mendadak menjadi gugup.
"Orangtuaku tidak menakutkan. Tapi... mungkin kamu juga akan merasakan rasa yang sama, seperti yang aku rasakan. Meskipun dengan level ketakutan yang lebih rendah daripada aku." Asha paham tentang ini. Tangannya mengusap-usap lengan Arga. "Tenanglah... Kamu kan pernah bertemu dengan bapak."
__ADS_1
"Reaksi bapak bagaimana ya, Sha?" Arga mendadak jadi ciut juga.
"Pasti di terima. Bapak baik. Kamu tahu sendiri orangnya bagaimana."
"Aku belum pernah bertemu sama ibumu. Bagaimana respon beliau, ya?"
"Ibuku... sama seperti ibu yang lain. Banyak aturan, banyak hal yang di tentang. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Jangan di khawatirkan. Terpenting, kamu tampan, jadinya pasti di sambut dengan baik," jawab Asha mulai menggoda Arga.
"Kalau itu tidak di ragukan lagi," sahut Arga yakin dan percaya diri." Asha mencebik. Mereka sampai di perempatan jalan. Degup jantung Arga berdetak lebih keras.
"Aku lupa. Jam seperti ini ibu ada di warung di jalan besar tadi." Asha mendecak kesal.
"Aku harus putar balik?"
"Sepertinya iya...," ujar Asha menyesal. "Ah, tidak. Lurus saja. Nanti lewat jalan di sana. Jalanan disini bercabang dan bisa tembus ke jalan mana saja." Arga mengikuti intruksi yang di berikan Asha.
Mereka sampai di sebuah warung makan dengan luas 4x4 m2. Tidak begitu besar tapi terlihat ramai. Ada pabrik kacang kedelai edamame yang di ekspor ke Jepang di daerah ini. Banyak pekerja pabrik yang datang ke warung. Asha membuka pintu dan keluar dulu, kemudian Arga menyusul.
Arga baru sadar bahwa dia sedang berada di lokasi pembuatan Mall baru milik keluarganya. Lokasi itu sangat dekat dengan warung milik keluarga Asha. Mata Arga melihat ke seberang jalan. Dimana ada konstruksi bangunan yang sedang dalam tahap pembangunan. Matanya melebar. Arga tersenyum. Seperti mendapat kejutan kebahagiaan.
"Kenapa, Ga?" tanya Asha melihat Arga terdiam sambil melihat ke arah seberang jalan.
"Disana," tunjuk Arga dengan senyum. Asha mengikuti arah yang di tunjuk Arga. "Disana akan di bangun Mall baru milik keluargaku."
"Benarkah?" tanya Asha takjub. Dia juga seperti mendapat kejutan.
"Ini seperti takdir, Sha. Aku sengaja di bawa ke sini oleh angin takdir untuk lebih mendekat pada dirimu dan keluargamu. Aku memang di takdirkan untukmu, juga... kamu memang di takdirkan untukku. Kemanapun kamu berlari mungkin aku akan tetap menemukanmu." Mata Arga menatap Asha hangat.
"Aku memilih tidak lari."
"Benar. Kamu memilih maju dan menghadapi ketakutanmu dengan berani. Bagus Asha. Aku semakin mencintaimu...," ujar Arga membuat Asha merona.
"Sha...," tegur seorang ibu. Mungkin sekitar 50 tahun. Asha membalikkan tubuhnya. "Ternyata ini benar kamu, toh. Kamu pulang ke rumah, Sha?" Asha tersenyum dan menghampiri ibunya. Kemudian memeluk ibunya dengan erat. Merasa bersyukur sudah di lahirkan. "Kenapa kamu peluk-peluk begitu. Ada apa ini? Ibu curiga, kamu pasti..." Netra ibu menemukan Arga yang berdiri di belakang Asha.
Arga membungkuk memberi salam.
"Kamu membawa teman, Sha?" tanya ibu memaksa tubuh putrinya agar menjauh. Meminta jawaban.
"Bukan."
"Lalu? Dia ini siapa?" Perlahan Asha melepas pelukannya dan menghampiri Arga yang masih diam dengan bibir memasang senyum ramah.
"Dia... kekasih Asha, Bu," ungkap Asha. Ibu melihat Arga dengan terkejut.
"Dia? Orang setampan dia, pacar kamu? Tidak mungkin...." Di luar dugaan Ibu Asha tidak percaya. Arga lebih terkejut lagi. Walaupun senang ada kata tampan yang keluar bibir Ibu Asha, ia tidak menyangka respon Ibu Asha seperti itu. Arga jadi sedikit bingung juga. Asha mengkerucutkan bibir. "Asha pasti sedang bermain-main, yah?" tanya Ibu Asha heran.
"Tidak. Saya Arga. Kekasihnya Asha," ujar Arga membantu Asha. Mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Ibu Asha menyambut uluran tangan itu dengan ragu. Lalu melihat ke arah Asha. Bibir Asha tersenyum geli.
Mungkin kenyataan bahwa putrinya jarang pulang, sekarang tiba-tiba saja pulang dan membawa seorang kekasih itu sungguh mengejutkan.
"Bawa dia pulang dulu, ibu menyusul," ujar Ibu. Mbak Sri yang bekerja membantu Ibu di warung, melongok keluar dari dalam warung. Terkejut melihat Asha turun dari mobil. Apalagi bersama seorang pria tampan.
"Saya disini saja dulu, menunggu Ibu selesai. Asha bisa membantu di warung dulu," ujar Arga membuat mata Asha melebar. Sesungguhnya dia lelah. Dia ingin segera rebahan, justru Arga mengatakan dia akan membantu.
Namun Asha tahu Arga pasti juga lelah, dia hanya ingin mengambil hati ibu. Akhirnya Asha mengangguk. Mengiyakan kalimat Arga.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Ibu tidak percaya. Beliau paham putrinya sendiri. Asha tersenyum terpaksa.