
Benar juga. Disini ternyata lebih kelihatan besar dari mini market yang tadi. Juga sepertinya lebih lengkap. Langkah Asha cepat saat menuju tempat yang di inginkannya.
Disisi rak buah sebelah kanan memang penuh dengan buah potong yang di wrapping dalam piring styrofoam kecil. Asha dengan tingkah mirip bocah yang kegirangan mendapati makanan favoritnya mengambil dua buah piring buah semangka yamg sudah di potong, setelah sebelumnya memilih dari beberapa buah yang ada di sana.
Ada dua buah yang di ambil oleh tangan Asha. Semangka kuning dan semangka merah. Intinya, dia memang sedang ingin makan buah semangka.
"Suka sekali dengan semangka ya," ledek Arga. Asha hanya mengangguk saja. Arga menyodorkan keranjang belanja yang tadi ada di dekat pintu. Karena terlalu bersemangat, Asha mengabaikan keranjang belanja itu. Namun Arga sudah siap membawakannya. Setelah itu membeli beberapa camilan.
"Aku belikan buat Juna, ya."
"Ya." Rupanya camilan itu untuk adiknya. "Kamu enggak beli sesuatu?" tanya Asha tanpa menoleh. Dia sibuk memilih permen yang bermacam-macam. Dia berinisiatif ingin membeli permen jahe untuk pengalihan rasa mualnya. "Kamu harus beli sesuatu untuk di makan." Sebelum Arga menjawab, Asha sudah kasih titah.
"Kenapa?" tanya Arga heran.
"Aku ingin makan buah semangka ini di sini. Di cafe ini. Jadi kamu juga harus punya makanan yang bisa di makan saat menemani aku." Kali ini Asha mendongak dan menoleh untuk menunjuk mini cafe yang ada dekat di pintu masuk. Arga mengikuti arah yang di tunjuk istrinya.
Arga tersenyum. "Aku akan pesan espresso panas saja nanti."
"Oke. Sekarang kita bayar dulu ini dan duduk di sana." Asha menggandeng lengan suaminya menuju meja kasir. Setelah selesai melakukan transaksi pembayaran di kasir mini market, mereka menuju meja kasir cafe untuk memesan.
"Aku pesan jus sirsak saja." Asha menemukan macam-macam jus buah yang tersedia di menu yang di pampang di atas.
"Lebih baik kamu mencari tempat duduk dulu. Aku akan membawakannya untukmu." Arga memberi nasehat. Asha mengangguk. Kakinya melangkah menjauh dari meja kasir. Dua gadis di belakang meja kasir, sempat memperhatikan mereka. Terutama Arga. Wajah menarik Arga tidak bisa di pungkiri. Itu sempat jadi perbincangan mereka juga saat Arga membukakan pintu untuk istrinya tadi.
Sengaja Asha memilih duduk di dekat dinding kaca, supaya mendapat pemandangan jalanan dengan leluasa. Saat tiba pantatnya duduk dengan santai di atas kursi cafe, Asha sudah sibuk membuka plastik wrapping sesegera mungkin.
__ADS_1
Meskipun plastik itu belum terbuka semua, Asha sudah menancapkan garpu kecil ke arah buah semangka berwarna merah itu. Perempuan ini seakan tidak sabar untuk segera menyuapkan buah itu ke dalam mulutnya.
Hap! Satu potongĀ buah semangka berukuran pas dalam sekali sesuap, sudah berhasil masuk ke dalam mulutnya dengan sempurna. Kepalanya mengangguk-angguk menandakan dia sangat terpuaskan telah memakan buah itu.
Pesanan espresso dan jus sirsak yang di pesan Arga datang. Arga meletakkan dulu nampan itu di atas meja. Lalu kemudian duduk.
Melihat istrinya masih belum berkeinginan membuka plastik wrapping dengan sempurna, Arga akhirnya turun tangan. Menarik piring styrofoam berwarna putih itu tanpa permisi. Asha terkejut melihat tangan suaminya menggeser piring itu dengan tiba-tiba.
"Eh?" Wajah Asha protes dan heran.
"Plastik ini harus di buka dulu seluruhnya. Biar kamu dengan leluasa menusukkan garpu kecil itu pada buah semangka."
"Kelamaan." Arga tersenyum mendapat jawaban polos dari istrinya. Tangan Arga masih telaten membuka plastik itu.
"Ngebet banget ingin makan buah semangka?" Arga menyodorkan piring yang sudah terbuka sempurna penutup plastiknya.
"Ngidam?" goda Arga.
"Entahlah. Aku hanya merasa perlu memakan buah ini karena rasa tidak nyaman pada langit-langit mulut karena habis muntah." Arga menikmati pemandangan ini. Melihat istrinya terlihat bersemangat hanya karena buah semangka yang harganya tidak seberapa membuatnya tersenyum. "Kenapa?" tanya Asha melihat senyuman itu.
"Enggak apa-apa. Senang aja lihat kamu makan buah seperti itu." Masih saja senyum itu menghiasi wajah Arga.
"Buah semangka adalah favoritku," ujar Asha sambil tersenyum jenaka sembari menaikkan alisnya. Menunjukkan buah semangka yang sudah berhasil ditusuk dengan garpunya bangga.
"Ya, ya. Kelihatan banget kalau kamu suka sama semangka."
"Tumben pesen muffin?" tanya Asha baru sadar. Matanya sedang tertambat pada muffin yang di biarkan di atas nampan. Arga hanya menyentuh cangkir espresso. Dia baru menyadari muffin imut dan terlihat enak itu sekarang.
__ADS_1
"Buat kamu."
"Eh? Benarkah?" tanya Asha. Arga mengangguk. Memindahkan muffin agar dekat dengan piring styrofoam yang sepertinya akan berakhir pada tempat sampah, karena hanya berisi satu buah semangka.
Arga mengambil garpu di tangan istrinya dan menusukkan pada buah itu. Kemudian mengembalikan pada tangan istrinya dan menggeser piring styrofoam yang sudah kosong.
"Terima kasih." Asha sangat senang dengan perlakuan ini.
"Ternyata kau memang bisa bersikap manis seperti itu pada perempuan, Arga. Ibuku tidak salah mengatakan soal itu padaku," tegur seseorang mengejutkan. Suara seorang wanita.
Arga dan Asha menoleh bersamaan ke arah asal suara. Di pintu masuk mini market, barusan saja masuk seorang wanita. Sepertinya lebih muda dari Asha. Melihat cara dia berpakaian dan berbicara, perempuan ini sepertinya juga selevel dengan Arga. Dia juga orang kaya, begitu pikir Asha.
"Oh itu, kau..." Arga menanggapinya dengan nada ramah biasa. Sepertinya dia memang mengenal perempuan ini.
"Jangan berwajah terganggu seperti itu, saat bertemu denganku," ujarnya seraya melewati mereka dan mulai memesan minuman di kasir. Asha hanya nampak kebingungan dengan wajah asing ini. Matanya mengikuti gerak langkah perempuan itu.
Sambil memakan muffinnya, dia mencoba mengingat perempuan berwajah menarik itu. Namun nihil. Dia tidak bisa menemukan nama ataupun secuil informasi tentang dirinya. Siapa dia?
Wanita itu menyelesaikan pembayarannya di kasir. Setelah itu, segelas penuh kopi dingin ada di tangannya. Lalu dia duduk di kursi kosong di dekat mereka. Perempuan baru itu sengaja menyendiri. Meskipun kenal, dia tahu bahwa tidak seharusnya mereka satu meja.
Ekor mata Asha masih saja melirik ke arah perempuan itu.
"Mau makan buah semangka yang satu ini?" tanya Arga tanpa terpengaruh oleh keberadaan perempuan yang menyita perhatian Asha.
"Ya," jawab Asha tanpa menoleh. Dia masih memperhatikan perempuan tadi sambil menyeruput jus sirsak pelan-pelan. Arga mulai membuka plastik wrapping.
"Kalau boleh tahu, kamu siapa?" tanya Asha dengan nada wajar dan lugas. Arga mendongak ke arah istrinya. Perempuan itu juga menoleh. Sedikit terkejut. Lalu senyuman ramah terlukis di atas bibirnya. Asha bisa menemukan ekor mata perempuan ini sesaat melihat ke Arga sebelum menjawab pertanyaannya.
__ADS_1