Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Pertemuan mereka


__ADS_3


"B-bukan," jawab Asha setelah berhasil berunding dengan hatinya.


"Dimana?" tanya bunda merasa heran.


"Di luar rumah."


"Kalian pernah bertemu di luar rumah? Oh, pasti saat selesai kerja itu ya...." Nyonya Wardah paham. Arga memberi ide jam malam juga saat itu. Asha tersenyum. "Berarti benar ya. Kata Paris kalian memang pernah bertemu di luar. Emm ... kalau gak salah di lapangan basket ya?" Sepertinya nyonya Wardah sudah pernah tanya-tanya dulu sama anak perempuannya yang memang lebih mengenal menantunya.


"I-iya." Wajar hal ini menjadi pertanyaan sendiri bagi ibunda Arga. Sebagaimana yang semua orang tahu, begitu juga nyonya Wardah, bahwa Arga dan Asha itu adalah pelayan dan majikan. Walaupun sekarang beliau sudah menerima Asha sebagai menantunya, nyonya Wardah tentu punya rasa penasaran akan pertemuan mereka, juga kedekatan mereka saat masih ada istilah pelayan dan majikan itu.


Beliau mendengar beberapa cerita dari putrinya, Paris, tapi dia juga ingin berbincang soal ini dengan menantunya sendiri.


"Arga memang jago basket. Pas SMA dulu dia sering ikut kejuaraan di sekolahnya. Kamu juga suka nonton basket?" tanya nyonya Wardah sambil menoleh ke arah menantunya.


"Iya."


"Setahu bunda, Arga tidak lagi main basket. Darimana kamu bisa bertemu Arga yang main basket?" tanya nyonya Wardah menyadari. Ada nada ragu dan penasaran disana. Kening beliau berkerut.


"Di sebuah lapangan basket. Tempat Asha biasa main basket sama temannya Arga." Pengakuan menantunya membuat nyonya Wardah terkejut. Main basket?


"Lalu, teman Arga itu siapa? Rendra? Sekretarisnya itu?"


"Bukan. Asha main basket temannya, Cakra. Kata Arga dia teman masa kecilnya," jawab Asha sambil memberitahu soal Cakra.


"Cakra, Cakra." Nyonya Wardah berpikir. "Cakra ... putranya Danang? Kepala sekolah SMA itu?" pekik nyonya Wardah, merasa telah menemukan jawaban dan juga teman lama.


"Iya. Cakra yang itu, Bun."


"Di kampung sering main basket?" tanya beliau sedikit menyelidik."


"Lumayan. Paling sering ya di sekolah, Bun. Di sekolah Asha sering main basket."


"Sekolah? Lho, kamu ini dulu ...." Kalimat beliau menggantung. Di awal bekerja, memang tidak ada penyebutan sama sekali soal Asha yang pernah mencapai bangku SMA. Kebanyakan pelayan di rumah keluarga Hendarto memang tidak lulus sekolah. Bahkan Rike yang paling muda saja, juga belum lulus sekolah karena berhenti saat biaya sekolah menjadi kendala.

__ADS_1


"Iya, Asha lulusan SMA." Asha meneruskan kalimat ibu mertuanya. Menambah keterkejutan mertuanya. Bibir nyonya Wardah tersenyum kemudian. Mungkin ada sedikit rasa senang saat tahu bahwa menantunya ternyata pernah mengenyam jenjang pendidikan.


"Kamu teman sekolahnya Cakra? Arga tidak pernah bilang soal itu." Asha tersenyum juga. Raut wajah nyonya Wardah berubah. Ada rona takjub di sana. Sedikit terkejut atau ... benar-benar terkejut. Karena mulut beliau sedikit terbuka sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Bunda, tidak tahu soal itu." Nyonya Wardah sedikit berbisik saat mengatakannya. Lalu tertawa kecil. Asha memaklumi. Dia sendiri yang menyembunyikannya. "Lalu ... kalau bunda boleh tahu, bagaimana pemeriksaan ke dokter kandungan tadi malam. Bunda tahu, pasti ada sesuatu yang membuat Arga itu tiba-tiba mendesak ingin punya anak."


Asha mengerjap. Tidak menyangka ibu mertua sepeka itu. Awalnya dia ragu. Takut setelah menceritakan hasil pemeriksaan akan terjadi hal tidak baik kedepannya.


"Jangan takut. Bunda hanya ingin tahu. Bunda tidak ingin terlalu mencampuri urusan kalian berdua terlalu dalam, tapi kalau nasihat bunda berguna, ya ... bisa di lakukan bukan?" Senyum ibu mertua membuat Asha membuang keraguannya. Akhirnya Asha menceritakan soal tes kesuburan dan kesehatan dia juga Arga. Nyonya Wardah mengangguk paham.


Dia mengerti kalau menantunya juga pasti punya stress dengan kegiatan membosankan di rumah.


"Ibu menyarankan kalian berdua untuk berbulan madu," kata ibu mertua setelah mendengar semua cerita Asha. "Juga ... berhenti bekerja terus," tukas beliau seperti memarahi Paris, putrinya.


"Kamu ini menantu rumah ini. Menantu bunda juga ayah. Tidak perlu merasa tidak nyaman. Bekerja ini seperlunya saja. Semua sudah ada yang mengerjakan. Tidak perlu kamu ikut turun tangan semua juga akan beres pada waktunya." Tangan beliau menepuk punggung tangan Asha dengan gemas.


"Maaf, Bun."


"Bukan maaf, tapi iya," ujar beliau sambil tersenyum. "Cukup jawab iya. Sekarang harus fokus sama kesehatan tubuhmu supaya siklus haid lancar. Jadi biar Arga segera dapat menggendong buah hatinya." Sepertinya beliau juga gemas kepada putra kesayangannya itu. Asha tersenyum geli.


"Anak itu, tiba-tiba saja sangat ingin punya bayi. Apa yang merasukinya? Dia ingin saingan sama bunda sepertinya." Asha terkejut. Menatap ibu mertuanya tidak percaya.


"Bunda ini sama seperti ibu mertua yang lainnya. Ingin punya cucu dari putranya. Hanya saja bunda tidak harus memaksa seperti suamimu itu. Bunda tahu, kita tidak bisa seenaknya minta kamu harus hamil saat ini juga. Punya cucu harus saat ini juga. Apa itu?" Nyonya geleng-geleng kepala. Merasa permintaan itu tidak masuk akal.


"Ingin menimang cucu tidak harus begitu juga. Bunda yakin sebagai perempuan yang sudah bersuami, pasti kamu juga menginginkan buah hati. Pelan-pelan saja. Bunda mengerti. Tadi sudah bunda beri nasihat sedikit untuk suamimu biar tidak seenaknya saja minta bayi saat ini juga."


"Terima kasih, bunda." Tangan bunda terulur mengelus lengan menantunya seraya tersenyum hangat.


Ada rasa senang yang membuncah saat ibu mertua mengatakan ini. Dia sangat bersyukur dalam hati mendapat keluarga baru luar biasa seperti ini. Ini anugrah terindah.



***


Bulan madu terlaksana sesuai nasihat bunda. Arga membawa istrinya untuk menginap di sebuah resort yang mempunyai pemandangan laut langsung dari kamar. Bukan di luar negeri, tapi di negara sendiri.

__ADS_1


Begitu banyak pemandangan bagus yang tidak perlu harus pergi jauh. Negara kita merupakan negara kepulauan yang punya banyak pantai indah.


Asha memandang takjub ke arah view di depan kamar. "Ini sangat indah...," ujar Asha melihat dekorasi kamar resort yang sangat apik ini, dengan mata berbinar-binar. Bola matanya terpaku melihat semua pemandangan yang ada di sini. Kamar resort ini menyuguhkan pemandangan menakjubkan yang dapat di lihat hanya lewat kamar tidur saja.


Juga bisa berenang sambil menikmati pemandangan laut di siang hari ataupun malam hari.


Tanpa bisa menutupi kegembiraan, Asha terus saja berdengung mengungkapkan betapa indahnya tempat ini. Arga tersenyum puas istrinya menyukai pilihan kamar hotelnya.



"Terima kasih sudah mengajakku ke sini. Ini menakjubkan. Aku tidak pernah mendatangi tempat seperti ini," ujar Asha sangat bersyukur sambil menoleh ke arah suaminya sebentar. Lalu melihat ke depan lagi. Arga mendekat dan memeluk istrinya dari belakang.


"Kamu pantas mendapatkannya. Bersenang-senanglah. Jangan pikirkan apapun yang mengganggumu. Ini adalah waktumu untuk menyenangkan dirimu sendiri." Arga mengatakannya sambil menempelkan hidungnya di atas rambut istrinya. Menghirup keharuman rambut yang tadi pagi di bersihkan.


"Jadi kali ini aku akan di manjakan?" tanya Asha sedikit memutar tubuhnya, sambil menolehkan kepala ke arah suaminya yang masih memeluknya dari belakang dengan tatapan menuntut.


Bibir Arga tersenyum. Lalu mendekatkan keningnya hingga menempel di kening istrinya. "Iyaa ... Kamu akan aku manjakan. Apapun maumu aku turuti. Jangan ragu. Aku siap melayanimu. Waktu liburan ini memang khusus untukku melayanimu." Arga mendaratkan bibirnya pada permukaan bibir Asha dengan lembut.


"Terima kasih sudah melayaniku selama berada di rumah," ucap Arga sambil memeluk erat.


"Sama-sama. Itu sudah kewajiban istri melayani suami." Mereka berdua saling memeluk erat. Menyatakan bahwa apapun yang terjadi dalam sebuah rumah tangga memang harusnya di tangani berdua. Kerjasama antara suami dan istri sangat di perlukan. Saling pengertian dan mau mengkoreksi diri juga harus ada di setiap pasangan.


Jika awalnya Arga sempat berpikiran negatif soal kehamilan yang tak kunjung hadir, tapi kemudian dia juga mulai memikirkan dirinya juga. Kemungkinan tidak terjadinya kehamilan bukan hanya karena satu pihak saja, istri misalnya. Suami bisa juga menjadi penyebab tidak terjadinya kehamilan.


Bagaimanapun istri akan hamil jika dibuahi oleh sang suami. Kehamilan tercipta karena keduanya bekerja sama. Tidak bisa hanya istri saja atau bahkan hanya suami saja. Mustahil.



***


Ternyata suasana malam disini indah juga. Asha terus saja takjub melihatnya. Kemudian menghambur ke arah Arga. Memeluk erat sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.


"Iya, iya. Kamu terlihat seperti anak kecil yang habis dibelikan mainan. Menggemaskan." Arga sendiri kesenangan melihat istrinya berkali-kali memeluknya erat.


__ADS_1


Tak sia-sia Arga sendiri memilihkan resort ini untuk tempatnya tinggal beberapa hari saat berbulan madu. Rendra juga menawarkan beberapa resort yang berada dekat di pantai dengan tingkat privasi yang tinggi. Namun dia coba memilih sendiri.



__ADS_2