
Nyonya Wardah menunggu kepulangan putranya dengan tidak sabar.
"Aku yakin Asha itu hamil, Bik. Mual-mual seperti itu bukannya menunjukkan dia sedang mengandung?" Beliau sedang berdiskusi dengan Bik Sumi. Kepala pelayan senior ini mengangguk.
"Benar. Itu tanda-tanda dia memang mengandung, Nyonya."
"Kalau itu benar, mungkinkah dia sudah mengandung saat bulan madu itu." Nyonya Wardah mengetuk-mengetukkan jari di atas meja.
"Syukurlah kalau memang begitu, Nyonya. Ini kan yang di inginkan tuan muda."
"Benar. Itu anak ternyata sudah besar. Bahkan sudah ingin menggendong bayi." Nyonya Wardah geleng-geleng kepala. Menghela napas lega. Kemudian tegang lagi saat teringat bahwa mereka masih menunggu kedatangan Arga dan Asha.
Mobil Arga memasuki halaman. Mereka sudah datang. Tidak sabar nyonya Wardah menyusul mereka di pintu depan. Beliau hendak langsung menghambur dan bertanya dengan riang, tapi melihat wajah Arga yang seperti tertekan, beliau urung bertanya.
"Kalian sudah datang?" sambut beliau dengan nada tidak sabar yang di sembunyikan.
"Ya," sahut Arga lemas. Sementara Asha tersenyum karena sapaan ibu mertuanya. Nyonya Wardah membimbing mereka menuju ke ruang makan. Asha langsung menuju ke kulkas dan mengambil air dingin dari dalam sana.
Asha menghampiri dan menyerahkan sebotol air dingin. Arga menerima lalu meneguknya dengan cepat. Hawa di luar memang panas.
"Asha sakit apa? Kenapa Asha terlihat bugar dan kamu justru terlihat lemas, Ga?" tanya Nyonya Wardah heran.
"Bukan lemas, bun. Hanya kaget saja," sahut Asha. Dia duduk di dekat suaminya.
"Ada apa?" Beliau melihat ke arah Asha menyeluruh. Kemudian berganti melihat ke arah Arga lagi. "Asha sakit parah kah? Atau kamu yang sakit?"
"Aku dan Asha baik-baik saja. Tidak ada yang sakit. Aku hanya terkejut saat dokter mengatakan bahwa Asha ternyata hamil," ujar Arga yang langsung di sambut gembira oleh nyonya Wardah.
"Ini beneran, Sha?"
"Iya Bun." Setelah dapat anggukan kepala dari yang bersangkutan, beliau percaya. Semua wajah terlihat lega.
"Kamu bener-bener akan gendong bayi, Ga." Nyonya Wardah memijit bahu putranya gemas. Arga meringis kegelian. "Selamat ya, Sha. Jadi sekarang Arga hatinya tenang. Enggak kebingungan lagi karena temannya sudah mau gendong bayi juga." Ekor mata beliau melirik ke arah putranya. Asha juga melihat suaminya. Kalimat mertuanya penuh dengan sindiran tajam.
Arga hanya menipiskan bibirnya, dengan raut wajah membentuk ekspresi tertangkap basah. Kemudian menyeka keringat yang membasahi ujung rambutnya.
"Sudah. Bunda mau tidur siang saja. Ketegangan tadi membuat badan kaku." Tatkala itu bik Sumi muncul dari pintu belakang. "Bik. Asha beneran hamil lho," ujar beliau memberitahu.
"Benarkah? Wah... selamat ya. Tuan muda akan jadi bapak nantinya."
"Terima kasih, Bik," ujar Asha dan Arga hampir bersamaan.
...****************...
__ADS_1
Di kantor, perasaan bahagia Arga menular pada Rendra. Karena tuannya sedang memasang wajah bahagia, Rendra juga ikut dapat imbasnya.
"Anda terlihat bahagia, Tuan."
"Benar. Istriku sedang hamil, Ren." Arga mengatakan dengan wajah berseri-seri.
"Itu kabar baik. Selamat Tuan. Saya turut bahagia mendengarnya."
"Terima kasih." Arga tersenyum mendapat ucapan selamat dari sekretarisnya. "Kau tidak punya kekasih, Ren?" Dari pertama Rendra bekerja dengan Arga sebagai sekretarisnya, sepertinya baru kali ini tuannya bertanya soal kekasih.
"Tidak, tuan."
"Carilah perempuan baik dan nikahilah. Kau akan merasakan bahagia seperti apa yang kurasakan saat ini."
"Saya simpan baik-baik nasihat Anda."
"Bukan di simpan, tetapi di laksanakan Ren. Kalau nasihatku hanya di simpan, kau tidak akan segera mencari pendamping."
"Baik Tuan."
"Kenapa tidak pacaran saja sama Maya? Dia cantik."
"Saya tidak mencari cantik, Tuan. Saya harus mencari yang baik. Sesuai dengan nasihat Anda."
Arga tergelak. "Benar, benar. Carilah yang baik bukan hanya wajah yang cantik."
"Wajahmu terlihat sangat berseri-seri. Ada hal baik pagi ini?" tanya Evan.
"Ya. Istriku juga hamil, Evan," kata Arga bangga.
"Wow, benarkah? Kau kejar target karena aku bisa menghamili istriku duluan?" tanya Evan terdengar menantang.
"Tidak perlu menetapkan target. Semua harus di jalani dengan sabar." jawaban Arga sangat bijak. Sebenarnya ini berkebalikan dengan dirinya yang sempat termakan oleh rasa iri yang tak sengaja di sulutkan oleh Evan.
"Benar. Harus bersabar. Namun sepertinya kau akan mengikuti jejak langkahku. Segera menjadi ayah." Evan tersenyum.
"Buah kesabaranmu yang lama membuahkan hasil, Evan."
Evan mendengkus. "Aku tahu kau sedang menyindirku." Arga mengangkat bahu. Mereka memulai proyek baru mereka. Kerja sama antara perusahaan Evan dan Arga. Berbincangan kadang serius dan membuat kerut pada dahi masing-masing. Ada juga desah lelah yang membuat keduanya harus menyandarkan punggung ke badan sofa lebih lama.
"Aku tidak menyangka kita berdua bisa tetap menjadi seperti ini, dengan banyak hal yang sudah kita lewati. Masalah, pertikaian, dan akhirnya kebahagiaan." Evan mulai membahas hidupnya.
"Kau bahagia?" tanya Arga tanpa melihat.
"Tentu saja. Apalagi sekarang, saat istriku hamil. Aku dulu berpikir bahwa ibu hamil dan meminta bermacam-macam permintaan aneh itu berlebihan. Lalu saat seorang suami yang selalu berusaha menurutinya itu seperti orang bodoh."
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku salah. Ternyata mendengar permintaan-permintaan aneh istri yang lagi ngidam itu menggemaskan. Kita juga jadi terpacu untuk memenuhi permintaannya. Setelah berhasil, ada kepuasan yang sangat menggunung di hati. Semuanya sangat menggembirakan." Evan berceloteh layaknya bocah kecil dengan riangnya.
Arga tidak bisa berkomentar banyak. Dia belum memasuki masa itu. Asha masih baru saja hamil. Tidak ada cerita seperti itu.
...****************...
Sepulang kerja, Arga memperhatikan istrinya. Asha sedang membaca di atas ranjang. Arga naik ke atas ranjang dan mendekat ke arah istrinya.
"Jangan mendekat." Asha menjulurkan telapak tangannya ke depan.
"Kenapa?" tanya Arga heran.
"Kamu harus mandi dulu. Jangan mendekat saat tubuhmu belum bersih."
"Aku memang belum mandi. Aku hanya ingin mengelus perutmu."
"Apalagi untuk mengelus perut." Namun Arga tetap mendekati istrinya. Hoek! Asha mual ingin muntah. Langsung tangannya melepas buku dan menutupi hidungnya.
Arga terkejut. Secepatnya dia mengangkat tubuhnya. Tidak jadi mengelus perut. Lalu sedikit menjauh dari tubuh istrinya. "K-kau mual karena aku?" tanya Arga tampak tidak percaya. Dia sampai terbata-bata.
"Mungkin." Asha menjawabnya sambil meringis. Dia juga tidak paham betul apa yang membuatnya mual. Namun saat tadi pagi tak sengaja mencium kemeja suaminya untuk meneliti masih baru atau sudah dipakai, perutnya bergolak dan mual.
Arga masih tetap pada pada posisi duduknya. Matanya terus memandangi istrinya dengan heran. Perlahan Asha membuka telapak tangannya. Merasa tidak nyaman melihat suaminya syok.
"Sebaiknya kamu mandi dan jangan memakai wewangian apapun," pinta Asha pelan. Mimik wajah Arga masih sama. Terkejut istrinya mual karena bau tubuhnya yang tak lain adalah suaminya. "Aku tidak bermaksud untuk merencanakan ini. Ini semua naluri seorang ibu hamil yang perutnya tidak nyaman." Asha mengatakannya dengan memohon perhatian. Wajah Arga menunjukkan seperti dirinya sedang di tolak.
"Aku sangat terkejut," ujar Arga masih dengan keheranannya. Lalu bangkit dan segera menuju ke kamar mandi dengan linglung. Asha menghela napas lega. Saat tangannya turun, tidak lagi membekap separuh wajahnya, dia berusaha menahan diri.
Hidungnya sangat sensitif akan wewangian yang menusuk hidung. Arga memang memakai parfum yang sangat kental dengan aroma lelaki. Sebelum hamil, Asha sangat suka aroma maskulin itu. Namun saat ini perutnya bergolak tiba-tiba saat aroma itu menembus indra penciumannya.
Mungkin saat hamil, hidungnya menjadi sangat sensitif. Bau apapun membuatnya mual. Bau bawang putih, pewangi ruangan, bahkan aroma parfum suaminya.
...****************...
Di dalam kamar mandi, Arga masih tidak percaya istrinya mual karena dirinya. Air shower di biarkan mengguyur tubuhnya. Dia termangu dalam diam. Otaknya berpikir keras. Ada apa dengan istrinya?
Apakah ibu hamil semua begitu?
Arga membersihkan diri dengan pikiran tetap terarah ke kalimat istrinya tadi. Asha mual karena aroma tubuhnya. Rasanya seperti tak di inginkan oleh orang yang di cintainya. Bukankah itu agak menyakitkan?
Apakah ini memang bisa di anggap wajar?
__ADS_1