Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Ijin dari Arga


__ADS_3



Keseharian baru Asha dirumah keluarga Hendarto setelah pulang dari kampung halamannya, menjadi perhatian Nyonya Wardah dan bik Sumi. Pagi hari setelah membersihkan diri, menantu pertama di dalam rumah ini muncul di dapur. Membantu pekerjaan dapur yang ringan.


Awalnya nyonya Wardah menegur menantunya agar tidak mengerjakan apa-apa. Karena beliau tahu sendiri putranya melarang istrinya mengerjakan pekerjaan rumah. Beliau dan bik Sumi sudah di beri peringatan. Asha hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa.


Tentu saja beliau tidak langsung membolehkan menantunya membantunya. Beliau perlu memaksa menantunya untuk berhenti.


"Biarkan saja Bunda. Dia bisa melakukannya dengan hati-hati." Arga yang muncul langsung membuat nyonya Wardah terheran-heran. Melongo mendengar kalimat putranya. Bola mata bunda mengerjap sambil menoleh ke bik Sumi.


"Benar, nih? Enggak apa-apa, Asha bantuin bunda?" tanya nyonya Wardah heran. Asha tersenyum melihat mertuanya terheran-heran.


"Iya. Arga sudah beri ijin Asha untuk bantuin, tapi ... bukan pekerjaan berat." Arga mendekat ke arah istrinya yang sedang memotong sayuran. Memberi tatap mata yang tegas. Seakan mengatakan, boleh membantu dengan kewajaran yang tepat.


Nyonya Wardah tampak terperangah. Tidak menduga bahwa putranya akan berubah.


"Ini masih pekerjaan ringan kamu masih boleh mengerjakannya." Arga berkata sambil melongok ke istrinya. Mengangguk-anggukan kepala tanda setuju.


"Sejak dulu memotong sayuran memang pekerjaan ringan. Mana bisa hal begini dibilang pekerjaan berat ...," ejek Asha sambil tesenyum geli. Setelah mencomot tempe mendoan yang di buat bik Sumi, Arga kembali keluar dari area dapur.


Setelah dapat pengertian dari ibu di kampung, Arga mendapat pencerahan. Cara berpikirnya mulai berbeda. Namun, hal ini menjadi keanehan sendiri bagi keluarganya. Terutama nyonya Wardah yang terus menerus mengerjapkan mata seakan-akan apa yang beliau lihat barusan adalah mimpi.


"Arga itu kenapa, Sha?" bisik ibu mertua sangat penasaran.


"Memangnya kenapa, Bun?"


"Kamu lihat sendiri, dia membiarkanmu membantu. Padahal beberapa hari yang lalu, dia memberi bunda nasehat agar tidak membiarkanmu melakukan banyak pekerjaan. Sampai bunda di tuduh mertua jahat kalau sampai membiarkan kamu membantu pekerjaan rumah." Bola mata nyonya Wardah melebar karena gemas teringat ultimatum putra kesayangannya.


"Dia tidak apa-apa, Bunda. Hanya sedang mencoba berpikir dengan cara baru," jawab Asha setengah geli. Ibu mertua menautkan kedua alis bingung.


"Maksudnya?" Nyonya Wardah seakan kesulitan mencerna kalimat menantunya karena terkejut dan heran.


"Dia mengurangi memberi batas pada kegiatan Asha di dalam rumah. Dia mulai paham bahwa tidak harus menyempitkan ruang gerak Asha walaupun sekarang sedang hamil."


"Itu memang benar. Arga belum tahu betapa hebatnya seorang wanita tetap bisa melakukan banyak kegiatan meskipun berbadan dua. Bunda itu sudah mau kasih tahu, kalau pekerjaan rumah tidak akan membahayakan kamu. Namun putra bunda itu tetap saja bilang, harus mengedepankan masalah keamanan dan kesehatan bayi dan ibu hamil." Bunda menghela napas.

__ADS_1


"Mungkin karena anak pertama, Nyonya." Bik Sumi turut berbicara.


"Saya itu mengerti. Semua perkataannya itu benar. Hanya saja tidak perlu terlalu membuat istrinya tidak bisa bergerak bebas. Kasihan Ashanya."


"Mungkin buat Arga yang laki-laki kurang paham betapa kaum wanita itu hebat, ya Bun...," ujar Asha.


"Benar. Para pria itu masih belum paham betapa kuatnya kita di balik tubuh lemah yang terlihat." Asha dan ibu mertuanya tersenyum bareng. Mereka sama-sama bersatu untuk menyuarakan aspirasi tentang profil seorang wanita sesungguhnya.


...----------------...


"Bagaimana kabar mall saat aku tidak ada Rendra?" tanya Arga.


"Semua berjalan dengan sebagaimana mestinya dan baik, Tuan."


"Bagus. Memang itu yang di harapkan." Pintu terketuk dan langsung terbuka dengan munculnya Evan.


"Kenapa kemarin tidak ke mall? Katanya kamu berada di rumah Asha?" tanya Evan yang sedang berada di mall kedua. Yang bertempat di kampung Asha.


"Aku berlibur. Bukan perjalanan bisnis. Aku tidak harus mengurusi pekerjaan." Arga mengatakannya dengan santai.


"Datang besok ke acara syukuran tujuh bulanan istriku."


"Benar. Perutnya sudah membulat besar." Evan mengatakannya sambil memainkan tangannya membentuk lingkaran. Dia terlihat sangat senang sekali karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. "Ngomong-ngomong, kamu enggak pernah cerita soal istrimu. Dia tidak ngidam?"


"Emm ..." Arga tampak berpikir keras. Dia berusaha mengingat, apa istrinya tengah ingin sesuatu atau enggak.


"Kok masih berpikir?" desak Evan. Arga hanya tersenyum. Masam. "Kamu enggak memperhatikannya? Bukankah sangat jelas ibu hamil itu seringkali meminta sesuatu ...."


Apa yang di tanyakan Evan memang memerlukan beberapa waktu untuk menjawab. Karena sejak istrinya di nyatakan hamil, dia tidak pernah menginginkan sesuatu, ingin makan sesuatu atau ingin melakukan hal di luar kebiasaannya. Yang ingin di lakukannya adalah tetap melakukan kegiatan rutin seperti biasanya. Membantu pekerjaan rumah, hanya itu.


...----------------...


Sore ini, Paris menuju tempat janjian dengan Sandra. Tiba-tiba dia terkejut dengan kemunculan Kak Lei dengan seseorang yang tidak di sukainya, Chelsea. Mereka sedang berbelanja bersama di supermarket.


"Kenapa kak Lei, sama dia?" gerutu Paris. Sandra hanya melihat. Paris menarik tangan temannya itu untuk menjauh.


"Mau kemana? Enggak menyamper dia dulu?" Sandra kebingungan. Melihat Paris yang justru ingin menghindar karena ada cowoknya, Sandra heran.

__ADS_1


"Enggak. Kita harus ...."


"Paris," panggil seseorang. Aduh, keluh Paris dalam hati. Gadis ini tetap berjalan. "Paris!" Suara itu masih tetap memanggilnya sambil mengikuti. Mendengar nama yang tidak asing, Chelsea menoleh ke arah gadis yang di panggil Lei. Akhirnya Sandra yang di seret pergi memilih berhenti, dan itu membuat Paris juga berhenti mendadak.


"Kenapa, San?" tanya Paris heran. Kepala Sandra menoleh ke arah suara yang memanggil nama Paris. Sementara Paris sendiri enggan untuk ikut menoleh. Karena dia tahu.


"Paris." Ini ketiga kalinya nama itu di sebut, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Lei sampai di tempat Paris dan Sandra berdiri.


"Kak Lei sedang memanggilmu." Sandra memberitahu maksudnya yang berhenti mendadak. Paris melotot. Tidak suka dengan maksud Sandra.


"Paris tidak tahu kalau aku sedang memanggil?" tanya Lei. Paris diam. Sandra mengawasi.


"Paris," gumam Chelsea. Perempuan ini yang berada tidak jauh dari mereka juga mengawasi.


"San, aku mau ngomong sama Paris." Lei memberi kode bahwa mereka butuh bicara berdua. Sandra mengangguk paham. Paris terdiam. "Kenapa menghindar?"


"Enggak."


"Aku enggak paham. Kenapa belakangan ini kita seperti lagi bertengkar?" Paris masih terdiam sambil melihat ke arah lain. "Kalau ada yang mengganjal di hati lebih baik di bicarakan baik-baik." Paris menghela napas.


"Sepertinya tidak."


"Jawab yang jujur Paris." Lei tidak sabar sambil memegang lengan gadis di depannya.


"Kamu pernah jalan sama seorang gadis." Paris membuka uneg-uneg yang ada di pikirannya.


"Itu yang membuatmu merasa marah padaku?"


"Tentu saja. Apalagi kalau bukan itu," gerutu Paris kesal. Paris langsung menceritakan semua yang di lihatnya pada saat itu. Dimana Paris menemukan Lei sedang bersama wanita.


"Halo Paris," sapa Chelsea yang datang mendekat. Wajah Paris semakin masam di dekati perempuan ini.


"Kalian saling mengenal?" tanya Lei heran.


"Ya. Aku sangat tahu dia. Gadis ini." Chelsea menunjuk Paris yang langsung di respon dengan muka di tekuk tidak suka. Paris juga heran kenapa Lei dan Chelsea juga saling kenal. "Dia keponakanku, Paris." Chelsea mengatakannya tanpa perlu Paris bertanya. Chelsea tahu kerutan samar di dahi Paris, ingin mempertanyakan hal itu.


Mata Paris membulat terkejut. Menatap Chelsea dengan tajam. Perempuan yang meninggalkan rasa benci padanya.

__ADS_1



__ADS_2