Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Kejutan


__ADS_3



Sementara itu Paris yang sudah memilih tempat duduk, juga menemukan kakaknya di sana. Sedang bercengkrama dengan orang-orang penting. Paris melambaikan tangan. Bibirnya hanya tersenyum tidak mengeluarkan suara hanya melambai saja. Dia tahu kakaknya sedang menerima tamu. Angga hanya menundukkan kepala memberi hormat.


Mata Arga tahu adiknya disana. Namun dia tidak langsung merespon. Sesaat Arga mencoba mencari keberadaan Asha yang dirasa juga ikut dengan adiknya. Bola matanya beredar, baru saat itulah dia mendapati perempuan muda itu di dekat pintu masuk. Sedang berbincang dengan seseorang.


Paris yang menyadari Asha belum sampai di tempatnya duduk, menoleh ke belakang.


Mata Asha melebar mendapati pria ini di depannya. "Reksa." Asha tidak menyangka masih bisa bertemu lagi di sini dengannya. Rupanya Reksa yang sedang menyapanya. Kali ini sama seperti waktu pertama kali bertemu. Pakaian rapi dan juga memakai sepatu pantofel hitam.


Paris juga menemukan Asha yang berbincang dengan seorang pria. Awalnya biasa saja, tapi saat ingat lagi bahwa ada kakaknya di dalam tempat ini, Paris menoleh lagi.


"Sedang berbelanja?" tanya Reksa ramah.


"Ya. Kamu sendiri?" kali ini Asha menanyakan hal yang membuatnya penasaran. Dimana pria ini bekerja? Pakaiannya selalu formal dan rapi bila bertemu di sini.


"Aku ada pertemuan sedikit penting di sini," jawabnya dengan menggaruk tengkuknya pelan tanpa menyebutkan secara detail. Asha hanya perlu mengangguk. "Di tinggal dulu ya... Sepertinya mereka menungguku." Dagu Reksa menunjuk ke arah tempat duduknya bersama rekan-rekannya tadi. Disana. Kepala Asha mengikuti arah petunjuk Reksa. Jantungnya seperti terkena lemparan lembing. Menohok dengan tepat.


Arga sedang menatap tajam ke arah mereka berdua. Ada yang bisa di ingatnya dari temuan kali ini. Arga bisa mengenali lagi pria yang bersama Asha sekarang. Pria itu adalah pria yang sama yang memberikan jaketnya pada Asha. Dan lebih mengejutkan lagi, pria itu adalah salah satu tamunya dari kantor pajak pemerintahan. Seseorang yang dirasanya tidak asing tadi.


Rendra melihat ini dan segera mengambil alih perbincangan.


Saat itu sepasang mata Arga menatapnya tajam. "Aku pergi dulu, Sha," pamit Reksa yang kurang bisa di dengar Asha karena terkejut melihat Arga.


"Ah, iya," sahut Asha saat menyadari punggung Reksa sudah membelakanginya. Paris melambaikan tangan ke Asha. Kakinya segera melangkah menuju kursi Paris dan Angga. Mencoba mengabaikan pandangan Arga.


Kali ini mata Arga menatap tamunya dengan lebih intens. Reksa tersenyum wajar saat kembali pada tempat duduknya. Dia masih belum tahu bahwa direktur perusahaan ini sedang mengamatinya. Reksa tidak tahu bahwa pria di depannya adalah kekasih Asha. Juga pernah melihatnya berdua dengan Asha.


"Dia siapa, kak?" tanya Paris penasaran sambil melihat ke arah pria itu.


"Teman sekolah," jawab Asha tidak bisa mendongakkan kepala. Tempat duduk yang kosong hanya tersisa yang menghadap ke meja Arga dan tamunya. Itu membuat ia tidak berani melihat kedepan. Arga akan berpikir ia memandang ke arah Reksa. Kalau Arga pernah melihat Reksa, pasti saat ini dia sadar pria yang ada disana itu pria yang sama saat di depan alun-alun kota.


Paris merasa suasana kakaknya tidak baik. Namun dia mencoba mengabaikan sementara, untuk memesan makanan. Perutnya lapar.

__ADS_1


***


Malam ini Asha tidak bisa menemukan Arga sama sekali di dalam rumah. Tidak ada pesan maupun telepon yang biasanya pria itu lakukan. Asha mencoba menghubungi. Sudah beberapa kali tapi tetap tak di angkat.


"Arga." Asha mengirim pesan ke Arga. Namun tidak ada centang pesan itu terbaca. Pesannya terabaikan. Begitu juga panggilannya. Arga seperti sengaja. Setelah merasa sudah tidak ada lagi harapan bisa menghubungi Arga, Asha melangkah masuk untuk kembali ke kamar.


Karena merasa haus, Asha masuk ke dapur. Bersamaan itu Arga juga membuka pintu dari ruang tengah. Mata mereka bertemu. Asha menghela napas lega akhirnya bisa menemukan Arga.


"Baru pulang, Ga?" tanya Asha. Kepala Arga mengangguk. Lalu mengambil air putih di meja. Meneguknya perlahan. Asha yang hendak mengambil botol air di kulkas, tidak jadi. "Aku pikir kau akan minum ini," ucap Asha pelan. Biasanya Arga meminum dengan botol air di dalam kulkas tanpa gelas.


"Tidurlah...."


"Aku bisa membuatkanmu mie instan."


"Tidak. Aku akan tidur sebentar lagi."


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Asha cemas.


"Tidak."


"Baiklah...." Akhirnya Asha pergi setelah minum air putih. Meninggalkan Arga yang entah sedang apa di dapur sendirian. Arga dalam suasana tidak baik lagi hari ini. Asha paham dia penyebab kemurungan Arga. Lagi.


***


Ini hari minggu. Pagi yang tenang bersama keluarga. Semua terlihat bahagia dengan pikiran masing-masing. Paris juga sepertinya jadian dengan kakak kelas tampannya, Lei. Jadi wajahnya sangat cerah pagi ini. Dia terlihat bahagia.


Keluarga Hendarto sedang sarapan pagi ini. Sarapan biasa seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada hal berbeda yang mencolok. Mungkin Nyonya Wardah yang tidak menuntaskan masak. Beliau hanya masak satu buah masakan kesukaan Arga ayam kecap lalu berhenti dan duduk makan bersama. Yang lain di teruskan oleh Bik Sumi.


Ada Asha juga yang ikut membantu. Nyonya Wardah agak lelah pagi ini, jadi terpaksa menyuruh Asha membantu Bik Sumi.


Namun sepertinya pagi ini tidak akan tenang dan damai. Kalimat pembuka Arga pada sarapan pagi ini mampu menggerakkan hati, mata dan mulut seluruh keluarganya untuk berpikir banyak hal.


"Aku mau menikah dengan dia, Asha," ucap Arga tanpa basa-basi sambil menunjuk perempuan muda yang sedang membawa nampan di pagi hari yang sebenarnya sangat tenang dan damai.


Asha terkejut. Tangannya hampir saja membuat nampan yang di bawanya tergelincir. Nyonya Wardah dan Bik Sumi menoleh cepat ke Arga lalu melihat Asha.

__ADS_1


Paris cuma lihat sebentar, lalu balik menyuapkan makanannya. Dia tidak terlalu terkejut sama kisah ini. Paris paham kisah cinta kakaknya dan Asha yang jadi pelayan di rumah ini. Dia lebih terkejut karena pemilihan waktu oleh kakaknya dalam mengatakan hal ini. Namun ekor matanya tetap melirik ke arah Asha. Ingin tahu reaksinya. Perempuan muda itu diam saja tidak bereaksi.


Tidak bagi kedua majikan. Tangan Bunda yang mau menyuap nasi ke mulutnya mengambang di udara. Papa langsung mengambil gelas yang berisi air putih di samping tangannya. Meminum air putih itu dengan perlahan.


"Apa yang kau bicarakan, Arga?" tanya Nyonya Wardah tidak yakin akan pendengarannya. Ayah mungkin juga terkejut tapi beliau lebih bisa tenang seraya meminum air putih dalam gelas.


"Aku bicara soal menikah. Aku ingin menikahi dia," tunjuk Arga ke arah Asha yang tidak menoleh sama sekali ke arah Arga. Nyonya Wardah melihat ke arah Asha. Ayah juga menoleh sebentar lalu makan lagi. Bik Sumi juga sempat menghentikan kegiatan bersih-bersihnya lantaran terkejut.


"Kamu pasti mengigau," ujar Nyonya Wardah.


"Tidak. Aku dalam keadaan sadar sepenuhnya."


"Apakah kau sedang mencoba merajuk karena Bunda sudah menggagalkan pertunanganmu dengan perempuan itu?" tanya Nyonya Wardah di luar dugaaan. Beliau selalu memyangkutpautkan dengan Chelsea.


"Tidak. Aku serius."


"Ga... kamu pasti keliru deh," Bunda mengingatkan lagi.


"Tidak. Bunda kan ingin aku menikah dengan seorang wanita untuk menghindarkan aku dari Chelsea. Ya, aku turuti keinginan Bunda. Aku ingin menikah dengannya." Napas Asha seperti tercekat di tenggorokan. Namun perempuan muda ini masih terus saja meletakkan minuman.


Ada apa dengan Arga? Kenapa dia mendadak sekali mengatakan akan menikahiku? Bukan memperkenalkan aku sebagai kekasihnya, dia justru langsung mengajakku menikah.


Asha berusaha mengabaikan. Dia tetap melakukan pekerjaan seperti biasa. Tetap meletakkan minuman di setiap meja.


"Terima kasih, ya Kak," ujar Paris saat menerima minuman dari Asha. Kemudian kembali ke meja dapur. Mencuci piring. Asha berusaha tetap tenang dan melakukan semua. Walaupun pandangan kedua majikannya tetap terus menerus melihatnya.


Bik sumi menyenggol lengan Asha. Berusaha mencari tahu. Apa maksud Tuan Muda Arga.  Asha menggeleng. Dia memang tidak tahu menahu soal Arga yang membicarakan pernikahan. Itu jelas gila.


"Sha! Kamu dengar, apa yang aku bilang? Aku mau nikah sama kamu!" teriak Arga dari kursinya. Asha tidak menyahut ataupun menoleh. Dia tetap mencuci piring di tempatnya. Keadaan menjadi tegang. Semua terperangah mendengar lamaran Arga.


"Arga ... kamu sedang marah sama kita?" tanya Bunda aneh. Arga sedang mengajak nikah seorang gadis, justru di sangka marah dan sedang merajuk ke orangtuanya. "Kamu sedang melayangkan gugatan ke kita karena tidak boleh bertemu dengan Chelsea?" Tiba-tiba Bunda menyebut nama mantan tunangannya. Ini membuat Arga terkejut dan menoleh dengan cepat ke arah perempuan yang masih tetap mencuci piring.


"Kenapa Bunda selalu berpikir ke arah dia...," desah Arga lelah.


Paris mendongak. Dia juga terusik dengan Bunda yang menyebut nama perempuan yang sangat tidak di sukainya. Lalu melihat ke samping, ke arah Asha.

__ADS_1


"Kak Asha! Kak Arga ngajak nikah, lho!" Semua orang melihat Paris sambil mendelik lebih terkejut. Gadis SMA ini juga tak kalah gilanya dari Arga. Sepertinya dia sengaja berteriak seperti itu. Supaya Asha mendengar dengan jelas.



__ADS_2