
Ada jeda waktu untuk Asha dan Arga berbincang. Bapak ijin masuk ke kamar beliau, Asha segera menghampiri Arga dan menceritakan keinginan Ibu, menyarankan untuk jujur soal pekerjaan di rumah Arga ini.
"Kita memang harus mengatakannya, Sha. Kita perlu jujur. Aku akan coba bicara pada Bapak. Kita harus meminta maaf pada beliau." Arga sudah bertekad. Akhirnya Asha punya keberanian juga.
Masakan sudah selesai. Ini petang menjelang malam. Jadi ini masuk makan malam. Sebenarnya Juna mau pergi main, tapi, bapak mencegah untuk menghormati Arga sebagai atasan putrinya. Karena menurut bapak, atasan Asha ini sudah jauh-jauh sengaja datang kemari.
Setelah semua orang rumah selesai membersihkan diri, mereka kembali berkumpul di meja makan. Perbincangan demi perbincangan sudah di lalui Arga sebagai seorang atasan Asha di mata Bapak. Sampai saat ibu mengungkap soal hubungan Arga dan Asha.
"Pacarnya Asha? Nak Arga ini?" tanya Bapak juga terkejut saat Ibu mengatakannya. Bapak tertawa pelan. "Nak Arga ini kan atasannya putri Bapak."
"Mereka ini memang sedang menjalin hubungan, Pak," jelas ibu lagi. Bapak menoleh. Karena ibu juga mengatakan hal yang sama sampai dua kali, bapak akhirnya serius juga.
"Benarkah, nak Arga?" tanya Bapak menoleh ke Arga.
"Iya, Pak." Bapak menautkan alis.
"Apa mungkin? Nak Arga ini kan pemilik tempat itu. Asha hanya karyawan biasa."
"Saya serius, Pak. Saya memang sedang menjalin hubungan dan ingin melangkah ke arah jenjang yang lebih serius dengan Asha, putri Bapak." Arga mulai membahas maksud dirinya datang ke rumah ini. Juna mengerjap. Dia terkejut mendengar kakak tampan itu ingin menikah dengan kakaknya.
"Walaupun nak Arga berbicara yang sebenarnya, saya masih belum percaya. Ini sangat mengejutkan dan mendadak." Bapak masih memiringkan kepala sambil menautkan alis.
"Saya paham. Karena tiba-tiba saja saya mengatakan hal ini. Maaf, membuat Bapak terkejut dan sulit menerima."
"Arga sengaja kesini untuk membicarakan hal ini, Pak." Asha ikut mengeluarkan suara. Juna hanya memakan makanannya. Sangat jarang-jarang di sediakan makanan selengkap ini sehari-harinya. Jadi Juna cukup menikmati saja apa yang ada di depannya.
__ADS_1
"Orangtua kamu bagaimana? Kamu yang jadi orang penting dan terpandang, orangtuamu tentu punya kriteria sendiri. Bapak ragu."
"Mereka sudah sangat mengenal Asha sangat baik, Pak. Orangtua saya merestui hubungan saya dengan Asha."
"Benarkah? Apa Asha sering bertemu dengan orangtua kamu?"
"Setiap hari, Pak. Asha bertemu dengan orangtua saya setiap hari," jawab Arga mengagetkan bapak. Bahkan Ibu. Kemudian Ibu melihat Asha. Kepala Asha menunduk. "Setiap hari? Nak Arga ini sedang bercanda ya?" Jantung Asha berdetak kencang. Dia yakin Arga juga merasakannya saat ini. Ibu hanya memperhatikan. Beliau mungkin juga menunggu Arga melanjutkan kalimatnya dengan was-was.
"Asha sebenarnya sudah tinggal di rumah saya sejak lama."
"Tinggal serumah dengan Nak Arga?" tanya Bapak lambat. Beliau heran dan sangat terkejut. Manik mata Bapak melebar.
"Maaf Pak. Aku sebenarnya bekerja di rumah keluarga Arga," kata Asha melanjutkan pembicaraan mereka berdua. Tidak ingin membiarkan bapak termakan oleh pikiran aneh karena kalimat Arga yang ambigu. Ini waktunya mengaku. Ini waktunya jujur. Ini waktu mengungkapkan semua. Inilah saatnya. Bapak menoleh ke arah putrinya. Arga juga demikian. Ibu menyuapkan nasi ke mulut perlahan. Sedikit demi sedikit. Ibu resah.
"Rumah keluarganya? Ini maksudnya apa? Bapak tidak paham."
"Asha itu ternyata kerja jadi pelayan, Pak. Di rumah Nak Arga. Majikannya adalah orangtua Nak Arga," ujar Ibu membuat perkataan anak-anak ini langsung di mengerti. Langsung di pahami. Juna juga melebarkan mata. Bola mata Asha melihat ke Bapak yang mulai berwajah serius.
"Bukannya Asha itu kerja di mall besar itu?" tanya bapak seakan ingin di yakinkan oleh anak dan istrinya. Bapak melihat satu persatu. Namun mereka diam. Baik Juna, Ibu maupun Asha diam. "Bukankah begitu, Nak Arga?" Akhirnya pertanyaan di lemparkan ke Arga. Dimana dia sendiri adalah atasan Asha saat bertemu di butik itu.
Arga menghela napas pelan. Menelan ludah akhirnya sebelum menjawab pertanyaan Bapak, "Maaf Pak. Saya memang direktur perusahaan di belakang berdirinya mall itu, tapi..."
"Maafkan Asha, Pak," ujar Asha tiba-tiba segera berdiri sebelum Arga melanjutkan kalimatnya. Juna terkejut.
"Ini soal apa?" Bapak bingung.
"Maafkan Asha sudah membuat kecewa Bapak."
"Ini apa, Buk?" tanya Bapak kepada Ibu. Semua orang di ruangan ini menegang.
__ADS_1
"Bicaralah, Sha. Ini langkah kamu sendiri. Silahkan. Bicaralah pada Bapak," ujar Ibu menyerahkan tanggung jawab mengaku ini pada Asha. Tangannya meremas ujung kaos.
"Asha sebenarnya tidak pernah bekerja sebagai karyawan di toko yang di kunjungi Bapak."
Arga tidak tega, dia ikut berdiri dan membungkukkan badan, "Maafkan saya juga Bapak." Arga berdiri dan meminta maaf. Ketiga orang di meja makan itu tertegun melihat tamu mereka ikut berdiri meminta maaf. Bapak melihat ke arah mereka berdua.
"Maafkan Asha telah berbohong kepada Bapak soal pekerjaan Asha." Juna mendongak kasihan melihat kakaknya. Lalu menoleh ke om, kakak tampan di sana. Dia terlihat kasihan juga. Bapak mulai mendengarkan kata-kata Asha dengan serius. "Asha tidak pernah bekerja di toko itu. Sebenarnya pekerjaan Asha adalah sebagai pembantu di rumah Arga." Akhirnya kalimat itu lepas dengan tersendat-sendat melewati kerongkongannya. Bapak melihat Arga dan Asha bergantian.
"Jadi... Toko yang di datangi Bapak itu apa? Palsu?"
"Toko itu milik oranglain di bawah pengawasan perusahaan saya, Pak," jawab Arga. Bapak diam. Ibu diam. Juna berhenti makan dan diam.
"Bapak kecewa Asha bohongi Bapak. Juga, Bapak semakin kecewa kalian berdua membuat sandiwara untuk membohongi Bapak," ujar Bapak yang membuat Asha dan Arga pias. Semua orang di meja makan terdiam. Bapak tidak berteriak, tidak sengaja mengintimidasi atau menatap tajam. Bapak menyuarakan kekecewaanya dengan tenang dan lembut. Ini jelas membuat Asha sangat merasa bersalah.
"Duduklah kalian berdua. Asha dan nak Arga." pinta Bapak. Perlahan Arga dan Asha duduk. Asha masih menatap Bapak tanpa melanjutkan makannya. Dia merasa tidak selera makan. Juna memakan makanannya lagi setelah lirik kanan kiri. Memantau keadaan raut wajah Asha dan Arga bergantian. Ibu melirik Bapak sebentar.
"Jangan hanya di lihat, makanlah... Kalian pasti lapar...," ujar Bapak menyuruh Asha dan Arga makan. Walaupun beliau sedikit marah, tapi tidak tega jika melihat kedua anak manusia itu hanya diam tidak memakan makanannya. "Makanlah yang banyak. Jangan sungkan. Lalu, istirahatlah, nak Arga. Bisa sakit kalau tidak istirahat sama sekali."
Kepala Arga menunduk. Terenyuh. Daripada marah, Bapak memilih menyuruh mereka berdua untuk mengenyangkan perut terlebih dahulu. Bapak masih bisa memikirkan keadaan tubuh mereka yang lelah meskipun sedang menyimpan marah. Beliau mampu menyembunyikannya.
"Makan saja yang banyak. Jangan memikirkan apa-apa saat makan. Ayo...," ajak Ibu yang tahu suasana menjadi tegang lantaran Bapak menunjukkan kekecewaannya secara terbuka. Walaupun Bapak tetap mau berbicara meskipun suasana hatinya tidak bagus, bahkan tetap memperhatikan Asha dan Arga, keduanya tetap canggung.
"Aku tidak bisa pulang sekarang Ren. Jadi besok aku tidak ke kantor. Aku tidak tahu. Mungkin besok malam atau lusa aku tidak tahu. Aku akan memberitahumu jika sudah memungkinkan aku bisa pulang ...." Arga menelepon Rendra memberitahukan bahwa dia tidak bisa pulang hari ini. Tadi juga sudah memberitahu Bunda. Lalu Arga memutar tubuhnya dan menghampiri Asha yang duduk termenung di kursi jati di ruang tamu.
"Maaf Sha. Aku membuatmu pada posisi yang membuat Bapak sedih," ucap Arga saat duduk di sebelah Asha. Setelah makan Ibu membiarkan mereka berdua duduk di ruang tamu. Bapak langsung masuk kamar.
"Bukan kamu, tapi aku. Aku sendiri yang menyebabkan Bapak kecewa." Asha mengatakannya dengan rasa sedih. Mereka tidak berani mengatakan soal pernikahan karena Bapak ternyata memendam kecewa karena Asha yang berbohong.
__ADS_1