Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Bersalah


__ADS_3


"Bagaimana hasil pemeriksaan Asha ke dokter? Sudah dapat berapa bulan?" tanya Bunda dengan wajah berseri-seri yang membuat Asha menelan salivanya. Beliau salah paham. Bik Sumi yang sedang menonton tv juga ikut menoleh.


"Kita hanya mencoba konsultasi untuk melakukan program kehamilan, Bunda. Asha bukan memeriksakan kehamilan," ujar Arga mengambil alih memberi penjelasan. Dia tahu, istrinya tidak bisa dengan mudah menjawab pertanyaan itu.


"Jadi ... Asha belum hamil?" tanya Bunda sambil menatap menantunya perlahan. Beliau seperti kecewa. Asha menelan salivanya lagi. Namun nampaknya bukan kecewa yang tersirat pada raut wajah beliau. Asha salah mengartikan.


Bunda yang sedang menonton tv sambil selonjoran di sofa, beranjak berdiri setelah meletakkan remote tv. "Maafkan Bunda, Asha ... Informasi yang Bunda terima salah." Beliau merasa tidak enak saat melihat raut wajah menantunya bersedih.


Tangan ibu mertua memeluk pundak Asha dan menggosok-gosokkan tangannya ke arah lengannya. Berusaha menenangkan karena Asha tampak ingin menangis. Sebenarnya bukan ingin menangis, hanya merasa berat saja di tanya soal kehamilan. Bik Sumi ikut menyaksikan raut wajah sedih Asha.


"Tidak apa-apa Bunda. Asha tidak apa-apa," kata Asha yang sekarang mirip anak kecil yang ingin di tenangkan oleh orangtuanya.


Arga yang hendak memeluk istrinya tidak jadi. Nyonya Wardah menggerak-gerakkan jari-jarinya untuk mengusir putranya pergi sejenak. Arga tidak paham, tapi tidak menolak. Lalu ibu mertua langsung mengajak menantunya duduk di sofa. Asha menurut. Bik Sumi yang tadi duduk di karpet, ikut berdiri dan mendekat.


"Jangan di pikirkan soal itu. Semua ada waktunya." Nyonya Wardah berusaha menghibur. Asha mengangguk.


"Iya, Sha. Orang menikah itu tidak langsung hamil." Bik Sumi ikut menghibur.


"Apa ... Arga mendesak ingin segera punya anak?" selidik nyonya Wardah.


Asha tersenyum. "Mas Arga memang menanyakan soal anak, tapi dia tidak mendesak saya. Dia hanya menyarankan agar ikut program kehamilan." Di gendang telinga nyonya Wardah, itu terdengar sama saja seperti mendesak.


Namun Nyonya Wardah menipiskan bibir sambil melihat bik Sumi. "Ya sudah istirahat dulu saja. Arga juga sudah ke kamar sepertinya." Asha hanya mengangguk saja.


Di dalam kamar, Arga yang sudah ganti baju dengan kaos dan celana pendek kolor sedang menonton tv. "Apa yang di tanyakan Bunda tadi?" tanya Arga saat melihat istrinya masuk ke dalam kamar.


"Ya, soal kita yang datang ke dokter kandungan." Asha membuka long coat warna hijau botol yang melekat pada tubuhnya. Kemudian meletakkannya di atas tiang baju yang berdiri dekat dengan lemari pakaian.


"Apa beliau bertanya macam-macam?" tanya Arga cemas, dan masih melihat ke arah istrinya yang mulai menanggalkan pakaian satu persatu.


Asha menggeleng. "Tidak. Beliau hanya menghiburku."


"Syukurlah kalau begitu. Aku takut bunda bertanya bermacam-macam soal pemeriksaan ke dokter." Arga menggeleng kepala membuang pikiran jeleknya tadi, kemudian menonton tv lagi. "Kemarilah...," Arga meletakkan remote tv dan menggerakkan jari-jarinya untuk mengajak istrinya mendekat. Kaki Asha naik ke ranjang lalu menghambur ke arah suaminya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arga mengusap-usap rambut istrinya.


"Aku tidak apa-apa. Apa kamu sendiri tidak apa-apa?"


"Ya. Kenapa?" tanya Arga heran. "Bukankah aku sudah menerimanya."


"Aku tahu kamu merasa kalah saat melihat Evan sudah bisa punya keturunan." Tidak ada suara dari Arga, dan Asha tidak perlu jawaban. Rupanya dia menangkap kekalahan Arga dari sorot matanya saat bertamu kerumah Evan. Arga tidak menduganya.


Perkataan Asha ini membuat mata Arga memejam sebentar. Merasa bersalah sempat berpikiran negatif. Dia memang sempat iri melihat Evan yang sudah bisa menanam benih keturunan.


"Maaf," ucap Arga sambil mempererat pelukannya. Asha hanya menghela napas lalu tersenyum.


"Aku mengerti."


Kamu pasti gelisah saat melihatku memperlihatkan raut wajah kalah, batin Arga.


Arga mengecup pucuk kepala istrinya agak lama. Ada rasa bersalah dan takjub. Dia merasa bersyukur Asha tidak terlalu mempermasalahkan soal dirinya yang tiba-tiba saja mendesak ingin punya momongan ketika melihat Evan sudah membuat istrinya hamil. Dia sangat kekanak-kanakan saat itu.


Sejak awal menikah, dia sudah punya keinginan untuk mempunyai buah hati. Hanya saja untuk mendesak istrinya seperti saat itu, tidak ada dalam pikirannya. Itu muncul memang di karenakan timbulnya rasa persaingan dengan Evan.



***


Arga sudah mau berangkat kerja. Sementara Bunda habis melihat-lihat tanaman bunga baru yang di tanam di taman oleh Pak Yus.


"Aku akan pikirkan segera, Bun."


"Kalau bisa ya, besok gitu. Bukannya kamu yang mendesak ingin punya momongan." Bunda jelas sedikit menuduh.


"Asha bilang begitu sama Bunda?" tanya Arga sedikit terkejut.


"Tidak, tapi bunda bisa ambil kesimpulan sendiri. Ada apa? Kok tiba-tiba ingin segera punya anak? Itu bukan suatu hal yang aneh, jika saat menikah setiap pasangan ingin punya momongan. Hanya saja bunda merasa heran kamu seantusias itu sampai menganjurkan ikut program kehamilan." Tangan bunda bersedekap.


Bola mata Arga sempat hilang arah karena gugup. "Bukannya bagus, Bun ... kalau aku menginginkan keturunan. Itu berarti aku ini juga punya keinginan menjadi seorang ayah," kilah Arga tidak sepenuhnya bohong. Dia juga ingin menjadi seorang suami dan ayah yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Bunda mengerti. Hanya saja jangan terlalu keras soal ini. Kehamilan itu pada hakikatnya tidak bisa kita atur-atur untuk segera ataupun di tunda. Kita tidak punya kuasa atas itu." Arga mengangguk mendengar nasehat bunda. "Apakah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya yang tidak sehat di antara kalian berdua?"


"Ada sedikit hal yang membuat kita cemas, tapi dokter Gilar bilang tidak perlu khawatir," ujar Arga membicarakan garis besarnya saja.


"Baiklah. Sudah, bunda mau masuk. Hati-hati berangkat ke kantor." Setelah berpamitan dan mencium tangan bunda, Arga berangkat ke kantor.



***


Asha sudah bisa menyelesaikan urusan dapur. Sejak Asha bertekad untuk memasak, nyonya Wardah sengaja menyerahkan semua urusan dapur di tangan menantunya. Itu juga bukan soal mudah. Kadang ada sedikit kritikan dan nasehat. Asha menerimanya dengan senang hati.


Masalahnya lebih kepada orang-orang rumah yang di jadikan percobaan acara memasak Asha. Namun tidak ada yang protes ataupun mengeluhkan soal masakan. Mungkin itu di karenakan nyonya Wardah ada di balik pembelajaran Asha, jadi semua tidak bisa berkomentar.


Setelah dapur di teruskan bik Sumi untuk dirampungkan, Asha ke belakang. Ke tempat mencuci. Bernostalgia bersama Rike. Asha membawa sepiring brownies yang masih banyak untuk Rike.


"Kata Bik Sumi kemarin Mbak Asha ke dokter buat periksa hamil. Sudah hamil berapa bulan, Mbak?" tanya Rike sambil memasukkan sepotong brownies ke dalam mulutnya setelah mengatakan kalimat itu.


"Iya, tapi aku masih belum hamil. Hanya periksa saja." Rike manggut-manggut. "Doakan aku segera dapat momongan ya, Ke," pinta Asha.


"Iya. Semoga mbak Asha segera dapat momongan. Kalau bisa kembar."


"Senang juga sih kalau kembar, tapi takut nanti kerepotan saat merawatnya." Asha tertawa kecil.


"Benar. Apalagi saat nangis kedua-duanya." Rike tertawa juga. Namun kemudian Rike berdiri seraya mengusap mulutnya yang masih tersisa bekas brownis. Menganggukkan kepala lalu bersikap tenang. Asha menolehkan kepala. Ternyata ibu mertuanya muncul di area penjemuran ini. Asha beranjak berdiri dari bangku.


"Ada apa, Bun?" tanya Asha heran. Momen yang sangat langka.


"Karena urusan dapur sudah di selesaikan sama kamu dan Bik Sumi, bunda jadi ingin keliling rumah," jawab nyonya Wardah sambil tersenyum.


"Mbak, aku menjemur lagi ya?" bisik Rike. Asha mengangguk. Rike meneruskan pekerjaannya. Nyonya Wardah duduk di bangku tempat Rike duduk tadi. Asha mengikuti. Padahal dia pikir ibu mertua akan mengajaknya masuk.


"Apa disini, pertemuan kalian berdua? Kamu sama Arga," tanya nyonya Wardah melihat ke sekitar area penjemuran. Asha terkejut dengan pertanyaan nyonya Wardah. Ini memang tidak pernah di bahas sama sekali di antara bunda dan Asha. Hubungan dia dan Arga selalu di sembunyikan dari beliau.


__ADS_1


__ADS_2