Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Suasana Hati


__ADS_3



Arga yang baru saja pulang dari jamuan makan dengan teman bisnis, melewati alun-alun kota. Dia sedang bersama Rendra.


"Sepertinya aku melihat Asha," ujar Arga. Rendra menghentikan mobilnya. Namun sekretaris itu tercekat melihat pelayan itu bersama seorang pria. Dia ingin mencegah Tuannya keluar tapi Arga sudah melihat ke arah sana. Di seberang. Dimana perempuan muda itu sedang berdiri di pinggir jalan. Namun ia tidak sendirian, Asha di temani seseorang.


***


Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, Arga menyempatkan diri ke area mencuci. Pagi sekali. Sampai Rike terkejut dengan kemunculan tuan muda. Dia bingung harus bagaimana. Kakinya langsung pergi keluar.


"Kenapa pagi sekali ke area ini. Jam ini jam-jam sibuk, Ga," protes Asha.


"Acara pertemuanmu dengan teman sekolah berjalan lancar?" tanya Arga tidak mengindahkan protesnya Asha.


"Ya. Ini pertama kalinya aku dan Kiran bertemu setelah sekian lama. Dia sahabatku saat sekolah," terang Asha dengan sunggingan senyum pada bibirnya.


"Itu menyenangkan?" Arga berdiri di dekat Asha dan mesin cucinya.


"Ya, tentu saja. Bertemu teman lama sangat menyenangkan. Apalagi dia sahabat kita." Lagi-lagi bibir Asha tersenyum membuat wajah Arga masam.


"Apa ada hal lain yang sangat menyenangkan? Kamu terlihat bersemangat."


"Hmm... mungkin karena kamu ada di sini bersamaku," tunjuk Asha pada dada bidang  Arga. Masih tersenyum seperti tadi.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Siapa dia?" tanya Arga tanpa basa-basi. Kepala Asha menoleh cepat. Menatap Arga dengan mencoba mencerna pertanyaan yang meluncur barusan. Pertanyaan aneh yang langsung keluar tanpa ada suatu awalan sebuah cerita.


"Siapa yang kau maksud?"  Asha membuat kerutan samar pada keningnya. Heran. Aneh.


"Pria yang berdiri bersamamu di jalan besar dekat alun-alun kota," kata Arga masih menatap dengan menambahkan sedikit tampang dingin pada raut wajahnya.


Jujur, Asha sedikit terkesiap mendengar perkataan Arga. Tentu saja Asha merasakan getar pada tubuhnya saat Arga mengatakan itu, karena itu Reksa. Pria itu. Dan jika Arga menemukannya di sana, itu berarti dia melihat saat Reksa memberikan jaket pada bahunya dengan penuh perhatian.


"Dia teman sekolah," jawab Asha singkat.


"Kamu sengaja menyembunyikan dariku?" Saat mengatakan ini, Asha tahu Arga sedang menahan amarahnya. Walaupun tidak ada intonasi dengan nada tinggi, Asha tahu Arga menahan diri karena marah.


"Tidak." Asha masih saja menjawab dengan singkat. Mencoba berhati-hati karena Arga seperti akan meledak.


"Kenapa tidak ada cerita tentang pria itu dalam kalimatmu?"


"Karena aku memang tidak harus menceritakan tentang dia. Dia tidak penting," ucap Asha lebih panjang pada akhirnya. Arga diam masih dengan raut wajah kaku melihat ke arah Asha.

__ADS_1


"Bagaimanapun tidak pentingnya dia, pria itu pasti menganggap kau adalah orang penting baginya. Bukankah begitu?" desak Arga dengan mata tajam.


"Aku tidak tahu," jawab Asha setengah menunduk.


"Bagaimana kau bisa tidak tahu? Kedua bola matamu tidak berhenti menatapnya. Kalian berdua. Kalian berdua saling menatap agak lama. Aku yakin kau tahu dengan pasti, perbedaan seorang lelaki saat menatapmu." Arga mulai memberi dakwaan. Bukan lagi menginterogasi. Dia sudah melayangkan sebuah pendakwaan. Kepala Asha mendongak. Menatap Arga dengan terkejut. "Aku tahu kau paham arti dari mata lelaki itu," tukas Arga dengan raut wajah dinginnya.


"Ini tentang dia, bukan aku. Kau membicarakan mata lelaki itu bukan aku," bantah Asha.


"Aku memang membicarakan dia." Arga mendengkus mendengar bantahan Asha. "Aku heran kau bisa bersikap tenang, saat aku sudah menemukanmu sedang berduaan dengan pria lain. Pria yang berbaik hati memberikan jaketnya pada tubuhmu yang menggigil kedinginan."


Aku tidak tenang. Aku gemetar. Apa kamu tidak lihat tanganku terus saja gemetar?


"Aku tidak melakukan apapun. Juga... kalau kau memang sangat ingin tahu ada apa aku dan pria itu, seharusnya kau mendatangiku. Kau bisa langsung bertanya...." sesal Asha.


"Kau pasti tahu apa yang akan terjadi kalau aku menghampirimu. Aku akan menyeretmu dari sana dan menghajar pria itu tanpa ampun. Aku masih menghormatimu," ujar Arga sambil menggertakkan giginya. Asha menghembuskan napas kasar karena merasa sedikit sesak melihat tatapan Arga yang menusuk.


Bibirnya bungkam. Asha diam. Tidak membantah ataupun memberi alasan. Keduanya diam. Tidak bergerak maupun mengeluarkan kata-kata. Keduanya masih dengan pikiran masing-masing. Agak lama.


"Kau harus tahu kalau aku tidak suka itu, Asha. Aku tidak suka interaksimu dengannya yang tidak wajar," ujar Arga akhirnya setelah membuang rasa marahnya. Asha mendongak. Tangannya meraih bahu Asha dan meraup tubuh itu ke dalam pelukannya. "Aku tidak ingin melihat kamu seperti itu, Sha," ucap Arga dalam peluknya.


"Aku tahu, Ga," sahut Asha pelan. Tangan Asha membalas pelukan Arga.


"Ga! Arga!" panggil Bunda yang tiba-tiba muncul di tempat penjemuran. Asha terkesiap dan langsung melepaskan pelukannya. Mendorong tubuh Arga agar menjauh darinya. Arga yang melihat keluar terkejut saat Asha menjauh darinya.


"Cepatlah keluar. Aku tidak mau Nyonya Wardah tahu kamu ada disini berdua denganku," pinta Asha. Mata Arga menatap Asha agak lama.


"Cepatlah, Ga. Keluarlah...," pinta Asha dengan berbisik. Dahinya mengerut karena takut dan panik. Arga hanya diam. Matanya tetap menatap Asha lekat. Sampai akhirnya Nyonya Wardah sampai di ambang pintu tempat mencuci. Asha merasakan napasnya tercekat melihat kedatangan majikan di tempat cuci ini.


"Sha, kamu lihat Ar...," suara Nyonya Wardah tenggelam saat melihat putranya duduk dengan tenang di kursi yang berada tepat di belakang Asha. "Ga." sebut Nyonya Wardah tertegun melihat putranya ada di sini. Sebenarnya beliau sudah di beritahu bahwa Arga ada di taman belakang. Hanya saja Nyonya Wardah tidak menyangka bahwa putranya benar-benar berada di tempat ini.


Kepala Arga melongok ke arah bundanya. Tidak ada raut wajah takut atau panik. Arga biasa saja melihat kedatangan Bundanya. Menemukannya sedang duduk di atas kursi dan menemani pelayan area mencuci ini.


Perlahan dia beranjak berdiri dan melihat  Nyonya Wardah. "Ada apa, Bun?" tanya Arga tenang. Mata Nyonya Wardah masih menatap Arga dengan luarbiasa heran. Ini pertama kalinya beliau mendapati putranya berada di area mencuci. Setahu beliau, Arga tidak pernah menjamah tempat ini. Dia enggan kesini karena merasa sudah tidak ada perlu lagi, jika pakaian kotornya sudah di berikan ke Bik Sumi.


Pakaian bersih sudah selesai di setrika oleh Bik Sumi dan di letakkan di dalam kamar oleh Nyonya Wardah. Tuan muda itu tidak perlu lagi ke area mencuci.


"Kamu sedang apa?" tanya Nyonya Wardah masih tertegun.


"Tidak ada. Hanya duduk di sini. Mengajak ngobrol Asha saat dia mengerjakan tugasnya." Kali ini Nyonya Wardah menolehkan kepala ke arah pelayan yang sedang berdiri di dekat mesin cuci.


"Oh, ya, ya... Kau ingin mengenal lebih dalam semua pekerja sini, ya?" tanya Nyonya Wardah dengan senyum mengerti. Beliau menganggap ini bagian dari kebaikan seorang tuan muda yang ingin dilakukan Arga.


"Aku tidak perlu mengenalnya lagi, aku sudah tahu dia bagaimana." Arga berjalan menjauhi mesin cuci. Nyonya Wardah bingung menangkap maksud perkataan Arga. Namun Beliau lebih ingin melihat Asha yang sejak tadi hanya diam. Asha menyatukan tangannya di depan. Merapikan gerak tubuhnya agar nampak sopan di depan majikan.


Bibir Nyonya Wardah tersenyum tipis dengan mata memindai. Asha terkejut. Mengapa nyonya Wardah tiba-tiba tersenyum. Senyuman itu bukan senyum ramah tamah. Senyuman itu adalah cara mengaburkan pandangan dari tujuan sebenarnya, yaitu Nyonya Wardah sedang menilik tubuh pelayan di depannya.


Melihat kesekeliling tempat cuci dan melihat Asha lagi.

__ADS_1


"Sampai kapan Bunda akan melihat Asha seperti itu? Dia akan merasa canggung jika harus bekerja dengan bola mata majikan yang selalu mengawasinya," tegur Arga yang masih di dekat pintu, memperhatikan Beliau mengamati Asha.


"Ehh... Bunda tidak mengawasinya seperti itu. Kamu ini...." Nyonya Wardah menepuk punggung putranya pelan dan mengikuti keluar dari sana.


Mata itu seperti mengancam akan melakukan sesuatu yang menakutkan bagi Asha. Arga tadi secara terang-terangan ingin mengungkap hubungannya di hadapan Nyonya Wardah. Asha menghela napas.


Baginya memang paling menakutkan adalah bagaimana reaksi orangtua Arga jika tahu putranya menjalin hubungannya dengan dirinya. Bukan karena Asha adalah seorang pelayan, tetapi dampak bagi orang lain atas pilihannya, termasuk dampak bagi Arga.


***


"Kamu akan mengajak Asha ke kantor Arga?" tanya Nyonya Wardah saat mendengar permintaan Paris. Kepala Paris mengangguk. Nyonya Wardah tidak langsung menjawab, tapi masih melihat ke arah Asha yang mulai terlihat pendiam belakangan ini. "Kamu bisa berangkat sendiri kalau memang ada perlu. Angga bisa mengantarkanmu." Kalimat Nyonya Wardah ini lebih mirip perintah daripada sebuah usulan.


"Sebenarnya bukan ke kantor kak Arga, Bun. Tapi aku ingin mengajak kak Asha ke supermarket. Ya... kalau ada waktu sekalian mampir ke kantor Kak Arga," lanjut Paris. Nyonya Wardah ragu. "Bunda menyuruhku ke supermarket bukan? Aku akan berbelanja di sana. Beri aku catatan, aku akan membeli semua yang Bunda butuhkan." Paris memberikan tawaran.


"Ini hanya tugas berbelanja, Asha," kata Nyonya Wardah dengan kalimat tersirat arti lain. Asha hanya mengangguk. Setelah Nyonya Wardah menuliskan beberapa catatan pada sebush kertas, Paris bersiap berangkat. "Kalian harus mengajak Angga." Nyonya Wardah memberi persyaratan juga. Memperbolehkan Paris mengajak Asha, asal bersama Angga. Paris setuju.


Siang menjelang sore ini, mereka berangkat berbelanja juga.


"Memangnya ada perlu apa ke sana?" tanya Asha yang sekarang merasa tidak nyaman saat melihat Nyonya Wardah memandanginya agak lama tadi. Banyak pikiran berkecamuk dalam kepalanya.


"Berbelanja. Aku hanya ingin mengajak Kak Asha berbelanja, bukan hal lain," jawab Paris.


Di waktu yang sama Arga kembali menerima tamu dari kantor pajak pemerintah. Karena telah mendapatkan SPT tahunan, perusahaan wajib memberi laporan rinci. Setelah bertemu dengan staff managemen perpajakan, Arga mengajak mereka untuk makan dan berbincang bersama di salah outlet makanan yang udah punya taraf internasional.


Saat menerima mereka kembali untuk kedua kalinya, Arga seperti menemukan sesuatu. Dia merasa pernah melihat salah satu pegawai pajak yang sedang bersamanya itu. Namun Arga segera menepis itu karena tidak penting.


**


"Kenapa kamu ikut masuk, An?" tanya Paris heran. Tubuh besar itu mengikuti mereka sampai supermarket.


"Kalau belanjaannya banyak, saya bisa membantu membawanya, Nona...," ucap Angga sopir rumah berbadan gempal itu memberi alasan.


"Okelah...."Akhirnya mereka bertiga berbelanja bersama.


Setelah belanjaan penuh dan sesuai dengan catatan Nyonya Wardah, mereka mencari outlet makanan.


"Enaknya makan apa ya?" Paris mikir. "Apa kita perlu ngajak kak Arga?" tanya Paris ke Asha.


"Tidak perlu. Lebih baik kita pulang saja. Nanti Nyonya Wardah mencari kita," usul Asha yang merasa tidak nyaman berlama-lama.


"Tidak apa-apa, Kak. Tidak lama kok." Paris memaksa. Akhirnya Asha menuruti. Mereka bertiga melihat-lihat dulu mau menuju ke mana sambil mendorong trolly belanja.


"Makan nasi saja, Non. Kalau makan bukan nasi nanti gak kenyang," usul Angga. Asha juga berpikir begitu. Namun mulutnya diam. Dia sedang merasa gelisah. Entah karena apa. Sejak tadi dia memang terus saja diam.


Kaki Asha hanya mengikuti Paris dan Angga yang sedang berdiskusi akan memilih mencari makan di mana. Akhirnya mereka sampai pada gerai makanan yang menyajikan bermacam menu nasi.


"Asha," tegur seseorang di belakang Asha. Tepat di dekat pintu outlet makanan. Tubuh Asha berputar mendengar teguran itu.

__ADS_1



__ADS_2