Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Kecelakaan


__ADS_3

"Jangan coba berbohong dengan saya. Kalau gak kamu buka pintu ini. Saya ingin memastikan sendiri.." Sentak Renaldy kesal. Ntah kenapa dirinya tiba-tiba saja jadi kesal.


Luziana yang mendengarnya, langsung membukakan pintu kamar mandi. Terlihatlah wajah istrinya yang pucat.


"Kamu kenapa ada yang sakit," Tanya Renaldy dengan raut wajah cemas.


"Saya gak papa mas" Balas Luziana seraya berjalan menuju kasur. Ia pun merebahkan tubuhnya di kasur tersebut.


"Mau saya buatkan teh hangat?" Lontar pertanyaan dari Renaldy dengan raut wajah yang masih sama.


Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan. Renaldy pun segera membuat teh hangat istrinya.


Setelah beberapa menit, Renaldy pun datang dengan membawa teh.


"Ini di minum.." Renaldy memberikan teh hangat pada istrinya. Luziana pun menerimanya, dan meminumnya dengan pelan.


"Makasih ya.." Luziana memberikan kembali teh hangat tersebut yang tinggal setengah. Dan merebahkan tubuhnya kembali.


"Mas.. tolong ambilkan minyak kayu putih" Pinta Luziana kepada suaminya. Renaldy pun menurutinya, dan mengambilnya.


"Mau saya taruhkan minyak kayu putih di leher kamu" Tanya Renaldy yang sudah mengambil minyak kayu putih.


Luziana nampak menimbang-nimbang takutnya kejadian siang terulang lagi.


"Saya gak lakukan hal lebih kok.." Ujar Renaldy yang melihat keraguan dari istrinya. Luziana pun mengangguk kepalanya pelan, sebagai jawaban.


Renaldy pun menaruhkan minyak kayu putih di leher istrinya. Bukan hanya disitu saja, di perut istrinya juga. Saat mengusap perut istrinya, ada terasa kayak aneh gitu. Terasa hatinya seperti berbunga-bunga. Setelah melakukan itu, Luziana pun memutuskan tidur kembali setelah merasakan enakan.


Dengan tidurnya, mendekat dengan suaminya. Merasa kan aroma wangi, yang begitu enak di cium. Renaldy yang melihat istrinya sudah tidur, di pukul jam dua belas malam. Mengecup kening istrinya sekilas.


Kejadian yang baru tadi terjadi, teringat kembali di pikiran Renaldy. Kok bisa istrinya muntah-muntah setelah meminum KB itu. Padahal KB nya betul dia beli. Untuk mencegah kehamilan.


Kalau tanya kenapa mereka mengunakan KB. Padahal Luziana sudah hamil duluan. Faktor utamanya mereka ingin mencegah kehamilan, kedua mereka itu gak tahu kalau Luziana itu lagi sedang mengandung. Makanya meraka gak tahu Luziana sedang hamil, Renaldy memberikan KB. Kalau tahu gak mungkin, mereka kasih hal begituan pada istrinya.


Dan mengunakan KB di saat selagi hamil tidak selalu berbahaya. Namun hanya saja, bagi yang sensitif akan memicu muntah, nyeri kepala, pusing. Bahkan juga bisa menyebabkan kontraksi rahim yang rentan dah berujung keguguran. Kemudian biasanya, hormon kehamilan bisa terganggu.



"Gue pulang bareng Lo ya lun. Soalnya gue harini gak bawa mobil, lagi malas soalnya" Pinta Karina yang berada parkiran sekolah.



"Boleh kok.." Jawab Luziana seraya tersenyum.



Mereka pun pulang bareng, dengan Luziana yang membawa motornya.



"Gue jadi sedih Luziana kakak kelas, kita sekarang dah mau tamat aja" Ungkap Karina kakak kelas yang ia sukai, gak lama lagi sudah tidak sekolah lagi di SMA Harvard sudah melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi lagi.



"Jangan sedih, kan kalian bisa chatting lewat WhatsApp" Balas Luziana yang sedikit mengerti perasaan temannya sembari fokus mengemudi motor nya.



"Ya juga sih tapi dia sombong tahu, masa chat Wa gue gak di balas" Gerutu Karina kesal.



"Mungkin aja sibuk.." Sahut Luziana santai.



"Masa iya sibuk chat gue sampai berhari-hari gak di bales, emang ada sampai sesibuk itu ya.." Tutur Karina seperti sudah jadi pacarnya saja.

__ADS_1



Luziana menanggapinya menyengir. "Heheh.. aku aja gak tahu" Luziana kurang peduli namanya dengan cinta-cintaan. Dia aja belum pernah jatuh cinta sama cowok apalagi suka. Luziana hanya lebih, fokus dengan pasangan halalnya.



Tak terasa mereka berbicara di motor, tiba-tiba ada mobil lewat yang berlawanan arah. Luziana yang ingin menginjak rem, sudah telat karena mobil itu berlaju dengan cepat.



Brakk...



Suara motor jatuh. Sontak mengalihkan pandangan orang sekitar. Dengan segera orang sekitar pun membantu korban kecelakaan.



Karina meringis pelan, merasa sakit pada siku tangannya dan luka lecet lainnya. Sementara Luziana sudah terbaring tidak sadar kan diri.



"Keluar oi jangan mau kabur aja.. tanggung jawab ini" Bentak warga seraya mengetuk kaca mobil.



Pelaku tabrak itu keluar, dengan mencebik kesal.



"Ck' iya-iya saya gak bakal lari kok..." Balas wanita yang seperti bak model.



"Suster tolong ambilkan kantong darah dua.." Titah dokter kepada perawatnya. Perawatnya pun mengangguk mengiyakan, dan segera mengambil infus darah.



"Keadaan pasien dan janinnya gimana dokter" Tanya suster yang memengang kertas di tangannya.



"Keadaan pasien sekarang sudah lebih baik. Cuman kandungannya lemah harus butuh perawatan untuk beberapa hari.." Ujar dokter tersebut yang menatap Luziana yang terbaring lemah.



"Dok apa kita harus mengasih tahu teman pasien. Bahwa temannya sedang hamil, biar di kasih tahu langsung ke keluarganya" Ucap suster tersebut.



"Gausah cukup kamu kasih tahu, bahwa keadaan pasien sudah lebih baik sekarang. Tentang kasih tahu informasi ke keluarganya biar saya urus" Tukas dokter tersebut. Dan tidak ingin orang lain ingin campur. Karena dia mengenal siapa wanita ini.



"Baik dokter.."



Di tempat lain, namun masih di tempat yang sama.


"Udah mah.." Karina di buat pusing oleh Mama nya. Yang gak ingin cuman ganti rugi saja. Namun, harus juga berurusan dengan Kapolsek.


"Dengar ibu... saya disini gak bersalah cuman teman anak ibu yang gak becus bawa motornya. Jadi ketabrak deh" Ucap wanita bak model itu dengan santai. Nama wanita tersebut adalah Clara. Yang menyukai Renaldy semenjak SMA.


Emosi Kinasih makin meledak.


"Enak sekali ya! kamu ngomong. Padahal jelas-jelas anak saya bilang kalau kamu yang mobilnya mancam anak tolol. Dengar ya kalau gak bisa bawa mobil gausah sok-sokan bawa mobil.. tolol banget sih" Cibir Kinasih dengan mata sinis.

__ADS_1


Mata Clara langsung menyalang.


"Hei ibu-ibu tua udah bau tanah gausah sok-sokan banyak gaya. Mending Lo tobat sana sebelum nyawa Lo dia ambil sama tuhan" Cibir balik Clara yang gak mau kalah.


"Apa kamu bilang.." Balas Kinasih dengan menggebu-gebu. Tangannya pun terulur menjambak rambut Clara yang sepunggung itu.


"Dengar ya dari pada kamu dasar ******.." Kinasih pun mendorong Clara hingga terjatuh.


"Auw... dasar ibu sialan" Saat ingin membalas balik, sayangnya dokter sudah datang dan melerai pertikaian mereka.


"Tolong jangan ribut disini.. disini banyak pasien yang lagi istirahat, jadi terganggu gara-gara kalian" Ujar dokter yang menangani Luziana.


Mereka pun berhenti bertengkar. Dan memilih untuk diam.


Dokter itu pun menarik nafas dalam-dalam, sebelum melanjutkan perkataannya.


"Untuk keluarga pasien Karina sudah boleh pulang untuk obatnya harus selalu di minum sesuai dengan waktu yang telah di tentukan" Tutur Dokter tersebut.


"Baik dokter, kalau boleh tahu bagaimana dengan teman saya?" Tanya Karina dengan perasaan khawatir.


"Keadaannya sekarang sudah lebih baik, tapi butuh di rawat untuk beberapa hari" Ucap dokter yang menangani Luziana bernama dokter Mala.




Prakk



Suara gelas jatuh saat rapat, membuat perasaan Renaldy menjadi kalut. Apalagi yang jatuh itu gelas miliknya. Semua pandangan menatap tuan muda mereka.



"Mohon maaf..." Ujar Renaldy seraya mau membersihkan pecahan gelas. Namun langsung di hentikan oleh sekertaris Seno.



"Kenapa perasaan aku jadi gak enak.." Gumam Renaldy di dalam hati.



"Tuan..," Panggil sekertaris Seno. Namun tidak ada respon.



"Tuan Renaldy.." Panggil sekertaris Seno dengan suara naik beberapa oktaf.



"Iya ada apa?" Lamunan Renaldy buyar.



"Pecahan gelas nya biar saya bersihkan saja" Ucap sekertaris Seno. Dan di anggukan kepala oleh Renaldy sebagai jawaban.



Dan tiba saja ada panggilan masuk dari telponnya. Tertera nama Bibi Mala. Ada yang masih mengenal bibi Mala? Renaldy pun mengangkat panggilan telepon tersebut.



"Halo..."



...----------------...

__ADS_1


__ADS_2