
Mommy Liona yang berada di balkon, menatap datar ke arah Luziana yang sedang mengeluarkan motornya di garasi. Pas waktu selesai magrib. Ntah kenapa Mommy Liona terlihat akhir-akhir ini berubah, karena pikiran wanita paruh baya itu sudah di racuni oleh putrinya sendiri, Meysa. Meysa sudah menjelekkan Luziana di depan Mommynya dan mengatakan, kalau sikap Luziana tidak seperti Mommy lihat. Disitulah Mommy yang selalu sikap baik sama menantunya, kini berubah.
Sikapnya, seperti itu hanya untuk menjaga-jaga bila terjadi sesuatu.
Di tempat sebuah cafe mewah Luziana tersenyum sumringah, menatap temannya yang mengasih kejutan ulang tahunnya.
"Happy birthday Luziana.... yang ke tujuh belas tahun" Seru teman karib Luziana, yaitu Lisa, Anita, Karina.
Mata Luziana berkaca-kaca melihat kejutan yang di buat oleh temannya. Dia sendiri tidak mengingat, kalau bahwa dia dirinya ulang tahun.
"Iih kalian bikin terharu deh.. kirain apaan tadi, ternyata ini toh. Tapi makasih hadiahnya" Luziana memengang kado yang tidak terlalu gede, dari pemberian tiga temannya itu.
"Di buka kadonya.." Ujar Lisa yang duduk di hadapan Luziana.
"Iya ni..aku buka ya" Luziana membuka bungkusan kado, dan terlihat isi bungkusan kado dalam tersebut.
Isi kado itu adalah, sebuah ponsel bermerek iPhone 7 plus.
"Itu kado dari kami bertiga, ponselnya jangan lupa di pakai ya. Awas itu kalau gak di pakai. Ntar kami pukul Lo lun" Ucap Anita seraya tergelak tertawa.
"Iihh makasih kadonya" Ucap Luziana dengan mata berbinar-binar.
"Sama-sama" Seru mereka bertiga kompak.
"Sekarang kita makan-makan.." Seru Lisa dan Anita dengan senang.
"Makanannya biar aku bayarin aja ya" Ucap Luziana kepada teman karibnya. Luziana gak ingin mereka udah beri kado, terus makanannya mereka bayar sendiri. Apalagi kadonya ponsel iPhone yang terbilang dengan harga cukup mahal.
Teman Luziana yang ingin menolaknya, gak bisa. Luziana terlalu memaksa kalau dirinya, yang bakal bayarkan makanannya semua. Mau gak mau, mereka bertiga menerimanya. Dan mereka makan semua habis total lima ratus ribu. Soalnya cafe yang mereka buat acara itu, tergolong cafe mewah.
Sementara di rumah keluarga Hervandez. Yang tengah makan malam. Papi Devan mencari keberadaan menantunya itu.
"Mommy Luziana mana?" Tanya Papi Devan seraya menunggu menantunya itu, untuk makan malam.
"Gausah di tunggu, mending kita makan terus. Orang yang Papi tunggu gak bakal datang" Ucap Mommy Liona dengan nada dingin.
"Renaldy..." Seorang wanita memanggil pria itu dengan suara yang begitu di lembut-lembutin. Kevan yang berada di ruangan itu, muak mendengarnya.
"Aku rindu tau sama kamu.... " Sambung nya lagi dengan tatapan mendamba. Renaldy yang sedang memeriksa berkas, menatap wanita yang sedang duduk di depannya dengan tatapan tajam.
"Kau bisa diam!" Suara yang terdengar begitu dingin, dan sorot matanya yang tajam. Membuat wanita yang sedang di hadapannya takut.
__ADS_1
Kevan yang berada di situ tergelak tertawa.
"Clara.. Clara.. Renaldy lagi kerja Lo gangguin sama aja Lo cari mati" Ucap Kevan dengan suara yang sedikit begitu keras. Ya wanita di hadapan Renaldy bernama Clara hanasena, seorang model papan atas dan sekaligus teman satu masa SMA mereka. Clara sudah sedari dulu mendambakan pria sosok seperti Renaldy. Tampan, mapan, gagah kaya raya, pekerja keras dan harta yang begitu melimpah.
Clara yang sedikit tahu sifat Renaldy. Memanfaatkan kerja sama, untuk mendekati Pria itu.
Clara menelan saliva-nya yang begitu susah.
"Jangan galak-galak dong.." Ucap Clara seraya menyengir. Tatapan Pria itu makin tajam.
"Gimana kita makan-makan dulu yuk minum kopi gitu" Ujar Clara seraya tersenyum Kikuk.
Renaldy menatap istrinya datar yang kini di hadapannya bersama, seorang perempuan.
"Tunggulah ni cowok kejar kita mulu.." Jawab Nadia yang berbisik juga. Cowok yang mengejar Nadia adalah Kevan, mengapa Kevan mengejar Nadia. Karena Kevan ingin meminta ganti rugi atas lecet mobilnya di tabrak oleh Gadis di depannya ini.
"Saya gak mau tahu! kamu harus ganti rugi" Tukas Kevan.
"Udahlah Kevan ikhlaskan aja..." Ucap Clara seraya tersenyum yang berdiri di dekat Renaldy.
"Enak aja! Lo kira mobil gue murah. Mobil gue itu keluaran terbaru" Balas Kevan yang gak terima mobilnya lecet, di suruh ikhlaskan.
"Heleh Renaldy aja, kalau rusak beli baru lagi kan. Iya sayang kan gak ada itu minta ganti rugi..." Clara menatap Renaldy dengan tatapan penuh damba. Namun yang orang ia tatap itu menatap Luziana.
Luziana yang mendengar, suaminya di panggil sayang. Merasa biasa saja, dan merasa cocok wanita itu dengan suaminya. Dilihat penampilan wanita itu yang fashion, dan seperti orang kaya raya. Gak seperti dirinya.
"Betul kata kakak cantik ini. Mending om beli baru saja mobilnya" Ucap Nadia yang setuju dengan ucapan Clara.
"Lo kira gue banyak duit, terus ngapain Lo panggil gue om. Lo kira gue om Lo" Ucap Kevan ketus. Nadia memutar bola matanya malas.
"Renaldy kamu kenapa asik natap anak gembel ini mulu.." Ucap Clara yang mengatakan Luziana gembel seraya memeluk lengan Renaldy.
"Siapa Lo katain gembel?" Tanya Kevan menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Cewek yang pakai hijab ini, lihat aja pakaiannya masa pergi ke Mall pakai baju Doraemon. Kenapa gak sekalian motif monyet" Cibir Clara seraya tersenyum miring.
"Ya suka-suka gue lah emang Lo emak gue, ngatur-ngatur hidup orang. Gak ada pun di sini larangan pakai baju bermotif" Balas Luziana yang gak terima di jelekkan.
"Iya emang gak ada! tapi sadar diri dikit penampilan Lo kayak gimana ini Mall bukan pasar. Lagipun Lo anak SMA kan, masak pakai pakaian bocah" Clara menatap sinis. Ntah kenapa dia emosi sendiri menatap Luziana padahal Luziana gak ada apa-apa in, dia mungkin karena dia panas sendiri, karena Renaldy asik menatap Luziana.
"Kau sepertinya suka sekali menilai penampilan orang ya.." Ucap Renaldy membuka suara seraya menyentak kasar tangan wanita itu.
Clara yang mendengarnya, tersenyum kecut.
Nadia yang malas berlama-lama disitu. Menarik tangan Luziana untuk kabur dari Kevan. Kevan melihat wanita yang menabrak mobilnya lari. Pergi mengejarnya. Renaldy yang melihatnya mengikuti juga.
Clara memutar bola matanya jengah. "Kenapa kita jadi kejar tu bocah sih" Gumamnya.
Semua orang tertawa menatap Luziana. Luziana yang melihatnya jadi bingung sendiri. Kenapa coba dia harus terpisah dari temannya itu.
"Ini aku tangga, ku naikin kenapa ribet amat ya" Gumam Luziana yang naik eskalator.
Renaldy yang melihatnya istrinya. Menarik tangan perempuan itu.
"Eh-eh siapa narik tangan aku" Gumam Luziana.
"Kamu ngapain narik tangan aku" Ucap Luziana seraya mengusap tangannya.
Renaldy menghela nafas panjang. "Gak bakal dosa, saya narik tangan istri sendiri" Ucap Renaldy santai.
"Iya tapi kita jadi pusat perhatian" Balas Luziana.
"Iya gak papa biar mereka tahu kau itu istri saya" Ucap Renaldy datar.
__ADS_1
"Enak banget ngomongnya, tentang pernikahan kita itu privasi. Kamu itu orang yang paling terpengaruh di kota ini. Ntar saya di cap wanita kegatelan dengan pria. Padahal kamu yang narik tangan aku. Iya biasa orang kaya yang paling benar"