Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Ibu totalitas


__ADS_3

"Lun, ayoo Loh nantik lahiran kayak gimana... Apalagi Lo masih muda umur 17 tahun. Terus melahirkan itu sakit loh. Nanti Lo mati suami Lo nikah lagi" Canda Karina dengan raut wajah di buat serius.


Luziana mendengarnya, mengerutkan dahinya.


"Masa sih," Balas Luziana yang tidak begitu percaya dengan candaan temannya itu.


"Itulah Lo, polos banget. Tau gak sakit melahirkan itu bagaikan 20 tulang rusuk yang di patahkan secara bersamaan. Ibarat nya kaki sebelah lu di tanah sebelahnya di dunia. Ya konsepnya banyak orang meninggal pas melahirkan gitulah" Ucap Karina yang gak tau cara menjelaskan menakuti kawannya itu.


Luziana hanya terdiam sejenak, dan seperti memikirkan sesuatu. Karina yang melihat, ada ketakutan di wajah Luziana. Tertawa dalam hati.


"Yang sabar ya.." Ucap Karina memecahkan keheningan seraya menahan tawanya.


Sementara Luziana menatap heran, dengan teman sohibnya satu ini.


"Aku mau cuci piring yang kotor ini dulu ya.." Ujar Luziana ingin mencuci piring bekas punya Karina.


"Biar gue aja, Lo kan lagi hamil gak boleh capek-capek" Balas Karina yang gak ingin terlalu bebankan temannya.


"Gak papa cuman cuci satu piring, sendok dan gelas kok, lagi pun kamu gak bisa kan kayak begituan kan" Balas Luziana yang tidak merasa diberatkan.


"Paham banget sih kamu" Karina memainkan alisnya. Luziana yang menatap Karina merasa jijik dengan tingkah cewek itu.


Luziana pun mengambil piring kotor, sendok dan gelas kotornya. Ia pun segera menuju ke toilet. Setelah berada di toilet. Luziana pun mulai mencuci piringnya.


Terlihat perempuan itu nampak melamun saat mencuci piringnya. Memikirkan omongan Karina tadi. Tanpa sadari ia menyenggol gelasnya. Gelas itu pun jatuh dan serpihan kacanya itu mengenai kaki Luziana. Apalagi Luziana itu memakai sendal jepit.


Prang


"Astagfirullah.." Lamunan Luziana pun buyar. Dan melihat pecahan gelas tersebut.


"Aduuh payah jatuh segala.." Luziana ingin mengambil pecahan gelas nya susah. Karena perut buncitnya. Dengan terpaksa Luziana memaksa mengutipnya.


Setelah selesai mengutip nya. Perutnya pun terasa kram.


"Auww perut ku sakit sekali.." Luziana memengang dinding toilet untuk menahan tubuhnya biar gak ambruk. Ia pun menarik nafas dalam-dalam.


"Kamu harus tenang lun jangan stress begini.." Gumam Luziana pada dirinya sendiri. Merasa rasa kram nya, sudah berkurang. Ia pun melanjutkan mencuci gelas, sendok dan piring nya.


"Lama banget sih Lo lun di toilet.." Ucap Karina melihat Luziana yang, sudah selesai mencucinya, seraya melepaskan headset di kupingnya.


Luziana menanggapinya dengan tersenyum tipis.


"Aku tadi buang air kecil dulu.." Balas Luziana mendusta. Karina mengangguk kepalanya sebagai jawaban dan kembali memasang headset nya.



__ADS_1


Yang tadi siang, kini berganti malam. Terlihat rombongan ibu-ibu totalitas, ingin menjenguk Mommy Liona.



Luziana yang sedang menyuapi mertuanya jadi berhenti.



"Assalamualaikum jeng.." Ucap para rombongan ibu-ibu itu. Biasanya orang sakit itu jenguk nya, gak boleh rame-rame kan. Ya itu bagi ruang ICU atau sakitnya memang parah atau menular begitu. Jadi jenguk nya gak boleh rame-rame. Waktu jenguk pun di kasih batas waktu juga. Lagi pun jumlah rombongan ibu-ibu itu hanya lima orang dan tiga anak gadis.



Sakit Mommy Liona pun bukannya parah, karena stres aja melihat anaknya yang koma, yang kini belum kunjung sadar. Sterss sangat berdampak juga loh bagi kesehatan. Jadi sesuatu penyakit itu, jangan di anggap remeh.



"Walaikumsalam..." Jawab Mommy Liona dan Luziana. Sementara Karina sedang tidur di sofa. Kinasih yang melihat anaknya tidur langsung membangun kan anaknya. Para rombongan ibu-ibu itu pun segera bergiliran bersalaman dengan Mommy Liona, salaman khas ibu-ibu.



"Gimana keadaan kamu jeng sekarang.." Tanya salah satu ibu-ibu. Mereka semua sudah tahu, apa yang di alami oleh Mommy Liona. Yang sudah memberitahu kan mereka itu Kinasih.



"Alhamdulillah udah membaik kok.." Balas Mommy Liona seraya tersenyum tipis.




Mommy Liona menanggapinya, dengan anggukan kepala. Sementara Ibu-ibu lain itu memperhatikan wanita yang perutnya buncit. Yang berdiri tidak jauh dari situ.



"Jeng itu siapa? ponakan?" Tanya Salah satu ibu yang berbadan sedikit berisi. Mommy Liona yang di lontarkan pertanyaan, langsung melihat siapa teman-teman totalitas nya maksud.



"Ouhh.. itu menantu saya.." Semuanya mendengarnya matanya menjadi membelalakkan matanya. Merasa suasana menjadi hening. Kinasih angkat bicara seraya mendekati Luziana. Dan mengusap lengannya.



"Dia istri Renaldy loh, istri anak pertama jeng Liona..." Ucap Kinasih seraya tersenyum lebar.



"Serius! kamu yang nikah waktu bulan Januari itu kan.." Ujar ibu yang berambut sebahu itu, setelah lama terdiam. Kinasih mengangguk kepalanya.

__ADS_1



"Wahh.. kamu cantik banget loh, beda yang pas resepsi waktu itu" Ucap ibu yang badannya sedikit berisi itu. Merasa Luziana beda, pas waktu di makeup itu.



"Iya benar.." Sahut ibu-ibu lain-lainnya. Sofia yang mendengarnya merasa tidak terima. Ya gak ada peluang dong, anaknya untuk mendekati putra sulung Mommy Liona. Yang dari keluarga sangat kaya raya.



"Udah berapa bulan?.." Tanya ibu rambutnya sepunggung itu.



"Udah 5 bulan.." Balas Luziana seraya tersenyum sembari mengusap perutnya, yang terdapat ada darah daging nya yang sedang berkembang di rahimnya.



"Gimana konsepnya itu masa udah 5 bulan padahal nikahnya bulan Januari, sedangkan ini bulan Juni, hamil di luar nikah kah?" Celetuk salah satu gadis yang merupakan kawan Meysa yaitu bernama Alviari di panggil Riri.



Karina di situ udah emang dah gak enak dari tadi. Semenjak datang sih Riri itu. Karena mulut Riri itu gak bakal diam. Kalau belum menjatuhkan orang.



"Hehe.. maafin omongan anak saya ya" Ucap Ely yang merasa bersalah dengan omongan anak tirinya.



"Gak papa lagipun Riri, belum tau apa-apa. Apalagi dia masih anak SMA.." Ujar ibu yang berbadan sedikit berisi itu.



Para ibu-ibu itu pun membahas topik lain. Sementara Luziana menyiapkan makanan ringan dan air untuk temannya mertuanya. Di bantu juga oleh Kinasih.



Saat Luziana dia menaruh gelas yang berisi di atas meja bundar di depan tiga anak gadis. Menatap sinis ke arah Luziana. Tapi paling sinis tatapan itu Riri. Dia sedikitpun tidak mengalihkan pandangannya dari Luziana. Dan Luziana menyadari itu merasa risih dengan tatapan temannya Meysa itu.



"Pantesan Lo gak sekolah lagi, ternyata lagi hamil toh. Emang benar ya orang sok paling baik, tapi si paling yang hamil duluan.." Sindir Riri.



"Kayaknya hidup Lo gak urusin hidup orang gak tenang deh" Ketus Karina menangapi.

__ADS_1



"Gue kan cuman bilang, bukan ngurusin hidup orang. Dan cuman hanya sekedar komentar. Kan Luziana itu masih SMA anak sekolah. Nampak seperti anak yang baik-baik. Masa tiba-tiba sekarang lagi hamil. Gak malu apa. Orang ngejar cita-cita dulu, ni hamil dulu. Keren sih emang. Terus pasti orang tuanya kasian, capek-capek sekolahin anaknya. Tapi anaknya udah lakuin itu. Rugi orang tuanya punya anak kayak Lo" Ujar Riri mencibir. Dia belum tahu kalau Luziana itu dah nikah dengan kakaknya Meysa. Padahal tadi ada di bilang, kalau Luziana itu istri Renaldy. Tapi kayak gak percaya.


__ADS_2