
"Luziana mau mangga?" Tanya Mommy yang sedang mengupas kulit mangga. Kini mereka berada di meja makan. Baru saja wanita paruh baya itu selesai makan begitu pula dengan Meysa dan Papi Devan. Kalau tanya Renaldy dan Luziana dah selesai makan apa belum? jawabannya belum. Ntah apa yang membuat mereka di hari weekend ini telat makan sarapan pagi.
"Apain sih kasih buat Luziana" Celetuk Meysa yang tidak suka mangga nya itu di bagi-bagi untuk Luziana.
"Apain sih kamu Meysa, gak boleh gitu. Kita-kita itu harus berbagi-bagi ya kan Luziana..." Ujar Mommy Liona seraya tersenyum.
"Betul tuh.." Celetuk Papi Devan sembari tergelak tertawa.
Meysa yang mendengarnya memutar bola matanya malas.
"Mending kasih buat kak Al" Meysa yang berada di tangannya ada mangga sudah di potong, menyuapi mangga tersebut ke kakaknya. Renaldy yang di suap secara tiba-tiba menerima suapan dari adik tercintanya itu.
"Gimana kak Al enak kan" Tanya Meysa seraya menaikkan alisnya. Renaldy mengangguk dengan ekspresi datar, sebagai jawaban
Luziana yang melihatnya bergidik ngeri. Bergidik ngeri bukan karena keharmonisan antara adik, kakak itu bukan. Bergidik ngeri karena mangga yang di makan suaminya. Padahal tidak ada ngerinya dari mangga itu.
"Ini Luziana.." Kasih Mommy Liona yang mangga ia sudah potong.
Luziana melihat ekspresi adik suaminya. Yang kayak gimana gitu! kayak gak suka gitu.
__ADS_1
"Gausah Mommy mangga nya buat Meysa aja" Tolak Luziana secara halus.
Mommy Liona menaikkan alisnya. "Kenapa buat Meysa, ini Mommy potong mangga nya buat kamu loh.." Ujar Mommy Liona yang bingung dengan atas penolakan menantunya.
"Karena Luziana gak suka mangga.." Balas Luziana seraya mengulas senyum.
Mommy Liona yang mendengarnya melongo heran.
"Kenapa gak suka mangga? padahal mangga itu enak loh.." Tanya Mommy Liona yang penasaran.
"Ya.. gak suka mangga karena asam" Mommy Liona mendengarnya tergelak tertawa.
"Tapi gak papa kamu sekarang boleh bilang gak mau. Nantik kamu pasti gak beberapa bulan lagi minta mangga. Minta mangga masih mengkal lagi sama suami kamu" Ujar Mommy seraya menahan senyumannya. Papi Devan yang melihat sekilas ekspresi putranya, tersenyum tipis.
"Benar tuh Luziana, kata Mommy. Kalau pengen mangga minta aja sama suami kamu. Pasti di beliin" Celetuk Papi Devan.
"Iya kalau bisa minta di tengah malam. Biar Al kewalahan cari mangga mengkal nya ya kan Al" Tanya Mommy Liona memastikan. Papi Devan dan Mommy Liona tersenyum puas melihat ekspresi putra sulungnya. Kayaknya paling gak bisa di goda dikit deh.
"Mau cari mangga yang belum matang, ada itu di belakang rumah" Celetuk Meysa yang merusak suasana. Luziana yang mendengarnya gak paham dengan arah bicara mereka.
__ADS_1
Mommy Liona berdecak kesal dengan putri bungsunya itu.
Pria itu membalikkan sendoknya, tanda bahwa Renaldy selesai makan. Tanpa berbicara satu patah kata pun pria itu meninggalkan tempat meja makan itu.
Papi Devan yang melihat sikap dingin putranya menghela nafas panjang.
"Mommy, Papi ke kamar dulu ya" Pamit Papi Devan, lalu di anggukan kepala oleh Mommy Liona. Papi Devan pun pergi meninggalkan meja makan tersebut.
"Ini gara-gara kamu ni.." Salahin Mommy Liona kepada Meysa. Meysa yang gak tahu apa-apa menjadi emosi.
"Kok jadi salah aku.." Berkacak pinggang Meysa.
"Iya ini salah kamu, kak Al jadi pergi kan" Ketus Mommy Liona.
"Emang apa salahnya kak Al kalau pergi.." Balas Meysa santai. Mommy Liona tidak menyahut perkataan putrinya itu. Yang ada makin panjang urusannya.
"Luziana kamu cair kan sifat suami kamu yang dingin itu ya.." Pinta Mommy Liona.
"Suruh cairkan sama Rakyat jelata. Jelas-jelas dia biang kerok yang bikin sikap kak Al yang dingin kepada kita. Gara-gara dia itu.. dasar rakyat jelata.." Cibir Meysa seraya menunjuk ke Luziana.
__ADS_1
"Yang ada sifat kak Al bukan cair di ituin sama rakyat jelata. Malah makin beku" Sambung Meysa lagi.