
Ingin minta takut kenak marah lagi. Luziana pun hanya bisa diam saja. Dan tak lama kemudian, perutnya ingin bergejolak minta di muntahkan. Namun berusaha dia tahan sebelum sampai ke tujuan.
Renaldy yang berada disitu tidak peka, hanya fokus menyetir mobilnya. Perut Luziana bergejolak ingin di muntahkan, ia tahan dengan meminum air Starbucks tersebut. Perempuan itu pun menaruh minyak kayu putih cap ayam di hidungnya dan di lehernya.
Renaldy melirik sekilas istrinya, yang wajahnya terlihat sedikit pucat. Gak mau terlalu memikirkannya, ia kembali fokus menyetir mobilnya. Hingga mobil mewahnya pun sampai tujuan.
Papa Haris yang baru pulang kerja, mengerutkan dahinya heran melihat mobil yang begitu mewah berhenti di rumahnya.
Renaldy pun melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya. Luziana sedari tadi, menahan mualnya, segera membuka pintu mobil dan mengeluarkan apa yang di isi perutnya.
"Heih.. Nak Renaldy" Sapa Papa Haris seraya tersenyum lebar melihat menantunya. Renaldy melihat ayah istrinya, mengulurkan tangannya untuk menyalami papa mertuanya itu. Papa Haris pun menerima sambutan salaman dari menantunya.
"Pergi sama siapa?" Tanya Papa Haris seraya memiringkan kepalanya melihat kebelakang menantunya yang tidak ada siapa-siapa.
"Sama anak papa" Sahut Renaldy dengan formal.
"Ouhh... yaudah begitu yuk masuk" Papa Haris mengajak menantunya untuk masuk kedalam rumahnya. Namun Renaldy memilih duduk di kursi teras saja. Papa Haris orang yang gak suka ribet, mengiyakan saja kemauan menantunya itu.
Papa Haris pun memasuk ke dalam rumahnya, untuk memanggil istrinya untuk menyiapkan makanan ringan untuk menantunya.
Renaldy yang melihat, istrinya yang gak muncul berjalan menuju ke mobilnya kembali.
"Kau kenapa?" Tanya Renaldy seraya menaikkan alisnya sembari tangannya di saku celananya.
"Gak papa cuman mual aja" Balas Luziana dingin sembari menggosok minyak kayu putih cap ayam itu di keningnya.
"Mual?" Ketimbang Renaldy dari pada Luziana. Renaldy lebih sedikit tahu tanda-tanda orang hamil. Soalnya ia pernah baca tentang buku panduan orang hamil, setelah apa yang telah ia lakukan. Itu pun untuk berjaga-jaga, jika istrinya kedapatan hamil, Renaldy berusaha untuk menyembunyikannya.
"Hmm iya mual, karena mabuk naik mobil" Sambung Luziana lagi. Padahal Luziana orangnya, gak pernah mabuk naik mobil. Tapi sekarang ntah kenapa agak berbeda.
Renaldy hanya diam mendengar penjelasan istrinya. Ntah kenapa Pria itu ingin memastikan istrinya bawa ke rumah sakit. Untuk mengecek apa istrinya sedang berbadan dua apa tidak. Tapi perasaannya agak kalut. Kayak tidak terima kenyataan.
Luziana melihat suaminya hanya diam, berjalan meninggalkannya menuju ke rumahnya itu.
Renaldy yang tidak ingin terlarut dalam pikirannya berjalan menuju teras rumah. Lagipun, mana mungkin istrinya hamil dalam sekali berhubungan. Renaldy pun selalu berusaha mengelak.
Mata Mama Safira membulat sempurna melihat siapa yang datang. Renaldy melihat ibu mertuanya, menyalami juga wanita paruh baya tersebut. Dan Mama Safira sambut salaman menantunya.
Selesai salam-salaman, Mama Safira menarik putri sulungnya itu dan meningkatkan dua Pria yang berbeda umur. Dan terlihat saling bertukar cerita gak lain gak bukan tentang bisnis.
"Ngapain kamu ajak suami kamu ke sini!" Bentak Mama Safira kepada putri sulungnya.
"Iya kok Mama marah sih? biasanya senang lihat menantu kesayangannya" Balas Luziana sinis.
__ADS_1
"Iya senang dong, dari pada lihat kamu selalu bikin pusing. Mama tanya ngapain kamu aja nak Renaldy ke sini. Kamu tahu kan kita gak punya kamar lebih" Ujar Mama Safira dengan kesal.
"Ya gak ada kamar lebih. Pakai kamar Luziana aja, kan gak papa biar dia itu tahu macam mana Luziana di perlakukan di keluarga sendiri" Sindir Luziana miris. Kamarnya sungguh sangat berbeda dengan adiknya yang cantik ya seperti, kamar anak cewek biasanya. Gak seperti kamarnya yang kumuh.
Mama Safira menghela nafas panjang. "Kamu ingin bikin malu keluarga? iya-iya?" Tanya Mama Safira dengan emosi.
"Siapa juga ingin bikin malu keluarga? kan Mama tanya suami Luziana bakal tidur kamar mana? ya.. kamar luziana lah" Balas Luziana enteng. Dan itu membuat emosi Mama Safira makin meledak.
"Kamu sekarang dah jadi anak pembangkang sama orang tua ya?" Mama Safira pun mencubit pinggang putrinya sulung dengan kuat, membuat Luziana meringis kesakitan.
"Aduuh sakit mah, suka banget deh nyiksa anaknya sendiri" Ucap Luziana sembari mengelus pinggangnya yang sakit, dan di pastikan meninggalkan kebiruan.
Mama Safira nampak bodo amat.
"Cepat kamu layani mereka" Titah Mama Safira dengan nada tinggi.
"Ck' gak di rumah mertua, gak di rumah sendiri selalu jadi babu.." Ujar Luziana dengan matanya berkaca-kaca.
"Udah cepat lakukan jangan banyak protes" Ucap Mama Safira berlalu menuju ke dapur.
"Febby!" Panggil Mama Safira dengan wajah di buat marah. Luziana yang duduk di samping suaminya hanya diam, sembari tertawa di dalam hati.
"Kenapa mah" Sahutnya sembari menguyah martabak.
"Itu martabak Mesir nya punya orang" Febby yang mendengarnya langsung menoleh, dan terlihat Renaldy yang tersenyum tipis.
"Anj\*rr cowok kaya raya itu kok ada disini. Gak boleh lepas ini" Batin Febby yang melihat suami kakaknya.
"Hmm maaf ya kak" Ucap Febby dengan suara di lembutin.
__ADS_1
"Ya gak papa" Balas Renaldy terlihat biasa saja.
"Suara kamu Febby gausah di lembutin, soalnya suara kamu tetap cempreng" Cibir Luziana seraya tersenyum miring.
"Sirik Lo" Ketus Febby seraya berjalan duduk di samping Luziana.
"Iihh jangan duduk di sini, gak muat tahu..," Ucap Luziana yang merasa risih dengan sikap adiknya. Dia tahu kalau adiknya itu ingin caper ke suaminya.
"Udah kalian berdua diam, gak malu apa di lihat sama orang" Ucap Mama Safira yang sudah keluar khodam nya. Luziana membuang muka mendengar teguran Mamanya.
Pandangan Luziana itu teralih memperhatikan suaminya yang berbicara dengan papanya. Gak biasa papa nya bicara dengan usia yang lebih muda dari nya. Bisa bicara seakrab ini. Biasanya papanya itu, gak pernah bicara dengan Pria yang usianya lebih muda. Yang ada bicara dengan seusianya ataupun dengan kawan kantor nya.
Tak terasa waktu pum mau menjelang Maghrib. Renaldy pun berpamitan.
"Re gimana pulangnya setelah shalat Magrib dulu disini" Pinta Papa Haris kepada menantunya.
Mata Mama Safira membulat sempurna mendengar permintaan suaminya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
FOLLOW INSTAGRAM AUTHOR: maulyy\_05
__ADS_1