Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Panti asuhan


__ADS_3

Renaldy membuka kacamata mata hitamnya, lalu menatap anak panti dan satu wanita dewasa yang tengah tersenyum menatapnya.


"Bungkuk nak" Instruksi dari pengurus mereka bernama Susi. Membuat mereka ambigu, ngapain para anak panti harus bungkuk. Namun sebagian anak kecil itu membungkuk hormat.


"Keluarkan apa yang telah di siapkan" Titah Renaldy datar dengan pandangan tetap fokus ke arah anak panti.


"Baik tuan" Sahut Arsen sopan. Dia pun segera melakukan apa yang di perintahkan oleh tuannya. Mengeluarkan beberapa peralatan sekaligus kebutuhan untuk anak panti yang telah ia siapkan dari tadi. Seperti peralatan sekolah, mainan, sepeda dan bermacam-macam lainnya.


Renaldy mengasih sesuatu untuk anak panti karena dia sedang dapat untung besar. Jadi sebagian keuntungan yang dia dapatkan, dia kasih untuk orang yang sangat membutuhkannya. Tetapi tidak meski, harus mendapatkan keuntungan besar, membaginya. Enggak dapat keuntungan aja tetap Renaldy bagi untuk orang yang membutuhkannya.


"Mereka siapa buk?" Tanyak seorang anak kecil yang rambutnya ikal. Dia sangat kepo pada pria yang berjas hitam itu. Apalagi pada pria yang sedang tengah menatap mereka dengan tatapan sulit di tebak.


"Mereka orang baik sayang. Merekalah yang membantu kita selama ini" Balas ibu Susi Seraya tersenyum sembari mengusap pucuk kepala anak kecil yang rambut ikal itu. Dirinya sangat mengingat betapa baiknya Renaldy yang selalu memenuhi kebutuhan mereka yang serba sangat kekurangan.


Bahkan Renaldy lebih baik daripada mommy Liona dan Papi Devan. Sebenarnya sama aja, tetapi Renaldy lebih baik banget gitu.


Renaldy berjalan mendekati rumah panti itu yang keluarganya bangun dari sejak dulu, dan sekarang terlihat sangat ramai.


"Selamat sore tuan. Silahkan duduk tuan," Ucap Susi ramah seraya mempersilahkan Renaldy duduk. Pria itu mengiyakan, lalu ia pun duduk.


Anak kecil pun berdatangan kepada Renaldy. Lalu bersalaman dengan pria itu sembari memperkenalkan dirinya.


Renaldy tersenyum tipis sangat tipis sehingga tidak satu pun orang yang bisa melihat senyumannya. Dekat dengan anak kecil tidak seburuk dia kira. Membuat beban pada dirinya terasa berkurang melihat senyuman anak panti itu. Yang tadi pikirannya kacau seketika menghilang.


"Paman ganteng udah unya ewek apa belum" Tanyak seorang anak kecil perempuan yang bernama Cimi. Pertanyaan yang di lontarkan anak asuhnya. Membuat Susi mengasih kode jangan bertanya hal itu. Kemudian Renaldy mengasih isyarat, bahwa gak papa anak kecil itu bertanya tentang kehidupannya. Membuat Susi yang sebagai pengurusnya tidak merasa enak hati dengan pertanyaan Cimi. Gadis kecil itu.


Renaldy mengusap pucuk kepala Gadis kecil itu. "Nama kamu siapa?" Tanyaknya, yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Cimi yang masih kecil kalau pertanyaannya tidak jawab biasa-biasa saja. Bahkan dirinya tengah tersenyum lebar.


"Cimi! Om" Balasnya khas seperti suara anak kecil. Membuat Renaldy tersenyum tipis kembali.


Anak kecil yang tadi sibuk dengan Renaldy. Kini pandangannya teralih dengan seorang yang sedang melentakan kotak yang berisi begitu banyak mainan didalamnya.


Semua anak panti pun mendekati kontak besar yang berisi banyak mainan itu.


"Wahh ada banyak mainan" Seru anak laki berambut ikal tadi.


"Iyaa benar itu, ada buku gambar terus ada alat mewarnai nya lagi. Alat ini Keinginan aku sekali ingin beli tapi gak ada uang" Ucapnya di akhir kalimat dengan tatapan sendu. Dia kepengen sekali membeli alat menggambar itu. Sayangnya mereka tidak punya uang untuk membelinya. Sebenarnya sih ada uang, tetapi uang itu untuk kebutuhan kepentingan sehari-hari mereka.


Arsen menatap mereka dengan tatapan penuh iba pada anak panti. Renaldy yang tadi duduk kini berjalan mendekati mereka. Ia mengusap kepala pucuk kepala anak yang sedang sedih tersebut.


"Buku gambar itu Om kasih buat kamu" Ujar Pria itu.


"Serius Om!" Tanyaknya memastikan. Renaldy mengangguk kepalanya.

__ADS_1


"Yeaaayy makasih om ganteng..." Serunya sembari refleks memeluk kaki Renaldy. Lalu ia pun berlari sambil memengang buku gambarnya dengan alat merwarnainya.


Anak panti yang kecil-kecil, mungil-mungil, imut-imut. Menatap Renaldy dengan tatapan. Kami gak di bagiin juga om?.


Renaldy yang melihat mereka begitu lucu, tak bisa menahan senyumnya. Ia pun tersenyum lebar bahkan sembari terkekeh kecil. Tatapan anak panti itu sangat menjelaskan. Mereka juga pengen di bagiin.


"Mainan disini yang telah di bawa sama teman Om. Ini semua untuk kalian" Ujar jelas Renaldy.


Anak panti pun bersorak kegirangan. "Yeayyy... makasih om ganteng" balas mereka yang hampir serempak.


"Tapi ada syaratnya loh?.."


"Apa syaratnya om?"


"Apa syaratnya itu om ganteng?"


"Apa syaratnya Kakak ganteng?"


Tanyak mereka dengan riuh yang kepo, apa syarat Renaldy.


"Syaratnya adalah mainnya, harus gantian. Dan jangan rebutan. Jadi kalian harus saling berbagi. Kalau om ada rezeki lebih. Om bakal beliin lagi untuk kalian semua. Asalkan kalian mau apa?" Tanyak Renaldy kepada anak panti.


"Mau berbagi...." Sahut mereka hampir kompak


Di lihat? sikap Renaldy pada anak panti seperti seorang ayah saja. Namun kenyataannya pria itu belum siap menjadi seorang ayah, dan memiliki seorang anak.


Renaldy yang tadi berekspresi datar. Sekarang berubah Ekspresi ramah pada anak panti.


"Makasih om ganteng...." Seru mereka sangat berterima kasih kepada Renaldy.


"Sama-sama" Balas Renaldy seraya tersenyum tipis. Sekarang pria itu kembali kepada ekspresi datarnya.


"Bagaimana dengan tempat tinggal anak panti, ada masih yang kekurangan" Tanyak Renaldy pada Susi. Susi yang terpanah dengan kegantengan Renaldy sekaligus sifat pria itu yang baik pada anak-anak. Seketika langsung salting.


"Gak ada tuan" Balas Susi sopan sekaligus salting. Renaldy pun mengangguk datar. Pria itu berjalan sembari menyapu pandangannya menatap bangunan yang baru saja di renovasi.


"Tuan" Panggil Susi. Seketika Renaldy berhenti, lalu menoleh ke arah Susi.


Renaldy mengangkat alisnya sebagai respon. Melihat tatapan pria itu Susi langsung menunduk.


"Makasih tuan sudah membantu kami yang kekurangan ini. Dan memberikan kebahagiaan kepada anak panti. Saya sebagai pengurus mereka tidak tahu harus membalas budi kepada tuan seperti apa. Yang telah sangat-sangat membantu kami. Saya hanya bisa mengucap terima kasih sebesar-besarnya pada tuan yang sudah membantu anak panti disini. Terimakasih tuan semoga tuhan membalaskan kebaikan tuan," Ujar Susi panjang lebar. Seketika satu air mata lolos dari mata Susi. Wanita itu sangat tahu bagaimana hidup tanpa kedua orang tua. Melihat senyuman anak panti membuat dirinya sangat begitu senang. Ternyata di dunia ini masih ada orang baik sama kita.


Renaldy mengasih isyarat pada pengawalnya. Arsen yang dari dulu berkerja dengan Pria itu sangat tahu maksud Jenderalnya apa.

__ADS_1


Arsen pun memberi sebuah amplop pada Susi yang di dalamnya berisi uang. Susi tampak ambigu melihat dirinya di kasih sebuah amplop.


"Buat apa ini tuan," Tanyaknya.


"Itu gaji kamu. Jika kamu sendiri pengen sesuatu pakailah uang itu" Tutur Arsen pada Susi. Susi seketika senang namun itu hanya sejenak.


"Gausah tuan. Tuan yang sudah memberikan kebahagiaan buat anak panti. Itu sudah cukup buat saya" Ucapnya seraya mengembalikan amplop yang berisi uang itu. Arsen tidak tau harus menjawab apa, ia pun menatap Renaldy.


Renaldy menghela nafas panjang. "Ambilah uang itu untuk kepentingan pribadi mu. Dan saya tidak suka dengan orang yang menolak rezeki" Tuturnya. Membuat Susi terpaksa menerima uang tersebut.


Renaldy berjalan kebelakang rumah panti tampak seorang anak kecil laki-laki yang sedang sedih.


...***...


Luziana yang sedang berkutat dengan buku. Seketika kaget mendengar pintu terbuka dan menampilkan seseorang cewek yang sedang mencari seseorang.


Ceklek....Bruk


"Astagfirullah" Spontannya kaget. Dan tiba-tiba jantungnya sangat berdebar kencang. Ia pun menoleh menatapnya orang di baliknya.


"Mana kak Al" Tanyak Meysa dengan sedikit berteriak.


"Kakak mu belum pulang" Balas Luziana. Hampir aja jantungnya mau copot. Di kirain Luziana tadi yang membuka pintunya adalah suaminya. Ternyata salah, rupanya yang benarnya adiknya.


Meysa mencebik kesal. Pandangannya pun menyapu satu kamar.


"Yahhh kasian gak di pajang foto pernikahannya" Cibir Meysa seraya tertawa renyah.


...***...


Makasih buat para readers yang selalu menunggu karya author 😍. I love you sekebon buat kalian 😘


♥️♥️


Jangan lupa dukunganya


LIKE


VOTE


KOMENTAR


JANGAN LUPA GIFT HADIAHNYA

__ADS_1


__ADS_2