Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Melihat bayi twins


__ADS_3

Untuk para readers disini ada revisi bab sebelumnya. Jadi bab sebelumnya itu sudah hapus. Agar memperbagus alur sebelumnya yang salah. Jadi, kok rasa di ulang, dan ga nyambung, di bab kali ini. Dari part sebelumnya, itu karena bab ini sudah revisi dan di perbagus lagi alurnya dari bab sebelumnya. Jadi begitulah. Semoga paham.


...~~~...


Sebelum meninggal bayi Cila. Mommy Liona pernah cerita kepada Papi Devan betapa gemas nya, cucu dari anak sulung mereka. Papi Devan yang mendengar cerita istrinya, merasa penasaran dengan cucu pertamanya, dari putra sulung mereka, Renaldy. Meski dari menantu yang kurang sukai dari segi Mommy Liona. Tapi itu sudah membuat, mengusik pikiran papi Devan.


Flash back


Jam pukul 8 pagi lewat. Papi Devan datang kerumah sakit bersama istrinya. Pria paruh baya itu berniat melihat cucunya. Pas sudah berada di ruangan intensif, Papi Devan langsung terperangah melihat betapa miripnya, bayi Revan dengan Renaldy waktu bayi.


"My... Papi kayak kerasa masih lihat Al waktu bayi deh" Ujar Papi Devan seraya mengendong bayi Revan.


"Benar kan, apa mommy bilang!" Seru mommy Liona sambil membanggakan dirinya.


"Papi sih gak percaya sama Mommy..." Sambung Mommy Liona membuat Papi Devan mengangguk mengiyakan.


"Tapi yang ini dia lebih kegemukan, daripada pas Al waktu bayi" Papi Devan terasa bernostalgia, mengenang waktu putra sulungnya yang baru saja lahir.


"Iya, tapi walau Tami gemuk-gemuk gini, gemas tahu Opah" Timpal Mommy Liona sembari noel pipi tembem cucunya.


Kemudian tiba saja mata Mommy beralih ke incubator, di mana ada bayi perempuan mungil yang sedang menatap mereka.

__ADS_1


"Iihh.. Gemas banget, ciapa ini namanya?" Seru Mommy seraya mengambil bayi Cila dari incubator lalu mencium pipi nya gemas.


"Ututu..." Mommy Liona di buat gemas dengan bayi Cila yang seolah membersihkan pipinya dari ciuman Oma nya, mengunakan tangan mungil nya.


"Ndak boleh Oma cium ya" Mommy Liona me—noel hidung mancung cucu perempuannya gemas.


"My... yang mommy pengang bayi perempuan kan? Tapi kok mirip dengan bayi yang Papi gendong ya" Papi Devan di buat bingung melihat wajah mereka yang hampir mirip seperti pinang yang di belah dua.


"Kan kembar Papi?" Jawab Mommy Liona sambil menggeleng kepalanya.


"Ouh iya Papi lupa?" Papi Devan menyengir lebar, seraya merutuki dirinya yang sudah pelupa.


"My kok bisa ya... Luziana sanggup hamil kembar, padahal badannya kurus kering begitu" Heran Papi Devan yang mengingat menantunya yang sangat kurang berat badannya.


Tanpa mereka sadari Luziana umurnya masih terbatas. Mereka melakukan semena-mena terhadap Luziana dalam keadaan kondisi hamil. Padahal kondisi hamil itu sangat rentan, dalam sesuatu yang negatif. Tetapi untuk ingin kepuasan mereka, mereka gak memikirkan hal itu. Luziana harus bersikap dewasalah, Luziana harus bisa melakukan sendiri tanpa harus membebani suaminya. Itu membuat Luziana tertekan. Walaupun gak kita secara langsung. Ya mungkin kita lihat dari langsung, terutama untuk faktor umur dan tidak ada perhatian. Luziana tidak pernah memikirkan cabang bayinya di dalam kandungannya. Seperti hal contohnya melakukan kerjaan berat, memakan yang tidak seharusnya.


Papi Devan yang mendengar jawaban istrinya yang tidak tahu. Mengangguk kepalanya.


Flash off


Kepergian orang tua Renaldy yang kerumah sakit melihat anaknya. Itu tidak Renaldy ketahui, karena waktu jadwal pagi dia kerja. Sementara pihak rumah sakit tidak pernah memberitahu ada yang pernah datang melihat anaknya.

__ADS_1


Selepas meninggal bayi Cila. Bayi Revan selalu menangis tanpa alasan. Dan itu membuat kondisinya memburuk. Mungkin saja karena faktor saudara kembarnya meninggal. Membuat bayi Revan seperti itu.


Renaldy yang mengurus bayi Revan, tampak kewalahan.


Oek... Oek..


"Revan... diminum susunya nak" Ucap Renaldy kepada putranya. Tampak enggan mau meminum susu yang dia berikan.


"Revan kenapa sedih mulu nak. Kalau Revan sedih terus, ayah ikut sedih juga. Jadi jangan nangis lagi ya" Bujuk Renaldy agar putranya itu tidak bersedih lagi. Renaldy pun merubah posisi mengendong putranya menjadi mendekat bahunya. Lalu mengecup kepala putranya, yang sudah di tumbuhi rambut hitam legam halus.


Tanpa sadar air mata keluar dari ujung ekor mata Renaldy. Dia sudah tidak sanggup melihat anaknya sakit-sakitan. Apalagi menyusul putri nya.


Sungguh Renaldy rasanya sudah tidak sanggup hidup lagi, mengingat terbongkarnya kedok kejahatan orang tuanya.


Bersambung..


...----------------...


Bagi teman yang masih tidak ada paham dengan bab ini, silahkan komentar, biar author jelaskan lagi:)


Besok Senin!!!! Jangan lupa vote ya teman-teman!!!! Hadiah nya juga jangan ketinggalan kalau perlu yang banyak heheđź‘»

__ADS_1


Padahal author hari ini gak mau update karena mepet waktu nya. Mengingat besok full time, apalagi alurnya gak jelas. Rasanya hidup tak tenang:) jadi yang gak ngerti boleh nanya!


__ADS_2