Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Tidak mau ikhlas


__ADS_3

"Sudah Al! ikhlaskan saja perempuan itu. Gak ada gunanya kamu mempertahankan rumah tangga ini. Lihat aja dia hanya diam, melihat kamu di pukuli Papa nya. Lagipun banyak di luar sana wanita yang lebih baik dari nya. Malahan wanita dari keluarga terpandang" Ujar Mommy Liona dengan nada menyindir.


Seketika ruangan VIP itu jadi hening, dan makin mencekam mendengar perkataan yang di lontarkan Mommy Liona. Luziana hanya tersenyum getir mendengar perkataan mertuanya.


Sementara Renaldy tidak habis pikir dengan jalan Mommynya.


"Cukup Mommy! Mommy disini tidak berhak atur tentang keluarga Al. Bagaimanapun caranya Renaldy tetap mempertahankan rumah tangga ini, Renaldy gak ikhlas wanita yang Renaldy sayang pergi. Dan juga jangan sekali-kali lagi Mommy menghina istri Al. Kalau gak hubungan antara anak dan ibu, akan berakhir" Ancam Renaldy dengan tegas membuat Mommy Liona meneguk ludahnya dengan susah payah. Luziana yang mendengar kata suaminya, matanya sedikit berbinar mendengar pembelaan itu, untuk dirinya. Setelah mengatakan itu Renaldy pun beralih ke Papa Haris yang masih kekeuh membawa istrinya pergi.


"Papa maaf, kalau perlakuan saya bikin papa terluka. Tapi ini saya lakukan hanya demi untuk tidak kehilangan istri saya. Mungkin Papa memang lebih berhak. Tapi sekarang dia masih sah istri saya. Saya lebih berhak mengatur semua ini" Tegas Renaldy lalu memberikan satu bogeman mentah di wajah Papa Haris. Semua orang yang melihatnya tercengang, dengan perlakuan Renaldy.


Papa Haris meringis kesakitan, di wajahnya akibat pukulan menantunya. Melihat Papa Haris lengah. Renaldy memutuskan membawa Luziana pergi dari rumah sakit.


"Kamu mau bawa saya kemana?" Tanya Luziana melihat suaminya mengendong dirinya ala bridal style.


Renaldy tersenyum tipis. Lalu ia pun melangkah pergi. Melihat putrinya di bawa pergi Renaldy, dengan cepat Mama Safira menahan menantunya. Namun aksi itu, di tahan oleh Papi Devan.


"Biarkan Renaldy membawa Luziana pergi!" Tekan Papi Devan kepada Mama Safira. Mama Safira hanya diam dan menatap punggung menantunya yang kian menjauh dengan mengendong.


Papa Haris yang akan sadar putrinya di bawa pergi, juga di tahan oleh Papi Devan. Saat Papa Haris ingin mengejar menantunya.


"Cukup Haris, biarkan pergi dan biarkan mereka menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri. Lebih baik kita jangan ikut campur. Aku tahu putra ku bersalah. Tapi dia sangat menyesali atas perbuatannya. Dia masih sayang kepada putri mu. Ia masih cinta kepada putri mu. Tolong biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dengan sendirinya" Ujar Papi Devan panjang lebar. Dan seketika Papa Haris bergeming, dan mencerna apa yang di bilang temannya itu.


"Mas turun kan aku, kamu membawa aku kemana?" Berontak Luziana di dalam gendongan Renaldy ala bridal style.


Renaldy mendengarnya hanya diam datar. Dan tetap melangkah pergi dari rumah sakit itu. Luziana yang di bawa pergi seakan pasrah. Perempuan itu sudah cukup lemas, dan capek menghadapi masalah semua ini.




Pagi yang cerah, menyambut dua pasangan pasutri yang sedang tertidur di atas kasur. Luziana membuka kelopak matanya dan menatap sekitar. Renaldy yang tertidur di samping Luziana seketika bangun merasa ada pergerakan di sampingnya.


__ADS_1


Kini Luziana dalam posisi duduk. Dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Renaldy yang melihatnya langsung jadi cemas.



"Sayang kamu kenapa? kamu nangis" Tanya Renaldy dengan nada yang lembut seraya menangkup kedua pipi istrinya mengunakan kedua tangannya.



Tangis Luziana pun pecah. Membuat Renaldy semakin bingung dengan sikap istrinya.



"Coba cerita jangan diam aja." Renaldy menaikkan alisnya seraya tersenyum tipis menatap istrinya. Luziana mendongakkan kepalanya menatap wajah


suaminya.



"Atau kamu bingung kita berada dimana. Sekarang kita ini berada di rumah baru kita. Maafin mas ya bawa kamu kesini secara tiba-tiba" Lanjut Renaldy yang melihat istrinya hanya diam. Tangan Pria itu pun turun lalu beralih menggenggam tangan istrinya.




Renaldy mengeleng kepalanya. "Kamu yang pantas untuk saya Luziana. Bukan wanita lain. Dan maafkan perkataan Mommy saya selama ini Luziana. Yang telah selama ini menyakiti hati mu. Dan tolong jangan berkata seperti itu lagi ya, saya ini sangat mencintaimu. Dan saya tidak mau kehilanganmu. Jadi tolong jangan berkata seperti itu" Balas Renaldy dengan menahan air mata. Pria itu pun mendekap erat tubuh istrinya.



"Mungkin kamu selama dengan saya banyak tidak bahagianya. Tapi mulai hari ini, mau kah kamu membuka lembaran baru dengan saya. Saya berjanji dan membuktikan tidak akan melukai hatimu lagi. Dan disini tidak ada satupun yang bisa menghina kamu lagi. Disini cuman ada kamu saya, dan anak-anak kita nantinya" Sambung Renaldy seraya melerai pelukannya.



"Maukah kamu Luziana Afriani memulai lebaran baru dengan saya Renaldy dirgantara Hervandez" Tanya Renaldy seraya mengecup kedua tangan istrinya.

__ADS_1



Luziana menatap kedua manik mata semuanya dengan air mata yang sudah berhenti. "Tapi bagaimana dengan Mommy, dia pasti tidak suka kalau kita bersama," Ucap Luziana dengan masih ragu.



Renaldy menghela nafas pelan. "Saya gak akan membuat itu terjadi, Mommy pasti merestui pernikahan kita. Jadi jangan pikirkan tentang Mommy saya, saya akan membuat hukum setimpal apa yang telah dia lakukan terhadap mu" Ujar Renaldy dengan yakin.



"Jangan! menghukum Mommy mu. Begitu-begitu dia ibu yang telah melahirkan mu. Dia juga yang sudah membesarkan mu." Luziana tidak ingin gara-gara dirinya hubungan suaminya dengan ibunya jadi hancur. Karena Pria akan selalu menjadi milik ibunya. Dan surga anak laki-laki itu ada di telapak kaki ibunya. Sementara perempuan yang sudah menikah surganya berada di telapak kaki suaminya.



Perbuatan Mommy Liona selama ini kan. Karena hanya ingin kebahagiaan untuk putranya. Tetapi sebenarnya bukan membuat Renaldy bahagia. Malah jadi terluka, melihat sikap Mommy nya terhadap istrinya.



Renaldy tersenyum tipis. "Baiklah, tapi kamu mau kan maafkan saya dan memulai lembaran baru" Tanya Renaldy dengan matanya berbinar-binar.



Luziana mengangguk kepalanya. "Mau..."



Renaldy mendengar jawaban istrinya langsung menghamburkan pelukan hangat terhadap Luziana.



"Makasih sayang... yang masih mau menerima suami yang seperti saya. "


__ADS_1


...----------------...


__ADS_2