Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Bab ekstra


__ADS_3

Tak terasa waktu terus berjalan, hingga kandungan Luziana kini sekarang sudah memasuki 7 bulan. Perutnya yang awal rata, sekarang menbuncit.


Luziana dengan penampilan baju dress rumahannya, menyambut suaminya pulang dari kerja. Di depan teras.


Renaldy yang melihat istrinya, menarik sudut bibirnya, mengukir senyuman tipis di bibirnya. Ia pun mendekati istrinya seraya mengecup kening istrinya.


"Udah makan sayang?" Tanya Renaldy setelah mengecup kening istrinya. Luziana dengan senyuman sumringah mengangguk mengiyakan.


"Udah mas, kalau mas gimana?" Tanya balik Luziana. Renaldy yang di tanya nampak berpikir, mau menjawab apa.


"Belum," Jawab Renaldy singkat seraya mendapatkan bokongnya di salah satu kursi di teras.


Luziana mengangguk kepalanya. "Mas bawa apaan di plastik itu?" Luziana menatap plastik suaminya yang tadi di pengang sekarang di taruh di atas meja bundar.


Renaldy yang sedang melepaskan kaos kaki, mendongak menatap istrinya sebentar. Kemudian kembali melanjutkan melepaskan kaos kaki, dari kakinya.


Mendengar tidak ada respon dari pertanyaannya, membuat Luziana sangat penasaran. Ia pun mendekati meja bundar itu seraya ingin membuka plastik kecil berwarna hitam itu. Dan melihat isi dalam plastik itu apa.


Tapi sebelum Luziana membuka kantong plastik itu, namun sudah di ambil duluan oleh suaminya plastik tersebut.


"Mas, gak ada izinin kamu kan buka ini plastik kan" Ucap Renaldy terdengar tegas kepada istrinya.


Luziana mendengar perkataan suaminya, menggaruk kepalanya yang tak gatal yang di balut jilbab kurung berwarna hitam sembari menyengir kecil.


"Maaf mas" Ucap Luziana. Kemudian terdengar helaan nafas pelan dari mulut Renaldy.


"Ayoo masuk," Renaldy menggenggam tangan istrinya. Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan. Mereka pun masuk secara bergandengan tangan kedalam rumah


Saat sudah berada di dapur Luziana yang ingin menyiapkan makanan untuk suaminya. Namun di larang oleh Renaldy.


"Udah kamu gausah siapkan makanan untuk mas, lagi pula mas bisa menyiapkan makanan untuk mas sendiri" Ujar Renaldy seraya mengambil alih pisau yang berada di tangan istrinya.


"Tapi mas, aku masih sanggup kok. Jadi gak papa, biar aku masak—"


"Tetap gausah! sekali mas bilang gausah kamu harus nurut, dengar kan apa kata dokter. Kamu harus banyak istirahat, dan gak boleh kecapean. Apalagi sekarang kandungan kamu mengalami plasenta Previa marginalis" Ucap Renaldy dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Luziana yang dengan matanya yang berkaca-kaca . Mengangguk kepalanya, tanda ia menuruti apa suaminya bilang. Ia pun memberikan pisau yang berada di tangannya ke suaminya.


Melihat pisau yang sudah berada di tangannya, Renaldy pun mulai merajang bahan-bahan nasi goreng yang sudah di sediakan.


Sementara Luziana memilih duduk di kursi meja makan sembari menatap suaminya memasak. Tak berangsur lama Renaldy pun datang dengan membawa dua piring yang berisi nasi goreng, dan menaruhnya di atas meja.

__ADS_1


"Kok, nasi goreng nya untuk aku mas, kan aku sudah makan" Tanya Luziana dengan dahinya berkerut.


Renaldy tersenyum tipis.


"Gak papa, makan lagi. Lagipula itu cuman sedikit kok" Balas Renaldy lalu di angguki kepala oleh Luziana sebagai jawaban.


Luziana pun mulai menyantap makanan yang di masak oleh suaminya, dengan lahap. Ntah kenapa nasi goreng itu masih terasa kurang untuk dirinya. Padahal sebelumnya Luziana sudah makan.


Selang beberapa detik, nasi goreng yang di makan Luziana habis. Luziana yang ingin menambah lagi, memilih mengurung niat nya. Karena dia tahu suaminya gak mungkin masak banyak, mengingat suaminya itu masak hanya untuk dirinya sendiri.


"Mas, mas.." Panggil Luziana.


Renaldy yang sedang menikmati nasi gorengnya sembari melihat-lihat pekerjaannya melalui iPad. Seketika berhenti, mendengar istrinya memangil dirinya.


"Kenapa sayang..." Tanya Renaldy seraya menoleh menatap istrinya.


Luziana yang di tanya, menampilkan cengiran kuda di bibirnya. Dan itu membuat Renaldy menaikkan alisnya sebelah.


"Kenapa kamu, cengar-cengir menatap mas. Kalau ingin sesuatu bilang aja..." Seru Renaldy bertanya. Dan itu membuat Luziana makin menyengir lebar.


"Gini mas, aku masih pengen lagi nasi goreng mas. Boleh gak mas masakin lagi buat aku" Pinta Luziana. Renaldy yang mendengarnya tersenyum lebar. Tangan kekar nya pun terulur menarik kursi nya agar lebih dekat dengan istrinya.


"Lebih baik kita makan berdua, mau kan?" Tawar Renaldy dengan nasi gorengnya yang belum habis.


"Gak papa kan bisa masak lagi, yaudah lebih baik kamu buka mulutnya aa" Renaldy mengangkat sesendok nasi goreng untuk masuk ke mulut istrinya. Dengan senang hati Luziana menerima suapan suaminya. Hingga nasi goreng itu sampai habis. Selesai makan, mereka berdua memutuskan untuk masuk ke kamar dan istirahat.


Luziana yang merebahkan tubuhnya di kasur. Melihat kaki nya yang terasa sangat pegal. Tangan terulur untuk mengurut kakinya.


Renaldy yang selesai mandi, melihat itu mendekati istrinya sembari mengambil minyak kayu putih yang berada di atas nakas.


"Sakit ya kakinya?" Tanya Renaldy seraya mengoles minyak kayu putih di kaki istrinya. Reflek Luziana menjauhkan kakinya merasa sungkan, kalau suaminya memengang kakinya.


"Kenapa di jauhi? Sini kakinya biar mas urut" Titah Renaldy kepada istrinya.


Luziana mengeleng kepalanya pelan. "Gausah mas, aku bisa sendiri kok" Balas Luziana merasa tidak sopan aja, kaki nya di urut suaminya.


"Gak papa biar mas aja" Kekeuh Renaldy yang tidak ingin di bantah. Dengan terpaksa Luziana meluruskan kakinya kembali. Dan begitu telaten Renaldy mengoleskan minyak kayu putih lalu mengurut kaki istrinya.


"Sakit ya kakinya" Tanya Renaldy mengulang pertanyaan nya tadi yang belum di jawab oleh istrinya.


Luziana mengeleng kepalanya pelan. "Enggak kok Mas, cuman pegal aja" Jawab Luziana seadanya.

__ADS_1


"Yang benar?" Tanya Renaldy dengan tatapan selidik.


"Benar kok mas..." Jawab Luziana dengan pasti. Merasa kakinya yang sudah enakan, Luziana menyuruh suaminya berhenti mengurut kakinya. Renaldy yang di suruh berhenti, langsung menurutinya. Kemudian tak lupa Renaldy mengecup kening istrinya dan mengusap perut buncit istrinya.


"Baik-baik di dalam kandungan Buna ya jagoan. Nanti kalau kamu udah lahir, apa yang kamu minta pasti ayah turutin" Ujar Renaldy seolah bicara dengan anaknya yang berada di perut istrinya.


"Iya ayah..." Jawab Luziana yang meniru suara seperti anak kecil. Lalu detik kemudian mereka berdua pun tertawa bersama.


Setelah tawa mereka berhenti, Renaldy bangkit dari kasur dan mematikan lampu utama dan cuman lampu tidur yang hidup.


Luziana yang melihat suaminya setelah mematikan lampu, bukannya pergi tidur di sampingnya malah pergi membuka lemari. Itu membuat Luziana heran.


"Mas gak tidur?" Tanya Luziana.


"Enggak, mas bentar lagi tidur. Mas ingin kemas-kemas baju dulu untuk besok" Luziana yang mendengarnya langsung membulat matanya sempurna.


"Emang mas besok mau kemana?" Tanya Luziana yang nampak kaget.


"Kan mas udah bilang besok mau keluar kota! Lupa ya yaudah gak papa, mending kamu tidur aja soalnya dah malam. Gak baik-baik bumil begadang-begadang" Ujar Renaldy dan membuat Luziana mengangguk kepalanya paham.


Melihat istrinya yang sudah tidur, Renaldy melanjutkan kegiatan mengemas bajunya. Dan tidak lupa membuka kantong plastik hitam tadi. Yang berisi kertas-kertas tentang Meysa.




Keesokan paginya. Meysa mengepal kedua tangannya dengan wajah nya merah padam melihat kakak nya yang sudah terlebih dulu mengetahuinya.



...----------------...



**Maaf selama ini gak bisa update, soalnya beberapa hari kurang sehat. Doain ya cepat sembuh 🤗🖤**



**See you di Bab ekstra selanjutnya**!


__ADS_1


Meskipun udah end! Jangan lupa vote, like dan hadiahnya😘😘 biar semangat author buat bab ekstra selanjutnya.


__ADS_2