Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Kiss


__ADS_3

Luziana memperhatikan tumpukan baju yang belum di cuci. Ia menghela nafas panjang, kayaknya harini bakal hari yang cukup lelah. Gak mau terlalu berpikir panjang dia pun segera mencuci semua pakaian itu.


Selang beberapa jam, Meysa yang sedang berjalan menatap Luziana yang sedang berjemur baju, di terik matahari yang cukup panas. Semua anggota keluarga Hervandez sibuk dengan kegiatan masing-masing pada hari weekend ini kecuali Meysa.


"Sok rajin cih" Meysa berdecih pelan lalu melanjutkan langkahnya menuju ke dapur, cewek itu ingin membuat es buah di dapur. Yang pastinya dia menyuruh pelayan dirumah ini untuk membuatnya es buah tersebut.


"Duh... capek banget" Dari cuci baju, sapu halaman rumah dan potong rumput, itu sudah membuat Luziana kelelahan. Sebenarnya Luziana itu dilarang melakukan tugas itu oleh Mommy Liona karena sudah ada pelayan, biar pelayan saja melakukannya. Karena ingin menjadi menantu yang baik dan membalas jasa mereka terhadap keluarganya. Dia pun melakukannya dengan tulus hati.


Merasa sudah selesai, ia pun berjalan menuju kamar suaminya. Untuk pergi membersihkan tubuhnya yang bau keringat.


Saat membuka pintu kamar mandinya.


Ceklek..


Terlihat Renaldy bertelanjang dada, dengan dada bidangnya ber—sixpack seperti roti sobek. Lengan atasnya berotot begitu pula dengan lengan pria itu, sungguh pemandangan yang indah bagi di mata. Luziana yang melihatnya menjadi bersemu merah. Renaldy yang mendengar ada membuka pintu kamar mandi menoleh. Terlihat istrinya yang sedang menatapnya.


"Ma--af-ma-af" Ucap Luziana tergagap lalu segera menutup pintunya kembali. Kok bisa sih ada suaminya di kamar mandi perasaan tadi gak ada deh. Luziana yang mendengar pintu kamar mandinya terbuka berusaha melanjutkan langkahnya. Tapi ada seorang yang mencengkram tangannya.


"Saya ingin ngomong sesuatu pada kau" Ucap Renaldy dengan formal.


Deg


Jantung Luziana seketika berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


"Mau ngomong apa ya?" Tanya Luziana yang sudah membalikkan badannya dan menghadap suaminya dengan pandangan menunduk.


"Kau-" Belum Renaldy selesai ngomong sudah di potong oleh Luziana.


"Saya sumpah tadi gak ada lihat itu kamu kok" Spontan Luziana. Renaldy yang mendengarnya menjadi bingung.


"Lihat apa?" Tanya Pria itu dengan nada sangat dingin. Sampai Luziana ingin bernafas aja susah.


"Lihat..." Luziana memejamkan matanya.


"Burung kamu!" Ucap Luziana dengan nada sedikit


tinggi.


Seketika jadi hening...


Ia membuka matanya menatap ekspresi suaminya yang susah di tebak. Mungkin aja pria itu marah. Aduuh ngomong apaan sih mulutnya seharusnya di tadi gak bilang begitu. Di dalam batin Luziana.

__ADS_1


Renaldy menatap istrinya dengan sorot mata tajam. Mana mungkin istrinya dapat melihat miliknya. Pas istrinya buka pintu kamar mandi, pinggangnya aja sudah terlilit handukan. Kenapa istrinya mengatakan seperti itu. Apa perempuan itu dapat melihatnya. Renaldy yang teledor mengehela nafas kasar, seharusnya pas didalam ia mengunci pintunya. Biasanya Pria itu selalu mengunci tapi kenapa tadi dia lupa ya!.


Tidak ada yang buka suara, Luziana pun ingin pergi dari situ juga. Karena merasakan aura yang begitu mencekam disini.


Saat Luziana berjalan, Renaldy kembali menahan tangan istrinya kembali. Pria itu belum selesai ngomong, bukan belum selesai ngomong tapi belum berbicara sama sekali sama istrinya. Tapi istrinya sudah main pergi duluan.


Tapi sayangnya Renaldy mencengkram tangan istrinya pas istrinya lagi terpeleset. Luziana yang mau hampir jatuh mengalungkan tangannya sebelah di leher suaminya. Renaldy yang jadi kurang seimbang ikut turut jatuh. Jatuh dengan yang cara yang begitu intim.


Renaldy menindih tubuh istrinya. Bibir tebalnya mendarat sempurna di bibir tipis istrinya.


Mata Luziana membulat lebar menatap mata biru suaminya. Jantungnya seakan ingin lompat dari tempatnya.


"Ya tuhan jangan sampai aku jaga selama ini akan berakhir hari ini juga" Dalam batin Luziana. Tubuhnya seakan kaku, tidak bisa bergerak. Ingin menggeser saja tidak bisa. Bau mint Pria itu pun sangat terasa di indera penciuman Luziana. Sangat harum, tapi baunya kayak gak asing. Terasa pernah mencium aromanya tapi di mana ya?


Sementara Renaldy gairahnya menjadi naik. Pasca ia berhubungan intim dengan istrinya di hotel itu terputar kembali di pikirannya. Tangannya terangkat membelai pipi mungil istrinya. Luziana pipinya yang di belai terasa hangat, tangan suaminya. Tidak ada bantahan, ataupun pergerakan perlawanan dari Luziana.


Sepertinya Luziana menikmati, atau terhanyut, perempuan itu seakan sudah rela perawan nya di ambil oleh suaminya hari itu juga. Begitu juga Renaldy. Seakan Pria itu di kuasai oleh nafsunya. Renaldy menggigit bibir istrinya pelan. Seketika Luziana membuka mulutnya.


Renaldy mendapat peluang, mendalami ciumannya. Tiba-tiba suara ketokan terdengar.


Tok


Tok


Tok


Begitu dengan jilbab kurung nya ia pakai kembali. Dengan pipi bersemu merah ia berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


"****.." Umpatnya kesal seraya mengusap wajahnya kasar. Hampir sedikit lagi terjadi mengulang pergulatan panas itu kembali.


Tok...


Tok...


"Kak Al ada di dalam kan, ini Meysa... Meysa ingin ngomong sesu-" Belum selesai berbicara pintunya sudah terbuka menampilkan sosok orang yang paling ia benci.


"Ada apa" Tanya Luziana berusaha tenang dengan pipinya merah. Meysa tidak menyahut pertanyaan dari Luziana, melainkan melihat penampilan perempuan itu yang cukup aneh baginya.


"Kenapa bahu Lo merah," Seru Meysa dengan mata membulat sempurna. Dengan sigap ia menutup kembali dengan jilbab kurung nya.


"Itu..." Luziana memutar otaknya keras. Apa yang harus di kasih jawaban untuk Meysa yang merupakan adik iparnya.

__ADS_1


"Yah di gigit nyamuk" Seru Luziana dengan terkekeh canggung. Meysa yang melihatnya menatap perempuan itu dengan tatapan curiga.


"Nyamuk? mana mungkin itu di gigit nyamuk merahnya bisa sebesar itu. Lagi pun rumah mewah gue seperti ini. Mana mungkin ada nyamuk" Ujar Meysa dengan sinis.


Deg


Luziana terasa terpojokkan, dia tidak tahu harus mengasih jawaban apa?. Meysa menatap Luziana dengan tatapan mengintimidasi dari kepala sampai ujung kaki. Merah di bahu Luziana kayak pernah ia lihat di film drakor nya.


"Sebenarnya aku sih gak tahu ini merah kenapa! ya aku tebak aja mungkin ini gigit nyamuk" Ujar Luziana dengan tenang padahal rasanya ingin mati berdiri perempuan itu.


"Masa? terus kenapa baju Lo kusut, gak Lo gosok itu baju. Malas banget Lo jadi istri, istri gak guna apa-apa. Cuman tahu makan tidur, uang jajan gitu. Terus kenapa bibir Lo sedikit bengkak" Meysa menaikkan alisnya.


Luziana yang di berikan pertanyaan itu berusaha untuk tenang.


"Atau jangan Lo ngelakuin hubungan sek*...sudah ronde berapa" Tanya Meysa asal, gak mungkin mereka sudah melakukannya. Dalam batin Meysa pasti. Ia berkata seperti itu hanya membuat menakuti perempuan itu atau hanya ingin menjelekkan Luziana.


"Kamu kesini mau ngapain?" Tanya Luziana dengan nada dingin tanpa menjawab pertanyaan Meysa.


Sudut bibir Meysa naik. "Ouh iya! gue sampai lupa gara-gara lihat muka kumuh Lo itu" Cibir Meysa seraya tersenyum sinis.


Luziana berusaha tidak menggubris cibiran adik iparnya itu atau melawannya balik.


"Kakak gue mana! panggil dia. Aku ingin ngomong sesuatu sama kakak gue" Tambah Meysa lagi. Dan terlihat Renaldy keluar dari kamar. Dengan style baju kantornya. Ia ingin pergi ke perusahaan walaupun harini, hari weekend. Kalau tanya Renaldy ada mendengar perbicangan mereka, jawabannya tidak. Karena Pria itu sibuk menganti bajunya.


Melihat suaminya sudah keluar tanpa perlu di panggil. Ia meninggalkan mereka berdua yang merupakan adik kakak itu.


"Jangan lupa Lo cuci piring! cuci piring itu sampai yang bersih jangan sampai masih ada yang kotor" Titah Meysa seperti bos saja menatap punggung Luziana.


Luziana menatap sekilas suaminya dan beralih menatap Meysa. Ia pun mengangguk kepalanya paham. Luziana pun berlenggang pergi menuju dapur.


Renaldy yang tidak ada berekspresi hanya ekspresi datar. Menanyakan tujuan adiknya kenapa memanggil dirinya. Pas saat lagi hubungan panasnya, tapi pria itu sangat bersyukur dengan kedatangan Meysa yang memanggil dirinya itu. Kalau gak, sudahlah apa yang terjadi. Dia mungkin nantinya tidak bisa mempertanggung jawabkan.


Luziana memengang kedua pipinya. Kenapa dia tadi tidak melawan, kenapa dirinya ikut larut dengan sentuhan lembut suaminya itu. Kalau saja tidak ada Meysa gak tahulah apa yang terjadi. Mungkin saja sekarang dirinya sudah tidak perawan lagi. Dan mungkin tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi. Jujur sih Luziana sangat terhipnotis oleh sentuhan lembut Renaldy.


Gak mau memikirkan hal itu lagi, ia pun mencuci piring yang begitu menumpuk.


"Iya Kakak bakal usahain pergi" Meysa mendengarnya berteriak kegirangan.


"Habis isya ya kak! jangan lupa awas kalau lupa" Ucap Meysa dengan ekspresi lucunya.


Tangan Renaldy terangkat mengusap pucuk kepala adiknya.

__ADS_1


"Iya kok Kak Al bakal ingat!"


__ADS_2