Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Tembakan


__ADS_3

"Di lantai berapa sih kejadian penembakannya" Tanya Karina menatap sekitar hotel permata. Sekarang mereka itu sudah berada di lantai paling atas di hotel permata itu.


"Gak tau seingat aku di lantai paling atas ini deh" Balas Anita sambil mengingat-ingat kejadian penembakan itu di lantai mana.


"Di ruangan nomor berapa?" Karina kembali melontarkan pertanyaan kepada Anita.


Anita di berikan pertanyaan seperti itu berusaha mencoba mengingat-ingatnya. "Itu aku gak tau sih diruangan nomor berapa" Jawab Anita seraya mengaruk kepalanya yang gak gatal. Karina yang melihatnya melirik sinis kepada Anita yang berdiri di sampingnya.


"Coba aja cari dulu pasti ada tanda-tanda gitu di lantai ini" Ujar Anita dengan senyuman merekah.


Karina pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans-nya. Anita maupun Karina tidak mau berbicara lagi mereka hanya berjalan sembari melihat lokasi di tempat itu.


"Iihh.... Luziana ganti gelang aku yang kamu hilangin" Rengek Lisa yang berdiri di samping Luziana.


"Gak mau itu kan salah kamu sendiri. Siapa suruh suapi paksa aku makan buah mangga" Balas Luziana ketus. Perempuan itu sudah bilang dirinya tidak suka buah mangga tapi tetap juga temannya itu memaksakan dirinya makan buah mangga. Jadi Lisa dari tadi asik terima penolakan itu, dengan ide jahilnya ia menyuapi paksa Luziana dengan buah mangga itu. Luziana yang di suapi itu tentu jelas gak mau. Ia pun menepis tangan Lisa agar buah mangga menjauh darinya. Gelang yang berada di lengan Lisa yang tidak diikat kuat berakhir jatuh ntah kemana. Mereka sudah sempat mencarinya tapi tetap saja tidak ketemu. Terpaksa Lisa harus mengikhlaskan gelang yang baru di beli beberapa hari yang lalu.


"Buah mangga aja pih masa gak mau! heih dimana-mana itu orang suka buah mangga bukan kayak kau yang tidak suka buah mangga dasar orang aneh. Emang benar ya kata orang-orang Luziana itu aneh dah aneh polosnya kebangetan lagi" Celoteh Lisa.


"Aku gak aneh ya kamu itu yang aneh dah aneh polos lagi" Balas Luziana yang tak mau kalah. Padahal kenyataannya perempuan itu memang aneh dan polos.


"Polos? hello... gue gak polos ya dan juga gak aneh kayak Lo" Mereka berdua pun terus tidak ada henti-hentinya beradu mulut. Karina yang mendengarnya sudah muak.


"Lo bawa pulang deh kawan Lo itu" Titah Karina kepada Anita.


Anita yang disuruh begitu tersenyum sinis. "Teman gue haha.. teman Lo juga kali.." Balas Anita seraya memutar bola matanya malas.


Karina dan Anita tetap berjalan mencari ruangan penembakan itu berada. Sementara Luziana dan Lisa tetap adu mulut berada di belakang mereka.


"Ck' ribut banget sih mereka" Karina mengusap kupingnya yang sudah mulai panas mendengar pertikaian mereka berdua.


"Ntah itu.." Anita menunjuk mereka berdua dengan dagunya. Karena asik bertengkar mereka tertinggal beberapa langkah dari Karina dan Lisa.


Karina yang melihatnya memutar bola matanya malas. "Kalian berdua bisa diam gak sih! sakit ni kuping gue dengar kalian bertengkar mulu" Pekik kesal Karina mencoba memberhentikan pertikaian mereka. Mereka berdua pun diam tapi itu tidak berlangsung lama, Lisa dan Luziana kembali beradu mulut.


Anita dan Karina hanya pasrah, biarkan saja mereka bertengkar sampai mulut dua orang wanita itu berbusa.


Karina yang memberhentikan langkahnya. Anita yang melihat Karina berhenti mengerutkan dahinya.


"Kenapa Lo berhenti" Tanya Anita seraya menaikkan alisnya.


"Gue ada dengar suara langkah kaki seorang" Di pendengaran cewek kayak merasa ada orang lain berada di lantai atas ini. Tapi dia melihat sekitar tidak ada siapa-siapa. hanya mereka berempat berada lantai ini. Soalnya tempat ini tadi di larang masuk oleh penjaga hotel ini. Tapi tetap saja mereka nekat masuk. Untuk hanya mengevlog video.


"Suara langkah kaki seseorang" Anita menaikkan alisnya sebelah.


"Langkah kaki mereka mungkin, kali.." Anita menunjuk dua wanita yang sedari tadi asik bertengkar.


"Iya juga ya" Karina mengangguk kepalanya membenarkan perkataan Anita mungkin suara langkah seseorang itu suara langkah kaki Luziana dan Lisa.

__ADS_1


Karina menoleh kebelakang melihat temannya itu gak ada capeknya bertengkar. "Cepat oi jalannya kalau gak kami tinggalin ini" Titah Karina yang mereka udah tertinggal sangat jauh langkahnya.


Lisa pun berhenti dan menoleh ke depan. Ouh iya mereka kini sangat ketinggalan jauh beberapa langkah. Cewek itu pun berusaha lari menyusul langkah Anita dan Karina.


Luziana yang tinggalin begitu saja menjadi kesal. "Tungguin aku oi.." Pekik Luziana yang ikut juga lari. Saat lari perempuan itu tiba-tiba kesandung dengan kakinya sendiri.


Brak


"Auuww.." Luziana meringis pelan, yang nyeri pada lututnya akibat terjatuh.


Perempuan itu sejenak terdiam mendengar kayak ada suara langkah kaki seseorang. Ia pun menoleh kebelakang terlihat tidak ada siapa-siapa.


Luziana menelan saliva-nya takut. Ia pun segera bangkit lalu berusaha menyamai langkah-langkah kawannya itu.


Seorang laki-laki di balik tembok bernapas lega, hampir saja dirinya ketahuan. Ia pun kembali mengikuti mereka, dengan di tangannya membawa senjata api.


Lisa melirik sekilas temannya yang ngos-ngosan. Luziana kini sudah menyamai langkah-langkah kaki kawannya itu.


"Karina! Luziana itu orangnya aneh kan sama polos kan Rin" Ujar Lisa mencari pembenaran bahwa Luziana itu betul seperti ia katakan.


Karina hanya diam sambil meminjit pelipisnya. Pandangan cewek itu fokus kedepan, seketika mata Karina membulat lebar. Beberapa pasukan batalyon berjalan di belakang mengawal jenderalnya. Renaldy tampak begitu keren dan gagah, mengunakan setelan jas hitamnya dan mengunakan kacamata hitam, berjalan bersama para pasukan tentaranya.


Anita tersenyum lebar sangat lebar sampai bisa di katakan hampir robek bibirnya karena terlalu senyum lebar.


"Gila gue mimpi apa ya semalam bisa ketemu langsung sama orang yang tampan dan sangat gagah ini" Gumam Anita seraya tersenyum lebar.


Karina yang ternganga melihatnya, mengangguk kepalanya membenarkan perkataan Anita. Benar mereka ini sangat keren seperti di film drakor, malahan lebih daripada film drakor sangking kerennya.


Arya merupakan tangan kanannya jenderal. Mengerutkan dahinya heran, kenapa jenderalnya itu berhenti.


"Ada apa jenderal, kenapa berhenti" Tanya Arya dengan tegas dan penuh hormat.


Renaldy tidak menjawab pertanyaan dari Arya. Pria gagah itu hanya diam dengan pandangan fokus menatap wanita yang ternganga melihat mereka.


Arya yang melihat jenderal hanya diam. Ia pun mengikuti pandangan jenderalnya itu yang fokus ke depan. Kok ada seorang wanita disini bukannya disini sudah di aman ketat, tidak ada yang boleh masuk. Tapi kok mereka bisa masuk ya?, bertanya di dalam hati.


Arya mengambil walkie talkie yang berada di saku baju lorengnya.


"Halo! Arsen kenapa disini ada seorang wanita yang bisa masuk. Bukan kah kau sudah mengamankan lokasi ini" Ujar Arya emosi.


Arsen yang mendengar tangan kanan Renaldy emosi. Menjadi ketakutan, takutnya pasti jenderal itu sedang marah dan melampiaskannya ke Arya.


"Saya tidak tahu bagaimana wanita itu bisa masuk" Balas Arsen mencoba mengingat-ingat bahwa ada gerombolan wanita empat remaja yang mengelabuinya.


"Dasar kerja gak becus" Arya mematikan walkie talkie nya, yang biasa di gunakan khusus untuk alat sebagai komunikasi.


Arya pun mendekati para wanita itu, menanyakan bagaimana mereka bisa masuk disini. Padahal sudah di jaga ketat. Gak mungkin kan seorang mata-mata.

__ADS_1


Anita dan Karina saling pandang melihat salah satu dari tentara itu mendekati mereka.


"Bagaimana kalian-" Omongan Arya terhenti mendengar seorang pertikaian seorang gadis di belakang Anita dan Karina


Luziana yang di bilang begitu kembali emosi. "Aku gak polos ya! kamu itu yang polos. Dah polos blo'on lagi" Cibir Luziana. Lisa yang di ejek tidak terima.


Sialan mereka berdua itu bikin memalukan saja. Gumam kesal Karina yang malu mendengar suara mereka bertengkar. Apalagi suara Luziana yang sudah meningi.


Arya dan Renaldy dapat mendengar suara emosi seorang wanita. Dan juga mereka kayak kenal suara itu.


"Lo bawa pulang nit! adik Lo itu" Pinta Karina yang sudah sangat malu. Suara mereka itu kayaknya sudah tidak bisa di kontrol lagi.


"Heih gue itu anak tunggal ya! sejak kapan gue punya adik" Balas Anita menatap sinis kepada Karina.


"Apa iyah gak polos! kalau Lo gak polos. Kalau tau sutra itu apa. Kalau Lo itu katanya gak polos pasti Lo itu bisa jawab" Tantang Lisa seraya tersenyum miring.


Luziana hanya terdiam dan memutar otaknya keras.


Karina dan Anita sangat dapat mendengar mereka omongkan. Dan mereka omongkan itu sangat melenceng! dan sangat memalukan karena disini ada seorang pria. Ngapain mereka berbicara alat tak senonoh itu disini. Apalagi mereka itu seorang gadis yang masih duduk bangku sekolah.


Renaldy hanya datar menatap mereka tanpa ekspresi. Sementara Arya menahan tawanya mati-matian mendengar percakapan istri Jenderalnya dengan temannya itu.


"Tau kok" Jawab Luziana dengan bangga.


"Apa coba!" Anita menaikkan alisnya.


Dengan gerakan cepat Karina membungkam mulut temannya itu. Luziana mulut di bungkam mencoba melepaskannya.


Lisa melihat mulut Luziana mengeryitkan dahinya. Ia pun mendengar suara Anita menyuruhnya melihat kedepan. Mata Lisa terbelalak dengan mulut terbuka lebar. Dirinya sedari tadi asyik adu mulut dengan Luziana tanpa sadar ada seorang pria tampan di depan mereka dengan berpakaian berjas hitam dan beberapa orang mengawalnya.


Luziana yang terlihat kehabisan nafas. Ia pun melepaskan bungkaman nya.


"Kenapa sih kamu tutup mulut aku" Ucap Luziana dengan nafas tersengal-sengal.


"Liat noh di depan kita siapa" Balas Karina menunjukkan dengan dagunya.


Mata Luziana membulat lebar. Siapa mereka kok bisa ada disini. Renaldy dapat melihat istrinya menatap dirinya.


"Apa mereka orang jahat..." Gumam Luziana. Yang tidak tahu bahwa itu suaminya.


"Gawat nih... kabur....." Luziana langsung membalikkan badannya dan langsung berlari. Orang semua menatap heran sama wanita itu yang langsung tiba-tiba lari.


Renaldy mengambil pistol yang berada di saku jasnya. Ia pun menodongkan pistol itu tepat berada istrinya. Karina yang melihatnya matanya terbelalak kan karena arah pistol itu tepat Luziana sedang lari.


Arya pun begitu juga melihat apa yang di lakukan jenderalnya. Ia tidak Habis pikir kenapa jenderalnya itu mengarah tepat pada istrinya.


"Renaldy jangan..."

__ADS_1


Dor


Suara tembakan begitu nyaring terdengar satu lantai itu. Luziana yang sedari tadi berlari seketika berhenti.


__ADS_2