Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Ketinggalan obat


__ADS_3

Devan menatap istrinya, yang emosi nya menyala. Mommy Liona yang menatap suaminya dengan emosi menyala, ia pun membuka suara.


"Apa Papi tidak bisa membicarakan dengan tenang dulu, kenapa harus menggunakan kekerasan" Mommy Liona seperti tidak suka melihat suaminya, memukul putranya. Padahal putranya yang duluan mencari perkara.


Papi Devan mendengarnya tersenyum sinis.


"Mommy tidak lihat siapa duluan mencari masalah dengan Papi!" Tanya Papi Devan dengan penuh penekanan.


"Melihat! tapi tidak seharusnya juga menggunakan kekerasan kan, dan kenapa Papi tidak bilang saja dimana keberadaan Luziana?" Tanya Mommy Liona di akhir kalimat.


Papi Devan mendengarnya, menghela nafas kasar.


"Papi sudah bilang! Papi tidak tahu, buat apa Papi menyembunyikan Luziana. Emang ada gunanya?" Lontar pertanyaan balik Papi Devan dengan tegas.


Semuanya mendengarnya menjadi terdiam. Ada benar juga di bilang Papi Devan. Tapi sayangnya Renaldy bukan lelaki bodoh! ia pun sudah menyelidiki hilang istrinya tiba-tiba. Itu pun ada kaitannya dengan Papi Devan.


"Papi jangan pura-pura mengelak lagi? gak mungkin istri Al susah di temukan! kalau gak ada orang dalam di balik semuanya, dan berkuasa" Ucap Renaldy dengan penuh penekanan di akhir kalimat.


Papi Devan tersenyum simpul.


"Jadi apa yang telah terjadi ini semua salah Papi begitu, Al introspeksi diri sedikit. Kau seorang jendral, kau sudah dewasa. Apa kamu ada berpikir istri mu pergi tanpa bilang apa-apa dengan mu. Itu karena ulah mu sendiri! adakah berpikir sampai situ" Papi Devan menaikkan alisnya menatap putra sulungnya.


Renaldy yang mendengarnya, merasa tertampar dengan ucapan Papi Devan.


"Kau sama aja seperti Mommy mu!"



Nadia yang baru selesai tebus obat nya, langsung melangkah pergi menuju ke kantin rumah sakit. Setelah sampai di kantin rumah sakit. Nadia pun membeli apa yang dia mau.



Saat selesai pembayaran di kasir Nadia yang sangat fokus dengan ponselnya pun, pergi meninggalkan plastik kecil putih di atas meja kasir. Yang plastik tersebut berisi obat Luziana.



Mbak penjaga kasir pun berusaha memanggil, Nadia. Tapi sayangnya, itu tidak membuat Nadia membalikkan badannya. Perempuan itu tetap melangkah pergi.



Langit yang melihat hal tersebut, bertanya kepada Mbak kasir tersebut. Dia juga habis membeli air di kantin rumah sakit Medika itu.



"Kenapa Mbak, saya lihat Mbak seperti memanggil cewek itu?" Tanya Langit yang baru berada di kasir.



"Aduh gini mas, obat cewek itu, ketinggalan. Saya panggil orangnya gak nyahut-nyahut" Jelas Mbak kasir itu membuat langit mengangguk kepalanya paham.



"Boleh saya antar obat nya?" Tawar Langit kepada kasir tersebut. Mbak kasir itu nampak menimbang-nimbang, dengan tawaran langit. Takut nanti obatnya benar-benar gak sampai, kepada cewek tadi itu.



"Saya orang baik kok" Celetuk Langit yang gak sejalan dengan dalam pikiran Mbak kasir tersebut. Langit pikir dia akan merombak obat tersebut.


__ADS_1


"Yaudah deh, ini mas obat nya" Mbak kasir pun mengiyakan dan menyodorkan kantong plastik kecil putih itu ke langit. Langit pun menerimanya.



Setelah selesai membayar, langit pun membuka kantong plastik kecil putih itu. Biasanya di kemasan obatnya ada nama seseorang dan nama kamar inapnya.



"Luziana Afriani? ruang mawar" Gumam Langit bertanya-tanya. Kok seperti nama, orang dia kenal ya. Ah! sudahlah mungkin nama Luziana itu banyak, gak mungkin cuman satu orang saja.



Dengan langkah kaki lebar, ia pun berjalan menuju ruang rawat inap yang tertulis di kertas kemasan obat tersebut.



Sementara tempat yang sama, Renaldy dengan tatapan kosong menatap tetesan hujan yang turun dari langit dan jatuh ke bumi, di kursi koridor rumah sakit. Di dalam pikirannya bertanya, apa salahnya begitu besar sampai, istrinya pergi tanpa izin dengan dirinya. Dan menghubungi perempuan itu sangat susah.


"Mas kangen, dengan mu sayang kamu dimana? jangan bikin suami mu ini khawatir," Lirih Renaldy.


Rasa sesal, gelisah, sedih sudah mencampur aduk di dalam perasaannya. Belum beberapa hari saja Renaldy sudah di buat gila, akan semua keadaan ini. Pembuktian menuju arah ke Papi Devan sudah pasti. Tinggal tunggu sedikit lagi.


Renaldy yang lama termenung, memutuskan shalat Magrib karena adzan sudah berkumandang. Dari pada berdiam diri saja. Lebih baik kita serahkan semuanya yang kepada Maha kuasa.




Nadia yang sudah sampai di ruang rawat inap Luziana. Dengan sangat santai, duduk di kursi sambil bermain ponselnya, ia sibuk dengan game online dia main.



Ia pun menatap sekilas di atas nakas yang masih utuh makanannya, seperti tidak tersentuh sedikitpun, yang pastinya makanan itu untuk pasien. Yang cuman bedanya makanan itu beda dengan menu makanan yang tadi pagi ia lihat. Pandangannya pun beralih kembali ke ponselnya.




Luziana yang sedang tertidur, merasa terusik mendengar suara Nadia. Kelopak matanya pun terbuka dan pandangannya langsung beralih ke sumber suara.



"Eh Nadia, aku kira kamu dah pulang!" Ujar Luziana dengan suara parau nya. Sudah berapa jam, Nadia tidak balik-balik lagi ke ruang rawat inapnya selepas ingin menebus obat tadi. Kalau Nadia benaran pulang dahlah, Luziana tinggal sendiri.



Nadia tersenyum simpul.



"Emang dah pulang kok cuman balik lagi, ini pakaian aku aja dah beda" Ucap Nadia sambil menunjuk kan bajunya yang beda ia kenakan tadi pagi. Tadi pas menebus obat, Nadia sempat bilang kepada orang apotik ia bakal ambil obatnya kembali nanti sore. Lagipun untuk menebus obat nya harus menunggu antrian panjang dulu.



Luziana yang mendengarnya, mengangguk kepalanya samar. Ia pun bangun dari tidurnya, dan memilih untuk duduk di atas ranjang pasien nya.



"Lo dah makan lun?" Tanya Nadia kemudian.

__ADS_1



Luziana mengeleng kepalanya samar. Ntah kenapa kepalanya terasa berat dan pusing.



"Belum.. cuman tadi siang aja aku makan kue. Yang biasa di kasih ngantar makanan untuk pasien" Balas Luziana dengan suara terdengar serak.



Nadia mendengarnya, menanggapi ber'oh ria.



"Lun, tadi sore pas mau balik rumah sakit. Aku ada lihat orang tua kamu. Aku lihat mereka biasa-biasa saja gitu seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal Lo lagi sakit, apalagi tengah hamil gini" Ujar Nadia yang melihat orang tua Luziana di depan rumah mereka sendiri. Nadia melihatnya mencoba berpikir positif thinking aja, mungkin orang tua Luziana tidak tahu Luziana sakit.



Luziana mendengar perkataan Nadia, sudah tidak memikirkan tentang orang tuanya lagi. Ia sudah terbiasa, jadi untuk apalagi sakit hati.



Luziana memilih diam, dan tidak menimpali perkataan Nadia. Nadia yang melihatnya merasa miris melihat kehidupan Luziana. Sudah sedari SMP Luziana kurang merasa kan kasih sayang orang tuanya, kedua orang tuannya, sifatnya berubah setelah mereka pindah rumah baru mereka, yang sekarang. Pas Papa Haris kenak penipuan. Di situ semua orang yang Luziana anggap sayang. Seketika berubah.



Nadia pun sudah mengetahui, bagaimana perlakuan Papa Haris, dan Mama Safira terhadap Luziana. Terlebih Luziana sedang mengandung, yang seharusnya bumil itu butuh dapat support dari keluarganya dan suaminya. Ini malah sebaliknya.



"Lun kok kamu sabar banget sih! aku jadi kamu aja dah gak tahu sanggup lagi. Dan kayaknya jalan terbaik bunuh diri aja, bagi aku" Nadia merasa kagum, melihat Luziana yang masih mau bertahan dengan begitu cobaan yang menimpa perempuan itu.



Tak berselang lama, seorang pemuda tampan datang menghampiri ruang rawat inap mereka. Dan memanggil seseorang.



"Luziana Afriani.." Panggil Langit seraya menyapu pandangannya menatap ruang rawat inap itu. Matanya pun berhenti menatap Luziana yang sedang duduk di atas ranjang berada ruangan itu.



"Ya saya.." Jawab Luziana dengan suara yang masih terdengar serak.



Sementara Nadia di buat terpaku melihat cowok itu.



"Oh \*\*\*\* ni cowok ganteng banget an Jing"



...----------------...



Jangan lupa dukunganya 🖤

__ADS_1



Dan lupa follow Instagram author: maulyy\_05


__ADS_2