
"Hmm, Al kamu sama istri kamu udah melakukan berhubungan intim" Lontar pertanyaan Mommy Liona kepada Renaldy, seketika Pria itu menghentikan kegiatannya yang sedang makan. Sementara Luziana hampir tersedak makanan, yang di dalam mulutnya mendengar pertanyaan Mommy mertuanya. Begitu juga Meysa yang gak kalah kaget.
Pandangan Pria itu yang tadinya fokus ke piringnya. Kini mengangkat pandanganya. Ntah kenapa napsu makanannya kini sudah hilang, karena pertanyaan di lontarkan Mommynya.
Kemudian mengapa mommynya menanyakan hal itu, apa jangan-jangan istrinya itu sudah hamil. Itu tidak mungkin karena pernikahan mereka belum mencapai satu bulan. Masa sudah hamil duluan. Kalau di lihat-lihat tanda seperti ibu hamil belum ada pada diri istri kecilnya itu.
Dan Renaldy berharap Luziana gak benar-benar hamil. Dia melirik sekilas istrinya yang tampak seperti orang bingung.
"Ya Tuhan.... gimana ni. Gak mungkin" Luziana mengeleng kepalanya menghempaskan pikiran yang enggak-enggak. Ia pun hanya bisa pasrah, semoga suaminya itu bisa menjawab dari pertanyaan Mommynya.
Sementara Meysa tatapan gadis cantik itu tampak emosi. "Ck' ngapain sih Mommy, nanyak sudah berhubungan apa belum. Gajelas banget. Semoga Kak Al belum melakukannya jadi ku bisa usir sih Rakyat jelata ini." Meysa mengertakan giginya kesal, sembari menatap Luziana.
Renaldy bangkit dari kursinya. "Bukan urusan Mommy." Maksud Renaldy tentang sudah berhubungan intim itu, bukan urusan Mommynya. Jadi Mommy tidak boleh berhak tahu apa mereka sudah melakukannya atau tidak. Pria itu pun berlalu pergi.
__ADS_1
Mommy Liona mendengus kesal. "Ouh ya, berarti kalau bukan urusan mommy. Pasti kalian sudah melakukannya. Iya kan Luziana" Mommy Liona berdiri dari kursinya sambil menatap punggung putranya. Langkah pria itu seketika berhenti.
Glek
Luziana menelan saliva-nya dengan susah payah. Kok dirinya ikut turut kenak. Renaldy membalikkan badannya menatap istrinya, tengah tersenyum Kikuk menatap Mommynya.
Apa istrinya sudah tahu bahwa dirinya sudah mengambil perawannya dalam keadaan tidak sadar. Renaldy hanya menatap cermat dari gerak-gerik istrinya. Kayaknya istrinya itu tidak tahu.
Papi Devan hanya memijit pelipisnya yang sedikit pusing. Melihat istrinya yang terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga Putranya. Kalau dari segi pendapat Papi Devan. Pasti putranya itu belum menyentuh istrinya itu. Karena Pria paruh baya itu tahu. Renaldy itu selalu tepatin omongannya. Apalagi di baliknya itu ada syarat yang sangat berat, jika melanggarnya.
Dirinya tidak tahu harus di jawab apa?. Kalau bilang mereka belum melakukannya. Pasti dirinya dikatain gak kasih hak suaminya.
"Apasih Mommy nunggu cucu dari cewek gajelas ini. Hei mommy ku tersayang. Masih gak paham juga, apa yang Meysa bilang. Jangan percaya dengan perempuan gak benar ini. Dia itu sebenarnya, perempuan yang gak jelas. Munafik, dan pokoknya gak benar deh kalau Mommy-.
__ADS_1
"Cukup Meysa! hargai dia sebagai istri kakak mu" Bentak Renaldy dengan eskpresi datar. Meysa yang baru kali ini di bentak oleh kakaknya. Matanya berkaca-kaca.
"Meysa bakal buktiin, pada kalian semua kalau perempuan ini gak benar. Dan suatu saat kalian akan bilang sama Meysa. Andai aku percaya sama gue" Ujar Meysa, langsung berlenggang pergi menuju kamarnya.
Begitu juga Renaldy, berlenggang pergi menuju ke kamarnya. Papi Devan sangat pusing dengan tingkah putri bungsunya yang terlalu gak suka dengan Luziana. Apa sebab, Meysa tidak menyukai Luziana.
Papi Devan pun beranjak dari duduknya. Kini tinggal dua wanita yang beda umur.
"Jangan masukkan ke hati ya apa yang ucapan Meysa." Luziana hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Mommy sangat percaya kepada kamu kalau kamu itu perempuan baik-baik. Dan pasangan yang cocok untuk putra Mommy" Ujar Wanita paruh baya itu sebelum ikut menyusul suaminya.
Luziana membersihkan meja makan dan juga di bantu oleh beberapa pembantu. Sebenarnya Mommy Liona sudah melarang biar pembantu rumah aja membersihkan sisa makanan sekaligus bersihin meja. Tapi tetap saja Luziana ingin melakukannya.
__ADS_1
Luziana tahu, itu semua hanya bohongan Meysa agar dirinya terlihat hina di depan keluarganya.