
Renaldy yang duduk membungkuk menautkan kedua jarinya cemas. Karena sudah satu jam lebih belum ada tanda-tanda dokter akan keluar dari ruangan operasi.
Suasana hening pun menyelimuti tempat tunggu, operasi tersebut. Mommy Liona sekali-kali melirik suaminya yang sibuk dengan ponselnya.
"Papi lagi chatan sama siapa?" Tanya Mommy Liona dengan mengintimidasi. Istrinya yang mengetahui dirinya sedang chatan sama seseorang, langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Sebelum menyaksikan emosi menantunya, pria itu tadi ada sempat ke perusahaan sebentar.
"Gak ada chatingan sama siapa-siapa, cuman chatan sama rekan bisinis aja tadi" Sahut Papi Devan dengan dusta. Mommy Liona menyipitkan matanya menatap suaminya dengan tatapan mengintimidasi , mencari kebohongan di dalam diri suaminya. Sementara Papi Devan hanya terlihat santai aja. Mommy Liona pun menghela nafas pelan. Dan menanggapi nya hanya ber'oh ria aja.
Keheningan kembali menyelimuti ruang tunggu tersebut, perasaan Renaldy semakin kalut. Bagaimana anaknya belum sempat melihat dunia ini, sudah meninggal dunia duluan. Rasa bersalah berkali-kali pun menghantuinya, yang gagal jadi suami dan ayah yang siap siaga.
Tiba-tiba suara dering telepon pun, berbunyi dan memecahkan keheningan tersebut.
Drettt.. dret...
Tapi semuanya nampak diam, dan mencari dari mana suara nada dering telepon itu berasal. Semua mata pun tertuju ke pada Papa Haris yang sedang melamun.
"Haris.." Panggil Papi Devan kepada teman sohibnya waktu SMA.
Tidak ada respon.
"Haris.." Panggil Papi Devan lagi dengan nada naik beberapa oktaf. Lamunan Papa Haris pun buyar.
Papa Haris menaikkan alisnya, dengan raut wajah penuh tanda tanya.
Papi Devan yang mengerti dari mimik wajah Papa Haris pun menjelaskan. "Ponsel mu berdering" Ujar Papi Devan.
"Ouh.. iya" Papa Haris pun segera mengambil ponselnya di saku celana jeans nya. Dan menghidupkan layar ponselnya, setelah layar ponselnya hidup, Papa Haris pun membaca siapa yang menelepon dirinya. Di layar ponsel tertera nama Mama Safira.
Papa Haris pun bangkit dari kursi, dan melangkah sedikit jauh dari ruang tunggu. Lalu setelah agak menjauh dari ruang tunggu operasi, Papa Haris pun mengangkat telepon dari istrinya.
"Halo Safira.." Ucap Papa Haris setelah teleponnya terhubung.
"Assalamualaikum mas, mas lagi dimana sih" Tanya Mama Safira seperti nada orang lagi kesal.
__ADS_1
"Saya lagi dirumah sakit!" Balas Papi Devan dengan datar di seberang telepon.
"Emang kenapa? kamu tanya begitu" Jangan salah paham, kalau Papa Haris bicara sama tidak ada romantisnya dengan istri. Karena emang gitu sifat Papa Haris. Untung Papa Haris dapat istrinya yang mengerti akan sifat dirinya.
"Ini Loh! si Febby merengek Mulu dari tadi, ingin minta di belikan ayam KFC. Pusing aku dengar nya, mas" Ucap Mama Safira dengan raut wajah terlihat depresi di seberang telepon mengahadapi anak bungsunya.
"Jadi nanti setelah Mas pulang dari rumah sakit, belikan ayam KFC untuk Febby" Sambung Mama Safira di sebrang telepon.
"Untuk sekarang Mas gak bisa" Tolak Papa Haris.
"Kenapa gak bisa" Tanya Mama Safira yang gak biasanya suaminya, gak bisa memenuhi keinginan putri bungsu mereka.
Papa Haris mengehela nafas pelan, sebelum menjawab pertanyaan istrinya. "Luziana berada di rumah sakit, dan sekarang berada di ruang operasi sedang di lakukan proses pengangkatan janin" Sahut Papa Haris menjelaskan, membuat Mama Safira melongo.
"Hah, yang benar?" Mama Safira yang di sebrang telepon tampak gak percaya akan penjelasan suaminya bahwa anak putri sulungnya, berada di rumah sakit dan lagi proses pengangkatan janin di ruang operasi. Yang mendengarnya siapa juga gak kaget coba. Apalagi tiga hari sebelumnya Luziana tampak biasa-biasa aja. Walaupun putrinya itu tampak banyak masalah di pikiran nya.
"Sejak kapan aku berbohong coba" Tanya Papa Haris di seberang telepon.
Mama Safira mendengar nya, ada benar juga. Suaminya itu gak pernah namanya berbohong, kalau dari sudut pandang dari Mama Safira. Kemudian suaminya itu, orang yang serius, kejam, dan sangat perkerja keras. Semua kebutuhan keluarga, kurang namanya kekurangan. Jujur Mama Safira sangat segan sama suaminya sendiri.
"Terus langkah selanjutnya bagaimana?" Tanya Mama Safira, yang gak mungkin pernikahan putri sulungnya akan bertahan. Dengan setelah kejadian semua ini.
"Kita buat mereka bercerai, saya sudah malas berhubungan yang gak masuk akal ini" Padahal Papa Haris yang sendiri pengen besanan dengan Papi Devan. Eh sekarang dia sendiri memutuskan besanan itu.
Mama Safira pun mengiyakan. Teleponan itu pun berakhir.
Mommy Liona yang sedang duduk di kursi tunggu menatap mengintimidasi arah Papa menantunya. Sebenarnya dia malas banget besanan sama mereka. Mommy Liona sebenarnya itu pengen besanan dengan anak teman kenalannya. Bukan dari suaminya. Tapi suaminya paksa, yaudah terpaksa terima dari pada nanti di bilang istri yang berdosa yang membangkang keinginan suaminya. Dari awal Luziana datang ke rumah kediaman Hervandez, muka Mommy Liona yang terlihat seperti mertua baik-baik sama menantunya itu hanya omong kosong belakang, ia melakukan itu hanya terpaksa menuruti keinginan suaminya.
Gak ada sifat yang tidak di ketahui oleh Papi Devan tentang istri nya. So, jangan salahkan Mommy Liona, kalau ia melakukan itu kepada menantunya.
"Papi kalau benar bayinya Luziana meninggal gimana. Apa kita suruh Renaldy nikah dengan wanita lain" Bisik Mommy Liona tepat di kuping suaminya. Papi Devan yang mendengar sontak kaget.
"Di dalam pikiran Mommy apa sih! di sana ada menantu kita sedang berjuang untuk hidup cucu kita dan dirinya. Dan sini Mommy bisa-bisa mikir suruh Al nikah lagi" Papi Devan memijit pangkal hidungnya terasa pusing. Mendengar perkataan istrinya.
__ADS_1
"Ya terus apakah pernikahan mereka setelah anak itu tiada. Bakal bertahan dengan sifat Luziana yang kekanakan. Yang jelas aja Papi dia aja berani bunuh anaknya sendiri untuk demi mengakhiri pernikahan ini" Ujar Mommy Liona membuat Papi Devan gak tahu harus menjawab apa.
"Dia melakukan itu karena dia tertekan! gini aja mikir logika di saat seperti ini aja Mommy dah memikirkan Renaldy bakal nikah sama siapa ya nanti setelah kita bakal tahu sekarang anaknya meninggal atau gak. Jadi bagaimana hari dengan hari sebelumnya. Pasti yang di bicarakan Luziana kalau menantu yang tidak bisa di banggakan. Itu karena Mommy kan, mommy yang seakan malu punya menantu seperti Luziana, malu untuk di pamerkan dengan kawan Mommy itu kan. Gimana dia gak tertekan coba gak di anggap sama mertuanya, mertuanya malu punya menantu seperti dia. Hati menantu mana coba yang gak sakit hati, di perlakukan seperti itu. Mommy perempuan pasti lebih ngerti bagaimana di perlakukan seperti itu jelas" Papi menjelaskan secara rinci membuat Mommy Liona terdiam seribu bahasa.
"Mommy gak ada di bilang gitu kok teman-teman, dia itu aja terlalu masukin ke hati. Padahal Mommy gak ada ngomong seperti itu ke teman Mommy, kalau Papi pengen bukti tanya aja sama Kinasih, dia ada juga di waktu. Tullah karena dia itu masih kekanak-kanakan makanya begitu" Ujar Mommy Liona yang tak mau kalah.
Renaldy yang memperhatikan kedua orang tuanya dari tadi, merasa curiga apa yang mereka bahas. Karena mereka bicara nya bisik-bisik. Lagipun Renaldy gak fokus kali dengan orang tuanya.
Setelah 3 jam dokter pun keluar. Yang tadinya duduk mereka pun langsung berdiri.
Ceklek
"Dokter, gimana keadaan istri saya?" Tanya Renaldy dengan raut wajah khawatir. Melihat dokter Lea yang sudah keluar dari ruangan operasi.
"Alhamdulillah sudah mulai membaik, ta-pi keadaan janinnya mohon maaf kami sudah berusaha mungkin, untuk keadaan si bayi gak bisa kami selamatkan. Bayinya sudah meninggal di dalam kandungan"
...----------------...
Plot twist besok. Padahal author gak mau update hari ini, lagi sibuk mikirin kerangka. Yah tapi gak papa lah. Jangan lupa tunggu besok lusa update nya🤫
Jangan lupa follow Instagram author: maulyy_05.
Dan jangan lupa dukunganya.
LIKE
FOLLOW
HADIAH
VOTE
KOMENTAR
__ADS_1
LUCU LIHAT KOMENTAR KALIAN JULIDNYA MINTA AMPUN ðŸ¤