
Pagi hari yang masih cerah, pasangan pasutri yang baru baikan kini, tengah sedang berdebat ruang makan.
"Iihh.. mas aku gak mau bawa bekal ke sekolah. Apalagi bekalnya isinya daging telur terus sayuran buah-buahan. Pokoknya deh, aku gak mau bawa bekal ke sekolah" Tolak Luziana dengan bersikeras. Renaldy yang telah baru memutuskan mengizinkan, istrinya pergi sekolah. Walaupun sedang hamil, lagipun tanggung sudah mau ujian.
"Kamu mau sekolah apa enggak! kalau mau sekolah harus bawa bekal ke sekolah. Dan bekal ini harus di makan sampai habis" Pinta Renaldy kepada istrinya.
"Kalau gak mau bawa bekal ini ke sekolah. Gausah sekolah, simpel kan" Luziana yang mendengar ancaman suaminya mencebik kesal.
"Iya-iya aku bawa ini..." Balas Luziana dengan kesal, seraya memasuki kotak bekal itu ke dalam tasnya. Renaldy yang melihatnya tersenyum tipis.
Para keluarga melihat mereka berdua, hanya bisa mengeleng kepalanya. Melihat Renaldy yang kini begitu posesif.
Meysa yang sudah siap sarapan pagi, bangkit dari kursinya.
"Mau kemana Meysa?" Tanya Papi Devan yang melihat putrinya yang sudah selesai makan.
"Mau pergi ke sekolah lah, apa lain. Gak lihat ini Meysa udah rapi-rapi pakai seragam sekolah" Balas Meysa jutek. Papi Devan mengangguk kepalanya paham.
"Gak barengan perginya sama Luziana?" Lontar pertanyaan Papi Devan lagi.
Meysa yang mendengar pertanyaan Papinya, Menatap Luziana dengan sorot mata tajam. Luziana yang melihat mata Meysa cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
"Enggak, yang ada telat nantik pergi bareng dia" Sahut Meysa seraya memengang tali tas ranselnya. Dan mengunakan panggil untuk kakak ipar nya dengan kata dia, gak seperti dulu rakyat jelata.
Tanpa berbicara lagi, Meysa langsung pergi meninggalkan ruang makan. Mommy Liona yang baru dari dapur, mengerutkan dahinya heran. Melihat Meysa tidak ada lagi di meja makan.
"Meysa mana Pi?" Tanya Mommy Liona kepada suaminya.
"Sudah berangkat ke sekolah" Sahut Papi Devan dingin seraya menyesap tehnya.
"Di sekolah jangan kemana-mana tu! Duduk aja di kelas. Bekalnya di makan sampai habis begitu juga susu hamilnya. Dan satu lagi jangan dekat-dekat sama cowok" Ujar Renaldy dengan tegas setelah menyambut salaman dari istrinya.
Luziana yang mendengarnya, memutar bola matanya jengah.
"Iya mas.." Sahut Luziana seraya tersenyum.
__ADS_1
"Uang jajannya mana?" Luziana menengadahkan ke dua tangannya.
"Gak ada.. mas gak kepengen kamu nanti jajan aneh-aneh di sekolah" Balas Renaldy dengan tegas. Apalagi kandungan istrinya masih lemah. Tingkat mengizinkan istrinya pergi sekolah, rasanya Renaldy gak tenang.
Mata Luziana terbelalak.
"Hah kok gak di kasih uang jajan sih. Bilang aja mas pelit.." Ketus Luziana dengan kesal. Ntah kenapa sifat Luziana yang biasa kalem kini sedikit cepat sekali emosi. Mungkin ini bawaan kehamilannya.
"Mas bukannya gak kasih.. mas takutnya nantik kamu jajan yang enggak sehat. Ingat kan kata dokter?" Renaldy menatap istrinya penuh perhatian.
"Ouh jadinya ini cuman mikirnya untuk bayi di dalam kandungan aku aja. Sedangkan akunya gak di pikirin. Gitu toh mas.. kata aku maafin mas ku tarik balik. Mas cuman mikir bayi kandungan aku aja. Kalau aku gak hamil, gak ada tuh namanya perhatian larang ini itu. Yang ada sikap mas dingin ke aku seperti beruang kutub utara, cuman yang di hadapan aku versi manusia." Mata Luziana langsung berkaca-kaca. Renaldy yang melihatnya menghela nafas panjang.
"Jadi yang betul kayak gimana!" Mata Luziana yang tadi berkaca-kaca, kini menatap suaminya dengan sorot mata tajam.
Renaldy menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
"Yaudah mas kasih uang jajannya. Kamu mau berapa" Kalau tanya Renaldy apakah masih ingat uang cash yang di kasihnya untuk istrinya yang di ambil mommy Liona. Apakah masih mengingatnya, jawabannya tidak. Dan Renaldy pun juga tidak tahu kalau uang itu di ambil oleh Mommy Liona.
"Udah basi.." Luziana dengan perasaan kesal. Membanting pintu mobil saat menutup mobil tersebut. Renaldy yang di dalam mobil hanya bisa meraup wajahnya dengan ekstra sabar.
__ADS_1
"Loh tumben Lo pergi ke sekolah naik mobil" Tanya Karina dengan perasaan kepo. Melihat Luziana baru keluar dari mobil mewah.
"Gausah kepo.." Ketus Luziana seraya melangkah menuju ke kelas.
Karina yang nanya baik-baik kepada Luziana. Namun responnya sangat berbeda terbalik. Membuat Karina menjadi kesal.
"Kenapa sih itu anak kemasukan setan kah!" Gerutu Karina dengan perasaan kesal.
"Lo Meysa sama Luziana pernah temanan dulu kan?" Tanya Langit yang sedari tadi mengikuti langkah Meysa.
Meysa yang mendengarnya membalikkan badannya, seraya menaikkan alisnya.
"Apa urusan dengan Lo?" Tanya balik Meysa dengan nada tidak ngegas.
"Iya gue cuman nanya doang, benar kan Lo waktu SMP pernah jadi teman dengan Luziana" Langit menaikkan alisnya. Menurut informasi dia cari, bahwa kalau Luziana pernah sempat berteman dengan Meysa sebelum musuhan.
"Kalau iya kenapa.." Ketus Meysa seraya bersedekap dada.
"Terus kenapa kalian bisa musuhan coba?" Tanya lagi langit. Dia harus berusaha mengoreksi masa lalu mereka berdua, supaya bisa mengetahui siapa dalang ini dari semua.
"Lo kenapa sih selama ini kepoan banget jadi orang. Gak kayak biasanya aja" Meysa menatap langit penuh kecurigaan dengan sikap Langit.
"I-yaa.. gue nanya gini cuman pengen jadi wartawan aja nantik. Lo tahu kan kalau jadi wartawan suka kepo dengan urusan orang, soalnya gue denger dari Rini Lo pernah temanan baik sama Luziana" Langit terkekeh pelan di akhir kalimat. Agar Meysa tidak curiga dengannya. Namun Meysa bukan tipe cewek bisa di bodohin.
"Jawaban yang gak logis" Meysa menatap sinis langit dari kepala sampai ujung kaki.
"Kalau ingin tahu kenapa gue musuhan sama itu Luziana, si rakyat jelata. Tanya aja sendiri sama orang nya" Selesai mengatakan itu Meysa berjalan menuju ke kantin karena sekarang waktunya istirahat.
Langit setelah mendengar itu tidak bergeming. Dia coba-coba berpikir, apa langkah selanjutnya dia ambil.
...----------------...
__ADS_1
follow Instagram author: maulyy_05