Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Ada yang lebih jago


__ADS_3

Seketika menjadi hening, semua pandangan mengarah ke Luziana yang hanya berdiri diam.


"Apa yang kau lakukan" Tanya Arya kesal, karena teganya Renaldy menembak istrinya sendiri.


Renaldy di lontarkan pertanyaan hanya diam. Pandangan pria itu tetap fokus ke depan.


Luziana yang sedari tadi berdiri mematung, langsung sadar. Ia pun memeriksa dirinya, apakah dia sudah mati atau tidak.


Seorang yang bersembunyi dibalik tembok itu pun keluar dengan tangannya yang berdarah, akibat tembakan dari Renaldy. Semua orang nampak kaget, melihat ada seorang di balik tembok.


Perkiraan Arya salah. Ternyata Jenderalnya menembak ke arah istrinya itu karena ada musuh yang sedang bersembunyi, bukan niat untuk membunuh istrinya sendiri. Tapi di lihat tajam sekali ya pengelihatan Pria itu bisa tahu ada musuh di balik tembok itu. Sedangkan dirinya tidak tahu ada musuh yang sedang menguntit mereka. Memang gak di ragukan lagi kemampuan seorang jenderal bernama Renaldy.


"Aku masih hidup." Seru Luziana dengan bahagia. Tak kirain dirinya sudah mati ternyata tidak. Namun itu tidak berlangsung lama, laki yang keluar dari persembunyiannya langsung menyandera Luziana.


"Jangan ada yang mendekat kalau tidak saya bunuh wanita ini," Ucap musuh dengan menodong kan pisau dekat leher Luziana.


"Luziana..," Pekik histeris Karina melihat temannya di tahan oleh orang yang mereka tidak kenal.

__ADS_1


Ketika semua pada panik, musuh berjalan mundur dengan tangannya menodongkan pisau di dekat leher Luziana.


"Amankan mereka" Titah Renaldy dingin kepada Arya.


Arya yang di perintahkan langsung paham apa maksud Jenderalnya.


"Kalian bertiga mari ikut saya" Pinta Arya kepada temannya Luziana. Lalu ia pun mengasih kode isyarat pada para tentara lain lewat dari sorot matanya. Para tentara itu pun mengangguk paham.


"Ngikut kamu! buat apa?" Tanya Karina mengeryitkan dahinya heran. Buat apa salah satu tentara ini menyuruh dirinya berserta temannya ikut Pria itu.


"Kalian tidak boleh disini! Karena disini itu bahaya. Mari ikut saya untuk mengamankan diri kalian terdahulu" Sahut Arya menjelaskan.


"Sudah ada yang lebih jago yang bisa menyelamatkan teman kalian itu. Kalian tidak perlu khawatir. Kalian harus memikirkan diri kalian sendiri untuk bisa keluar dari disini. Jadi mari ikut saya" Pinta Arya tegas. Ia sudah menyerahkan tugas penyelematan Luziana itu pada Jenderalnya, suami Luziana sendiri.


Karina yang tidak tahu berkata apa-apa lagi. Lebih baik mengikuti saja apa yang mereka perintahkan. Dari pada jadi beban buat mereka, nantikan malah makin rumit.


Semua orang itu turun, baik teman Luziana maupun pasukan prajurit tentara yang mengawal jenderalnya. Hanya tinggal satu seorang yang berada di tempat itu, jenderal Renaldy.

__ADS_1


"Kemana pasukan mu, kenapa tinggal kau sendiri. Apa pasukan kau takut dengan saya. Sampai harus Jenderalnya sendiri turun tangan" Ucap musuh bernama Rio dengan remeh seraya tersenyum sinis.


Jenderal Renaldy yang di berikan pernyataan seperti itu hanya datar. Pria itu berjalan pelan-pelan selangkah demi selangkah.


"Apa kau mendengar saya! saya bilang jangan mendekat jangan mendekat. Kalau gak saya potong leher gadis ini" Ucap Rio dengan ketakutan melihat tentara yang berpangkat jenderal itu tidak sama sekali gentar, ia terus berjalan mendekati, berjalan selangkah demi selangkah.


"Ouh kau terlalu meremehkan aku" Rio pun makin mendekati pisau itu dekat leher Luziana. Membuat perempuan itu berteriak ketakutan.


"Aaa.. jangan dekati pisaunya. Nantik leher saya bisa kepotong" Ucap Luziana dengan pandangan menatap pisau yang sangat dekat dengannya. Kalau misalnya dirinya maju, habislah dirinya, nyawanya akan melayang.


"Kamu budeg atau gak ada kuping sih! bilang jangan mendekat jangan mendekat. Nantik di potong leher saya sama dia" Ucap Luziana emosi kepada Renaldy. Perempuan itu belum tahu kalau itu suaminya.


Mendengar perkataan istrinya, pria itu memberhentikan langkahnya. Ia pun menaikan alisnya menatap istrinya yang mulai ketakutan.


"Tolong lepaskan saya. Kenapa kamu menahan saya. Salah saya apa?. Setahu saya, saya tidak ada salah apa-apa. Saya disini cuman buat film kok sama teman saya" Ujar Luziana dengan lirih.


Mereka berdua mengeryitkan dahinya heran. Merasa musuhnya lengah dengan gerakan cepat. Renaldy menahan tangan musuh yang memengang pisau. Pisau itu pun ia lempar jauh-jauh. Lalu Pria itu melayangkan tinjunya di rahang Rio, sang musuh. Rio pun meringis kesakitan mendapatkan pukulan.

__ADS_1


Saat hendak melayangkan tinjunya kembali. Suara seseorang memberhentikannya.


"Jika kau melayangkan pukulan kepada anak buah saya. Kau bakal saya buat mati di tangan saya, sekaligus gadis cantik ini,"


__ADS_2