Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Di culik


__ADS_3

Ujian sekolah naikan kelas pun selesai, sekarang tinggal menunggu ambil raport kemudian libur.


"Kira-kira siapa ya rangking satu, semester genap ini?" Tanya Lisa yang membalikkan kursinya menghadap Luziana.


"Ntah mungkin si Luziana.." Balas Anita seraya menaikkan alisnya, menatap Luziana yang hanya diam sedari tadi.


"Heih! Luziana kenapa diam baik" Luziana yang termenung sontak kaget.


"Astagfirullah.." Dia pun menatap pelakunya yang telah bikin kaget, hampir mau putus jantung aja. Dan pelakunya pun menyengir seperti tak ada dosa, pelakunya tersebut adalah Lisa. Luziana pun menghela nafas panjang.


"Kenapa Lo diam, ada masalah kah?" Tanya Anita dengan rasa penasaran.


Luziana tersenyum tipis. "Gak ada kok" Balas Luziana seadanya. Luziana terdiam karena sedang merindukan suaminya aja.


Anita mengangguk kepalanya paham.


"Terus kenapa Lo diam ada aja dari tadi.." Tanya Lisa menyeletuk.


"Iya cuman mikir, nanti pas istirahat ingin beli jajan apa?" Balas Luziana seraya tersenyum.


"Bukannya Lo selama ini, bawa bekal?" Lisa masih kurang percaya jawaban temannya itu kalau, dia tidak ada masalah.


"Ouh iya lupa.." Luziana menyengir lebar. Karina yang sedari tadi diam, memutar bola matanya malas.


"Tolong buat kalian 3 orang datang ke perpustakaan" Pinta kakak kelas yang berdiri di ambang pintu kelas mereka.


"Untuk apa kak?" Tanya Jihan seraya menaikkan alisnya.


"Ada deh datang aja ya!" Jihan pun mengangguk kepalanya mengiyakan. Kakak kelas itu pun pergi.


"Hei 3 orang suruh datang ke perpustakaan.." Ujar Jihan kepada seluruh teman satu kelasnya. Semua murid tampak diam, karena mereka tahu kalau pergi perpustakaan untuk di jadikan babu, maksudnya alias di suruh bersih-bersih perpustakaan.


Jihan pun menghela nafas pelan.


"Luziana, Meysa, yuk kita ke perpustakaan" Titah Jihan.


Luziana yang dipanggil untuk ajak ke perpustakaan. Termasuk Meysa terpaksa menurutinya.


"Semangat mem-babunya.." Pekik Lisa dan Anita dengan nada mengejek. Luziana yang sudah di luar kelas, menatap temannya, di jendela kelas yang sedang mengejek dirinya. Luziana menanggapinya hanya memutar bola matanya jengah.


"Kak di suruh ke perpustakaan, buat apa" Tanya Jihan yang kini sudah berada di depan perpustakaan, dan ada kakak kelasnya yang memanggil mereka tadi. Kakak kelas itu pun menatap mereka secara bergantian. Kakak tersebut bernama kak Zuhra.


"Ya di suruh bersih-bersih apa lain" Celetuk Meysa yang seraya bersedekap dada.


"Iya benar sekali, tolong bersih-bersih perpustakaan ya dek" Titah Zuhra kepada adik kelasnya. Jihan mengangguk kepalanya mengiyakan.


"Kak sapunya mana ya?" Tanya Jihan yang ingin memulai bersih-bersih perpustakaannya. Yang sudah mencarinya tapi, tidak ada terlihat sapu di dalam perpustakaan tersebut.


"Ouh gak tahu dek, coba minta sapu sama kelas 12 MIPA satu. Dan bagian sapunya kalian bertiga semua, tapi bagi-bagi tugas gitu rapikan buku atau gimana gitu, paham kan?" Ujar Zuhra menjelaskan.


"Paham kak!" Mereka bertiga pun pergi mengambil sapu di kelas 12.


"Boleh sapunya gak? nanti kami balikan lagi" Pinta Jihan yang kini berdiri di ambang pintu kelas 12.


Terlihat didalam kelas itu ramai, yang mengobrol. Dan ada juga berkumpul di satu tempat. Langit yang melihat yang meminta sapu ada Meysa dan Luziana. Merasa cuek saja. Namun tiba-tiba Meysa menghampiri ke tempat langit yang pastinya di tempat langit berkumpulnya anak cowok, temannya Langit.


Dan itu mendapatkan sorakan heboh dari anak kelas 12. Luziana dan Jihan masuk kedalam kelas tersebut mengambil sapu setelah mendapatkan izin dari anak kelas.


"Lo janji nanti malam lakuinnya" Bisik Meysa yang takutnya, langit itu gak tepati janjinya. Langit yang mendengar bisikan Meysa.


"Lo cukup bawa Luziana ke tempat tersebut, setelah itu gue yang urus" Balas Langit dengan ekspresi datarnya.


Meysa pun manggut-manggut, dan setelah itu keluar dari kelas tersebut.


Pas kembali di perpustakaan, mereka pun melakukan tugas apa di perintahkan. Dan yang bagian nyapu-nyapu itu Luziana dan Meysa. Yang rapikan rak buku itu Jihan.


"Luziana Lo nanti malam ada kemana?" Tanya Meysa kepada Luziana, yang merupakan kakak iparnya. Luziana yang mendengar seperti Meysa yang mengajak berbicara dengan dirinya. Kayak seperti gak percaya gitu, apa dia salah dengar ya?


Melihat Luziana yang diam saja sembari menyapu. Membuat Meysa memanggilnya kembali dengan nada di tinggikan.


"Oi Luziana Lo dengar, gue panggil gak?" Luziana yang mendengar Meysa memanggilnya, dia menunjukkan dirinya.


"Ya siapa lain, selain Lo disini" Ketus Meysa seraya memutarkan bola matanya jengah.


"Ouh sorry gak denger, tadi kamu nanya apa?" Tanya Luziana yang berhenti menyapunya sejenak.


"Gue nanya nanti malam Lo ada kemana?" Ujar Meysa. Luziana seperti nampak mengingat-ingat bahwa dirinya, nanti malam akan kemana.


"Gak ada kemana-mana, ya dirumah aja emang kenapa?" Lontar pertanyaan dari Luziana.


"Iya nanti malam kita jalan-jalan mau, dari pada diam di rumah mulu, tenang aku traktir kok. Gimana?" Meysa nampak tersenyum sumringah. Menantikan jawaban dari mulut Luziana.


"Serius kamu ngajak aku?" Tanya Luziana memastikan.


"Yaiyalah, kan gue pengen jalan-jalan sekali sama kakak ipar. Kan kak Al nitipin kamu ke aku. Jadi aku gak pengen lihat kamu sedih menyendiri, karena kak Al pergi bertugas. Apalagi kamu lagi hamil kan, jadi jalan-jalan itu biar kamu calon ponakan aku, biar lebih tenang, healing gitu.." Ujar Meysa dengan suara di lembutin.


Luziana yang mendengarnya, nampak ada keraguan di dalam dirinya. Karena mendengar kata, Kak al menitipkan dirinya ke Meysa. Luziana pun menerimanya, dia pun juga bosen di kamar mulu.


"Boleh nanti malam kan?" Tanya Luziana memastikan.

__ADS_1


"Iya, jangan lupa siap-siap ya" Ujar Meysa dengan senyum lebarnya.


Disitu tidak ada mendengar percakapan mereka karena mereka berbicara dengan suara berbisik-bisik.



Malamnya.



Luziana mengelus perutnya dengan penuh rasa kasih sayang, yang sedikit membuncit.



"Sehat-sehat terus ya! di dalam perut Buna ya, sayang" Gumam Luziana yang berbicara dengan calon bayi di kandungannya.



Kini dirinya duduk di kursi tempat cahayanya redup bersama Meysa, yang dekat dengan kali. Namun Meysa nya seperti sedang menelpon seseorang.



"Luziana Lo mau pesan apa biar gue pesan" Tanya Meysa dengan nada ramah setelah menelpon seseorang.



"Hmm aku pesan jus terong Belanda sama martabak deh, itu aja. Tapi martabaknya dua canai sama dua 3 telur ya!" Ucap Luziana dengan tersenyum. Dia merasa senang bisa duduk makan-makan di luar rumah. Setidaknya bisa mengurangi rasa sedihnya.



"Oke.. Lo tunggu disini ya aku pergi pesan dulu makanan nya" Balas Meysa lalu di anggukan kepala oleh Luziana sebagai jawaban.



Meysa pun berjalan dengan langkah cepat ketempat beberapa gerobak yang ada berjuang macam makan di tempat tersebut.



"Lo serius kan, sudah ituin tempatnya yang telah gue tentukan" Tanya Langit yang akan melakukan aksinya.



"Aman itu! yang penting Lo tinggal bunuh aja itu anak, ingat jangan sampai ninggalin jejak" Balas Meysa dengan senyum Smirk nya.



Langit mengangguk kepalanya, lalu ia pun pergi ke tempat Luziana berada. Namun pasa sampai, tidak ada Luziana di sana. Langit pun tidak berhenti di situ aja, mungkin Luziana ada di tempat sekitar situ. Mungkin tempatnya agak maju beberapa langkah lagi.




"Sya dimana Luziana nya kok gak ada" Tanya langit setelah teleponnya sudah di jawab oleh Meysa.



"Iya ada di situ langit di meja nomor 30" Balas Meysa dengan jutek.



"Coba deh lu kesini, Lo liat sendiri kalau Luziana tidak ada disini" Pungkas Langit setelah mematikan teleponnya. Meysa nampak mengerutkan dahinya, tidak percaya kalau Luziana tidak ada. Padahal pas banget dia tempat tersebut.



Pas Meysa sampai, benar kalau Luziana tidak ada di tempat yang dia tinggalkan.



"Mbak ada lihat gak cewek pakai jilbab warna hitam. Dan baju warna pink yang bajunya gamis" Tanya Meysa kepada orang duduk di sekitar tempat Luziana tadi.



Orang tersebut mengeleng kepalanya.



"Gak ada kak.." Ucap orang tersebut.



"Ouh iya makasih ya" Orang tersebut mengaguk kepalanya sebagai jawaban.



Meysa dan langit nampak berdiri diam berpikir-pikir kalau Luziana kemana?



"Lo serius kan ninggalin Luziana disini" Tanya langit memastikan.

__ADS_1



"Gue serius Langit ngapain coba geu bohong.." Balas Meysa dengan ekspresi serius.



Langit yang melihat tidak ada di kebohongan dari Meysa. Menghela nafas pelan.



Tiba-tiba ponselnya pun berdering.



Dret...



"Halo siapa ni.." Tanya langit yang sudah mengangkat telponnya yang nomornya tidak di kenal.



"Kau tidak perlu tahu saya, kalau kau ingin tahu Luziana dimana, dia berada dengan saya..." Seseorang yang identitas tidak di ketahui. Itupun mendekatkan ponselnya dengan Luziana.



"Tolong saya... tolong siapa pun itu tolong saya!" Pekik Luziana dengan tangisan air mata. Telepon nya langsung di matikan.



"Suhhtt.. jangan ribut anak manis" Ucap pria itu tersenyum Smirk.



"Kamu pengen apa dengan saya, tolong lepaskan saya.. saya mohon" Ucap Luziana dengan suaranya yang tercekat.



"Kamu nanya pengen apa saya dengan kamu, saya cuman ingin melaksanakan perintah Meysa untuk membunuh mu dan janin di dalam kandungan kamu hahaha.. Kamu sedang hamil kan?"



"Gak mungkin Meysa menyuruh seperti itu, gak mungkin.." Pekik Luziana dengan histeris. Tidak percaya kalau adik suaminya, bakal melakukan hal sekejam itu.



"Sayangnya tapi itu kenyataannya" Luziana yang mendengarnya tercengang, yang kini dia diikat di kursi.



Laki-laki itu pun memengang dagu Luziana. Membuat Luziana makin memberontak.



"Kamu cantik juga, kayaknya di perk\*sa boleh juga" Ucap laki-laki tersenyum Smirk.



"Kamu jangan berani-berani nyentuh saya, saya wanita sudah bersuami. Dan suami saya bakal membalas apa yang telah kamu lakukan ke saya" Ucap Luziana dengan tatapan jijik.



Laki-laki itu yang mulanya membungkukkan badannya. Kini berdiri dan meminta balok dari anak buahnya.



Luziana yang melihat Pria itu memengang balok. Perasaannya jadinya gak enak.



"Jangan natap takut begitu palingan sakit sedikit doang" Dia pun mengerakkan balok tersebut ke kepalanya Luziana



"Gue ada nyuruh orang bunuh Luziana selain Lo langit" Balas Meysa dengan perasaan menggebu-gebu.


Bersambung...


...----------------...


Jujur sih cerita konflik mulu begini greget banget kan. Bawaannya panas mulu😔. Heran juga kapan bahagia ini cerita. Baca pun jadi kesel gak sih?


Author sendiri aja lebih suka membaca romantis. Tapi author kalau buat cerita ntah lebih suka cerita konflik dulu. Seperti ibarat sayur tanpa garam. Tapi ini garamnya ke banyakan. Tapi Terima kasih Loh udah setia dengan cerita author 🤗🙏


Author nanti bakal merilis novel baru sama aja konflik di awal, happy di akhir. Ceritanya nantik mungkin bakal lebih greget lagi.


Mengetahui informasi rilisnya, di Ig ya.


Follow Instagram author: maulyy_05

__ADS_1


Sekian terimakasih.


__ADS_2