
Seorang gadis cantik, dan berasal dari keluarga kaya raya. Sekarang tengah kesal melihat ponselnya jatuh ke bak mandi.
"Ponsel gue..." Riri pun mengambil ponselnya yang jatuh ke dalam bak mandi.
"Ck' sial banget sih, bisa-bisanya jatuh" Gerutu Riri kesal menatap ponsel mahalnya jadi basah. Dia pun menghidupi ponselnya yang basah itu. Sayangnya ponsel tersebut tidak bisa hidup kembali.
"Ini ponsel payah pakai rusak segala lagi, kalau gini gue gak bisa sebarkan foto Luziana itu" Monolog Riri lalu keluar dari kamar mandi nya.
"Mas sakit..." Meringis Luziana kesakitan di perutnya.
Renaldy yang melihat istrinya seperti menahan kesakitan, seketika jadi panik.
"Yang mana sakit sayang.." Tanya Renaldy dengan raut wajah sangat khawatir. Mata Renaldy membulat melihat darah segar, ngalir di kaki Luziana.
"Sayang kaki kamu berdarah ayo kita rumah sakit..." Renaldy pun berusaha membopong tubuh istrinya. Tapi Luziana seperti menolak nya.
"Aku sudah tidak sanggup, ikhlas kan aku pergi ya.." Ujar Luziana dengan matanya mulai terpejam.
"Ngomong kamu apa sih sayang.. jangan gitu ayo kita ke rumah sakit.." Ajak Renaldy namun istrinya sudah tidak sadarkan diri.
"Sayang.. sayang.." Renaldy menepuk pipi istrinya yang wajah sudah memucat.
"Sayang kamu jangan ninggalin Mas gini, ayo bangun.. "
"Sayang!" Renaldy pun langsung bangun dari tidurnya. Nafasnya terlihat terengah-engah seperti baru habis maraton. Ia pun menatap sampingnya yang terlihat istri kecilnya, yang sedang terlelap tidur.
__ADS_1
"Astagfirullah untung cuman mimpi.." Renaldy mengusap wajahnya kasar. Lalu menatap jam yang sudah pukul 3 malam.
Ia pun berusaha tidur kembali. Tapi tidak bisa, pria itu pun tidur menyamping seraya memeluk tubuh mungil istrinya yang sudah berisi. Karena tengah??? mengandung anaknya.
"Luziana jangan tinggalkan saya ya.." Ucap Renaldy lirih. Luziana yang tidur merasa tubuh nya di ada yang peluk. Seketika langsung bangun.
"Mmm.." Lenguh Luziana seraya membalikkan badannya menghadap suaminya. Kelopak matanya pun terbuka menatap suaminya yang kini tengah menatapnya juga yang terlihat sorot mata suaminya, terlihat cemas.
"Mas ngapain peluk aku.." Ketus Luziana seraya mengucek matanya. Perempuan itu masih ada rasa marah kepada suaminya, tentang pembicaraan di mobil tadi.
Renaldy pun tersenyum tipis.
"Emang mas gak boleh gitu meluk istri mas sendiri.. maafin mas ya gara-gara Mas kamu jadi terganggu tidurnya" Ujar Renaldy seraya memegang pipi chubby istrinya.
"Kamu tidur kok membelakangi Mas sih.." Ucap Renaldy yang suka dengan gaya tidur istrinya. Namun tidak ada respon dengan istrinya.
"Sayang.." Panggil Renaldy dengan lembut.
"Kamu seperti lagi marah sama mas, coba ceritakan apa yang membuat istri mas jadi marah" Renaldy pun memeluk tubuh istrinya seraya mengusap perut buncit istrinya.
"Jangan meluk aku bisa.." Kesal Luziana seraya menepis tangan suaminya.
__ADS_1
Renaldy mengerutkan dahinya, dengan tingkah istrinya yang tak biasa. Itu pun sudah sedari tadi istrinya jadi jutek begitu.
"Gak bisa! Mas gak bisa tidur kalau gak meluk kamu" Ucap Renaldy penuh penekanan.
"Luziana kamu kenapa sih dari tadi malam bawaannya marah mulu.." Bentak Renaldy dengan sikap istrinya. Ia sudah sedari tadi mengikuti langkah kaki istrinya. Yang seperti ingin menjauh darinya.
"Makannya jangan dekat aku, dekat aja sana sama istri idaman kamu" Balas Luziana dengan emosi.
"Istri? istri saya kan kamu" Renaldy mengerutkan dahinya heran.
"Ya tapi kan idaman mu mereka" Ucap Luziana lalu berjalan menuju ke dapur. Melihat istrinya meninggalkan dirinya begitu saja, Renaldy pun ikut menyusul istri nya itu.
"Kamu kenapa sih kalau ada masalah bilang, saya paling gak suka di diam kan seperti ini" Pungkas Renaldy dengan raut wajah terlihat kesal. Tapi sang istri tidak menjawabnya, membuat emosi Renaldy pagi-pagi buta begini menjadi tambah.
"Heih.. kalau di tanya itu di jawab bukan diam, gak bisu kan" Renaldy menarik tangan istrinya, membuat Luziana menabrak dada suaminya.
"Aduh, saya udah bilang jangan dekat-dekat. Kamu cari tahu sendiri aja sana, apa kesalahan kamu?" Tukas Luziana seraya menyentak tangan suaminya.
"Kalau kau tidak bilang, saya tidak tahu letak kesalahan saya dimana" Jawab Renaldy ekspresinya berubah menjadi datar.
"Yaudah bodoh amat.." Jawab Luziana santai seraya merajang sayuran.
Prang...
Mata Luziana membulat sempurna apa yang meja dapur jatuh semua begitu sayuran yang dia rajang. Perempuan itu pun menatap pelakunya.
"Kamu kenapa jadi marah begini sih?" Luziana menatap suaminya yang menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Kau gak nyadar, siapa yang buat saya semarah ini" Ujung bibir Renaldy terangkat.
Luziana memilih diam, tidak menjawab pertanyaan suaminya. Karena dia sadar suaminya marah karena sikapnya.
"Kenapa jadi diam, jawab kalau saya nanya.." Ucap Renaldy dengan suara lantang. Membuat Luziana mendengarnya gemetaran ketakutan.
"U- dah g- ausah di bahas lagi" Jawab Luziana dengan terbata-bata. Dan membalikkan badannya ingin mengutip yang berserakan di lantai itu.
"Kok ngomong nya jadi gagap, ngomong itu yang jelas" Ucap Renaldy dengan emosi seraya menahan tangan istrinya. Dan membalikkan badan Luziana, menjadi menghadap dirinya. Ia pun mencium bibir istrinya dengan paksa seraya menahan tengkuk lehernya istrinya.
Mata Luziana membelalakkan. Ia pun memukul dada bidang suaminya. Tapi tetap saja suaminya itu seperti enggan untuk melepaskan nya. Melihat seseorang ada yang datang Luziana mendorong suaminya dengan kasar. Ciuman itu pun terlepas. Dan pinggang Renaldy menabrak bentot di belakang nya.
Mata Mommy Liona terbelalak melihat dapur nya seperti kapal pecah.
__ADS_1
"Astagfirullah kenapa dapur jadi begini, apa yang kalian perbuat.."