Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Gak ngaruh


__ADS_3

Suasana yang masih pagi-pagi buta, Kevan dengan style anak mudanya, pergi ke rumah Renaldy merupakan temannya dari kecil hingga sekarang. Mengapa Kevan merupakan kakaknya Karina bisa berada di kota B. Karena pria itu pergi ke kota ini cuman cari hiburan. Dan selebihnya, karena di suruh Papa Keenan.


Kevan yang sekarang berada di depan pintu rumah sahabatnya itu. Mulai memencet bel. Namun setelah itu tidak ada jawaban. Ia pun kembali memencet bel hingga ke tiga kalinya. Baru pintu rumah mewah itu terbuka.


Luziana dengan tampilan rumahannya, membuka pintu rumahnya. Setelah mendengar ada bunyi suara bel. Dan pergi melihat siapa yang pagi-pagi buta kini datang ke rumah mereka.


Luziana mengerutkan dahinya heran, setelah membuka pintu menampilkan pria yang sangat ia kenal.


"Ngapain kak Kevan kesini" Gumam Luziana di dalam hati. Kevan yang sudah sedari tadi berdiri diam, membuka suara. Tapi sudah keduluan Luziana.


"Ad-"


"Mau cari siapa ya kak, mau cari Karina ya. Kalau mau cari karina, gak ada disini" Ucap Luziana dengan dahinya berkerut bingung.


Kevan yang mendengarnya, seketika terkekeh pelan.


"Ya jelas gak ada disini lah, Karina nya. Kan Karina nya lagi di rumah. Kak Kevan kesini cuman ingin menjumpai Renaldy, Renaldy nya ada" Tanya Kevan di akhir kalimat.


"Emang kakak ada hubungan apa, sama mas. Maksudnya mas Renaldy" Luziana bukan malah menjawabnya, malah melemparkan sebuah pertanyaan.


Kevan menaikkan alisnya sebelah. "Ya hubungan teman lah ada-ada aja kamu, pertanyaannya"


Luziana menyengir kecil, mendengar perkataan Kevan. Dia lupa kalau kakak Karina itu merupakan teman suaminya.


"Ada kok mas nya di dalam, tunggu saya panggil dulu ya. Kak Kevan nunggunya aja dulu di ruang tamu" Ujar Luziana mempersilahkan Kevan masuk ke dalam rumah.


Kevan pun memasuki rumah mewah Renaldy, dengan menatap punggung Luziana yang kian menjauh dari pandangannya. Senyuman tipis pun terukir di bibirnya. Melihat Luziana itu masih di katakan cantik di matanya. Dengan pakaian rumahnya yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih lalu dengan jilbabnya yang menutupi rambut indah nya.


Renaldy yang baru duduk di kursi meja makan. Tiba-tiba istrinya datang menghampiri dirinya.


"Mas ada kak Kevan cari mas, katanya" Ucap Luziana kepada suaminya. Renaldy yang mendengarnya menaikkan alisnya sebelah.


"Suruh tunggu aja dulu dianya, sampai mas selesai makan" Titah Renaldy kepada istrinya. Luziana pun mengangguk kepalanya mengiyakan.


"Kak Kevan..." Panggil Luziana ya langsung di sahut oleh Kevan.


"Ya ada apa" Sahut Kevan yang langsung berdiri dari duduknya.


"Kata mas, kak Kevan tunggu aja dulu. Soalnya mas mau sarapan pagi dulu. Atau gimana kak Kevan, mau ikut makam bareng kami" Tawar Luziana. Dan langsung di pertimbangkan oleh Kevan.


"Boleh," Sahut Kevan antusias. Mumpung ada makanan gratis.


"Tapi makanannya cuman nasi goreng aja sama telur ceplok, gak papa kan? soalnya Luziana sanggup masak itu aja" Tanya Luziana takutnya mungkin saja Kevan itu gak suka makan nasi goreng di pagi hari. Kan orang kaya beda dikit dengan orang biasa.


"Boleh, gak papa kok cuman nasi goreng aja. Malahan sudah di ajak sarapan pagi bareng kakak sudah terimakasih banget" Balas Kevan lalu di angguki kepala oleh Luziana. Mereka pun pergi menuju ke ruang makan.


Renaldy yang melihat, kedatangan temannya ke ruang makan menaikkan alisnya sebelah. Namun ia tidak terlalu memungkiri kali.


Kevan pun menarik salah satu kursi di ruang meja makan itu. Dan mendaratkan bokongnya di kursi tersebut.


Sementara Luziana pergi ke dapur mengambil nasi goreng yang telah masak subuh pagi tadi. Dan menghidangkannya di atas meja. Kevan yang duduk di kursi meja makan, bergumam di dalam hati. Kok sanggup Luziana lakuin itu sendiri, padahal lagi kondisi hamil besar. Kenapa tidak suruh pembantunya aja. Kan rugi kalau ada pembantu, gak di suruh-suruh kerja. Kemudian ia kira Luziana udah menikah sama orang kaya. Bakal cuman duduk santai aja. Ternyata enggak, walaupun dalam keadaan hamil gini tetap mau melakukan tugasnya sebagai istri. Apalagi dalam keadaan hamil begitu, yang susah banget di ajak kerja sama untuk melakukan sesuatu.


Dan sementara Renaldy seperti tidak ada niat membantu istrinya. Ia sibuk dengan Ipad-nya, melihat beberapa kerjanya hari ini.


Setelah Luziana menghidangkan makanannya. Ia pun menaruh nasi goreng ke piring suaminya. Dan kalau soal Kevan taruh sendiri ya makanannya.


"Mas minum kopi atau teh hangat" Tanya Luziana. Renaldy yang sedang mengunyah nasi goreng. Seketika berhenti.

__ADS_1


"Teh hangat aja," Jawab Renaldy. Luziana pun mengangguk kepalanya dan mengambil teh yang sudah ia buat di dapur.


Setelah mengambil teh hangat, ia pun menuangkan teh hangat itu ke gelas suaminya. Kemudian baru Luziana bisa makan dengan tenang.


Kevan yang sedang menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Yang begitu terasa enak. Dan rasanya begitu pas di dalam mulutnya. Di dalam hati bergumam pandai juga istri Renaldy masak. Padahal umurnya belasan tahun.


"Kak Kevan mau teh juga?" Tanya Luziana setelah mengisi kembali teh hangatnya ke gelas suaminya. Dan begitu juga dengan gelasnya yang baru di isi dengan teh hangat.


"Boleh tapi kak Kevan suka yang dingin" Ujar Kevan yang langsung Luziana turutin.


"Kalau begitu, tunggu dulu ya. Luziana ambil dulu es nya" Baru Luziana makan tiga suap sudah langsung berdiri lagi. Kevan yang maksudnya bercanda doang, gak nyangka bakal di turuti sama Luziana.


"Gausah, kakak bisa ambil sendiri kok. Luziana makan aja dulu" Ujar Kevan yang gak ingin di repotkan.


"Gak papa, kakak kan tamu di rumah ini. Biar Luziana ambil dulu ya" Seberusaha itu Luziana bersikap dewasa dengan menyakiti dirinya sendiri. Dengan melakukan apapun dengan tangannya sendiri.


Melihat Luziana yang sudah pergi. Kevan pun ingin berbicara dengan Renaldy yang sedari tadi diam, dan menikmati sarapan paginya.


"Rey Lo gak tega liat istri lo udah capek-capek begitu, bantu kek gitu minimal" Ujar Kevan.


"Saya kerja apakah ada minta di bantuin? Gak ada kan. Biar dia lakukan apa dia mau" Jawab Renaldy datar sembari menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Percuma lagipun ingin larang istrinya, gak bakal di dengarkan. Biarin istrinya melakukan apa dia mau. Sudah dewasakan? Pasti udah tahu dong apa yang baik dan buruk untuk diri sendiri.


"Tapi walaupun begitu dia lagi ngandung darah daging Lo, Rey" Renaldy yang mendengarnya seketika berhenti menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


Akhirnya luziana pun datang membawa es yang didalam freezer, lalu menaruh ke dalam gelas Kevan.


"Makasih..." Ucap Kevan seraya tersenyum sembari melirik Renaldy yang masih bungkam dengan perkataannya tadi. Tanpa di sengaja Kevan melihat punggung tangannya Luziana luka. Mungkin itu luka karena masak nasi goreng tadi.


Tangan Luziana luka bukan sebab dia baru pandai masak. Itu sebab karena dia lagi hamil, jadinya susah untuk bergerak bebas. Dan luka itu pun tidak terlihat kali karena di tutupi oleh lengan baju panjang Luziana, yang panjangnya sampai menutupi punggung tangannya.


"Mas pergi kerja dulu" Ucap Renaldy dengan datar.


"Gak habisin dulu mas makanannya" Ujar Luziana.


"Enggak, soalnya mas lagi buru-buru ingin pergi ke menjumpai para prajurit yang berada di batalyon" Jawab Renaldy.


"Ouh yaudah kalau begitu. Mas tunggu dulu ya, aku siapin bekal. Biar kalau mas lapar tinggal makan aja" Ucap Luziana lalu berjalan menuju ke dapur untuk mengambil Tupperware. Sementara Renaldy yang di suruh tunggu malah langsung pergi.


Kevan yang nasi gorengnya sudah habis ia makan. Niat yang tadi ingin tambah lagi. Tetapi niat itu ia urungkan karena pergi mengikuti temannya itu.


Luziana yang sudah mengambil Tupperware nya. Langsung menaruh nasinya ke dalam Tupperware itu. Dengan cepat-cepat. Tapi sayangnya sudah cepat begitu. Suaminya sudah dalam mobil. Dan lebih parahnya lagi sudah jalan menuju ke luar pagar.


"Mas tunggu..." Panggil Luziana dengan nada sedikit berteriak. Renaldy yang mendengar panggilan istrinya langsung memberhentikan mobilnya yang hampir sudah di ambang pintu pagar.


Melihat mobil suaminya berhenti. Luziana berjalan sedikit berlari menghampiri suaminya dengan perut nya yang buncit.


Renaldy pun membuka kaca mobil, melihat istrinya yang sudah dekat dengan mobil mewahnya.


"Ini mas bekalnya" Luziana menyodorkan bekalnya ke suaminya dengan nafas nya sudah ngos-ngosan bukan ngos-ngosan lagi sudah sesak nafas. Renaldy yang melihat istrinya menyodorkan bekal kepada nya bergeming, seperti tidak ada niat mengambil bekal tersebut dari tangan istrinya.


Melihat suaminya tidak segera mengambil bekal yang berada di tangannya. Luziana menjadi gak enakan.


"Maaf ya mas, mas harus makan nasi goreng lagi" Lirih Luziana mungkin suaminya tidak mau menerima bekalnya, karena harus makan nasi goreng lagi untuk makan siangnya nanti.



__ADS_1


"Lo gak seharusnya bersikap seperti itu Rey, kepada istri Lo. Gue tahu paling lubuk hati Lo paling dalam nyesel nikah dengan dia, karena dia masih anak-anak masih umur belasan tahun. Tapi bukan Lo doang yang ngerasain nyesel, karena di paksa menikah karena perjodohan orang tua kalian. Luziana juga, yang harus terpaksa mau menikah dengan dengan Lo yang udah bapak-bapak gak tahu diri kayak lo" Kevan yang udah gedek banget dengan sikap Renaldy tadi. Langsung mengeluarkan unek-unek nya, dengan mengikuti ke tempat Renaldy pergi.



"Terus saya harus memanjakan dia begitu, kapan dia bakal dewasanya" Balas Renaldy dengan tenang.



"Tapi bukan gini caranya. Cara Lo nyakitin dia, demi bikin bahagia Lo Rey. Renaldy Lo punya otak kan, tapi lebih tepatnya punya hatikan, punya hati itu di pakai, ngertiin bagaimana perasaan dia" Ujar Kevan menggebu-gebu.



"Setiap orang itu punya caranya masing-masing. Dan itu cara aku sendiri lebih baik gausah ikut campur urusan rumah tangga orang" Tegas Renaldy. Membuat Kevan mengeleng kepalanya gak percaya mendengarnya.



"Tapi versi cara Lo itu nyakitin aa njing. Dia udah rela-rela menguburkan masa depannya, dan menikah karena demi sebuah perjodohan. Lo gak bakal ngerti bagaimana rasanya. Gini ya kalian itu menikah sama-sama karena perjodohan kan. Bukan cuman keinginan sebelah pihak aja. Jadi gausah ngerasa Lo doang yang ngerasa di nikah paksa. Dia juga, tapi Luziana itu gak seperti Lo, dia gak pernah nuntun demi apa dia mau. Dia terima semua kekurangan Lo. Masa Lo gak"



"Lo memang pandai dalam semua hal, tapi soal memanusiakan seorang istri itu sedikitpun tidak ada dalam Lo Renaldy. Jangan sampai Lo nyesel apa yang Lo perbuat sendiri"



Kata-kata saveg yang di lontarkan Kevan. Sayangnya tidak membuat Renaldy gak ngaruh. Gak ngaruh dikit gak papa kan.



...----------------...



Sebelum menunggu update selanjutnya jangan lupa mampir di novel author yang sebelahnya ya!



Judulnya: Vanilla (Love and Dare)



Jangan lupa mampir dan like, vote, komentar 🤗😘



Dan jangan lupa dukunganya lainnya, biar author semangat update 🖤.



Seperti biasa, kalau di turutin di jamin update deh hihihi👻. Kayaknya besok author gak update deh soalnya bakal sibuk banget. Tapi gak tahu juga deh, mungkin aja bakal berubah pikiran karena dukungan kalian hihihi 🤫. Jadi jangan lupa kasih dukunganya, apalagi yang nonton iklan.



Lope-lope sekebon buat teman-teman semuanya, yang udah selalu setia dengan karya author 👻🖤🖤



Follow Instagram author : maulyy\_05

__ADS_1


__ADS_2