
Luziana yang sudah selesai mandi, menuju ke dapur. Kini dia tengah merajang bawang, untuk masak nasi goreng. Sementara disisi lain. Meysa menekuk wajahnya kesal. Karena disuruh Mommy untuk menghampiri Luziana dan mengajak kakak iparnya itu makan di restoran.
"Luziana ayo kita ke restoran.." Ajak Meysa sekarang sudah berada di dapur.
Luziana yang di ajak memberhentikan kegiatannya merajang bawang, lalu menaikkan alisnya. "Hmm enggak deh kalian aja, aku mau makan, masakan sendiri aja" Tolak Luziana dengan halus.
"Ayoo gak papa, kami gak apa-apain kamu kok, apalagi bayi di dalam kandungan kamu" Paksa Meysa yang bersikeras ingin mengajak Luziana.
Luziana yang mendengar kata bayi di dalam kandungannya, tiba-tiba saja jantung berdetak lebih kencang. Ntah kenapa asal dekat dengan Meysa, Luziana kayak di buat sakit jantung aja.
"Bayi maksudnya apa ya?" Tanya Luziana seraya menaikkan alisnya sebelah.
Meysa mengangkat bahunya acuh. "Yah bayi di dalam kandungan mu! Kamu lagi hamil kan. Jangan ditutup-tutupi lagi deh gue dah tahu semuanya kok" Ujar Meysa enteng nyaris membuat jantung Luziana keluar dari tempatnya.
"Seterah kamu bilang aku lagi hamil! atau gak. Yang jelas aku tuh lagi gak hamil" Tukas Luziana yang tidak mau berdebat lagi. Tapi berbeda balik dengan Meysa yang seperti bersikeras ingin berdebat lagi.
"Yah baguslah, takutnya kalau kamu hamil lagi nanti anak nya meninggal lagi. Di bunuh dengan Mama nya sendiri. Belum lagi lahir kedunia tapi sudah mati duluan" Ujar Meysa membuat Luziana seketika takut sendiri.
"Gue lihat banget loh, bagaimana Lo bunuh janin di dalam kandungan Lo sendiri" Sambung Meysa lagi di tepat telinga Luziana.
Luziana yang mendengar perkataan, Meysa. Langsung mengangkat pisau yang ia gunakan untuk merajang bawang. Seketika membuat Meysa reflek mundur.
"Kalau Lo niat pergi kesini, hanya ingin untuk membuat aku sengsara. Tapi sebelum itu, aku bakal duluan membuat kamu sengsara Meysa! Jadi sebelum itu terjadi lebih baik kamu angkat kaki dari rumah ini" Ucap Luziana seraya mencondongkan pisau itu ke arah wajah Meysa.
Meysa pun tersenyum tipis. "Aku kesini itu untuk minta maaf dengan kakak ipar, bukan buat kakak ipar sengsara" Ujar Meysa yang di mata Luziana hanya bohongan belakang.
"Minta maaf? Tapi aku lihat kayaknya kamu gak tulus minta maaf sama aku. Apa cuman ingin drama saja. Kalau begitu lebih baik pergi dari hadapan saya. Saya gak perlu minta maaf sama kamu" Pungkas Luziana dengan nafas naik-turun.
"Oke fine! Tapi aku sudah bilang sama kamu kalau kesini hanya ingin minta maaf dah cuman itu aja" Tukas Meysa lalu berlenggang pergi.
Melihat Meysa yang sudah pergi dari hadapannya. Luziana pun kembali merajang bawangnya. Tetapi ntah kenapa saat ingin merajang bawang kembali, tangan Luziana bergetar hebat.
"Hufftt tenang Luziana, kamu gak bakal terjadi apa-apa kok" Ucap Luziana menenangkan dirinya. Namun tetap saja dia gak tenang. Sekelebat bayangan yang terjadi tiga bulan yang lalu membayangi dirinya. Dan membuat Luziana yang sedang memotong bawang itu jadi gak fokus. Alhasil jarinya terkena pisau yang lumayan cukup dalam lukanya.
"Auww sakit..." Berdesis Luziana pelan merasakan sakit di luka jarinya. Ia pun mencuci jarinya yang mengeluarkan darah itu di wastafel. Lalu memberhentikan, lukanya Itu dengan melilitkan sebuah tisu di jarinya.
Niat ingin memasakan nasi goreng untuk dirinya sendiri. Malah gak jadi, dan berniat untuk tidur saja di kamar. Sebelum tidur, Luziana memilih meminum obat dulu agar dirinya tenang. Setelah meminum obat, ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasus dan memulai memejamkan matanya dengan tubuhnya yang sedikit bergetar.
Sementara di ruang tamu, Mommy Liona merasa heran dengan menantunya yang di panggil tadi ngak nyahut-nyahut. Malah menantunya mencepatkan langkahnya menuju ke kamarnya
"Kira-kira kenapa Luziana gak sahut panggil mommy ya?" Tanya Mommy Liona kepada Meysa yang sedang duduk santai di sofa.
"Ntah gak tahu, mungkin cepat-cepat ingin tidur kali, atau ada telepon dari suaminya" Ujar Meysa seraya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. Seolah jawaban putrinya ada benarnya Mommy Liona mengangguk kepalanya.
"Panggil lagi cepat Luziana, ajak dia makan di restoran" Titah Mommy Liona.
"Meysa udah ajak tadi, dia gak mau. Mending kita aja dulu makan gausah pikirkan dia. Pikirkan dia setelah perut kita terisi dulu. Kalau gak kita bawa pulang aja nanti makanannya untuk dia" Balas Meysa yang dirinya sudah sangat lapar. Mommy Liona pun mengangguk kepalanya.
Pagi pun kini, berganti sore. Luziana yang sudah tertidur dari pagi sampai sekarang belum bangun-bangun. Perempuan itu masih terlelap dengan tidurnya.
__ADS_1
Sementara Meysa dan Mommy Liona pun juga belum pulang dari tadi pagi. Dan sekarang baru saja hendak ingin pulang dengan membawa sebuah makanan ayam crispy untuk menantunya.
Dan disisi lain, Renaldy baru sampai di rumah dan menatap depan rumahnya yang nampak kosong seperti tidak ada penghuni. Saat meraih handle pintu, lalu masuk. Benar saja tidak ada orang di dalam. Dalam hati Renaldy pun bertanya-tanya kemana istrinya. Apa mungkin saja istrinya lagi istirahat.
Pria itu pun menuju ke dapur, karena dirinya merasa haus. Saat di dapur Renaldy yang telah menuang air dingin di dalam gelas dan meneguknya hingga setengah. Menatap dapurnya yang berserakan. Sisa bawang-bawang itu masih ada di tempat pemotongan.
Renaldy pun mengerutkan dahinya. "Kenapa kalau dah selesai motong gak bersihkan
dulu. Jadi dapur nya kan saya lihat jadi jelek kalau begini" Gumam Renaldy emosi yang pastinya ini semua ulah pelayan rumahnya. Dan ia pun melihat tetesan darah yang udah mengering.
Tiba-tiba pelayan bernama Bu Tuti pun datang. Renaldy yang melihat pelayannya langsung memarahinya.
"Bi, kalau masih gak niat kerja di rumah saya. Bilang dengan saya! Saya bakal pecat bibi Tuti sekarang juga. Sekalian gaji-gaji saya kasih, dan sebaliknya kalau masih niat kerja jangan begini membiarkan dapur nya berserakan" Marah Renaldy yang tersulut emosi. Karena sejati Renaldy suka kebersihan.
Sementara Renaldy kembali meneguk air dinginnya yang tinggal setengah dengan menatap pelayannya yang sedang membersihkan dapur.
"Heih, Al kamu udah pulang" Ucap Mommy Liona yang habis selesai pergi dari mal. Renaldy yang mendengar, suara yang tidak familiar telinganya langsung membalikkan badannya. Matanya pun langsung membulat sempurna dan gelas yang berada di tangannya pun langsung jatuh ke lantai.
*Prang*!
"Astagfirullah..." Bu Tuti memejamkan matanya yang kaget. Mendengar suara pecahan gelas. Begitu dengan Mommy Liona. Dan bukan sampai situ aja, tiba-tiba Meysa datang sembari menenteng paper bag.
"Mommy ini ayam crispy taruh di-" Omongan Meysa pun berhenti melihat kakaknya yang udah beberapa bulan, tidak pernah lihat. Kini berada di hadapannya.
Sementara Renaldy, jantungnya langsung berdebar kencang. Pikirannya pun berkelana ntah kemana, tentang istrinya. Kedua tangannya pun terkepal kuat, hingga menampakkan urat nadinya. Melihat dua wanita yang berbeda usia yang berada di rumah nya.
__ADS_1
"Luziana..." Panggil Renaldy yang begitu lantang dan membuat memekakkan telinga.
...----------------...
Menurut buat teman-teman, mau gak ceritanya satu Bab itu panjang. Soalnya author pikir, kalau buat bab cerita panjang-panjang. Takutnya kalian malas baca. Tolong pendapat nya?🤗
Buat para readers, jangan lupa juga mampir di karya baru author ya.
Judul nya: Vanilla (Love and Dare)
Jangan lupa follow Instagram author: maulyy\_05
Dan juga jangan lupa kasih dukungan seperti.
Like
Hadiah
Komentar
Vote
Rating bintang limanya 🌟🌟🌟 🌟🌟
Buat para readers, jangan lupa mampir di karya baru author ya.
Judul nya: Vanilla (Love and Dare)
__ADS_1