Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Luziana dimana?


__ADS_3

Pagi yang cerah menyapa pria yang sedang tertidur terlelap. Tidur pria itu pun terusik, gara-gara cahaya matahari yang masuk sela-sela kamar. Kelopak matanya pun terbuka. Setelah kelopak matanya terbuka, lalu ia memiringkan badannya menatap ke arah kanan. Sontak itu membuat pria itu kaget melihat tidak ada siapa-siapa sampingnya. Ia pun menatap jam yang menunjukkan pukul 7:49.


"Kemana dia? gak biasanya dia tidak membangunkan ku" Gak mau terlarut dalam pikirannya, ia pun bergegas untuk mandi.


5 menit kemudian. Dengan tampilan yang terlihat segar, pria itu menuju ke dapur.


"Mom Luziana mana?" Tanya Pria tersebut bernama Renaldy. Renaldy yang tidak melihat istrinya di kamar, menduga kalau istrinya itu berada di dapur. Namun dugaan dia salah.


"Mana Mommy tahu bukannya dia sama kamu" Balas Mommy Liona mengangkat bahunya acuh.


Renaldy yang mendengar jawaban, Mommy mengerutkan dahinya heran.


"Gak ada, malahan sudah dari tadi Al bangun dia sudah memang tidak ada sama Al.." Tiba-tiba ntah kenapa saja perasaan Renaldy jadi panik sendiri. Papi Devan yang sedari menyimak, kini mengeluarkan suara.


"Mungkin saja di kamar mandi" Celetuk Papi Devan seraya membetulkan kacamata nya. Kini Papi Devan terlihat sedang membaca koran.


"Gak ada juga, Al aja baru habis di kamar mandi. Tapi tetap gak ada istri Al" Ujar Renaldy yang sudah mulai kesal. Masa dari satu mereka tidak tahu istrinya berada di mana. Papi Devan mendengarnya, memilih tidak bicara lagi. Dan sibuk dengan kopi yang di hidangkan istrinya.


Melihat Papinya diam, begitu Mommynya yang sibuk sendiri. Memutuskan Renaldy mencari istri nya satu rumah.


Pencarian nya berujung sia-sia, karena istrinya itu tidak ada dimana pun. Itu membuat perasaan Renaldy menjadi kalut. Memikirkan dimana istrinya sekarang, kok tiba-tiba saja menghilang.



Di rumah sakit.



Mommy Liona menangis tersedu-sedu, melihat putrinya di kabarkan sudah sadar. Begitu juga dengan Papi Devan, dia merasa sangat bahagia akhirnya Meysa sadar dari komanya. Tapi ada yang berubah dari sifat nya Meysa, perempuan itu sedari tadi diam. Sekarang Meysa tidak berada di ruang intensif lagi. Tapi sudah di ruang rawat inap VIP.



"Meysa.. kamu sekarang gak papa kan sayang, kalau ada yang sakit bilang sama Mommy" Ujar Mommy Liona dengan lembut seraya mengusap kepala putri bungsunya.



Meysa mendengarnya, lantas menoleh kesamping yang tadi padangan ke depan. Kini ia menatap wajah cantik Mommy nya. Kedua ujung bibir Meysa naik membentuk senyuman.



"Mommy hiks..." Tangis Meysa pecah. Di selubung hatinya ada rasa bersalah kepada Mommy nya. Dan sedikit merasa trauma akan kejadian yang sudah berlalu itu.



"Meysa kenapa? kok nangis" Tanya Mommy seraya memeluk putrinya. Meysa mengeleng kepalanya pelan.



"Maafin Meysa ya Mommy" Mommy yang mendengar permintaan maaf anaknya, mengulas senyuman.



"Maafin apa? anak Mommy yang cantik ini kan gak pernah buat salah sama Mommy" Ujar Mommy Liona melerai pelukannya.



"Papi bisa jelasin istri Al di mana" Renaldy yang duduk di sofa, sedari tadi hanya diam kini angkat suara. Dan suara Renaldy membuat suasana rawat inap itu yang tadi terharu kini menjadi mencekam.


__ADS_1


Papi Devan, "Bisa kah kau tidak membicarakan tentang ini dulu, adik mu baru sadar. Dimana rasa simpati kamu sebagai seorang kakak" Ujar Papi Devan menyahuti dengan nada tegas.



"Berarti betul dong, kalau Papi yang sembunyikan Luziana" Sorot mata Renaldy terlihat tajam menatap Papinya.



Papi Devan yang sedari tadi di tuduh, menghela nafas berat.



"Papi sudah bilang kan, kalau Papi tidak tahu. Kenapa kau sekarang suka jadi emosian. Al segala sesuatu yang di kerjakan dengan rasa emosi, tidak bakal selesai. Daripada kau marah mulu gajelas. Lebih baik keluar dari ruang ini" Usir Papi Devan kepada putra sulungnya. Renaldy pun bangkit dari sofa nya dan menuju ke pintu keluar.



Brak



Mommy Liona yang melihat tingkah putra sulungnya, menghela nafas pelan. Ia pun menoleh pandangannya ke arah suaminya yang berdiri samping brangkar putrinya.



"Bisa kamu kasih tahu di mana Luziana?" Tanya Mommy dengan tatapan penuh permintaan jawaban, dari suaminya.



"Papi gak tahu Mommy" Balas Papi Devan singkat. Mommy Liona mengerutkan dahinya.




"Luziana hilang dari mananya, mungkin dia pergi keluar sebentar. Belum sehari juga loh Mommy, ini aja masih siang. Gak mungkin dia setiap hari di rumah mulu. Pasti mungkin Luziana lagi healing" Papi Devan menaikkan alisnya sembari menatap istrinya.



"Ya, tapi kok dia gak izin dulu dengan suaminya, dan Al pun bilang gak biasanya aja istrinya itu kayak begini. Tiba-tiba saja hilang" Mommy Liona pun di buat heran, dengan hari ini tentang menantunya. Apalagi putra sulungnya, dan mancam orang gila. Ingin tahu keberadaan istrinya.



Papi Devan memilih diam, dari pada menjawab pertanyaan istrinya. Dia pun merasa khawatir dengan menantunya. Apa mungkin menantunya di culik, itu pasti tentu tidak.



Meysa yang sudah berhenti menangis, setelah mendengar suara kakaknya tadi. Kini kembali bersuara melihat, dimana membuat nya kebingungan dengan sikap kakak nya.



"Apa telah terjadi sesuatu Mommy?"



Renaldy yang berada di kursi tunggu menggerutu kesal. Jarinya pun menekan contact, untuk menghubungi seseorang.


"Halo Seno, tolong kau cari istri saya dimana dia berada" Telepon Renaldy kepada mantan sekertaris nya.


"Baik tuan!" Teleponan pun terputus. Renaldy pun kembali menelpon lagi, yaitu asisten nya bernama arsen.

__ADS_1


"Halo Jendral, ada apa?" Jawab arsen setelah mengangkat telponnya. Renaldy yang di sebrang telepon pun mejelaskan apa maksudnya dia menelepon, asisten nya itu.


"Baik Jendral akan saya laksanakan" Panggilan teleponnya pun terputus. Renaldy pun menatap ponselnya, yang dimana juga. Ia sudah menelepon istrinya berkali-kali. Itu pun pas kemarin terakhir online. Karena sejatinya Luziana, jarang sekali bermain ponselnya. Main ponselnya pun pas keperluan doang.


"Dimana kau sayang kenapa tiba-tiba saja menghilang.." Renaldy menatap foto istri nya yang tertera wallpaper ponselnya. Kejadian semalam pun terlintas di pikiran nya. Apa? karena kejadian semalam istrinya itu pergi. Tanpa pamit pula, atau izin. Dan terlebih lagi istrinya tengah hamil, darah daging nya.




"Papi tolong kasih tahu Al.. dimana istri Al berada. Papi tahu kan dia lagi hamil, lagi mengandung anak Al. Kalau Papi menyembunyikan begini, dia terjadi sesuatu gimana" Desak Renaldy dengan kesal.



"Kenapa Papi mulu yang di tuduh, saya tidak tahu putra ku. Dia itu istri mu ngapain tanya ke Papi. Aneh banget kau, istri mu gak tau pergi kemana? tanya dengan orang tua. Kau itu sudah dewasa coba berpikir, sikap mu yang begini membuat orang gak tahan sama kau Al. Apa hubungan rumah tangga kalian ada masalah. Kalau ada masalah selesai kan baik-baik, dengan kepala dingin. Bukannya malah sebaliknya, kau sadar dia tengah mengandung anak mu" Ujar Papi Devan dengan nada tegas membuat Renaldy yang mendengarnya diam tak berkutik.



Renaldy menghela nafas berat, seraya mengusap wajahnya dengan kasar.



Sementara di ruang lain, namun di tempat yang sama. Terlihat perempuan itu terbaring lemah dengan tangan nya di infus.



"Aku dah minta izin, dan di bolehin sama orang tua aku. Terus mana, katanya mau traktir..."



...----------------...



**Jangan lupa follow Instagram author: maulyy\_05


untuk mengetahui update selanjutnya, dan informasi tentang novel baruπŸŒπŸ–€**



Dan jangan lupa dukunganya πŸ–€



Like



Favorit



Hadiah



Komentar


__ADS_1


Votenya juga jangan lupa πŸ˜˜πŸ–€


__ADS_2