
Renaldy berjalan kebelakang rumah panti tampak seorang anak kecil laki-laki yang sedang sedih.
Renaldy mengeryitkan dahinya. Mengapa ada seorang anak kecil menangis?. Apakah dia tersesat. Tapi itu gak mungkin soalnya ini cuman di belakang rumah panti. Terus kenapa bocah laki-laki itu menangis.
Arsen yang di belakang Renaldy menjadi heran, kenapa tuanya itu berhenti lama sekali. Ia pun berjalan mendekati tuannya.
"Apakah ada sesuatu tuan?" Tanyak Arsen was-was.
Renaldy mengeleng kepalanya.
"Terus kenapa tuan berdirinya lama sekali disini" Tanyak Arsen yang belum tahu kalau di depan mereka ada seorang bocah laki-laki yang sedang menangis.
"Liat di depanmu" Ujar Renaldy datar. Pandangan Arsen pun kedepan. Kedua netranya menangkap
seorang bocah laki-laki.
Arsen dan Renaldy pun berjalan mendekati anak laki-laki itu yang tengah nanggis duduk di ayunan.
__ADS_1
"Hai bocah kecil kenapa kau menangis" Tanyak Arsen yang sudah berada dekat bocah laki tersebut.
Bocah laki tersebut mendengar ada yang bertanya padanya, dia mengucek matanya yang dari tadi mengeluarkan air mata. Kemudian mendongak. Terlihat dua orang, pria yang tidak ia kenal. Berdiri dengan tatapan penuh tanda tanya.
Ia pun kembali menangis kembali, malah makin deras. Enggak tahu harus berbuat apa. Pengawal pribadi Renaldy pun memanggil Susi, pengurus mereka.
Renaldy yang tinggal sendiri bersama bocah tersebut. Mencoba menenangkannya.
"Kamu kenapa menangis?" Tanyak Renaldy dengan berdiri sejajar tubuh anak kecil itu.
"Mereka jahat" Sahutnya di sela-sela nanggis nya.
Namun pertanyaan yang Renaldy lontarkan tidak digubris oleh bocah laki-laki tersebut. Ia pun menghela nafas berat. Merasa bingung, karena tidak tahu bagaimana cara menghentikan tangis bocah tersebut. Padahal anak kecil tersebut bukan siapa-siapanya Renaldy.
Pria itu pun pergi mengambil sebuah mobil mainan yang menggunakan remote kontrol. Setelah mengambilnya, dia pun mengasih mobil itu kepada bocah tersebut.
"Daripada kamu menangis. Mending kamu coba main mobil remote control ini" Ujar Renaldy dengan mengulum senyum tipis. Seketika tangis bocah laki itu berhenti.
__ADS_1
Jangan heran bila sikap Renaldy yang dingin bisa menenangkan anak kecil yang tengah menangis. Karena pria itu merupakan anak sulung dan juga mempunyai adik. Jadi pria mudah tahu bagaimana menenangkan seorang anak kecil. Sebenarnya pria itu suka sama anak kecil. Tapi, ketutup saja dengan sifat dinginnya.
Anak kecil bernama Shaka itu pun mengangguk antusias, lalu menerima mobil kontrol itu dari tangan Renaldy.
...***...
Meysa mencebik kesal. Pandangannya pun menyapu satu kamar.
"Yahhh kasian gak di pajang foto pernikahannya" Cibir Meysa seraya tertawa renyah.
Luziana mendengarnya hanya menghela nafas panjang. "Bisa gak sih kamu itu masuk kamar orang ketuk dulu pintu" Ucap Luziana mengalihkan pembicaraan. Perempuan itu mengalihkan pembicaraan, Karena jika cewek itu membicarakan tentang pernikahannya pasti di hinanya gak ada habis-habisnya.
"Kamar orang?. Kamar Kakak gue kali" Balas Meysa seraya tersenyum sinis.
"Jadi kalau ini kamar Kakak gue. Buat apa gue harus ngetuk pintu. Buat sopan santun terhadap kakak ipar gue. Diih najis" Tambahnya lagi dengan raut wajah di buat-buat seperti orang jijik. Padahal kenyataannya jika ada Renaldy, Meysa bakal bersikap sopan. Jadi kalau gak ada kakaknya, dan dia juga tahu tahu bahwa kakaknya belum pulang. Dia sengajain bersikap semana-mena dan bikin rusuh biar Luziana tenang.
Luziana menatap malas pada adik iparnya. Terserahlah dia mau apa dia buat.
__ADS_1
"Jadi ngapain kamu kesini dan buat apa cari Kak Al?"