
"Apa iya? cuman urusan sekolah! sampai ngobrol di cafe lagi.." Ucap Meysa memanaskan suasana.
Renaldy mendengarnya mengehela nafas panjang.
"Emang tidak boleh? kalau bicara tentang hal sekolah di cafe. Kamu begitu juga kan!" Balas Renaldy dengan sorot mata tajam. Membuat Meysa diam seketika. Ia pun tidak berani menyahut lagi.
Papi Devan yang merasa suasana menjadi mencekam, membuka suara.
"Ayo makan ntar makanannya dingin loh" Seru Papi Devan agar suasananya mencair.
Luziana mendaratkan bokongnya di kursi, dan menggeser posisi kursi jauh dari tempat suaminya. Renaldy yang melihat, ikut bergeser mendekati istrinya. Mata Luziana bulat sempurna, melihat suaminya yang sengajain duduk lebih dekat dengannya.
Pergerakan itu tak luput dari pandangan Papi Devan, Mommy Liona dan Meysa.
"Tolong ambilkan kuah itu untuk ku sayang.." Pinta Renaldy kepada istrinya secara berbisik. Luziana yang mendengarnya, seketika bulu kuduknya berdiri.
Luziana pun mengambil kuah tersebut untuk suaminya. Mereka pun memulai makan, dan tidak ada yang berbicara lagi, mereka sibuk dengan makanan, mereka masing-masing.
"Luziana hubungan dengan Kak langit sebatas apa?" Tanya Papi Devan yang sudah selesai makan. Tinggal makan, makanan penutup. Kalau tanya kenapa Papi Devan, tanya begitu. Takutnya menantunya itu suka dengan anak sepupu istrinya. Seperti biasa langit itu ganteng, dan umurnya lebih muda daripada Renaldy yang sudah puluhan, walaupun tetap lebih mapan Renaldy. Lagipun siapa sih, yang gak suka dengan langit.
"Cuman sebatas kakak kelas.." Sahut Luziana dengan pandangan menatap Papi mertua.
"Ouh... sebatas teman iya juga.." Lontar pertanyaan Papi Devan lagi.
Luziana mengeleng kepalanya, "Sebatas kakak kelas aja.." Balas Luziana seraya meminum air putih.
Mommy Liona yang mendengar Perbicangan antara suaminya dan menantunya. Tahu kalau ada keraguan di suaminya.
Papi Devan mengangguk kepalanya paham.
"Luziana tahu gak kalau langit itu sepupu dengan Meysa dan juga suami kamu..." Tanya Papi Devan.
"Enggak tahu.." Sebenarnya Luziana itu tahu, cuman sudah lupa aja.
"Ini iya... Papi bilang biar kamu itu tahu siapa yang termasuk bagian saudara Hervandez" Luziana mendengarnya mengangguk kepalanya mengiyakan.
"Langit itu, mamanya adik kandung Mommy Liona, ibu mertua kamu, ya kan Mommy.." Papi Devan meminta kebenaran kepada istrinya, yang tidak biasa kumpul kayak begini istrinya diam. Biasa yang mencari topik pembicaraan itu istrinya.
"Iya Papi.." Sahut Mommy Liona lesu seperti tidak bersemangat.
Luziana mengangguk kepalanya paham. Bahwa kakak kelasnya yang primadona sekolah itu, merupakan saudara Hervandez. Pantesan Meysa sama langit itu, terlihat akrab.
"Dan lagi.. Kak langit itu sering bermain waktu kecil dengan Meysa sampai pernah mandi bareng lagi.." Cerita Papi Devan, yang mengingat betapa dekatnya mereka dulu. Sekarang yah kurang. Namanya sudah dewasa.
Renaldy yang mendengar perbicangan, Papinya dan istrinya. Hanya menyimak saja, tidak mau ikut campur ataupun bicara.
Muka Meysa langsung bersemu merah.
"Iiih... Papi bisa gak sih gausah bicara itu dengan orang lain" Kesal Meysa dengan muka yang bersemu merah.
Dengan wajah yang di tekuk kesal. Ia langsung pergi meninggalkan ruang meja makan. Padahal makanan Meysa belum habis. Masih banyak tertinggal sisa.
"Sya... Papi cuman becanda, kamu gitu kok marah! yaudah Papi minta maaf. Makanan kamu pun belum habis ini. Makan dulu sampai habis" Ucap Papi Devan yang sedikit berteriak. Namun sia-sia karena orangnya telah pergi.
"Ck' Papi bisa gak sih gausah rusakin mood Meysa lagi makan.." Marah Mommy Liona kepada suaminya.
"Kan Papi cuman becanda My..." Balas Papi Devan dengan raut wajah di buat sedih.
__ADS_1
"Walaupun becanda! becanda itu juga kan ada batasnya..." Ketus Mommy Liona yang ikut pergi dari ruang meja makan.
"Yaudah Papi minta maaf.." Lirih Papi Devan namun tidak terdengar lagi oleh orangnya.
Luziana yang melihat mertuanya menjadi marahan. Merasa gak enakan, dengan mertuanya itu. Dan menoleh menatap suaminya, yang tidak ada ekspresi apa-apa, datar.
Papi yang sudah selesai makan, makan penutup berpamit pergi menyusul istri tercintanya.
"Papi pergi ke kamar dulu ya.. kalian makan aja yang banyak" Pamit Papi Devan dan di anggukan kepala oleh Luziana sebagai jawaban.
Tinggallah kini ruang makan, pasutri baru habis berhubungan badan tadi siang.
"Ayo kita kamar, ada hal yang ingin ku kasih kepada mu" Ucap Renaldy dengan nada dingin. Membuat Luziana yang mendengarnya, menjadi takut. Dia belum terbiasa dengan sifat suaminya yang berubah-ubah seperti bunglon.
"Mas aja duluan, saya nantik nyusul.." Balas Luziana yang ingin mencuci piring makan malam, sebagai ganti tidak cuci piring, dan bersih halaman tadi siang.
Renaldy tanpa respon, apa-apa langsung pergi menuju kamarnya meninggalkan istrinya.
"Ck' dingin amat jadi manusia" Gumam Luziana yang melihat kepergian suaminya. Ia pun mengambil piring kotor, dan meletakkan di tempat cuci piring. Dan mencuci piring tersebut, walaupun harus melewati drama perut terasa keram.
"Ini kamu minum.." Ucap Renaldy seraya mengasih obat kepada istrinya. Luziana pun menerima obat tersebut.
"Obat apa ini.." Tanya Luziana seraya mengerutkan dahinya.
Luziana mengangguk kepalanya paham. Ia pun mengambil air yang berada di atas nakas. Dan meminumnya dengan sekalian dengan obat itu.
Lampu utama pun mati. Cuman lampu tidur yang sengaja di nyalakan. Renaldy dan Luziana pun merebahkan tubuh mereka di kasur.
Renaldy pun memulai memejamkan matanya kembali. Sedangkan Luziana sulit memejamkan matanya, dan kepalanya tiba-tiba terasa nyeri.
"Kok jadi pusing ya, apa ni efek samping dari obat itu" Gumam Luziana di dalam hati. Perempuan itu pun berusaha untuk tidur kembali. Namun tidak bisa yang ada, perutnya jadi sakit.
Huekkk
Luziana pun bangkit dari kasur, menuju kamar mandi. Merasakan mual yang menyerangnya.
__ADS_1
Huekkk
Huekkk
Huekkk
Tubuh Luziana terasa terkulai lemas. Ia pun memijat kepalanya yang terasa nyeri. Renaldy yang mendengar suara orang muntah, langsung bangun dari tidurnya. Dan melihat ke sampingnya, yang tidak ada istrinya.
Tok
Tok
"Luziana apa kamu yang di dalam kamar mandi.." Panggil Renaldy yang baru kali ini pakai nama istrinya seraya mengetuk pintu tersebut.
Luziana yang mendengarnya, menyahutnya.
"Iya.." Sahut Luziana dengan suara terdengar lesu.
"Kamu kenapa kok suara mu lesu sekali" Tanya Renaldy dengan nada khawatir.
"Saya tidak apa-apa cuman mual aja. Mungkin ini efek samping obat itu deh. Tapi saya gak papa kok" Dusta Luziana. Renaldy yang mendengarnya, mengerutkan dahinya.
"Jangan coba berbohong dengan saya. Kalau gak kamu buka pintu ini. Saya ingin memastikan sendiri.."
...----------------...
Follow Instagram author: maulyy\_ 05
Bagi yang mau follow author update cepat deh ðŸ¤.
__ADS_1