Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Meminta maaf


__ADS_3

Renaldy yang sedang menyusun bajunya, mendengar suara pintu terbuka, dan menampilkan istrinya dengan muka lesu.


Luziana mengerutkan dahinya, melihat suaminya yang tidak biasa siang-siang gini suaminya di rumah. Bukannya pria itu pergi kerja, tapi kenapa cepat sekali pulang.


"Kamu sudah pulang. Habis dari mana tadi? mas cariin kamu tadi loh.." Tanya Renaldy dengan khawatir.


Luziana melihat sikap suaminya yang berubah, beda jauh sekali dengan sikap pria itu yang semalam. Mengacuhkan pertanyaan dari suaminya itu. Ia pun berjalan menuju ke kasur. Dia pengen segera tidur, hari ini cukup melelahkan bagi Luziana.


Renaldy yang melihat istrinya, mengacuhkan dirinya. Menahan pergelangan istrinya.


"Heih suami mu ini nanya sama kamu. Kok kamu malah diam?" Ucap Renaldy yang menahan pergelangan tangan istrinya.


Luziana yang merasa sakit, di pergelangan tangannya. Menarik tangannya, kembali.


"Auw.." Luziana mengusap tangannya yang merasa sakit itu. Padahal Renaldy menahan pergelangan istrinya pelan. Mungkin tangannya sakit akibat, di tarik oleh dua pria bertopeng tadi.


"Kamu kenapa.." Mata Renaldy membulat sempurna melihat tangan istrinya yang lembab ke biruan.


"Tangan kamu kenapa bisa gini, siapa yang lakuin ini. Bilang dengan saya.." Ucap Renaldy dengan emosi sembari memengang tangan Luziana yang lembab kebiruan.


Luziana tersenyum miris. Ia menyentak tangan suaminya yang memengang tangannya.


"Gausah sok peduli! kemana sikap mu yang semalam itu.." Sentak Luziana dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Suami? emang ada sikap seorang suami begitu dengan istrinya. Bilang aja kalau kamu gak senang kan kalau saya hamil. Karena saya hamil anak pria lain. Lebih baik kita bercerai, cukup sampai disini rumah tangga kita" Ujar Luziana dengan ekspresi datar.


"Apa maksud mu? hamil anak pria lain?" Tanya Renaldy yang kurang ngerti arah bicara istrinya.


"Iya hamil anak pria lain. Saya sedang hamil usia 3 bulan kan, padahal kita baru berhubungan badan. Saya sendiri saja gak tau kalau bisa hamil secepat ini.." Luziana meneteskan air matanya yang ia tahan sedari tadi seraya duduk di tepi kasur. Luziana sudah tidak tahan berdiri menopang tubuhnya lagi.


"Sayang kamu gak hamil anak pria lain. Kamu hamil anak saya, darah daging saya. Kenapa kamu bisa cepat hamil kita sudah berhubungan badan duluan. Kita melakukannya waktu selesai resepsi pernikahan kita. Kenapa kamu kok mikir kayak begitu.." Ujar Renaldy yang sudah mengerti arah pembicaraan istrinya sembari bersimpuh di lantai.


"Bohong.." Luziana menatap datar suaminya.


"Saya gak bohong.." Balas Renaldy dengan rauh wajah nyakin.


"Terus kenapa coba saya gak tau kalau kamu sudah mengambil perawan saya waktu itu.." Ucap Luziana dengan nada yang naik beberapa oktaf.


"Dan saya gak bilang dengan mu. Saya gak mau kamu bilang dengan Mommy. Kemudian mas pikir kejadian satu malam itu gak akan membuahkan hasil. Ternyata membuahkan hasil dan kini dia sedang tumbuh di rahim kamu" Luziana yang mendengarnya perasaannya hancur, percuma dong dia waktu itu menjaga keperawanannya.


Luziana melayangkan tangannya kearah pipi Renaldy.


Plak..


Suara tamparan keras terdengar nyaring. Renaldy bisa merasakan perih di pipinya, dan baru kali ini dia merasakan tamparan. Apalagi tamparan keras itu dari seorang wanita sekaligus juga istrinya sendiri. Tapi Renaldy tidak merasa marah sama sekali, malahan tamparan keras itu belum apa-apa, di bandingkan rasa sakit hatinya istrinya sendiri.


Air mata Luziana mengalir makin deras.

__ADS_1


"Terus sekarang kamu gak mau bertanggung jawab dengan darah daging mu sendiri. Kamu ingin membuang saya begitu.. karena telah menghambat pergi bertugas bukan begitu mas!" Ucap Luziana dengan nada tinggi.


Renaldy mengeleng kepalanya pelan. Dia sudah tidak memikirkan lagi pergi tugasnya sebagai abdi negara. Yang ada dalam pikirannya, meminta maaf, dan membuka halaman baru. Dengan istrinya dan anaknya.


Renaldy mendongak menatap wajah istrinya. Dan memeluk tubuh mungil istrinya.


"Maafkan mas istriku.. mas gak bermaksud begitu kok. Mas gak pernah bermaksud membuang kamu. Mas jujur sudah jatuh cinta sama kamu. Jadi tolong maafkan mas ya. Kita memulai kehidupan baru kita ya bersama keluarga kecil kita. Jadi jangan pernah pernah sekalipun berpikir kita harus bercerai, jangan pernah" Ujar Renaldy seraya mengusap punggung istrinya. Luziana mendengarnya, malah makin menangis.


Kenapa Renaldy sikapnya beda jauh dengan sikapnya yang semalam. Karena Renaldy sudah membicarakan tentang soal ini dengan Papinya. Renaldy yang dikenal gak pernah cerita masalahnya sama siapapun, walaupun keluarganya sendiri. Dia lebih banyak memendamnya. Kini menceritakan dengan Papinya dan meminta solusi atas semua ini.


Papi Devan dengan senang hati membantu putra sulungnya. Gak kerasa putra sulungnya yang dulu masih dalam gendongannya sekarang sudah mau jadi ayah saja.


Tapi pas Papi Devan mendengar cerita putra sulungnya, menjadi marah mendengar sikap egois putranya. Dan Papi Devan gak bisa memarahi putranya, karena dia harus bisa memberi solusi. Bukan waktu yang tepat untuk memarahi putranya.


Sikap semalam Renaldy itu karena bingung saja dan egois lebih mementingkan egonya sendiri. Tapi sekarang Renaldy sudah kepikiran kalau sikapnya dengan istrinya semalam, itu sudah melebihi batas. Dia pun ingin meminta maaf kepada istrinya, sebelum waktunya terlambat. Pria itu sudah siap menerima konsekuensinya seperti apa nantik. Dan membuktikan kalau dirinya, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Berita kehamilan Luziana pun sampai ke telinga Mommy Liona dan Meysa.


...----------------...


Maaf ya para readers, author capek konflik mulu, jadi damai aja ya. Karena sudah beberapa bab belum ada bahagianya jadi banyak protes. Author pun capek konflik mulu. Konflik bab sebelumnya itu untuk supaya gak bosen aja. Ada sedikit cerita menegangkan gitu. Dan supaya ada kebagian karma untuk Meysa.


Jangan lupa follow Instagram author: maulyy_05

__ADS_1


jangan bosen nunggu Bab selanjutnya ya🤭


__ADS_2