Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Durian


__ADS_3

"Disindir, aku biasa saja kok. Gak ada itu merasa tersindir" Ucap Luziana santai, lalu ia makan baksonya dengan lahap.


Teman karib Luziana yang mendengarnya seperti itu, sudah terbiasa dengan jawaban Luziana. Perempuan itu tipe orang yang tidak mudah tersindir, lebih tepatnya bodo amat lah.


"Dah kuduga kalau jawaban Lo seperti itu lun" Ucap Karina sembari meminum jusnya.


"Iyaa.. benar tuh" Seru Anita sembari terkekeh.


Lagi pun hal seperti itu, bukan hal baru lagi bagi Luziana. Jadi tidak terlalu peduli amatlah. Seterah cewek itu mau bicara apa. So dirinya tidak terlalu memikirkannya. Bukannya gak mau lawan, tapi cari aman saja. Kalau Meysa bukan adik suaminya, dan dia bukan merupakan anak beasiswa dari keluarga Hervandez. Sudah sejak dulu, ia sudah meninju muka Meysa yang songong itu.



"Bi Mirna, tolong panggil Meysa. Bilang di panggil sama saya" Titah Mommy Liona yang sedang duduk di sofa panjang sambil membaca majalah.



"Baik nyonya" Balas pelayan tersebut dengan ramah. Pelayan bernama Mirna dan merupakan ketua pelayan itu. Menuju kamar, putri bungsu majikannya.



Saat di depan kamar Meysa. Pelayan tersebut mendengar anak majikannya sedang bermain gitar sembari bersenandung. Suara gitar yang dimainkan Meysa begitu enak di dengar, di telinga. Pantesan saat konser, cewek itu sangat bayarannya mahal.



Tok...



Tok..



"Non Meysa.." Panggil Bi Mirna. Namun tidak ada respon.



"Nona Meysa..." Panggil Bi Mirna dengan suara yang sedikit di tinggikan sembari mengetuk pintu kamar Meysa.



Meysa yang sedang duduk di kursi, merasa ada terdengar ada seseorang memanggilnya. Ia pun memberhentikan main gitarnya.



"Bi mirna ada apa?" Tanya Meysa yang sudah di depan pintu.



"Eh non, mohon maaf mengganggu kegiatan Nona Meysa. Saya kesini hanya untuk menyampaikan non Meysa di panggil sama Nyonya" Ucap Bi Mirna menyampaikan apa yang di perintahkan majikannya.



"Ouhh.. oke makasih" Ucap Meysa mengakhiri percakapan.



"Sama-sama non, saya pamit ke dapur dulu ya" Pamit Bi Mirna, lalu di anggukan kepala oleh Meysa. Meysa pun melenggang pergi menuju tempat Mommynya berada.



"Mommy ada apa panggil Meysa" Tanya Meysa yang kini sudah berada di ruang tengah, di mana tempat Mommynya berada saat ini.



"Kamu duduk dulu, Mommy ingin ada ngomong sesuatu sama kamu?" Ujar Mommy Liona. Meysa pun menuruti apa yang Mommynya suruh.

__ADS_1



Saat ingin membuka suara, putrinya itu sudah menyelanya duluan.



"Tunggu-tunggu" Potong Meysa dengan wajah tidak berdosa. Mommy Liona memutar matanya malas. Melihat putrinya, asal potong pembicaraan saja.



"Bi Mirna..." Panggil Meysa dengan suara begitu keras.



"Iya Nona..." Sahut pelayan tersebut.



"Tolong ambil es krim sama tolong buatkan jus ya" Titah Meysa kepada pelayan tersebut.



"Iya Nona.. kalau nyonya mau, saya buatin apa?" Tanya Bibi Mirna kepada nyonya besarnya.



"Saya buatkan air putih saja" Pinta Mommy Liona seraya tersenyum.



"Baik Nyonya..." Pelayan yang umur sudah berkepala empat itu pun pergi kembali ke dapur. Meysa memanggil pelayan, suruh membuatkan itu. Karena Meysa tidak suka berbicara, tidak ada makanan ringan di depannya. Minimal paling simpel air lah.



"Jadi apa yang Mommy ingin omongin..?"



"Baik Tuan muda" Sahut sopir pribadi keluarga Hervandez.


Renaldy keluar dari mobil mewahnya. Lalu berjalan, ketempat orang penjual durian di trotoar. Begitu dengan sopir pribadi itu juga, mengikuti tuanya.


"Kakek semua durian ni berapa?" Kakek yang merupakan penjual durian itu, terheran melihat sosok pria dengan berjas hitam sembari memakai kacamata. Style nampaknya seperti orang yang sangat berada.


Sopir pribadi itu gak merasa heran sih. Kalau Tuanya memborong penjualan yang ada di kaki Lima. Tuannya itu mungkin merasa iba, kepada kakek yang berumur tua begitu. Masih jualan di malam hari yang begitu sejuk menerpa kulit.


"Tuan serius memborong durian saya" Tanya Kakek tersebut ingin memastikan.


Renaldy mengangguk mengiyakan.


"Alhamdulillah...."


Renaldy pun pulang dengan membawa beberapa durian saja. Kalau tanya, kok beberapa durian saja? durian lainnya sudah Renaldy bagikan kepada orang yang berada di kaki Lima tersebut.


Saat di lampu merah, Renaldy juga membagikan durian tersebut yang sudah di potong dan di taruk dalam Tupperware. Pria itu sengaja taruk di dalam Tupperware untuk anak kecil yang jualan tisu di lampu merah.


"Dek om beli tisunya, semuanya boleh" Tanya Renaldy dengan seraya tersenyum tipis. Pria itu tidak bisa sekali melihat anak kecil, yang usianya waktunya bermain, malah mencari uang. Namanya hidup di kota itu keras.


"Boleh.." Anak kecil itu mengangguk antusias. Senyuman anak kecil itu makin mengembang, melihat uang yang di kasih Renaldy.


"Makasih semoga rezeki om dimudahkan oleh tuhan" Ucap anak kecil itu dengan senyum lebarnya.


"Aminnn.."


__ADS_1



"Al.... ini banyak sekali jualan yang kamu beli. Kamu ngidam atau gimana sih" Ucap Mommy Liona seraya mengeleng kepalanya.



"Emang ngidam itu apaan sih Mommy" Tanya Meysa namun tidak di respon. Cewek itu pun memutar bola matanya malas.



Meysa yang berada disitu melongo Heran menatap banyak durian. Pasti ini beli di penjualan kaki Lima. Meysa bukannya gak mau, makan, makanan yang berada di kaki lima. Tapi dia lebih makan ke buah-buahan yang mahal dan segar. Padahal buah-buahan di kaki lima bagus juga kan, malahan sangat bagus lagi. Selain harganya murah, dan enak di makan juga.



"Terus ini siapa yang ngabisin.." Ucap Mommy Liona frustasi. Sementara Renaldy hanya berekspresi datar.



"Meysa? Meysa mau kan makan durian" Tanya Renaldy seraya menaikkan alisnya. Dia tahu betul kalau adiknya ini pencinta buah-buahan.



"Mau, tapi... Kak Al Kenapa beli yang di kaki lima. Kenapa gak beli di supermarket aja" Ujar Meysa santai.



"Emang kenapa?" Tanya Renaldy singkat.



"Bukan apa-apa sih takutnya buah durian isi dalamnya busuk" Balas Meysa.



"Insya Allah gak busuk kok" Semuanya berada disitu pun duduk di kursi meja makan. Menunggu buah duriannya di buka oleh Renaldy. Tapi lebih utama itu menunggu sosok yang nyebelin bagi Meysa.



"Kenapa dia harus ikut makan juga sih" Gerutu Meysa kesal melihat kedatangan Luziana.



"Al... kamu gak ngidam kan" Mommy Liona memicingkan matanya menatap putranya.



"Luziana.." Belum melanjutkan perkataannya, sudah di potong oleh Renaldy.



"Renaldy gak ngidam atau sebagai mananya pun itu, Renaldy beli ini untuk makan bersama. Bukan karena Renaldy ngidam, jadi stop bilang begitu. Kalau memang gak habis duriannya, duriannya di buat bubur atau kolak" Ujar Renaldy dengan ekspresi datarnya.



"Iya-iya" Jawab Mommy jengah.



"Betul tuh.. jadi di bukain terus duriannya" Celetuk Meysa yang gak sabaran. Karena harum durian itu, terasa ingin kita menghabiskannya.



Renaldy pun membelah duriannya.


__ADS_1


"Heih makan gak ngajak-ngajak"


__ADS_2