Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Terkunci di toilet


__ADS_3

Meysa melihat sekitarnya, merasa tempat itu aman. Dia pun masuk kedalam toilet. Pintu di dalam toilet tersebut semuanya terbuka kecuali satu pintu tertutup.


Tersenyum seringai. "Hiks...hiks.. tolong saya." Cewek itu pura-pura menangis seperti kuntilanak sembari memutar knop pintu yang terkunci di dalam.


Luziana yang di dalam toilet itu bergedik ngeri. "Siapa di sana, jangan nakut-nakutin saya ya" Ucap Luziana sedikit berteriak.


Meysa terkekeh pelan. "Cepat kamu buka pintunya." Knop pintu terdengar memekakkan telinga. Meysa memutar knop dengan tidak sabaran.


Keringat dingin pun keluar dari pelipisnya. Jujur Luziana merasa takut sama seseorang yang berusaha membuka pintu toiletnya. Dengan segera ia pun mengusaikan buat hajatnya.


Ia pun memutar kunci knop pintu toilet tersebut. Meysa dapat mendengar kalau perempuan itu sedang membuka pintu toiletnya.


Meysa dengan sedikit ketakutan berusaha keluar dari toilet itu. Pas memutar handle pintu itu. Pintu keluar dari toilet itu tidak bisa.


Cek..klek


Ceklek....


Ceklek...


"Sialan! kenapa pintu bod*h ini tidak mau terbuka" Umpat Meysa kesal karena pintu keluar dari toilet itu tidak kunjung membuka. Perasaan gak enak pun menghantuinya, pasti ada yang mengunci mereka di luar.


Ceklek..


Suara pintu terbuka pun terdengar dari dalam toilet. Meysa menelan saliva-nya gugup.


"Kamu!." Luziana melongok melihat Meysa sedang berdiri di depan pintu toilet keluar.


"Ngapain kamu disini?. Jangan-jangan kamu yang tadi bikin suara hantu, terus buka pintu dengan tidak sabaran. Benarkan kamu itu..." Ujar Luziana sedikit kesal. Dia kira, tadi beneran hantu. Ternyata Meysa.


Meysa dengan gaya santai dan tidak rasa bersalah sedikitpun. Pandangannya menoleh ke Luziana.


"Kalau iya kenapa? mau marah. Kalau dia lihat Lo orangnya penakut juga." Meysa tertawa renyah di akhirat kalimat.

__ADS_1


Luziana mengepal tangannya kuat. Kemudian mengacungkan jari telunjuknya. "Aku gak takut ya!, aku takut itu karena kamu buka knop pintunya gak sabaran"


"Sama aja bilang aja Lo takut. Gausah nyangkal" Balas Meysa seraya tersenyum sinis. Luziana melihatnya menjadi emosi.


Ia pun menghela nafas kasar. Lebih baik dia ngalah daripada urusannya jadi panjang. Lagipun Luziana malas berdebat di toilet. Banyak setannya.


Dia pun berjalan mendekati pintu toilet keluar itu. Ia pun memutar handle pintunya. Luziana mengeryitkan dahinya heran.


Ceklek...


Ceklek..


Ceklek...


"Kenapa gak mau terbuka?." Luziana sudah beberapa kali memutar handle pintunya. Namun tetap saja pintu toilet tidak mau terbuka.


"Mana kuncinya" Tanya Luziana sambil menahan emosi. Meysa yang sedang bersandar di dinding toilet. seraya bersedekap dada tersenyum sinis.


"Lo kira gue pemilik cafe ini" Balas Meysa ketus. Mana ada dia mengunci pintu toilet ini. Lagipun cafe ini bukan milik keluarganya. Jadi otomatis gak mungkin dia punya kunci kecuali, dia minta sendiri sama pemilik cafe ini.


"Ouh jadi Lo nuduh gue, yang sudah ngunci ni pintu. Hello... gue punya akal. Kalau gue ngunci pintu ni toilet gak mungkin gue berada di dalam toilet ini satu sama Lo. Kalau gue punya kunci pintu toilet. Dah gue gue ngunci Lo dari luar bukan dari dalam." Ujar Meysa dengan berkacak pinggang. Bisanya saja ini perempuan nuduh dirinya. Padahal di gak tau apa-apa.


"Terus kenapa ini pintunya gak bisa di buka" Tanyanya sembari memutar handle pintu. Tapi tetap saja tidak bisa buka.


"Mana gue tahu" Balas Meysa seraya mengangkat bahunya acuh. Luziana pun menghentikan memutar handle pintunya. Dia pun bersandar di dinding toilet.


"Kenapa gak di buka lagi pintunya" Tanya Meysa seraya menaikkan alisnya.


Luziana sedang bersandar di dinding toilet juga, menatap Meysa malas. "Capek." Sudah beberapa kali Luziana memutar handle pintu toiletnya. Namun tetap saja tidak bisa di buka, dan kemudian membuat telapak tangannya jadi sakit. Akibat memutar handle pintu toilet itu.


"Hubungan Lo sama Kakak gue dah sampai mana" Tanya Meysa kepada Luziana sembari bersedekap dada.


Luziana mengeryitkan dahinya heran. "Maksudnya?" Tanya balik Luziana dengan bingung. Yang tak paham apa maksud Meysa.

__ADS_1


"Ck' bodoh banget sih Lo. Gue tanya lo sama Kakak gue hubungannya dah sampai mana?. Dah sampai melakukan berhubungan intim apa belum. Gitu aja gak tau" Ujar Meysa dengan kesal seraya memutar bola matanya malas.


"Ouhh... mana ku tahu kalau kamu tanya begituan. Belum kenapa." Luziana kurang paham maksud bahasa Meysa hubungan mereka sudah sampai mana. Kayak pertanyaan orang pacaran aja.


"Baguslah. Dan ingat Lo sama kakak gue jangan pernah berhubungan intim, ingat ituhh" Peringatan Meysa kepada Luziana.


Luziana mendengarnya, mengerutkan dahinya bingung. Kenapa Meysa melarangnya berhubungan suami-istri sama kakaknya. Itu kan dah hal sewajarnya untuk pasangan yang sudah sah. Membuat luziana jadi penasaran, kenapa Meysa melarangnya. Apa mungkin dia gak pengen punya ponakan dari rahimnya. Kayaknya sih dah tentu jelas.


"Emang kenapa aku gak boleh berhubungan intim sama kakak kamu?" Tanyanya penasaran.


Meysa tertawa sinis. Biar gue mudah buat rumah tangga kalian, hancur -sehancurnya terus kalian itu berpisah deh. Kemudian Lo juga akan gue buat di keluarkan dari SMA Harvard.


"Lo pikir aja sendiri" Balas Meysa ketus. Membuat mata Luziana membulat sempurna.


"Hei Rakyat jelata, Lo nikah sama kakak gue karena apa?" Tanya Meysa.


"Ya karena di jodohin" Sahut Luziana malas.


"Kenapa gak Lo tolak, pasti Lo bohong kan. Sebenarnya Lo itu nikah karena ada niat tersembunyi kan" Tukas Meysa.


"Apa Lo nikah sama kakak gue karena incar harta keluarga gue?. Kalau Lo butuh harta bilang aja sama gue. Apa yang Lo minta bakal bisa gue kasih. Uang milyaran, triliun, saham, properti. Tenang bakal gue kasih. Soalnya kayak gitu gak ada apa-apanya bagi gue. Apalagi Lo perempuan dari kalangan bawah. Otomatis Lo tergiur dengan harta?"


"Lagipun dah gak zaman lagi perempuan seperti Lo. Yang murahan. Ngaku dah aja Lo. Ck' dah zaman perempuan kayak Lo itu. Bilang aja nikah karena di jodohin, tapi nyatanya karena kepincut dengan harta. Kalau gak kepincut dengan harta. Mana mungkin kan kau menikah dengan kakak aku sedangkan adiknya itu musuh Lo. Nampak sekali mah, murahannya gak ada uang ya?." Meysa menyunggingkan senyum sinis.


"Aku nikah bukan karena harta ya! lagipun aku gak pernah ada niat ngincar harta keluarga kamu. Lagipula buat apa, sok bergaya seolah-olah seperti bersifat langit. Kalau ujung-ujungnya nantik juga di balik ketanah." Sindir Luziana sinis.


Seketika Meysa tidak berkutik. "Ck' sialan ni cewek" Batin Meysa dongkol.


Meysa tertawa remeh. "Ouh iya-." Omongan Meysa terhenti. Karena tiba-tiba saja, lampu di toilet itu mati.


Luziana mengedarkan pandangannya. Semua terasa gelap, seperti tidak cahaya sedikitpun. Perempuan itu pun merasa ngeri pada toilet ini.


"Aduuuh... kenapa payah mati lampu pula lagi, pas pintu toilet ini gak bisa di buka" Pekik Meysa frustasi. Ia pun berusaha kembali memutar handle pintu toiletnya. Tetap saja hasilnya nihil.

__ADS_1


"Oi yang di luar tolong buka ni pintu." Meysa mengendor pintu sembari teriak. Kayaknya percuma kagak ada yang dengar.


__ADS_2