
Renaldy dengan wajah yang tercetak jelas bahwa pria itu sangat lelah. Ia menatap istrinya yang terlihat tengah tidur dengan nyenyak di kasur. Pria itu pun mengehela nafas panjang. Selesai pulang dari perusahaan dia membersihkan tubuhnya. Setelah membersihkan tubuhnya dirinya hendak ingin keluar dari kamarnya. Ingin menuju ke ruang kerja pribadinya untuk melanjutkan kerjanya. Padahal di perusahaan jelas-jelas perkerjaannya sudah selesai. Tapi tetap saja Pria itu ingin bekerja lagi di ruang pribadinya.
Renaldy pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang pribadinya. Setelah sampai di ruang kerja pribadinya. Ia pun membuka laptopnya dan berkutat dengan laptop itu sampai pukul jam tiga malam.
Jam dinding pun menunjukkan pukul tiga malam. Pria itu pun memberhentikan kerjanya dan meregangkan ototnya yang sangat pegal sejenak. Setelah melakukannya ia pun kembali kamarnya.
Sampai di kamar, Pria itu merebahkan tubuhnya di ujung kasur king size. Pembatas bantal antara Renaldy dan Luziana tentu ada di tengah antara mereka. Yang jelas siapa menaruk bantal itu adalah Luziana. Pasangan suami istri itu pun tidur saling tolak belakang.
Beberapa jam Renaldy tidur. Kelopak mata pria itu terbuka. Dia dapat merasakan ada sesuatu yang sangat ringan menimpa dada bidangnya. Pria itu menoleh kesamping terdapat istrinya sedang tidur. Cara tidur perempuan itu sangat tidak rapi. Pembatas perempuan itu taruk dan mengatakan gak ada yang boleh melewati pembatas bantal tersebut. Tetapi perempuan itu sendiri yang melewati pembatas itu. Dan bantal sebagai penghalang di antara mereka. Bantal itu sudah berada di lantai.
Sangat di lucukan. Padahal dia sendiri bilang gak boleh melewati pembatas tapi dia sendiri yang melewati pembatas yang ia buat sendiri. Sementara Renaldy tetap tidur pada posisinya seperti ia ucapkan tanpa pembatas, ia akan tetap tidur tidak mendekati istrinya.
Pria itu pun memindahkan tangan istrinya yang berada pada bidangnya. Luziana yang tidur terlentang kini beralih tidur miring. Tanpa perlu di pindahkan tangan orang yang punya tangan sendiri yang memindahkan tangannya.
Luziana yang tidur miring kearah kiri menggaruk pipinya. "Aduuh ngantuknya" Gumam Luziana pelan yang terlihat masih terlelap dengan tidurnya. Gimana gak terlelap coba, tidur yang di kasur yang empuk, seprai yang lembut ada AC lagi. Beda dengan kamar tidurnya di rumah orangtuanya yang bikin sakit badan jika dirinya di tidur kamarnya perempuan itu sendiri.
Renaldy yang sudah bangkit dari kasur berdiri di samping kasur. Pria itu mengangkat alisnya dengan ekspresi datar. Istri kecilnya itu masih aja tidur dengan menggunakan jilbab. Padahal mereka memang itu sudah sah tapi tetap saja perempuan itu tidak ingin kasih melihat rambutnya pada suaminya. Tapi sungguh sayang di sayangkan gak perlu di kasih liat rambutnya itu, sudah nampak sendiri yang lebat itu.
Renaldy menatap rambut istri kecilnya yang terlihat. Merasa lucu karena percuma saja kan di tutup ujung-ujungnya itu rambut nampak juga dengan sendirinya. Pria yang bertubuh kekar dan tegap itu. Pura-pura saja tidak melihatnya. Lagipun ia sudah melihat lebih daripada sekedar rambut.
__ADS_1
Renaldy pun bersiap-siap menuju ke masjid. Walaupun dia tidak jadi imam pas istrinya shalat. Namun Pria itu jadi imam di masjid di tempat daerah kompleks mereka tinggal.
Dringg...
Dringg..
Bunyi alarm dari ponsel Luziana sungguh bikin memekakkan telinga. Membuat perempuan lagi enak tidur jadi terganggu. Ia pun meraih ponselnya di atas nakas. Matanya yang terpejam kini terbuka menatap ponselnya. Tertera jelas di ponselnya jam menuju pukul lima subuh pagi. Matanya terbelalak melihat ponselnya.
Luziana pun segara bangkit dari tidurnya dan bergegas mandi sekaligus menunaikan ibadah shalat. Segala yang di lakukannya akhirnya selesai. Perempuan yang sudah bersuami menuju lantai bawah dan menuju arah dapur.
Luziana pun memulai memasak setelah di rajang bahan makanannya. Beberapa menit makanan yang di masak pun jadi. Ia pun menarukan nasi goreng di kotak bekal. Makanan tersebut ia ingin kasih untuk suaminya. Perempuan itu hanya melakukan apa yang disuruh Mommy Liona untuk menjadi istrinya yang baik.
Luziana menghirup aroma nasi goreng yang tercampur dengan daging terus lauknya telur dan sayur selada. Tangan lentiknya pun menutup kotak bekal makanan. Botol minuman pun sudah terisi dengan susu coklat. Luziana pun berlenggang pergi menuju lantai atas, menuju kamar suaminya. Mungkin saja suaminya itu sudah berada di kamar. Lagipun gak bisa di tebak juga Pria itu bisa muncul dimana saja. Kayak kemarin Renaldy yang tidak ada berada dalam kamar. Tiba-tiba saja sudah di meja makan sekaligus sudah berpakaian jas. Jadi tidak bisa di tebak suaminya itu berada dimana.
Luziana melentakan kotak bekal makanan dan minuman di atas nakas. Ia pun segera mendekati suaminya. Melihat ada tangan yang mungil menyentuh dasinya. Pria itu menatap pelakunya.
Dengan tangan Tremor Luziana berusaha membantu memasangkan dasi suaminya. Gerakan itu tidak luput dari pandangan Renaldy. Jujur Luziana sekarang ini sangat canggung sama suami sendiri. Biasanya dia sekolah sama anak laki-laki tidak ada secanggung ini. Ntah sama suami sendiri rasanya gak ada mental.
Renaldy menatap istri kecilnya memasangkan dasi di lehernya dengan tangan Tremor. Dan juga Perempuan itu berkeringat dingin tidak tahu harus memasangkan dasinya gimana lagi di tengah sedikit lagi siap.
__ADS_1
"Aduuh kok, bisa payah pakai lupa lagi. Ini selanjutnya harus gimana lagi ya" Batin Luziana panik. Berlama berpikir akhirnya dasi suaminya pun terpasang dengan rapi walaupun tangan Luziana Tremor saat memasangkan dasinya. Tetapi tetap saja hasilnya bagus.
Luziana dengan segera mengambil kotak bekal dan minumannya di atas nakas. Setelah mengambilnya ia pun menyodorkan kontak bekal sama botol minuman pada suaminya.
Renaldy mengeryitkan dahinya bingung menatap istrinya menyodorkan kontak bekal dan botol minuman berisi air susu coklat. Pria itu dulu suka minum susu coklat daripada susu vanila tapi sekarang dia tidak suka lagi hal begituan lagi. Dia lebih suka minum kopi sekarang.
Melihat suaminya mengeryitkan dahinya bingung, Luziana pun membuka suara. "Ini makanan untuk kamu untuk makan siang di tempat kerja. Ambilah" Ujar Luziana sembari tersenyum hangat.
Renaldy menatap istri kecilnya datar. "Saya gak mau. Buat kau saja makanannya" Tolak Renaldy dengan dingin. Renaldy bukan gak mau bawa bekal di tempat kerjanya bukan karena seperti anak kecil. Tapi dia memang gak mau menerima makanan tersebut.
"Dan sekali lagi lebih baik kau gausah ngurusin saya. Lebih baik kau itu ngurusin diri kau sendiri. Kemudian jangan pernah mengatur hidup ku. Karena aku tidak suka itu. Lagipun saya bisa mengurus saya sendiri. Kau paham itu"
...----------------...
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA AGAR AUTHOR Mauly semangat update terbarunya 🤗
LIKE
VOTE
__ADS_1
KOMENTAR
GIFT HADIAHNYA JANGAN LUPA 😍🤗