
Luziana dengan senyuman merekah, menyambut suaminya pulang. Ia pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan suaminya dengan takzim. Renaldy pun menyambut salaman tangan istrinya.
"Ini mas bawa pulang sesuai request kamu?" Ujar Renaldy menarik tangannya kembali sembari menyodorkan kantong plastik.
Luziana pun menerimanya, lalu membuka kantong plastik tersebut. Senyuman yang terukir di bibir Luziana makin mengembang melihat isi kantong plastik tersebut, sesuai ia minta. Walaupun agak lama.
"Makasih mas!" Ucap Luziana antusias lalu di angguki kepala oleh Renaldy. Renaldy yang baru habis pulang kerja, merasa gerah ia pun berjalan menuju ke kamar mandi. Untuk membersihkan diri nya.
Sementara Luziana, sudah membuka isi dalam dari kantong plastik tersebut. Yang berisi ada salad buah dan jus buah naga. Kemudian Luziana pun memakan salad buah tersebut.
Selang beberapa menit, Renaldy pun usai membersihkan dirinya. Dengan penampilan kini terlihat segar dari pada sebelumnya. Senyuman tipis terukir melihat istrinya yang sedang duduk di tepi kasur sembari menikmati salad buah.
Renaldy pun berjalan mendekati istrinya, dan mendaratkan bokongnya di samping istrinya.
"Enak banget ya makannya, sampai gak mau bagi-bagi" Celetuk Renaldy dengan iringan kekehan ringan. Sontak Luziana menoleh, ia pun menyengir lebar.
"Hehe, lupa soalnya mas sih gak minta tadi. Kan jadinya dah habis" Balas Luziana sembari cengengesan. Terlihat di tempat makanan salad buah itu hanya tertinggal sisanya.
Ujung bibir Renaldy terangkat. "Gak papa! Mas cuman becanda, gimana ada enak salad buah nya?" Ujar Renaldy bertanya.
Luziana mengangguk. "Ada cuman kurang dingin aja, jus buah naga gitu juga" Jawab Luziana seadanya.
Renaldy pun mengangguk kepalanya paham. "Maaf mas tadi sibuk, makanya salad buahnya jadi gak dingin lagi" Ucap Renaldy menjelaskan. Yang tadi ada pekerjaan yang gak bisa di tinggalkan. Dan dengan salad buah itu sudah terlanjur dia beli duluan.
Luziana pun menanggapi hanya ber'oh ria. "Gak papa kok mas, yang penting mas dah beliin aku dah senang kok" Balas Luziana membuat Renaldy mengangguk kepalanya.
"Mas tidur dulu ya!" Ucap Renaldy lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Soalnya harini dah cukup lelah baginya. Ia butuh istirahat, apalagi besok ada masih pekerjaan yang belum di selesaikan.
"Iya mas..." Sahut Luziana dan ikut menyusul suaminya.
"Mas..." Panggil Luziana yang kini sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur di samping suaminya sembari memegang selimut yang menutupi sampai lehernya.
__ADS_1
"Hmm.." Jawab Renaldy sekedar deheman saja.
"Mas aku dah sabar lagi ingin melihat jenis kelamin baby twins kita. Kira-kira jenis kelamin mereka apa ya" Ujar Luziana dengan nada antusias.
Namun tidak ada respon.
"Mas..." Panggil Luziana yang melihat suaminya tidak merespon perkataannya. Cahaya yang temaram, sulit bagi Luziana melihat suaminya sudah tidur apa belum.
"Mas... Jangan tidur dulu!" Ucap Luziana menggoyang tubuh suaminya. Renaldy yang baru memejamkan matanya, membuka lebar matanya kembali.
"Kenapa! Kan masih lama kamu aja baru empat bulan. Udah ah, tidur aja dah malam nih loh gak baik bumil begadang-begadang" Ujar Renaldy yang masih setengah sadar.
"Tapi aku belum ngantuk!" Balas Luziana membuat Renaldy menghela nafas panjang. Renaldy yang tadi tidur kini merubah posisinya jadi duduk.
"Mas ingin bilang sesuatu sama kamu" Ucap Renaldy menghidupkan lampu utama.
"Mau ngomong apa?" Tanya Luziana dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Hah, terus..." Luziana mengerutkan dahinya bingung dengan perkataan suaminya.
"Iya pergi bertugas ke luar kota" Tekan Renaldy.
"Kalau aku gak izinin gimana?" Ujar Luziana bertanya.
"Iya mas tetap pergi..." Balas Renaldy tanpa ingin di gugat.
"Kok gitu sih! Kan mas tahu aku lagi hamil masa di tinggal pergi" Lirih Luziana dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Tapi kan mas pergi bekerja sayang" Jelas Renaldy.
"Walaupun! aku gak mau mas pergi, mas harus disini menemani aku" Balas Luziana seraya mengerucut bibir nya.
__ADS_1
"Seterah kamu mau bilang apa! Mas bakal tetap pergi" Tukas Renaldy datar, mengakhiri.
"Kalau begitu mas resign aja dari kerja, lagi pun mas kerja jadi tentara selalu sibuk" Ujar Luziana memberi pendapat. Membuat Renaldy yang mendengar, perkataan istrinya menjadi emosi.
"Resign di luar sana masih banyak orang butuh pekerjaan. Dengan mudahnya kamu katain resign. Saya cuman pergi laksanakan panggilan saya sebagai abdi negara. Seharusnya kamu dukung saya Luziana. Kamu itu udah dewasa jangan kamu bawa di rumah tangga ini ilusi kamu yang sikap kekanak-kanakan" Ujar Renaldy menjelaskan berusaha tenang.
"Aku gak kekanakan, aku gini sayang sama kamu! Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Lagipula aku kan lagi hamil" Lirih Luziana.
"Ya tapi, ini soal kerja! jangan kaitkan dengan kehamilan kamu. Kok wanita lain bisa kamu gak bisa" Balas Renaldy membuat Luziana membulat matanya sempurna.
"Ouh begitu! kamu ingin wanita yang sifatnya dewasa. Yang bisa ngertiin kamu bukan begitu. Ya aku jujur bilang aku masih kekanak-kanakan. Aku masih pengen sekolah dan main dengan kawan-kawan aku. Aku gak mau hamil apalagi menjadi seorang ibu. Tapi sekarang berubah, aku harus menerima kenyataan apa yang telah terjadi. Aku terpaksa mengubur cita-cita aku masak kamu gak bisa" Ujar Luziana dengan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya.
"Tapi aku sama kamu beda! Aku gak mungkin resign dari kerjaan yang telah aku impikan sejak kecil. Bedanya kalau kamu itu mimpi kamu itu belum terwujud, kalau aku sudah dan gak mungkin aku harus mundur dari kerjaan aku sudah mencapai seorang jendral" Balas Renaldy yang sudah terbawa suasana. Luziana yang mendengarnya, tangisan ia tahan kini pecah.
"Ya aku tahu, yaudah kalau kamu pergi gak papa. Aku gak ngelarang kok, aku bisa jaga diri sendiri. Jangan salahkan aku bila terjadi sesuatu dengan anak mu" Ucap Luziana dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Kok kamu bilang begitu! tahu gak perkataan kamu itu seolah-olah gak menginginkan anak ini. Dimana kasih sayang mu dari seorang ibu" Balas Renaldy yang bingung dengan jalan pemikiran istrinya.
"Iya kamu juga sadar kan aku bunuh anak aku sendiri. Jadi kalau kamu seterah dengan pilihanmu, aku juga!" Ucap Luziana santai mengundang kemarahan Renaldy. Renaldy pun langsung mencengkeram tangan istrinya.
"Aku gak pernah izin, sekali-kali pun. Membunuh anak darah daging ku. Cukup sekali aja pergi, kali ini jangan" Emosi Renaldy.
"Kamu cuman ingin anak ni saja! Tapi gak kasih bentuk tanggung jawab mu pada anak ini. Kemudian Kedua orang tua kita, yang menyuruh kita menikah. Sekarang mereka juga yang gak merestui hubungan kita. Kamu gak mikirin sestress apa aku nanti. Gini ya, kalau mereka menganggap aku istrimu. Aku bakal izinkan kamu pergi bertugas. Karena aku bisa minta bantuan mereka untuk menemani aku. Tapi sekarang ke-dua orang tua aku aja gak bakal maafin aku, bagaimana dengan orang tua mu sendiri" Seketika Renaldy bungkam mendengar penuturan istrinya.
"Maafin mas, tapi kali ini gak bisa. Udah beberapa prajurit yang gugur. Masa iya mas berdiri diam saja. Mas bukan maksud lebih mementingkan pekerjaan. Tapi pekerjaan ini yang memaksa. Kemudian sudah banyak prajurit yang mengalami luka-luka. Dan mas harus turun tangan. Mereka butuh mas untuk memimpin mereka langsung. Mas janji, cuman satu bulan saja. Terus mas pulang. Kita rawat anak kita sama-sama. Untuk menemani kamu satu bulan ini, mas bisa minta istri Arya menemani kamu" Harap Renaldy semoga istrinya mengerti posisinya saat ini.
Luziana yang gak mau egois sendiri. Mengangguk mengiyakan.
"Cuman sebulan kan?"
"Iya cuman satu bulan!" Jawab Renaldy penuh penekanan.
__ADS_1