Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
ih kakak muntah


__ADS_3

Dengan wajah di tekuk kesal, Luziana duduk di kursi panjang di taman rumah sakit. Sementara, Febby duduk di samping Luziana dengan raut wajah bahagia sembari menenteng kresek yang berisi jajan, dia semua.


Febby pun mengeluarkan jajanannya di dalam kresek yang ia pengang.


"Febby enak banget ya kamu, beli jajan pakai duit aku" Ucap Luziana dengan kesal sembari menatap adiknya, yang duduk di sampingnya.


"Enak dong... nantik kakak beliin lagi ya jajanannya untuk Febby, kakak belanjain lagi.." Pinta Febby sembari memakan es krimnya yang ia beli pakai uang Luziana.


"Enak aja! kalau pengen beli jajan, beli sendiri pakai uang sendiri sana" Balas Luziana ketus. Habis uangnya gara-gara bayarin adiknya jajan. Sampai tinggal beberapa ratus rupiah lagi. Gimana nanti dia bisa jajan di sekolah. Kalau uangnya bakal terkuras habis sama Febby, adiknya.


"Kan suami kakak kaya banget... pakai banget lagi! Febby pernah pergi rumah suami kakak aja. Lihat rumahnya aja dah seperti kayak istana. Dah pasti isi dompetnya tebal banget. Ya gak kak" Ujar Febby seraya memainkan alisnya. Luziana yang mendengarnya mencebik kesal.


"Rumah yang kamu lihat Febby itu bukan rumahnya" Bohong Luziana seraya pandangannya lurus. Menatap jalanan raya yang begitu ramai.


"Masa sih! itu bukan rumahnya" Febby mengerutkan dahinya heran, gak percaya apa yang di bilang kakaknya bahwa itu bukan rumah suami kakaknya.


"Iya emang benar, kalau gak percaya yaudah. Dia tinggal disitu karena dia kerja pembantu" Seloroh Luziana untuk membodohi adiknya agar dia gak minta-minta di belanjain lagi sama dirinya, karena pasal suaminya kaya.


Raut wajah Febby terlihat makin bingung mendengar apa yang di bilang Luziana.


"Masa ganteng gitu jadi pembantu" Balas Febby gak percaya.

__ADS_1


"Iya pembantu! dia pembantunya aku majikannya, haha.." Enak aja seorang jenderal sekaligus kini tengah jadi seorang pengusaha sukses. Di katain pembantu oleh istrinya sendiri. Ada-ada saja Luziana.


Febby yang mendengarnya, dan hendak hampir percaya walaupun ragu. Ternyata itu hanya kata tipuan kakaknya.


"Ku bilang sama kau sama suami kamu. Kalau kakak bilang, suami kakak sendiri pembantu. Dan kamu nya majikannya" Ucap Febby hanya ingin menakut-nakuti Luziana. Yakin? hanya ingin menakut-nakuti, tiba-tiba dah sampai telinga suaminya. Febby itu orangnya gak bisa percaya, mulutnya seperti ember bocor. Gak bisa jaga rahasia.


"Jeh ngadu! aku kan cuman becanda tadi," Balas Luziana dengan raut wajah sedikit takut. Febby mendengar perkataan kakaknya hanya tersenyum sembari memakan es krimnya.


Luziana yang melihat adiknya seperti tidak menggubris perkataannya. Menghela nafas panjang dengan pandangan fokus ke depan.


Luziana yang tengah duduk tiba-tiba merasa mual menyerangnya. Febby yang melihat raut wajah Luziana berubah menaikan alisnya.


Huekkk...


"Ih kakak muntah! jorok banget sih Lo" Ucap Febby yang tengah memakan jajanan lainnya yang es krim tadi sudah habis. Merasa gak selera makan lagi, tapi itu jajanan masuk terus ke dalam mulutnya.


Luziana tidak menggubris dengan perkataan Febby. Ia terus berusaha mengeluarkan apa yang ada di dalam perutnya.


Tak berselang beberapa detik ia mendengar suara seperti orang jatuh.


Brukk

__ADS_1


Luziana menoleh kesamping yang terdapat adiknya yang sudah jatuh dari kursi. Semua orang yang berlalu-lalang di situ membantu.


"Gak kenapa kan adiknya?" Tanya salah satu mbak-mbak yang telah membantu Febby.


"Gak papa mbak, makasih ya udah bantuin" Ucap Luziana seraya tersenyum.


"Ya sama-sama, lain kali duduk itu yang benar" Nasihat mbak itu, lalu di jawab anggukan oleh Luziana.


"Gimana sih kamu bisa jatuh" Tanya Luziana sembari menahan tertawa.


Febby yang di berikan pertanyaan itu. Langsung memukul perut rata Luziana. Malu, kesal, mencampur aduk menjadi satu, banyak yang melihat Febby yang sedang terjatuh.


"Ngapain kamu mukul perut aku, misalnya ada bayi di dalamnya kayak mana" Canda Luziana sembari terkekeh kecil. Melihat muka adiknya yang merah padam akibat menangis.


"Yang ada cacing ya" Balas Febby ketus. Luziana yang mendengarnya tergelak tertawa.


"Udah jangan nangis lagi, malu di lihat orang-orang" Tutur Luziana sembari menatap sekitar ada beberapa orang yang masih memerhatikan mereka.


"Gara-gara Lo gue jadi jatuh kan" Tuduh Febby dengan air mata yang mulai deras.


Kenapa tiba-tiba dirinya yang di salahin. Padahal tadi dia hanya sedang muntah kan. Kenapa malah Luziana yang kenak salah. Gak mau urusannya jadi panjang. Ia pun mengalah dan membelanjakan jajan untuk adiknya. Daripada dia kenak amukan dari Mama Safira. Jadinya urusannya jadi rumit. Lagipun dia sudah gak tahan berlama-lama di taman rumah sakit. Karena cuaca malam itu lagi dingin.

__ADS_1


__ADS_2