
Beberapa hari pun berlalu, semenjak Renaldy membentak Meysa, Gadis itu tak pernah lagi menghina Luziana lagi. Tetapi bukan berarti Meysa menyerah untuk memisahkan mereka. Kebencian terhadap Luziana masih sangat teramat tertanam dirinya. Bagi Meysa, Luziana itu telah merebut apa yang ia punya.
Pria tampan dengan tubuh kokohnya, sibuk sedari tadi berkutat dengan laptopnya. Harini pria itu dirumah tidak ke perusahaan. Tapi tetap saja walaupun gak ke perusahaan. Pria itu tidak bisa jauh-jauh dengan perkerjaannya. Lagipun Pria itu gak ke perusahaan karena Mommynya yang melarang.
Luziana habis selesai ritual bersih-bersih rumah. Ingin mandi tapi gak berani. Terus perempuan itu pun juga canggung satu kamar dengan suaminya sendiri.
"Ayoo Luziana jangan berpikir aneh-aneh". Pikiran perempuan itu ntah kenapa dari tadi pikirannya melayang-layang dengan hal yang tidak penting baginya. Dengan berusaha menyakinkan dirinya, ia pun pergi masuk ke bathroom.
"Kamar mandinya aku pakai ya!" Seru Luziana, kemudian menutup pintu kamar mandi.
Renaldy melirik sekilas istrinya, sudah berada di dalam kamar mandi, kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terkunci beberapa kali.
Kamar Meysa.
"Buat kerja kelompoknya dimana?" Tanya Jihan sembari menatap layar ponselnya. Kini mereka sedang video call dengan teman satu kelompoknya membahas tentang kerja kelompok. Namun yang nampak wajahnya hanya Nico, Meysa, Jihan sedangkan Vian tidak.
"Tempatnya nantik ku Sherlock. Yang penting kalian mau pergi kerja kelompoknya jam berapa?. Habis itu bahan-bahan untuk kerja kelompoknya dah kalian beli?" Ujar Vian panjang lebar. Kini mereka semua tampak berpikir jam berapa, bisa perginya.
"Jam delapan aja deh. Mau gak?" Tanya Jihan di video call.
"Boleh sih, kalau Luziana gimana emang dia bisa. Setahu aku Luziana, orangnya kayak gak dikasih keluar malam" Kata Nico sembari memikirkan luziana.
"Coba video call dia." Jihan pun berusaha menghubungi Luziana. Namun sayangnya tidak di angkat. Sementara Meysa sedari tadi cewek itu hanya diam, dan menyimak saja.
"Gak diangkat, kayaknya Luziana lagi sibuk." Jihan yang berusaha menghubungi Luziana dari tadi tetap saja dia angkat oleh perempuan itu.
Vian pun memutuskan juga menghubungi Luziana. Tetap saja tidak di angkat. Meysa mencebik kesal pada Luziana yang merupakan kakak iparnya.
"Kemana sih anak setan itu." Meysa pun beranjak dari kasurnya menuju kamar kakaknya.
Renaldy menatap datar ponsel istrinya sedari tadi tidak ada henti-hentinya berdering. Pria itu pun beranjak dari sofa menuju ketempat nakas. Ia pun melihat ada telponan video call yang bergrup. Di situ tidak tertera nama kontak siapa pun. Kecuali?.
"Vian ketos." Gumamnya. Renaldy tampak merasa penasaran dengan cowok yang tertera di video call bernama Vian, di ponsel istrinya. Tapi dengan segera membuang rasa penasaran itu. Mungkin saja itu cowok mengajak video call istrinya, karena urusan sekolah, kan cowok yang bernama Vian tertulis di sampingnya ketos.
"Woi di angkat video callnya bodoh" Spontan Meysa secara tiba-tiba. Cewek itu pun melongo lebar. Dia kira kakaknya itu pergi kerja. Ternyata Renaldy di kamar.
Pria itu pun menoleh ke arah suara. Dia, menaikkan alisnya sebagai respon.
"Hehehe, kak Al. Ngapain kak? gak kerja harini!" Tanya Meysa berusaha menutupi sikapnya tersebut yang tadi.
__ADS_1
"Sebentar lagi" Balas Renaldy datar, lalu berjalan menuju sofa. Setelah itu, ia pun menyusun berkas-berkasnya.
Meysa hanya ber'oh ria seraya tersenyum lebar. Sialan Luziana!, dia pasti sengaja membuat kakaknya melihat sikapnya jeleknya terhadap perempuan itu.
Luziana pun keluar dari bathroom dengan pakaian serta jilbab yang sudah berbalut di tubuhnya dan di kepalanya. Perempuan itu menatap gantian yang merupakan adik kakak itu.
Suaminya hanya diam, sembari menyusun berkas-berkasnya. Sedangkan Meysa seperti telah terjadi sesuatu, terlihat di ekspresi wajahnya.
Drett...
Perempuan itu seperti mendengar nada dering telepon. Ia pun celingak-celinguk berusaha mencari suara nada dering itu.
Meysa melihatnya mendengus pelan "Suara nada dering ponsel Lo bege! Lo angkat tuuh" Ujar Meysa, lalu berlenggang pergi menuju kamarnya kembali.
Luziana pun pergi mengambil ponselnya, kemudian menekan tombol hijau mengangkat telepon video call tersebut.
"Halo! assalamualaikum"
"Walaikumsalam ukhti cantik" Seru Nico berusaha mencari perhatian Luziana.
Renaldy dapat mendengar suara laki-laki itu memanggil istrinya.
"Cafe kolinor" Gumam Luziana sembari menatap sebuah Cafe yang tidak terlalu besar. Vian sudah mengsherlok alamat di mana mereka akan pergi kerja kelompok. Sherlock Vian membawa dirinya di sebuah cafe ini. Yang di samping kiri kanannya banyak rawa-rawa. Suasananya pun agak aneh.
"Apa benar ini tempatnya" Luziana pun kembali membuka ponselnya, kemudian menatap Sherlock itu. Sudah benar sih alamatnya.
Merasa lokasinya sudah betul ia pun masuk dalam Cafe tersebut. Terlihat tidak jauh, di satu meja ada anggota kelompoknya.
"Assalamualaikum Luziana..." Seru Nico, Jihan kompak.
"Walaikumsalam..." Balas Luziana seraya tersenyum, hingga menampakkan lesung pipinya. Perempuan itu pun menarik salah satu kursi untuk ia duduk. Tapi sudah sebuah tangan yang ikut menarik kursi Luziana tarik.
"Sana lo.. ambil kursi lain. Ini kursi sudah punya gue duluan," Usir Meysa ketus. Ia pun menarik kursi itu dengan kasar. Dan mendaratkan bokongnya di kursi tersebut.
Luziana hanya bisa menghela nafas panjang. "Sini Luziana" Nico menepuk-nepuk kursi yang kosong di sampingnya. Dengan senang hati Luziana duduk di samping Nico. Dan juga di sampingnya ada Vian yang diam dari tadi.
"Lo ngapain duduk disitu Rakyat jelata" Ucap Meysa berkacak pinggang. Meysa merasa gak senang melihat Luziana duduk dekat dengan Vian.
"Emang kenapa" Lontar pertanyaan Luziana dengan bingung. Mengapa cewek itu melarangnya duduk di sini.
__ADS_1
"Gak boleh, nantik kami ketularan virus dari Lo. Lo kan bervirus" Cibir Meysa seraya tersenyum miring.
Mata Luziana membulat lebar. Enak aja dirinya di katain bervirus.
"Kalau Lo apa? bau!" Meysa mendengar langsung emosi.
"Enak aja gue dikatain bau, Lo kali yang bau!. Terus baunya kayak bau melebihi sampah." Meysa tertawa.
Luziana tersenyum miring. "Iya Lo yang paling wangi" Sindir Luziana.
Cewek dua itu pun terus saling melontarkan ejekan. Mereka mendengarnya jadi sakit kepala.
"Sudah hentikan kita disini buat kerja kelompok. Bukan adu mulu" Vian yang hanya diam kini membuka suara dan menghentikan pertikaian antara Luziana dan Meysa.
Dua cewek itu pun diam. Melihat mereka sudah diam Vian pun segera bagi-bagi tugas. Biar kerja kelompok biologinya cepat selesai.
Sepanjang kerja kelompok. Meysa memanas, melihat Luziana yang begitu dekat dengan Vian. Cewek pun menggenggam erat pensil yang ia pengang. Sebenarnya Luziana gak dekat dengan Vian cuman cowok itu yang mendekati dirinya. Luziana yang sedang mengambar hiasan di kertas karton berhenti sejenak. Karena terasa sesuatu yang ingin segera di keluarkan.
"Aku ke toilet dulu ya bentar" Pamit Luziana yang ingin membuang hajat.
"Perlu di temenin" Tawar Nico sambil memainkan alisnya. Jihan mendengarnya memukul lengan cowok itu.
"Yaelah gausah modus," Ucap ketus Jihan. Nico pun terkekeh mendengarnya.
"Gausah aku bisa sendiri kok?" Tolak Luziana seraya tersenyum Kikuk.
"Tau toiletnya dimanakan?" Tanya Vian takut Luziana kesasar karena tidak tahu di mana letak toiletnya.
"Tau kok." Setelah itu Luziana pun berlenggang pergi menuju toilet di Cafe tersebut dengan terburu-buru.
Meysa yang tengah menyeruput jusnya. Langsung bangkit dari kursinya.
"Mau kemana?" Tanya Nico yang melihat meysa hendak mau pergi.
"Ke toilet" Balas Meysa tanpa menoleh.
"Ngapain?" Tanya lagi Nico yang penasaran.
"Gausah kepo"
__ADS_1