
"Alhamdulillah sudah mulai membaik, ta-pi keadaan janinnya mohon maaf kami sudah berusaha mungkin, untuk keadaan si bayi gak bisa kami selamatkan. Bayinya sudah meninggal di dalam kandungan" Ujar Dokter Lea dengan raut wajah terlihat sendu.
Renaldy yang mendengarnya seketika, kakinya terasa lemas. Ia gak nyangka anaknya bakal secepat itu meninggal dunia.
"Dokter bohong kan?" Mulut Renaldy terlihat bergetar, saat mengatakan itu.
Dokter itu mengeleng kepalanya. "Saya tidak berbohong memang itu kenyataannya. Si bayi sudah meninggal di dalam kandungan ibunya" Balas Dokter Lea dengan raut wajah terlihat serius.
Renaldy langsung mengeleng kepalanya, kaki yang menopang tubuhnya, kini dirinya sudah terduduk di lantai rumah sakit yang dingin.
Papi Devan yang melihatnya, berusaha menenangkan putranya.
"Al kamu harus yang sabar, ini mungkin bukan belum rezeki mu untuk menjadi ayah, jadi harus ikhlas ya" Ucap Papi Devan seraya mengusap bahu putranya, yang terduduk lemas di lantai. Mendengar kata dokter, seakan dunia ini terasa runtuh baginya.
"Gak Papi, ini mungkin semua gara-gara Al yang gak becus jadi suami. Makannya gara Al, darah daging Al telah tiada" Sesal Renaldy paling terdalam seraya meneteskan air mata.
Mommy Liona yang melihatnya, seakan tidak tega dengan kondisi putranya yang sangat kehilangan, anak pertama mereka.
Papi Devan mendekap tubuh putranya, dalam pelukannya seraya mengeleng kepalanya.
"Enggak Al, ini bukan salah kamu. Ini semua sudah takdir jadi kamu harus ikhlas, biar anak kamu tenang di alam sana" Papi Devan mengusap punggung putra nya dengan berkata demikian. Ia pun melerai pelukannya menatap wajah putranya.
"Andai Al jadi suami siaga semua ini gak bakal terjadi Pi" Lirih Renaldy yang tidak mendengar perkataan Papi Devan untuk mengikhlaskan kepergian anaknya, malah menyalahkan dirinya atas semua kejadian yang telah terjadi.
Papi Devan mengehela nafas pelan. "Sudahlah Al kamu harus menerima kenyataan, jangan salahkan diri mu atas semua kejadian ini. Lebih baik kamu perbaiki dirimu sendiri.
Renaldy pun berdiri dan berjalan menuju ke tempat anaknya, yang sudah terbaring tak bernyawa.
Pria itu tersenyum dengan air matanya mengalir, melihat anaknya yang berjenis kelamin laki-laki, yang telah terbentuk sempurna dengan tubuh mungil sangat kecil.
"Maafin ayah ya nak"
__ADS_1
Setelah usai mengurus pemakaman Renaldy kembali kerumah sakit. Untuk mengurus istrinya yang masih terbaring lemah.
Ia pun menggenggam tangan istrinya. Yang masih menutup matanya. Dan mencium tangan tersebut.
"Cepat sembuh ya" Ucap Renaldy dengan nada berbisik. Matanya pun teralih menatap perut istrinya yang tidak membuncit lagi.
Renaldy pun menghela nafas berat. Lalu ia menyadarkan dirinya di kursi. Tiba-tiba saja ada pergerakan dari istrinya. Luziana membuka kelopak matanya pelan.
Matanya pun berhenti menatap suaminya, yang kini tengah menatapnya.
"Aku dimana?" Tanya Luziana parau.
"Di rawat inap VIP" Ujar Renaldy seraya mengambil air minum di atas nakas. Pria itu pun menyodorkan air tersebut. Dan membantu istrinya itu minum.
__ADS_1
Selesai minum Luziana menatap perutnya yang dah rata. Renaldy yang melihat pandangan istrinya tersenyum miris.
"Dia sudah gak ada lagi" Ujar Renaldy yang tahu maksud dari tatapan Luziana. Luziana pun mengangguk kepalanya samar. Renaldy yang melihatnya, seperti tidak ada sorot mata penyesalan dari mata istrinya. Membuat Renaldy tersenyum getir dengan sikap istrinya.
Luziana pun menghela nafas panjang. "Kamu boleh pulang, saya disini bisa jaga saya sendiri" Ujar Luziana mengusir suaminya secara halus.
Renaldy mendengarnya tersenyum tipis. "Bisakah kamu menurunkan ego mu untuk sekali ini aja" Ucap Renaldy dengan tenang.
"Gak bisa, kamu itu sekarang kamu itu dah bebas, jadi gausah merasa terbebani lagi" Balas Luziana membuat Renaldy mendengarnya muak.
"Bebas? kamu itu masih status sah istri saya Luziana. Saya sedikitpun tidak merasa terbebani seperti kamu pikirkan" Jelas Renaldy dengan raut wajah terlihat serius.
"Yaudah kita akhiri aja status ni" Ketus Luziana membuat Renaldy naik pitam.
"Cukup! Luziana. Kamu pikir pernikahan itu cuman permainan doang, begitu hah. Dengan seenaknya memutuskan hubungan. Kamu ini apasih anak kita baru saja meninggal, dan kamu malah memikirkan argh" Renaldy mengacak rambutnya frustasi memilih tidak melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
Luziana menatap kesedihan terdalam pada suaminya. Tapi rasa kasih sayang itu dia buang-buang jauh. Sekarang ia memang memantapkan dirinya untuk tidak melanjutkan lagi rumah tangga ini.