
"Lepaskan pisau itu Luziana!" Pinta Renaldy dengan nada lembut. Dagunya terkena pisau itu, masih mengeluarkan darah walaupun tidak banyak.
Luziana pun tetap mengeleng kepalanya pelan, bahwa ia enggan akan melepaskan pisau itu. "Aku gak mau" Tegas Luziana yang keras kepala.
"Terus mau mu apa, hm?" Tanya Renaldy dengan nada bicara yang masih sama.
Luziana menatap nanar suaminya, air mata pun terus mengalir dari matanya. "Aku mau kita bercerai.."
Semua yang mendengarnya, menjadi diam dan hening.
Renaldy mengeleng kepalanya. "Enggak akan, walaupun kamu minta seribu kali, saya gak akan menceraikan mu, kenapa mu seperti ini Luziana apa yang membuat mu seperti ini. Yang ingin kamu bunuh itu anak kita, dimana sifat ke ibuan kamu" Ujar Renaldy dengan nad tegas.
"Kamu tanya kenapa saya seperti ini?" Luziana menaikkan alisnya menatap suaminya yang juga menatap dirinya.
"Itu karena kamu sendiri! kalian cuman hanya menginginkan anak ini kemudian menelantarkan aku. Lagipula aku tuh selalu gak di anggap di mata kalian, aku tuh cuman menantu yang beban, cuman wanita miskin, yang nikah cuman memanfaatkan harta mu doang. Bukan seperti wanita yang kalian ingin kan, yang berkarir, dan dari keluarga terpandang kemudian kaya raya. Kamu itu sebenarnya malu kan punya istri kayak saya, malu kan. Kamu pikir saya mau nikah sama kamu, tidak pernah berkeinginan untuk menikah dengan mu Renaldy, saya hanya di paksa oleh orang tua, hanya untuk menembus hutang-hutang orang tua saya dengan keluarga mu" Ujar Luziana mengeluarkan unek-unek yang dia pendam sejak dulu.
Mommy Liona yang mendengarnya, hatinya merasa tersentil. Dia gak tahu bahwa Luziana tersinggung dengan teman arisan nya itu, merasa kalau Luziana itu bukan menantu yang bisa di bangga-banggakan.
Sementara Papi Devan ambigu, dengan perkataan menantunya tentang hutang? perasaan temannya itu tidak ada hutang dengannya. Dan Meysa berada di situ juga merasa biasa saja. Begitu dengan Langit hanya mampu diam.
Luziana menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya kembali. "Dan satu lagi kamu pikir saya sanggup menjalani sebuah pernikahan seperti ini, dengan umur saya masih 17 tahun. Yang seharusnya aku tuh masih sekolah bukan mengurus suami ataupun anak seperti ini, jadi aku sekarang berhak memutuskan apa yang aku mau" Tukas Luziana, lebih baik di bully di sekolah harus menjalani pernikahan yang membuat dia gila seperti ini. Di sekolah pun masih mending sekedar di hina doang. Daripada menikah, gak di anggap jadi menantu, di jadiin babu, pokoknya lebih daripada sekedar hina.
Luziana musuhan sama Meysa, gak parah sekali. Parah pun setelah Luziana menikah dengan Renaldy. Jadi Meysa gak terima, kalau Luziana itu jadi kakak iparnya.
"Dengan cara membunuh anak mu sendiri" Emosi Renaldy dan berusaha untuk tenang.
"Iya.." Balas Luziana dan segera melakukan hal nekat itu. Tiba-tiba papa haris pun datang, sebenarnya Papa Haris itu datang karena di panggil Renaldy untuk menemui nya. Tapi melihat hal itu Papa Haris tak kalah terkejut melihat putri sulungnya melakukan itu.
Renaldy pun memengang pisau tajam itu. Darah dari telapak tangannya pun mengalir.
"Luziana Papi akan bakal turutin apa yang kamu mau nak! tapi jangan melakukan itu" Ujar Papi Devan dengan nada memohon. Tapi Luziana tidak mengindahkan perkataan memohon mertuanya itu.
Meysa yang menyaksikan nya membuang mukanya, tak sanggup menyaksikan itu. Membuat nya teringat kembali kejadian yang telah menimpanya.
"Dia gak bersalah, yang bersalah aku jadi yang seharusnya kamu bunuh itu saya" Ucap Renaldy dengan menahan rasa sakit di telapak tangan nya. Luziana yang mendengarnya, mencoba menarik pisau nya yang tempat tajamnya di pengang oleh suaminya.
"Yaudah kalau itu kamu mau mu, kamu juga bakal ku bunuh" Ancam Luziana, yang biasa nya di katakan lemah, kini lebih dari kata lemah.
"Luziana apa yang kamu lakukan.." Suara lantang Papa Haris sangat terdengar, membuat semua pandang menoleh ke arah sumber suara lantang itu.
"Papa jangan mendekat kalau gak anak di dalam kandungan ku bakal ku bunuh" Ancam Luziana yang melihat Papanya makin mendekat padanya. Luziana yang melihatnya makin mendekat, berusaha menarik pisau yang di tangan suaminya. Namun nihil.
Luziana pun jadi kalang kabut. "Tolong kamu lepaskan ini pisau" Ucap Luziana yang berusaha menarik pisau itu. Luziana seakan gak mau melepaskan itu pisau.
Papa Haris yang udah dekat, segera menahan tubuh anaknya dari belakang.
"Papa jangan lakukan itu, jangan" Pinta Renaldy. Tapi Papa Haris tetap melakukan nya.
"Cepat panggil dokter.." Titah Papa Haris yang sudah memengang kedua tangan anaknya dari belakang. Luziana pun berusaha berontak sekuat tenaga nya. Langit yang mendengarnya, langsung memanggil kan dokter begitu juga dengan Papi Devan.
"Papa lepaskan Luziana" Ucap Luziana dengan tangisan seraya memberontak. Sementara Renaldy menahan sakit di tangannya.
"Apa yang kamu lakukan Luziana, kamu ingin bunuh suami mu sendiri" Marah Papa Haris.
"Lakukan ini semua gara-gara Papa yang menyuruh Luziana menikah muda, Luziana pengen balik lagi seperti semula bukan seperti ini" Teriak histeris Luziana.
Papa Haris yang mendengarnya mencebik kesal. "Hentikan Omongan kosong mu, Kau gak malu apa? kamu sekarang mancam anak stress, lihat semua orang memperhatikan kamu" Papa haris tersenyum miring menatap anaknya sembari menahan ke-dua tangan anaknya.
Ya betul semua orang melihatnya, dan menjadi bahan tontonan. Mommy Liona yang berada di situ pun menutup mukanya dengan sebelah tangannya. Dokter pun datang dari kerumunan ramai itu, Luziana yang melihatnya pun kembali memberontak dan membuat dagu Papa Haris terkena benturan kepala Luziana.
__ADS_1
Dan tanpa sengaja papa haris mendorong putrinya ke dinding. Alhasil kepala Luziana kebentur ke dinding itu sangat keras. Pandangan mata Luziana pun menghitam dan berakhir pingsan.
Renaldy melihat nya pun segera menolong istrinya yang tak sadarkan diri dengan tangan nya masih banyak mengeluarkan darah.
"Sayang.." Renaldy pun menepuk istrinya pelan.
Dokter yang datang pun terkejut melihatnya. "Tuan tolong bawa istri nya ke ruang operasi sekarang juga" Titah Dokter Lea yang merupakan dokter kandungan. Karena dokter tersebut melihat banyak merembes keluar darah ************ Luziana.
Renaldy pun juga melihat nya segera mengangkat tubuh istrinya.
"Saya tidak bisa menyelamatkan keduanya dari salah satu mereka harus di lerakan" Ucap dokter Lea. Karena kondisi kandungan Luziana tidak bisa di selamatkan dan harus pilih antara anak dan ibu.
"Maksud dokter?" Tanya Renaldy dengan emosi bergemuruh.
Dokter Lea pun menghela nafas panjang. "Kalian pilih antara nyawa mana yang ingin tuan selamatkan ibu atau anaknya. Karena kondisi kandungan nona Luziana tidak bisa memungkinkannya menyelamatkan keduanya" Ujar dokter Lea.
"Gak mungkin? dokter bilang. Saya ingin anda menyelamatkan keduanya, bukan salah satu" Tegas Renaldy dengan emosi.
"Tidak bisa, akan berakibat fatal nantinya" Balas Dokter Lea. Renaldy pun menarik nafas dalam-dalam, menahan sesak yang begitu saja menerjang dadanya, mendengar perkataan dokter tersebut.
"Baiklah silahkan tanda tangan berkas ini" Pinta dokter Lea seraya menyerahkan berkas itu.
"Tidak, saya ingin dokter menyelamatkan anaknya?" Celetuk Papa Haris. Semua pun mata menoleh ke arahnya.
"Haris, apa maksud mu?" Tanya Papi Devan ambigu kepada temannya, yang sekarang sudah jadi besan.
"Ya aku bilang dokter selamatkan anaknya aja" Tukas Papa Haris dengan tampang tak berdosa.
"Gila kau ris! kau tidak memikirkan nyawa anak mu" Papi Devan menatap tak percaya temannya itu. Papa Haris tidak mengindahkan perkataan temannya itu. Dan menarik kasar berkas itu dari tangan menantunya.
"Biar saya aja yang tanda tangan" Ucap Papa Haris. Namun langsung di ambil balik oleh Renaldy.
__ADS_1
"Enggak, saya ingin dokter menyelamatkan istri saya" Ujar Renaldy seraya mau tanda tangan berkas tersebut.
Papa Haris langsung menyobek berkas tersebut.
"Kau tidak berhak menentukan pilihannya, karena kau anak saya jadi begini" Papa Haris menunjukkan jari telunjuknya ke arah menantunya.
"Anak saya? bukannya anda juga ikut turut bersalah disini. Terus Renaldy berhak dong menentukan pilihannya karena dia itu suaminya" Celetuk Mommy Liona yang tidak terima anaknya di salahkan atas semua kejadian ini.
"Tapi saya lebih berhak karena dia putri saya" Papa Haris tampak gak mau kalah. Dia lebih memilih menyelamatkan cucunya dari pada anaknya sendiri.
"Haris, jangan kau memperdebatkan hal tidak seharusnya. Di dalam ruangan operasi itu ada seseorang yang harus segera di selamatkan nyawanya" Ujar Papi Devan.
"Ya aku tahu Dev, tapi aku ingin cucu ku yang di selamatkan" Ucap Papa Haris, membuat semua orang melongo.
"Iya tapi kalau di selamatkan percuma! dia masih lima bulan di kandungan anak mu, gak mungkin kalau dia selamatkan bahkan bertahan, kan" Mommy Liona sudah mulai kesal dengan jalan pikiran Papanya Luziana.
"Bisa saja tapi kemungkinan kecil, karena kandungan Luziana sudah enam bulan" Timpal Dokter Lea.
"Sama aja itu!" Balas Mommy Liona. Berlama berdebat akhirnya Papa Haris pun memutuskan anaknya yang di selamatkan.
Operasi pun di mulai. Sementara Meysa sudah kembali ke rawat inap VIP nya sedari tadi.
...----------------...
follow Instagram author: maulyy\_05.
Bimbang, kayaknya sad ending aj deh. Ada yang minta gitu soalnya 🤫♥️
Jangan lupa dukunganya.
__ADS_1
Bantuin naikin rating author balik ya, siapa tahu berubah pikiran :)