Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Naik kora-kora


__ADS_3

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai. Yang di yakini pasar malam.


Luziana yang sudah keluar dari mobil, menatap takjub tempat itu. Kemudian di lihat ada beberapa wahana. Renaldy yang sudah memarkirkan mobil mewahnya. Berjalan masuk ke pasar malam itu, lalu di ikuti oleh Luziana dari belakang.


"Wah... imut sekali hamster nya" Seru Luziana melihat hewan yang kayak hampir sejenis tikus tapi bukan tikus. Puas melihat hamster, ia pun berjalan mendekati yang menurut di matanya bagus. Sementara Renaldy hanya diam saja sembari mengikuti istrinya itu.


Beberapa menit sudah berkeliling, Renaldy mulai jengah sama istrinya. "Kalau kau ingin beli-beli saja! gausah di pikirin harganya. Biar saya bayar" Ujar Renaldy yang berdiri di belakang istrinya.


"Benarkah" Tanya Luziana memastikan dengan mata berbinar-binar. Renaldy mengangguk kepalanya mengiyakan.


Dengan jawaban anggukan kepala dari suaminya membuat Luziana makin senang, gimana gak senang coba. Ada yang bayarin, apalagi di pasar malam itu ada banyak sekali jualan yang menurut di mata Luziana sangat bagus, rasanya ingin kita memborong semuanya, tapi terhalang biaya. Tapi sekarang sudah ada yang suaminya bayarin, jadi gausah pikirin seberapa uang yang terkeluarkan. Luziana pun kembali berjalan. Renaldy hanya menghela nafas panjang, melihat istrinya kayak tidak ada capeknya berjalan. Apalagi tempat itu sangat mendesak sekali. Karena ramai orang.


"Lebih baik kau tidak usah membeli hewan, nantik kau gak akan sanggup mengurusnya" Ucap Renaldy dengan datar menatap istrinya yang sedang berjongkok melihat ayam Teletubbies. Bukan Renaldy melarangnya, ia cuman malas nantik hewan itu terbengkalai sendiri kalau bosen. Kan kasian hewan itu di pelihara tapi di biarkan begitu saja. Lebih baik beli hal yang di perlukan saja.


Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan. Lagipun ia hanya cuman pengen lihat ayam yang berwarna warni itu saja. Luziana pun kembali berjalan, tapi dengan Renaldy menggenggam tangannya.


Luziana melihat suaminya yang menggenggam tangannya mengerutkan dahinya heran.


"Saya cuman tidak ingin kita terpisah, bakal ribet carinya dengan orang ramai seperti ini" Ucap Renaldy yang melihat kerutan bingung di dahi Luziana. Luziana pun ber'oh ria saja sebagai jawaban.


Kini mereka sudah di depan gerobak Es krim. Renaldy menatap istrinya yang bingung menatap sekitar.


"Adakah yang kau ingin beli" Tanya Renaldy dingin. Luziana menoleh menatap suaminya, lalu mengeleng kepalanya.


Suara helaan nafas berat terdengar dari mulut Renaldy, jujur baginya lebih enak pergi sama adik ketimbang istrinya. Karena apa? uang terkuras habis gak papa kalau dengan Meysa ketimbang sama istrinya. Muter-muter beberapa kali tapi gak tau beli apa.


"Beli dua cup Es krim satu rasa coklat satu lagi-" Renaldy menatap istrinya yang hanya diam berdiri.


"Kau pengen rasa apa" Tanya Renaldy seraya menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Emang ada rasa apa saja" Tanya balik Luziana. Ia pun berjalan mendekati gerobak Es krim itu dan melihat menunya.


"Aku gak tahu pengen rasa apa, rasa apa-apa aja deh" Balas Luziana seraya menatap wajah datar suaminya.


"Kayaknya perempuan paling ribet cuman hanya kau" Gumam Renaldy.


"Hah! tadi kamu bilang apa?" Tanya Luziana yang terdengar suara samar suaminya.


"Tidak ada apa-apa" Balas Renaldy singkat.


Bapak gerobak itu tersenyum melihat dua pasangan yang terlihat serasi di matanya. Ia pun membuatkan es krim rasa coklat dan rasa strawberry.


"Hmmm.. es krimnya enak banget terus cup nya imut lagi" Ujar Luziana sembari menyuapi es krim ke dalam mulutnya. Gimana gak enak coba, harga es krim yang mereka beli dua puluh ribu satu. Tapi bagi seorang kaya raya seperti Renaldy harga seperti itu bukan apa-apanya.


Luziana menatap ayunan besar seperti perahu lalu bisa naik rame-rame itu. "Gimana kita naik itu," Ajak Luziana kepada suaminya, kayak ngajak teman bukan kayak ngajak suami.


"Lebih baik gausah kau gak akan sanggup menaikinya" Mendengar jawaban suaminya muka Luziana jadi sendu.


"Gak sanggup kayak gimana, aku sanggup kok! tinggal naik terus duduk doang kan" Balas Luziana dengan raut wajah istri nya.


Renaldy mendengar ucapan istrinya, mendesah berat. Bukan itu maksudnya. Tapi naik itu rasanya kayak terbang, mental yang gak kuat bakal cepat minta pengen turun. Kora-kora itu lagi pun bakal lama berhentinya. Kalau bukan waktunya berhenti. Dan efek sampingnya kepala terasa pusing. Renaldy gak ingin hal itu terjadi.


Luziana dengan wajah memelas, dan memohon beberapa kali. Renaldy pun mengizinkannya.


"Beli tiketnya satu" Ucap Renaldy datar pada orang yang bagian pengang tiket. Orang itu pun mengasih tiketnya lalu Renaldy membayarnya.


"Kok cuman satu tiketnya? kamu gak naik" Lontar pertanyaan dari Luziana yang melihat suaminya hanya beli satu tiket. Renaldy hanya diam kembali dengan ekspresi datarnya.


"Yuk... kak Al naik juga masa cuma aku sendiri yang naik. Pergi berdua naik juga harus berdua" Seru Luziana. Tanpa izin suaminya perempuan itu pun membeli satu tiket lagi.

__ADS_1


Dah saat lah mereka berdua naik kora-kora. Ayunan pertama kora-kora pertama terasa pelan.


"Woo.. Seru banget." Seru para orang yang naik kora-kora itu. Renaldy yang mendengarnya tersenyum Smirk, ini baru permulaan lama-lama.


"Mama takut..." Teriak histeris sebagian orang terutama khusus kaum wanita. Luziana pun ikut turut takut ia menggenggam lengan berotot suaminya sembari memejamkan matanya. Dia sudah ucap istighfar dari tadi, naik itu rasanya kayak kita benar-benar terbang.


Renaldy hanya diam duduk santai. Ini permainan udah zaman baginya. Karena waktu remaja dia juga sering naik begituan dengan Meysa. Kalau di tanya Meysa takut apa enggak. Jawabannya enggak, bagi Meysa itu hanya ayunan biasa saja.


Saat ayunan itu ingin meninggi Luziana berteriak. "Aaa.. pengen turun"


*


*


*


Luziana sedari tadi terus menerus mual kemudian muntah. Perempuan itu kepalanya benar-benar pusing setelah lepas naik kora-kora itu. Dengan sabar Renaldy meminjit tengkuk leher Luziana.


Setelah terasa rasa mualnya sedikit hilang. Renaldy menyodorkan sebuah botol Aqua dan minyak kayu putih.


Luziana pun menerimanya, lalu meneguk minuman itu setengah. Kemudian menaruh minyak kayu putih di pelipisnya.


Renaldy melirik arloji mewahnya. "Sudah pukul sepuluh malam, yuk kita pulang" Ucap Renaldy datar.


"Kok cepat banget pulangnya, makan bakso dulu yuk" Baru selesai muntah saja kayaknya gak membuat Luziana berhenti. Bagi Luziana kayaknya kurang Afdhal kalau gak makan bakso dulu. Apalagi bakso itu makan favoritnya. Dengan tetap samanya Renaldy terpaksa mengiyakan saja.


Di tempat lain. Meysa sedang menangis tersedu-sedu.


"Kenapa Mommy gak bangunin Meysa" Ucapnya dengan kesal sembari menangis tersedu-sedu. Perasaan sedih, kesal, marah, tercampur jadi satu. Gak tau mendeskripsikan kayak gimana lagi. Meysa betul-betul sangat marah.

__ADS_1


__ADS_2