
Sebelum kejadian. Renaldy yang selesai shalat sudah beberapa jam lalu, kini berjalan melangkah menuju ke rawat inap VIP adiknya seraya membawa kresek yang berisi mancam buah-buahan, sesuai perintah Mommy Liona.
Sementara Meysa yang di dalam rawat inap VIP nampak tidak mood, karena langit menemui dirinya hanya untuk membicarakan tentang, cowok yang berusaha membunuhnya.
"Vian ingin bertemu Lo sebelum dia, di sidang nanti" Jelas Langit dengan raut wajah datarnya. Dia baru saja kemarin, pergi ke penjara untuk menemui Vian. Cowok itu menemui Vian hanya ingin menanyakan, mengapa ia tega melakukan itu ke Meysa. Sayangnya Vian tidak menggubrisnya, malah meminta satu keinginan terakhirnya, ia ingin bertemu dengan Meysa.
Meysa yang mendengarnya mencebik kesal, Langit tetap bersikukuh bilang bahwa ingin bertemu dengan nya "Gue tetap gak mau ketemu, mau dia mati kek, apa gitu. Aku tetap tidak mau bertemu dia lagi" Tegas Meysa yang tidak mau di gugat.
Langit yang mendengar penuturan Meysa hanya bisa menghela nafas pelan. Ia pun memilih mengalah saja.
"Baiklah kalau begitu.." Tukas langit mengakhiri.
"Kalau boleh tahu kakak mu dimana?" Tanya Langit kepada Meysa. Di ruangan rawat inap VIP, itu hanya ada mereka berdua.
"Ya gak tau, mungkin lagi cari istri nya" Meysa mengangkat bahunya acuh. Meysa kurang tahu pasti apa yang telah terjadi, tetapi setahunya kayaknya Luziana menghilang entah kemana.
"Cari istri nya? bukannya Luziana lagi di ruang rawat inap mawar ya?" Ujar langit yang bingung. Padahal dia baru saja bertemu Luziana semalam. Langit masih belum tahu apa yang telah terjadi, kepada keluarga Hervandez.
Renaldy yang hendak menarik handle pintu, mendengar percakapan tersebut. Langsung membuka pintunya. Sontak mereka berdua yang berada di dalam menjadi kaget.
"Kau bisa mengulangi perkataan mu tadi?" Pinta Renaldy dengan raut terlihat serius dengan suara nafas yang terdengar tak beraturan.
"Mengulangi? yang mana tentang Luziana" Sahut Langit dengan ambigu. Dia belum tahu maksud Renaldy itu.
"Iya.." Ucap Renaldy seraya mengangguk kepalanya mengiyakan.
"Luziana lagi di rawat di ruang mawar, di lantai dua" Ujar langit seadanya.
Renaldy yang mendengarnya, merasa bingung kok bisa istrinya ada di rumah sakit ini. Tapi rasa penasaran itu segara ia tepiskan, yang penting dirinya bisa bertemu dengan istri nya.
"Kau serius, tidak berbohong kan dengan saya" Tanya Renaldy memastikan dengan suara nada nya terdengar berat.
Langit pun menelan saliva-nya, melihat kakak sepupunya itu. Yang begitu mengerikan di matanya.
"Iya saya serius tidak berbohong, baru saja semalam ketemu dengannya" Balas Langit dengan pasti. Renaldy yang melihatnya, tidak ada tersirat kebohongan dalam cowok itu.
Dengan langkah lebar Renaldy pun pergi meninggalkan ruang rawat inap VIP Meysa, dan pergi menuju keruangan rawat inap istrinya.
Saat sudah berada di lantai dua, Renaldy pun bertanya kepada perawat yang berada di sana.
"Bisa kah kalian kasih tahu saya, dimana ruang rawat inap mawar?" Pinta Renaldy dengan ekspresi wajah datar. Para perawat yang di pinta itu bukannya menjawab, tapi tampak terlihat kagum melihat, ketampanan Renaldy yang begitu menggoda bagi kaum hawa.
Melihat tidak ada respon dari perawat itu, Renaldy pun mengulangi lagi perkataannya.
__ADS_1
"Bisa kah kalian kasih tahu saya, dimana ruang rawat inap mawar" Suara Renaldy terdengar begitu lantang membuat perawat rumah sakit Medika itu jadi gegelapan.
"Bi- sa tuan tinggal lurus saja kemudian belok kiri" Sahut perawat itu dengan perasaan gugupnya. Renaldy pun mengangguk kepalanya cepat.
"Terimakasih"
"Ah sama-sama" Salting para perawat tersebut.
Renaldy yang sedang ingin menghampiri istrinya, yang selama ini ia mencari. Kini memelankan langkah nya saat sudah melihat pintu yang tertera tulisan mawar. Tiba saja jantung berdetak secara tak beraturan.
Sedih, terharu, bahagia mencampur aduk menjadi satu. Renaldy pun mengapai handle pintu nya dan membukanya. Pandangannya mengedar mencari istri berada di ranjang mana. Karena satu rawat inap itu terisi empat ranjang pasien. Kini yang menempati hanya dua, selebihnya kosong. Satu ranjang terlihat jelas pasiennya siapa. Dan tinggal satu ranjang pasien lagi yang tertutup oleh tirai.
Tangan Renaldy pun terulur menarik tirai tersebut. Sedikit demi sedikit pun terlihat siapa yang berada di ranjang pasien tersebut. Namun sayangnya membelakangi. Meskipun begitu Renaldy tahu siapa pemilik punggung tersebut.
Luziana yang hendak ingin memotong nadinya, seketika mengurungkan niat itu. Saat mendengar suara seseorang yang sedang menarik tirai nya. Rasa penasaran pun menghantui nya, ia pun segera menoleh kebelakang nya. Mata Luziana membulat sempurna siapa orang itu.
Renaldy melihat jelas wajah itu, yang dulu putih bersinar. Kini wajahnya memucat pasih, dan mata yang terlihat basah. Renaldy pun menghamburkan pelukan ke tubuh istrinya.
"Ma- af maaf kan saya" Air mata Renaldy langsung luruh. Ia sangat merindukan wanita yang ia peluk kini. Sedangkan Luziana hanya diam membisu, ntah kenapa dirinya terasa hangat di peluk oleh pria itu. Bahunya pun terasa basah, oleh air mata Renaldy.
Renaldy pun mengurai pelukannya, tangan pun terulur memegang pipi istrinya. Mata Luziana yang tadi menunduk, kini mata cantiknya menatap wajah suaminya.
"Mas sangat kangen sama kamu sayang, kenapa kamu pergi gak bilang ke mas kenapa?" Renaldy melemparkan sebuah pertanyaan terhadap istrinya. Namun yang di tanya bukan menjawab, malah sebaliknya.
"Kamu ngapain disini, bukannya kamu tidak peduli dengan ku lagi" Lirih Luziana seraya menepis tangan suaminya yang memengang pipinya. Renaldy yang mendengar perkataan itu.
Renaldy mengeleng kepalanya pelan. "Mas peduli kok sama kamu, soal kemarin mas cuman terbawa emosi" Sahut Renaldy yang biasa suaranya tegas, lantang, kini terdengar pelan.
Luziana tersenyum getir. "Bohong!" Sarkas perempuan itu dengan nada sedikit di tinggikan.
Renaldy yang mendengar nada bicara istrinya, menatap netra bola mata coklat istrinya. "Saya gak bohong, kemarin itu-" belum Renaldy selesai perkataannya Luziana langsung memotong nya.
"Lebih baik kamu pergi dari sini! aku sudah gak ingin melihat wajah kamu lagi di hadapan aku" Potong Luziana seraya tersenyum getir. Matanya pun sudah mulai mengembun.
Renaldy terhenyak, mendengarnya. "Saya gak akan pergi apalagi meninggalkan kamu" Tukas Renaldy yang tak mau di gugat. Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan sebelum melanjutkan perkataannya.
"Mas itu sayang banget sama kamu Luziana" Lanjut Renaldy tidak menyiratkan kebohongan dalam dirinya.
"Cukup! jangan sekali lagi kamu mengeluarkan kata-kata yang menjijikan itu lagi" Dengan sorot mata yang tajam Luziana menatap suaminya dengan rasa tak ada takut sedikitpun.
"Lebih baik kamu pergi dari hadapan saya" Cukup sudah Luziana terluka, dalam pernikahan ini. Ia ingin memilih mengakhiri saja. Dan perempuan mana yang bertahan dengan pernikahan seperti itu.
Renaldy menatap istrinya tak percaya. "Enggak! saya gak akan pergi!" Dengan suara lantang Renaldy mengatakan itu. Ia pun mendudukkan dirinya di kursi yang tepat berada di depan istrinya.
__ADS_1
Kedua ujung bibir Luziana naik, mengukir senyuman tipis. "Kamu kenapa selalu aja keras kepala" Pisau yang Luziana niat kan untuk memotong nadinya tadi, kini ia ambil kembali yang memang sengaja, Luziana simpan di bawah bantalnya.
Renaldy yang sedang fokus dengan lantai, mengerutkan dahinya heran. Melihat kue bolu yang berserakan di lantai tersebut. Pandangannya pun kembali menatap istrinya.
Mata Renaldy langsung membelalakkan, melihat istrinya yang memengang pisau yang ingin ia tancap ke dalam perutnya, yang pasti ada darah daging nya yang sedang bertumbuh kembang dalam rahim Luziana.
Dengan sigap Renaldy menahan pisau tersebut.
"Apa yang kau lakukan? apa kamu sudah gila" Ucap Renaldy tatapan tidak percaya, Luziana akan melakukan itu terhadap janinnya.
"Iya saya memang sudah gila! kamu balik lagi hanya cuman bertanggungjawab atas anak ini kan, jadi anak ini harus mati, biar hubungan kita berakhir" Luziana berusaha mengerakkan pisau nya untuk menancap di perutnya. Sementara Renaldy menahan keras pisau tersebut.
Hingga lah Renaldy, dagunya terkena ujung pisau. Dan mengeluarkan darah segar. Tapi itu cuman hal sepele, yang penting bagaimana melepaskan pisau itu dari tangan istrinya. Luziana bangkit dari ranjangnya dan berjalan mundur.
"Kalau kamu mendekat anak ini bakal mati" Ancam Luziana yang gak main-main.
Renaldy yang mendengarnya, terhenyak.
"Tolong jangan kamu lakuin itu luziana, apakah kamu gak peduli dengan anak kita" Ujar Renaldy dengan melangkah mendekati istrinya.
Papi Devan yang baru mengetahui kalau Renaldy sudah tahu keberadaan istrinya, langsung menghampiri ke ruang rawat inap mawar. Dan pas Papi Devan nyampai langsung di buat kaget, menyaksikan menantunya memengang pisau dan mengarah perut nya sendiri.
"Luziana ngapain kamu pengang pisau seperti itu nak, lepaskan pisau itu" Titah Papi Devan yang terlihat khawatir takut pisau menusuk perut menantunya.
Luziana mengeleng kepalanya pelan. "Enggak Luziana gak bakalan lepasin pisau ini, anak ini harus mati!" Sanggah Luziana yang bersikeras.
Mommy Liona yang baru datang, begitu dengan Meysa, dan Langit. Dibuat kaget juga mendengar perkataan Luziana dan adegan tersebut.
"Kamu gak boleh seperti itu Luziana, dosa. Apalagi dia darah daging mu sendiri, jadi lepaskan pisau itu nak" Ujar Papi Devan membujuk menantunya untuk melepaskan pisau itu yang mengarah perutnya sendiri.
"Biarin! kalian semua itu hanya ingin anak ini kan dan gak pernah mikir perasaan ku" Jawab Luziana dengan begitu lantang. Rasa emosi sedih, kecewa, sudah menguasai dirinya. Boro-boro ingat dosa, ingat tahu siapa dirinya aja gak.
Iblis pun tertawa mendengarnya, di bilang itu dosa. Eh waktu manusia senang aja, adakah itu namanya ingat tuhan? gak ada sama sekali. Lagi dapat musibah sedikit aja dah ngeluh, bilang tuhan itu gak adil. Lantas apalagi seperti Luziana yang sudah kian kali menderita. Kalau orang ingat tuhan, jadi gak mungkin dong banyak bertebaran nama orang bunuh diri.
Ngeluh boleh, menyerah jangan. Setiap manusia pasti ada di titik terendahnya masing-masing. Tapi tergantung macam seperti apa cara kita menangapi nya. Walaupun misalnya kita terasa tidak punya siapa-siapa. Ingat kamu itu gak sendirian masih ada Allah yang selalu senang tiasa berada disisi mu. Bawalah Allah di setiap jalan mu, pasti jalan mu itu akan terasa lebih mudah. Walaupun banyak manusia yang sering melupakannya, tapi Allah tidak pernah melupakan hambanya.
Luziana hanya menuntut keadilan untuk dirinya, sekarang ia hanya ingin berbuat apa dia mau. Bukan lagi namanya di atur oleh kedua orang tuanya.
Bersambung..
...----------------...
Jangan lupa dukunganya 🖤🌝
__ADS_1
Maaf kalau kata motivasinya kurang soalnya gak pandai buat kata motivasi sih, terimakasih 🤗
Gimana nih, endingnya sad aja ya.