
Terlihat Renaldy duduk di kursi tunggu mengeram kesal. Sudah satu hari pun berlalu, tapi belum saja anak buahnya, mendapatkan informasi tentang istri nya. Mata pria itu pun terlihat seperti panda.
Renaldy mengusap wajahnya kasar. Ntah kenapa ia berfirasat kalau istrinya di sembunyikan oleh Papinya. Gak mau terlarut dalam pikirannya, ia pun bangkit dari kursi itu, dan ingin menuju coffe shop.
Selang beberapa menit berjalan. Renaldy sekilas melihat teman Luziana. Renaldy pun memicingkan matanya, apa jelas kalau dia lihat itu teman Luziana.
Sementara Nadia terlihat penampilan seperti baru bangun tidur.
"Hoam.. suster infus teman saya sudah mau habis" Ujar Nadia kepada suster tersebut. Suster itu pun mengangguk kepalanya mengiyakan.
"Ruangan teman kamu, di ruang mana ya?" Tanya suster itu dengan lembut.
"Di ruang mawar," Sahut Nadia lalu di angguki kepala oleh suster tersebut.
"Ngapain dia ada disini? apakah ada saudaranya yang sakit" Gumam Renaldy dalam hati.
"Heih Re..." Seseorang menepuk pundak Renaldy sontak membuat lamunannya pun buyar. Setelah itu ia langsung menoleh di mana suara itu berada. Sorot mata Renaldy berubah menjadi tajam menatap siapa yang menepuk pundak nya tersebut.
"Hehe maaf, aku mau kasih info tentang istri mu Jendral" Ujar Arya seketika raut wajah Renaldy langsung berubah serius.
"Apakah kau sudah menemukan dimana istri ku berada?"
"Mbak jangan banyak stres, kasian calon bayi nya ikut stres karena mamanya stres. Dan pola makan pun harus di jaga" Ujar Dokter kandungan tersebut. Dia kenak jadwal pagi, memeriksa kandungan Luziana.
"Tapi kenapa perut saya sering kram ya, dokter" Dokter kandungan yang bernama Lea itu tampak tersenyum tipis.
"Ya faktor nya itu karena stres, dan pola makan tidak teratur" Balas Dokter Lia dengan lembut.
"Saya singkap dulu ya bajunya" Ucap dokter Lea itu memberi tahu. Luziana pun mengangguk kepalanya mengiyakan.
Dokter Lea pun menaruh gel di perut Luziana, kemudian setelah itu dokter Lea menempel alat transducer di perut pasien nya tersebut. Padangan dokter itu pun fokus dengan layar monitor. Begitu dengan Luziana. Melihat anggota tubuh bayinya yang sudah tumbuh sempurna di dalam rahimnya.
Nadia yang ikut turut melihat, merasa ada beda melihat raut wajah dokter Lea itu tiba-tiba saja datar. Melakukan USG pun selesai, terlihat Nadia yang menanti-nanti penjelasan dokter tersebut.
"Bagaimana dengan kandungan teman saya Dok" Tanya Nadia dengan tiba-tiba. Dokter Lea itu pun menoleh ke arah Nadia.
"Kondisi kandungan Mbak Luziana sangat buruk. Dari tubuh perkembangan yang mulai melambat begitu dengan berat badan nya yang sangat menurun. Dan detak jantung si janin mulai melemah" Ujar Dokter Lea menjelaskan. Luziana yang mendengarnya terhenyak.
"Sudah kondisi seperti itu akan akibat, terjadi apa dokter" Tanya Nadia lagi.
Dokter Lea pun nampak menimbang-nimbang, menjawab nya. Namun ini demi untuk pasien nya agar lebih mau untuk menjaga pola hidupnya. Dokter Lea pun menjawab terus terang.
"Ya bisa mengakibatkan IUFD, yaitu kondisi janin mati dalam kandungan. Tapi untuk mencegah itu tidak terjadi, kita harus menjaga pola makan yang teratur. Minum obat yang telah di anjurkan tepat waktu. Dan banyak istirahat, kemudian jangan memikirkan hal yang tidak berguna, yang ujungnya mengakibatkan jadi stress" Dokter Lea berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Dan yang paling utama dukungan dari keluarga, apalagi suami. Karena menjalani waktu hamil itu gak mudah. Apalagi Nona Luziana umurnya terbilang masih muda. Jadi sangat rentan mengalami keguguran, dan kematian. Jadi kalau boleh tahu suaminya dimana?" Tanya dokter Lea seraya menaikkan alisnya. Dari antara mereka berdua tidak ada yang mau menjawab.
Melihat tidak ada respon, dokter mengakhiri pemeriksaan hari ini.
"Udah gausah terlalu di pikirin, yang penting kamu itu jaga kesehatan aja" Ujar Nadia yang padangan sibuk dengan ponselnya.
Luziana yang mendengarnya tersenyum getir.
"Nadia gimana, janin aku benar-benar di angkat" Ucap Luziana dengan lirih yang ingin tahu seperti respon temannya.
"Lo pikirin apa sih, jangan mikir gitu ah! emang Lo mau janin Lo benar-benar di angkat" Nadia menaikkan alisnya menunggu jawaban dari temannya.
Luziana mengeleng kepalanya cepat.
"Enggak.." Raut wajah Luziana terlihat sendu. Nampak kesedihan yang begitu mendalam.
"Yaudah makanya, lebih baik Lo telepon suami kamu aja deh. Biar dia itu tahu bagaimana kondisi bayi di dalam rahim Lo dan keadaan istrinya mancam gimana sekarang, gara-gara ulah nya. Jangan tahu enak aja, bikin kesel aja itu suami Lo lun, pengen gue geprek jadi ayam goreng" Ucap Nadia dengan kesal.
"Gak mau aku telepon dia" Luziana sudah malas berurusan dengan suaminya. Yang katanya, tidak mau mempedulikan dirinya lagi.
"Kalau gak telepon Mama Lo aja.." Tapi ujungnya sama aja kan. Luziana memilih diam, dan tidak menjawab pendapat temannya.
Nadia yang melihat temannya, tidak ada niat meresponnya. Memutar bola matanya jengah. Tiba saja mata Nadia pun tertuju dengan makanan yang di depan bed Luziana.
"Lo gak makan lun, itu makanannya dah datang" Nadia menunjukan makanannya dengan hari telunjuk nya, yang di atas meja.
Luziana langsung mengeleng kepalanya cepat.
"Aku dah kenyang..." Balas Luziana dengan suara khas seperti orang sakit.
Nadia mengerutkan dahinya. "Perasaan tadi pagi Lo gak ada makan-makan apa deh" Ucap Nadia. Luziana yang mendengarnya, menyengir lebar.
"Namanya aja nasi untuk orang sakit Lun" Nadia menaikkan alisnya menatap temannya yang tersenyum simpul.
"Lo hidup itu gak sendiri, ada janin Lo yang butuh asupan makanan dari Lo, dari emaknya. Kalau Lo gak makan apalagi bayi di kandungan Lo. Dah Lah capek aku jelasin, kamu udah di jelaskan berulangkali sama aja tidak ada respon" Lanjut Nadia lalu ia bangkit dari kursi.
Melihat temannya seperti mau pergi, Luziana pun membuka suara. "Mau kemana kamu Nadia, jangan bilang mau pulang?" Tanya Luziana.
"Iya mau pulang emang kenapa?" Balas Nadia ketus.
"Ih jangan gitu dong, aku tinggal sendiri ini jadinya" Mata Luziana terlihat berkaca-kaca seperti akan mau menangis.
"Gak eh, aku becanda. Kalau aku pergi siapa juga yang jagain Lo selain gue. Aku cuman mau pergi tebus obat dulu, bye" Ucap Nadia lalu berlenggang pergi.
Informasi yang di berikan, sama Arya hanya sedikit. Seperti ada yang membantu menyembunyikan Luziana. Dan itu membuat Renaldy makin kesal. Masa iya istrinya, yang biasa-biasa saja tidak bisa di temukan. Dan cctv yang ada pun seperti ada yang menghapus. Seperti ada orang yang terpengaruh dengan mudah, menghapus jejak.
Yang dalang semua ini adalah memang Papi Devan. Pria paruh baya itu yang awalnya khawatir, kemudian mendapatkan teleponan dari sepupunya dokter Mala. Dan dokter pun Mala menjelaskan apa yang terjadi, kepada Papi Devan. Mengetahui kondisi menantunya, pasti tidak jauh ulahnya adalah putra sulungnya sendiri.
Mengasih pelajaran buat putra sulungnya, dengan menyembunyikan keberadaan menantunya. Biar tahu sejauh mana putranya akan peduli akan istrinya, dan sejauh mana akan kesadaran apa yang telah ia lakukan.
Papi Devan yang awal mengira, putra sulungnya itu tidak peduli. Ternyata belum sejam, Renaldy sudah panik duluan melihat istrinya tidak ada. Dan itu pergi tidak ada izin pamit apa-apa dengannya.
__ADS_1
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka. Semua pandangan menoleh ke arah pintu. Renaldy yang berjalan dengan langkah cepat, mendekati Papinya yang awalnya duduk di sofa kini berdiri melihat putra nya datang.
Tanpa basa-basi, Renaldy langsung mencengkeram kerah kemeja Papinya. Mommy Liona dan Meysa yang melihatnya sontak jadi kaget.
"Papi bisa beritahu dimana istri saya!" Tanya Renaldy dengan rahang mengetat. Hingga terlihat jelas urat nadinya
Papi Devan yang di lontarkan pertanyaan menatap anaknya dengan tatapan tajam.
"Papi sudah bilang, tidak tahu!" Balas Papi Devan tegas dengan berusaha menyingkirkan tangan putranya yang mencengkram kerah kemeja nya. Namun tidak bisa, malah Renaldy makin memperkuat cengkraman nya.
"Jangan sok pura-pura tidak tahu di depan saya! Papi tahu bukan, kalau Renaldy punya kekuasaan tertinggi. Bukan cuman hanya Papi saja, jadi tidak usah pura-pura menutupinya lagi, sekarang beri tahu dimana Luziana. Buat apa Papi menyembunyikan istri Al, bukannya Papi sendiri keinginan menikah kan saya dengan Luziana" Ucap Renaldy dengan tegas. Dari cara bicaranya terdengar sangat formal.
Papi Devan mendengarnya tersenyum meremehkan.
Bugh
Satu bogeman mentah pun mendarat di pipi Renaldy. Yang melihatnya awal memang kaget, kini makin kaget dengan perlakuan Papi Devan. Padahal seumur hidup Renaldy tidak pernah namanya itu di pukul oleh orang tuanya, apalagi dengan Papi Devan. Sejatinya Papi Devan tidak pernah mukul anaknya sendiri, tingkat memarahi anaknya aja jarang. Apalagi memukul.
"Begini kah kau beradab dengan orang tua mu, Al" Ucap Papi Devan dengan suara lantang.
"Papi apa-apaan, gak bisa kah bersikap lebih tenang dengan anak sendiri!" Celetuk Mommy Liona dengan emosi yang menyala dan berjalan mendekati suaminya. Semua pandangan menuju ke arah Mommy Liona.
Sementara Renaldy memengang bibir nya, yang sobek akibat tinju Papa Devan yang bukan main-main. Tapi cuman luka kecil bagi seorang Renaldy.
Devan menatap istrinya, yang emosi nya menyala.
Bersambung
...----------------...
Jangan lupa follow Instagram author yaaaa...
maulyy\_05
__ADS_1