
Walaupun rumah tangga Luziana dan Renaldy semakin memburuk. Luziana tetap berusaha berkomunikasi dengan suaminya seperti tidak terjadi apa-apa.
Kini dia tersenyum lebar melihat Renaldy dengan sudah seragamnya.
"Mas gak ambil cuti aja harini?" Ucap Luziana seraya mengusap perut buncitnya yang makin membesar. Dan itu membuat Luziana sedikit susah berjalan.
Renaldy yang sedang memakai sepatu delta nya, menoleh sejenak ke arah istrinya lalu kembali fokus dengan memakai sepatu nya.
"Mas gak bisa, kamu tahu kan mas harini bakal pulang telat" Balas Renaldy yang sudah selesai memakai sepatu delta nya. Luziana yang mendengarnya mengganguk kepalanya mengiyakan.
"Emang kamu kenapa? minta mas untuk cuti" Tanya Renaldy dengan penuh tanda tanya.
"Gak ada apa-apa sih, cuman pengen mas ambil cuti aja harini. Soalnya dah beberapa hari mas sibuk mulu. Jadi aku kangen aja, pengen mas dirumah seharian tanpa sibuk dengan pekerjaan" Luziana tersenyum tipis saat menjelaskan itu semua. Renaldy yang mendengar perkataan istrinya, mengangguk paham.
"Nanti mas usahakan ambil cuti ya" Ucap Renaldy seraya mengusap kepala istrinya lalu menempel kan bibirnya di dahi istrinya.
Luziana mengangguk. "Kalau emang mas, gak bisa untuk ambil cuti gak papa kok. Lagipun aku dirumah gak sendirian" Sekarang Luziana tidak ingin egois lagi. Dia ingin memperbaiki keluarga kecil nya. Walaupun itu terasa berat.
"Mas pergi kerja dulu ya, bye. Kalau perlu apa-apa telepon mas aja" Ujar Renaldy seraya melambaikan tangannya saat mau masuk ke dalam mobil. Luziana pun ikut melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar. Bahwa Renaldy tahu itu hari terakhir melihat istrinya tersenyum.
Melihat mobil suaminya sudah hilang di telan jalan. Luziana pun masuk kedalam rumahnya. Dia ingin istirahat aja hari ini. Soalnya lagi malas untuk ngapain-ngapain. Saat Luziana di dalam kamar dan mulai terlelap dalam tidurnya. Sebuah suara ketukan pintu mengusik tidur nya. Ia pun terbangun dan berjalan untuk membuka pintu kamarnya.
"Bibi Tuti adaa apa?" Ternyata mengetuk pintu kamarnya adalah bibi Tuti. Tumben sekali pelayan rumahnya mengetuk pintu kamarnya. Pasti ada seseorang ingin menemui dirinya.
"Anu non, maaf menganggu. Di luar ada mencari Non" Seperti dugaan Luziana, kalau ada seseorang yang ingin menemui dirinya.
"Siapa orangnya yang cari saya? Bukan suami saya kan yang di carinya?" Tanya Luziana soalnya semenjak tinggal di rumah baru mereka ini. Baru kali ini ada yang mencari dirinya.
"Dua-duanya non, Nona sama tuan Renaldy yang di cari oleh wanita tersebut" Ujar Bu Tuti menjelaskan.
"Wanita? Siapa orangnya?" Luziana yang mendengarnya nampak kaget, kalau ada seseorang mencari dirinya dan suaminya adalah seorang wanita.
"Dia Mommy tuan non" Cicit pelan Bu Tuti tersebut. Luziana yang mendengarnya, langsung kaget bukan main. Buat apa mommy Liona mencarinya, gak kapok-kapok kah ingin mencelakai dirinya.
"Usir-usir mereka bilang aja tuan Renaldy sama nona Luziana gak ada dirumah. Soalnya mereka tadi pergi gak tahu kemana, gitu aja bilang sama mereka" Ujar Luziana yang di balas anggukan oleh Bu Tuti.
"Baik Nona..." Bu Tuti pun melenggang pergi, dan melakukan sesuai di perintah majikannya.
Luziana yang berada di dalam kamar, menyugar rambut terurai panjang ke belakang. Ntah kenapa perasaan panik mulai menghinggapi dirinya.
"Tenang lun, mereka gak bakal bisa masuk kerumah ini kok. Jadi Lo harus tenang, ingat ada bayi di dalam kandungan kamu yang kamu harus lindungi" Gumam Luziana di dalam hati untuk menenangkan dirinya agar tidak panik. Kalau dia panik akan berpengaruh pada janinnya nanti.
Luziana yang teringat akan ponselnya. Langsung mengambilnya di atas nakas. Namun saat menekan tombol hijau yang tertera mas, Luziana berhenti.
"Ah lebih baik gausah ajalah, nanti dia bakal marah lagi gimana. Masa baru baikan bertengkar lagi" Luziana pun memutuskan tidak menelepon suaminya aja. Ia pun mengitip dari gorden jendela apakah mertuanya itu sudah pergi apa belum.
"Saya gak mau tahu, nelpon majikan kamu itu sekarang! saya ingin ketemu dengan dia" Ketus Mommy Liona yang berkacak pinggang.
"Maaf Bu sudah berkali-kali saya bilang. Nona Luziana dan tuan Renaldy sedang tidak ada di rumah" Balas Bu Tuti yang hampir kewalahan menghadapi sifat mommy Liona yang gak mau ngalah. Sebelum keinginannya terpenuhi.
Meysa yang sudah malas mendengar perdebatan Mommy nya dengan pelayan rumah kakaknya itu. Ia pun mengedarkan pandangannya matanya pun berhenti sebuah jendela. Ia pun berbisik kepada Mommynya. Mommy Liona yang mendengar perkataan anaknya mengangguk kepalanya paham. Mereka pun akhirnya memutuskan pergi. Daripada menunggu dua jam lebih, dan cuaca yang sedang terik.
__ADS_1
Melihat mereka pergi Bu Tuti pun mengehela nafas lega. Begitu juga dengan luziana yang sedang mengintip dari gorden jendela akhirnya bisa tenang, kalau mertuanya itu sudah pergi.
Tapi tak berselang lama. Papi Devan datang kerumahnya. Namun saat ingin menginjak kaki di rumah anaknya sudah di usir duluan oleh satpam yang di jaga pos. Tetapi Papi Devan gak mau nyerah di situ aja dia ingin berusaha masuk. Untuk menemui menantunya itu. Sayangnya usaha itu terbuang sia-sia.
"Saya mohon banget, kalau gak begini saja. Temui saya untuk terakhir kali ini aja. Ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan ke menantu saya" Harap Papi Devan agar di kabulkan.
"Sekali lagi kami bilang gak bisa tuan, silahkan anda pergi dari tempat ini juga" Usir satpam tersebut. Membuat Papi Devan merasa sakit hati mendapatkan perlakuan seperti ini. Pria paruh baya itu pun pergi meninggalkan kediaman putra sulungnya itu.
Luziana yang melihat Papi Devan pergi. Mengehela nafas pelan. Rasa sakit hati mengetahui, mengapa Papi Devan menikahkan anaknya sudah ia tahu. Dan itu tidak membuat Luziana tidak percaya lagi dengan Papi Devan, mertuanya.
Luziana yang berada di dalam kamar, memutuskan untuk tidak tidur. Takutnya mereka datang lagi kerumahnya.
Waktu pun kini beranjak menjadi malam. Mertuanya yang sejak tadi siang itu ada datang kerumahnya, tidak ada datang lagi. Kini Luziana yang sedang menunggu suaminya pulang, merasa jenuh. Apalagi dia merasakan mulas dari perutnya.
"Duhh kenapa perut ku merasa seperti buang air besar. Tapi tidak buang air besar ya" Luziana yang merasakan mulas lagi kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini dia terduduk di lantai dengan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.
"Auww sakit banget, Bibi..." Panggil Luziana seraya memegang perutnya yang terasa sakit.
"Bi..." Panggil Luziana dengan suara yang tertahan oleh rasa sakit. Sudah berulang kali panggil pelayannya itu. Akhirnya pelayannya itu datang.
Dengan raut wajah kaget Bu Tuti melihat Nona nya terduduk di lantai kamar mandi.
"Aduuh bi... Sakit banget" Ringis Luziana kesakitan dengan airmata nya yang mengalir. Gak sanggup menahan rasa sakitnya.
"Aduuh Nona yang kuat ya, kayaknya non mau melahirkan" Bu Tuti pun berusaha membopong tubuh Luziana ke mobil.
Saat di dalam mobil sudah beberapa kali Luziana menjerit kesakitan. Rasa sakitnya itu seperti di luar batas nya. Tapi Bu tuti berusaha memberikan kata semangat kepada Luziana.
Renaldy yang baru keluar meeting dengan penjabat tinggi batalyon tersenyum tipis. Menanggapi ucapan penjabat tinggi batalyon tersebut.
"Sepertinya keadaan di daerah timur su-" Belum selesai berbicara Renaldy sudah mengasih isyarat untuk diam.
"Bentar, saya mau angkat telepon dulu" Ucap Renaldy yang di anggukan kepala oleh para petinggi batalyon.
"Oke silahkan"
Renaldy pun mengangkat telepon dari pelayannya itu yang sudah berulangkali menghubungi dirinya.
__ADS_1
"Halo Bu Tuti..." Bu Tuti yang teleponnya sudah di angkat oleh tuannya merasa lega.
"Assalamualaikum tuan a-nu" Ucap Bu Tuti yang terbata-bata.
"Anu napa bi, coba ngomongnya pelan-pelan" Titah Renaldy. Dan langsung di turuti oleh pelayan tersebut.
"Anu tuan nona Luziana mau melahirkan" Spontan Bu Tuti membuat Renaldy mendengarnya menjadi kaget.
"Apa? Yang bener kamu" Ucap Renaldy dengan tatapan yang menyala di seberang telepon.
"Benar saya tidak berbohong, sekarang aja kami berada rumah Pertamedi-" Belum selesai Bu tuti selesai ngomong ponselnya sudah di ambil oleh Mama Safira.
"Halo menantu ku tersayang, kamu cari anak Tante ya. Kamu tenang aja dia baik-baik aja kok palingan kamu gak bisa lihat anak darah daging mu sendiri lagi. Tolong ya ceraikan anak Tante, saya sudah gak sudi punya menant-"
"Halo Al Mommy gak mau tahu, Mommy gak mau nimang cucu dari keluarga mereka yang ga jelas"
"Apaan kamu dasar telur busuk ngatain keluarga saya ga jelas. Saya lebih gak sudi menimang cucu dari daging putra mu yang brengsek itu"
Lambat laun Renaldy menyesal atas kesalahannya sendiri. Coba saja dia mendengar permintaan istrinya untuk cuti harini.
...----------------...
Sengaja author loncatin biar kalian makin penasaran. Mau nunggu cerita lengkapnya, yah tunggu update selanjutnya 🤗🖤
Cukup komentar yang buruk-buruk, sekian terimakasih.
__ADS_1
Dan sesuai permintaan kalian, membuat Renaldy nyesel.