
3 bulan pun berlalu, Renaldy yang berada depan api unggun yang akan mulai padam. Ia menatap sebuah foto USG istrinya. Senyuman tipis pun terukir di bibirnya.
"Apa kabar, anak ayah di dalam kandungan Buna" Ucap Renaldy menahan sesak yang tiba saja menyeruak di dadanya. Ia sangat merindukan istri tercintanya. Tapi rasa bersalah pun ikut menyertai nya. Yang telah membohongi istrinya itu.
"Maafin, ayah ya. Yang telah membohongi ibu kalian, ayah akan janji supaya bisa cepat pulang. Dan melihat kalian berdua lahir ke dunia"
Pukul jam 12 malam Luziana membuka kedua kelopak matanya, karena merasa ada yang tidak nyaman. Setelah bangun, ia pun memposisikan dirinya untuk duduk di atas kasur. Perempuan itu pun meraba kasur yang terasa basah.
Perempuan itu pun menghela nafas berat.
"Aduuh kenapa harus ngompol lagi" Ngeluh Luziana dengan matanya yang masih terasa ngantuk. Menginjak usia kehamilan Luziana yang kini sudah 7 bulan. Perempuan itu sering kali merasakan buang air kecil.
Dengan rasa malas, ia pun menghidupkan lampu kamar. Kemudian membuka seprai kasurnya. Setelah membuka seprai kasurnya. Luziana pun mengambil seprai baru di lemari. Saat ingin memasangkannya itu terasa sangat berat, karena Luziana harus membungkuk badannya. Dengan perutnya yang sudah menbuncit.
"Susah banget sih pasang seprai kasur doang" Kesal Luziana mengacak rambutnya yang terurai panjang dan acak-acakan. Luziana pun memutuskan membentangkan saja seprainya. Soal pasangkan, besok saja. Menyuruh pelayan rumahnya.
Kalau soal Luziana dah bangun tengah malam. Sudah pasti sulit itu tidur kembali. Sebelum perutnya terisi dengan makanan.
"Buna repot banget hamil kalian" Marah Luziana terhadap bayi terhadap janinnya. Dia pengen makan itu masakin. Tapi sayangnya, tidak ada yang bisa ia minta tolong masakin. Kalau minta, bantuan pelayan rumahnya, Luziana gak enakan. Karena ini pun masih jam 12 malam. Lagipun kamar pelayannya itu jauh banget dari kamarnya.
__ADS_1
Dan kalau gak di masakin gak papa. Minimal di beli saja sudah bisa. Dengan perasaan yang dongkol Luziana melangkah ke dapur. Sebelum melangkah dapur Luziana membuka gorden jendela melihat ada suara berisik dari luar yang bisanya sampai ke kamarnya.
Luziana yang sudah berusaha kali, memicingkan matanya berulang kali. Tetap saja dia tidak berhasil melihat ada apa di luar. Karena jarak pagar begitu jauh, kalau melihat hanya sekedar dari lewat gorden kamarnya.
Luziana yang gak mau ambil, pusing. Mungkin saja para pengawal tersebut lagi bermain sesuatu hingga suaranya sampai kesini. Ia pun melangkah menuju ke dapur.
"Yah ayamnya habis..." Luziana yang sudah berada di dapur dan berniat membuat ayam crispy. Ternyata ayamnya habis. Tangannya yang berada di atas perutnya, ia pun mengusap perutnya buncitnya lalu berujar.
"Gimana sayang ayamnya habis, ayah mu lagi gak ada disini. Jadi gimana?" Tanya Luziana pada janin di rahimnya.
Setelah membuat adonan tepung terigu. Luziana pun menaruh terongnya ke dalam tepung terigu tersebut. Kemudian menggorengnya.
2 menit pun berlalu. Luziana pun selesai memasak terong crispy nya. Dan menyantapnya hingga habis. Setelah merasa kenyang, Luziana pun memutuskan untuk tidur kembali.
Di sebuah di pelabuhan, seorang pria yang akan menjadi calon ayah. Pipinya memanas mendapatkan sebuah tamparan keras dari Papi Devan. Dan iya pria itu adalah Renaldy.
"Gausah hamili anak orang Al, kalau kau tidak bisa bertanggungjawab atas darah daging mu sendiri" Marah Papi Devan yang begitu murka pada putra sulungnya.
Renaldy yang mendengar, perkataan Papi nya yang menurutnya tidak jelas. Tersenyum remeh.
__ADS_1
"Maksud Papi apa? datang kesini marah-marah" Tanya Renaldy dengan tenang. Membuat emosi papi Devan makin membara.
"Kau lihat aja sendiri bagaimana keadaan istri mu bagaimana sekarang" Tukas Papi Devan meninggalkan Renaldy yang begitu banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Perasaan yang begitu panik sekaligus khawatir Renaldy langsung pergi menuju kediaman rumahnya.
"Siapa yang berani mukul kamu, hmm" Tanya Renaldy kepada istrinya dengan nada begitu lembut. Kini dia sudah berada di rumahnya. Dan di sambut melihat istrinya yang terlihat ngenes.
"Kamu pernah mukul Papa aku?" Luziana bukan menjawab malah balik lempar pertanyaan. Membuat Renaldy mengira ini ulah mertuanya.
Kedua tangannya Renaldy mengepal erat. Ia pun bangkit dari kasur dengan emosi bergemuruh. Melihat reaksi suaminya yang berubah. Luziana menahan tangan suaminya yang hendak pergi.
"Mas kamu mau kemana?" Tanya Luziana dengan matanya yang mulai mengembun. Renaldy pun membungkuk badannya seraya memegang pipi istrinya yang terlihat sangat bengkak.
"Mas ingin balas, apa yang di lakukan Papa kamu terhadap mu" Ucap Renaldy dengan menahan emosi yang begitu membara dalam dirinya.
"Aku kan gak bilang, kalau ini salah Papa ku. Mending mas duduk di samping ku. Kita makan buah salad nya sama-sama" Ujar Luziana lembut seraya menepuk kasur di sampingnya. Renaldy tidak merespon apa-apa, dia tahu istrinya berusaha menyembunyikan masalahnya.
"Mas gak kangen dengan anak kita, sekarang dia dah besar di dalam perut aku. Lihat aja perut aku udah besar gini" Ucap Luziana seraya menarik tangan suaminya. Memengang perut buncitnya.
Renaldy pun menarik sudut bibirnya. "Kangen banget, malahan mas lebih kangen dengan ibunya gimana nih" Tanya Renaldy dengan senyuman menggoda. Urusan itu, nanti bakal dia selidiki sendiri. Siapa membuat istrinya pipinya bengkak begini.
Luziana tersenyum malu-malu. Dia paling gak bisa di gombalin oleh suaminya. Renaldy yang melihatnya, tersenyum tipis.
"Mana buah saladnya? Mau mas suapi" Tanya Renaldy langsung di sambut anggukan kepala yang antusias. Luziana pun menunjuk buah saladnya yang berada di atas nakas. Yang sudah di sediakan oleh pelayannya tadi.
"Mas gak makan juga?" Tanya Luziana yang melihat suaminya yang sedari tadi asik menyuapkan dirinya.
"Mas gausah, nanti takutnya gak cukup ini buat kamu" Balas Renaldy dengan senyumannya.
"Cukup kok, aku makan buahnya. Jadi mas makan juga ya" Pinta Luziana. Namun Renaldy menyanggah nya.
"Mana ada cukup! Kalau cukup gak mungkin perut kamu bisa sebesar ini" Seloroh Renaldy membuat Luziana cemberut. Yang mengira suaminya, mengatakan dirinya gendut. Dan pasti makanan yang hanya segitu gak cukup. Karena orang gendut makannya pasti banyak.
"Besar-besar gini, gara-gara kecebong mas sendiri. Dan juga hasil perkataan bohong mas juga. Katanya cuman pelan-pelan aja kok" Luziana menyindir suaminya yang nampak tertawa puas. Mengingat perkataannya yang telah membodohi istri polosnya.
Renaldy menaikkan alisnya sebelah. "Ouh iya, masa sih mas ada bilang begitu" Jawab Renaldy santai membuat Luziana melongo mendengarnya.
__ADS_1