
Lupanya seperti itu berlangsung sampai hari Jum'at. Luziana gak kunjung berani minta uang sama suaminya. Dan semua murid uangnya sudah kasih. Tinggal cuman dia sendiri belum kasih uangnya.
Luziana mengetuk pulpen di atas meja sembari memikir mencari jawaban matematika. Kini ia sedang belajar sekaligus menunggu sang suami pulang. Suara pintu pun terbuka terdengar.
Ceklek
Terlihat Renaldy dengan guratan wajah yang lelah, di wajahnya. Ia menatap istrinya yang sedang duduk di kursi belajar dengan pandangan sedikit menunduk menatap buku tulisnya.
Tanpa memedulikan, Pria itu melangkah menuju kamar mandi. Untuk membersihkan tubuhnya. Luziana sedikit bernafas lega, melihat suaminya telah masuk dalam kamar mandi.
"Ayoo Luziana kamu harus berani minta.." Gumamnya di dalam hati. Sebenarnya Luziana gak ingin ikut ke acara pesta ekskul, tapi di paksa oleh Meysa. Mau gak mau dia harus ikut, lagipun itu terkait dirinya anak OSIS, wajib harus pergi ke acara pesta ekskul.
Selang beberapa menit suaminya keluar dengan, wajah yang terlihat segar dari pada sebelumnya. Pria itu menuju ke kasur, namun tiba saja langkahnya terhenti.
"Mas ak-u.." Luziana mengigit bibir bawahnya. Sungguh dia tidak berani, hanya untuk minta uang doang.
Sementara Renaldy di buat penasaran dengan ucapan istrinya yang setengah doang.
"Kau kenapa?" Tanya Renaldy seraya menaikkan alisnya.
"Gak ada apa-apa, mas aku minta uang lima juta boleh. Buat acara ekskul untuk besok" Pinta Luziana berusaha untuk tidak gugup.
Renaldy tidak merespon, pria itu langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Harini cukup melelahkan baginya, apalagi besok dia ada meeting dengan orang luar negeri.
__ADS_1
Permintaan Luziana tidak di jawab, membuat hati perempuan itu jadi sedikit sedih. Gak mau terlarut dari kesedihan, Luziana pun merebahkan tubuhnya ke kasur. Gak perlu waktu yang lama ia pun terlelap.
Renaldy membuka kelopak matanya perlahan, dia menatap jam yang arah jarumnya sudah pukul empat subuh pagi. Ia pun bangun dan duduk sebentar untuk mengumpul nyawanya. Renaldy menoleh kesamping menatap istrinya yang damai dalam tidur, sampai perempuan itu tidur sambil ngeces. Kok bisa ya ada perempuan sebersih ini. Sebenarnya Renaldy sedikit risih karena pria itu tipe yang gak suka sama lingkungan kotor. Sangat gak suka, Meysa kadang yang kotor aja, ia kasih peringatan harus disiplin bersih. Tapi karena itu istrinya sendiri, ia coba tidak peduli amat selagi seprai itu di ganti hari sekali.
Nyawanya yang sudah terkumpul ia pun beranjak menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit ia keluar dengan pakaian baju koko. Ia berjalan sembari menggulung lengan baju Koko nya. Pria itu akan shalat di masjid dari pada di rumah.
Sebelum pergi ke masjid Renaldy melentakan sebuah uang berjumlah sepuluh juta. Di buku tulis Luziana yang di atas meja. Dia bukan tidak menjawab permintaan istrinya, tapi mungkin terlalu malas hanya mengeluarkan satu kata patah pun. Selesai itu ia melangkah menuju masjid.
Luziana yang mendengar suara adzan. Bangun lalu melakukan rutinitas sehari-hari seperti shalat subuh. Dan menyiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah.
"Fisika, seni-budaya" Luziana membaca roster yang terpampang di papan meja belajar suaminya. Tiba saja mata Luziana berhenti di buku matematika yang terlihat ada lembaran warna merah di dalam buku itu.
"Wah.." Mata Luziana berbinar menatap jumlah uang yang begitu banyak. Pasti ini dari suaminya, gak berlama-lama ia memasukan uang itu sebagian di dalam tas sekolahnya.
*
*
"Makasih ya uangnya" Ucap Luziana seraya tersenyum manisnya. Renaldy tersenyum tipis lalu mengaguk kepalanya mengiyakan. Membuat senyum Luziana makin mengembang.
Uangnya kini sudah ada tinggal di kasih sama bendahara aja.
Ruangan OSIS.
__ADS_1
Tok
Tok
"Silahkan masuk" Ucap Meysa yang berada di dalam ruangan OSIS sembari mengecek data-data murid.
"Ternyata Lo gue kira siapa?" Ucap Meysa biasa saja sekaligus menyindir. Luziana yang melihat yang berada di ruangan OSIS itu lupanya Meysa. Bukan Jihan, mengehela nafas panjang.
"Dah ada uangnya" Tanya Meysa menghentikan kegiatan mengecek data murid.
"Udah" Jawab Luziana singkat seraya mengasih uang yang nominal Lima juta itu.
"Oke uangnya pas, gak ada kurang gak ada lebih. Tapi bisa gak sih kasih uangnya sampai setahun aja. Karena di suruh kasih uangnya segera Lo malah kasih di sekarat mulai acaranya. Ya begitulah orang seperti Lo" Cibir Meysa dengan santai.
"Terus btw uangnya dari siapa Lo dapat? pasti dari kakak gue. Cih' mandiri dong rakyat jelata, gue aja bisa cari uang sendiri masa Lo enggak. Kalau gak tahu mau kerja mending Lo jual diri aja. Lumayan kan bisa biayain hidup Lo sendiri" Meysa tertawa remeh menatap Luziana yang seperti biasa saja.
"Gausah b*cot minimal kamu jadi cewek itu gausah sewot hidup orang" Cibir Luziana balik. Membuat Meysa terdiam sembari mengetatkan giginya.
"Ouh iya, jangan lupa acaranya pakai seragam ekskul masing-masing seperti tahun kemarin, terimakasih" Ucap Meysa seraya menahan emosinya.
"Oke," Jawab Luziana seraya meninggalkan ruangan itu.
"Kalau bukan gue ingin Lo datang acara ekskul, dah gue maki Lo dari tadi. Tapi gak papa, selamat menikmati acara ekskul spesial buat Lo Luziana" Meysa tersenyum miring menatap pintu ruangan OSIS.
__ADS_1