
"Hei Luziana, kenapa akhir-akhir ini Meysa yang lebih cepat kumpul tugas latihan. Biasanya Lo yang yang pertama cepat kumpul tugas" Ujar Lisa menatap Meysa yang kini sedang duduk santai di kursi kelas. Dan yang lainnya sibuk mengerjakan soal.
"Iya benar tuhh. Ayoloh.. ntar Lo di singkirkan oleh Meysa" Seloroh Anita sembari terkekeh.
"Habis itu Lo gak rangking satu lagi, dah turun jadi rangking dua" Celetuk Karina memanasi Luziana.
Mereka bertiga berdua pun tertawa.
"Apaan sih kalian" Ucap Luziana kesal dengan candaan temannya itu.
"Jeh marah kami cuman bilang cuy. Lihat sekarang Meysa lebih ambis. Nantik semester genap ni dia rangking satu gak Lo lagi. Lo gak takut gitu kalah saing" Ucap Lisa ada benarnya.
"Nantik rangking kalian, turun juga kan!" Ujar Luziana menatap tiga temannya.
"Jeh Rangking kami gak turun bro. Rangking Lo itu yang turun kalian dua kan saingan ketat. Selisih nilai kalian aja cuman satu. Kalau kami gak terlalu kali dapat rangking satu itu. Minimal dapat rangking dah bagus. Kalian berdua tu yang selalu berusaha dapat nomor yang kesatu. Nantik Meysa rangking satu Lo makin di injak-injak sama dia" Ujar Karina sembari melentakan pulpennya di atas meja kini ia sudah selesai membuat tugas latihan, tinggal kumpul sama guru aja.
"Kalau dia injak aku, aku injak balik" Balas Luziana enteng.
"Jeh-jeh.. sok kali Lo. Lihat muka dia aja, Lo aja dah takut. Ni malah sok-sokan mau injak dia. Jangan mimpi dek.." Ucap Lisa seraya tertawa.
"Yang ada Lo malah di keluarin dari sekolah ini" Celetuk Karina, mendengar perkataan Luziana.
"Yang sabar ya lun. Tinggal setengah tahun lagi, gak sampai pun sampai setengah tahun. Nantik kita dah lulus. Jadi kita gak jumpa lagi sama si Meysa itu" Ucap Anita seraya mengusap badan Luziana.
"Yang penting nilai Lo selalu bagus, biar dapat beasiswa full kuliah di luar negeri" Tambah Anita lagi.
"Tapi tetap aja kan. Beasiswanya dari keluarga Hervandez" Lisa gak habis pikir dengan kekayaan keluarga Meysa. Sampai mampu mem-beasiswa untuk seseorang yang gak mampu sampai kuliah. Tapi dengan syarat nilai tidak boleh turun. Sekolah gak boleh alpha lebih dari tiga kali. Begitu juga izin dan sakit tidak boleh lebih dari tujuh kali. Kalau lebih beasiswanya di cabut.
"Tapi kan kita gak mungkin kita satu kuliah lagi sama Meysa. Meysa ngejelekin Lo karena mungkin karena Lo rangking satu, jadi dia kalah saing. Terus Meysa pasti di kuliahkan oleh orangtuanya tempat kuliah yang paling elit" Ujar Anita.
"Iya benar juga" Karina mendaratkan bokongnya di tempat kursinya, ia baru siap meletakkan tugasnya di meja. Kini mereka menunggu jam istirahat.
...****...
Luziana memperhatikan rumah mewah milik orang tua suaminya yang terlihat sepi. Soalnya mereka semua pada sibuk. Sekarang Luziana tinggal sendiri dengan pelayan rumah.
Luziana yang baru tidur siang. Kini perutnya keroncongan, dan minta segera di isi. Perempuan itu pun menuju di dapur. Saat di dapur hanya ada bubur durian.
Luziana pun mengambil piring. Lalu menyantap bubur durian yang telah ia taruh dalam piring.
"Heh Non.." Sapa Bi Mirna melihat istri tuan muda Renaldy.
__ADS_1
"Iya.." Sahut Luziana canggung sembari tersenyum. Kenapa Bi Mirna merasa istri tuan mudanya ini kayak sombong. Bukan sombong tapi perempuan itu tidak cepat akrab dengan seseorang. Terus Bi Mirna jarang sekali melihat Luziana ke dapur.
"Lagi makan apa non" Tanya Bi Mirna berusaha akrab dengan istri tuan mudanya, Luziana. Di tanya kenapa pelayan sok-sokan mau akrab sama istri anak majikannya. Soalnya Bi Mirna dengan seluruh keluarga Hervandez akrab sama Meysa pun akrab. Bi Mirna sudah menjadi salah satu bagian anggota keluarga Hervandez. Wanita paruh baya itu sudah lama banget kerja disini. Dari waktu Renaldy kecil. Jadi gak heran kalau bi mirna sudah dianggap menjadi keluarga sendiri.
"Lagi makan bubur..." Balas Luziana yang di lihat tingkah lakunya canggung begitu.
Bi Mirna mengganggu kepalanya sebagai jawaban. Pelayan itu tidak berbicara beberapa patah kata lagi dengan Luziana. Karena Bi Mirna sudah melihat Luziana yang sudah mulai canggung sekali. Lihat aja dari cara makannya, perempuan itu.
Pelayan itu pun melakukan kegiatan. Pergi memotong sayuran untuk makan malam.
"Assalamualaikum.." Ucap Meysa yang baru pulang dari Lesnya. Ia pun merebahkan tubuhnya di sofa. Meysa merasa haus menuju ke dapur.
"Bi Mirna sendiri aja" Tanya Meysa seraya menuangkan air dingin ke gelas.
"Iya Non Meysa.." Sahut Bi Mirna dengan ramah.
"Rakyat jelata itu mana?" Lontar pertanyaan dari Meysa. Bi Mirna mendengarnya mengerutkan dahinya bingung.
"Istrinya kak Al" Sambung Meysa yang melihat kerutan di dahi Bi Mirna.
"Ouh... Mungkin dia di dalam kamar. Tapi tadi dia ada disini sekarang gak tau kemana?" Ucap BI Mirna apa adanya.
Meysa mengganggu kepalanya.
Bibi Mirna menanggapi ucapan Meysa dengan senyuman canggung. "Tadi dia makan bubur disini" Balas Bibi Mirna.
"Kan dah Meysa tebak. Dia disini cuman makan tidur. Cuman pengen hidup enak aja tinggal disini" Cibir Meysa menjelekkan Luziana.
"Gak boleh gitu Nona. Nantik di dengar tuan muda gimana?" Ucap Bibi Mirna seraya mengeleng kepalanya mendengar perkataan Meysa yang menjelekkan istri kakaknya.
"Biarin! biar kak Al tahu kelakuan istrinya gimana aja di rumah. Yang hanya cuman makan tidur doang" Meysa meneguk air dingin yang ia tuangkan di dalam gelas.
Pantesan Luziana terlihat canggung. Lupanya istrinya tuan muda Renaldy, tidak di anggap keberadaannya oleh adiknya. Perempuan itu kayak gak nyaman tinggal disini. Apalagi keluar kamar bertemu dengan Meysa.
Apalagi suaminya jarang ada dirumah. Sibuk menghandle perusahaan. Renaldy bukannya tidak peduli, pria itu jarang ada di rumah. Kalau Mommy bukan gak bersikap tegas sama anaknya. Dia sudah bilang kalau masalah di sekolah jangan bawa-bawa kerumah. Wanita itu sudah angkat tangan dengan permusuhan Luziana dan Meysa.
Lagi pun Mommy Liona percaya anaknya gak mungkin lakuin itu kalau tidak ada sebab. Dan diia berusaha mengoreksi informasi apa yang terjadi antara keduanya.
__ADS_1
Makan malam.
Makan malam ini hanya ada empat orang, satu lagi sibuk dengan pekerjaannya, yang menuntut untuk cepat segera selesai. Sebenarnya Papi Devan gak bisa ikut makan malam. Tapi pria itu berusaha untuk meluangkan makan malam bersama keluarga. Renaldy bukannya gak mau meluangkan waktu makan malam, karena memang pekerjaan Pria itu sangat banyak. Dia harus mengejar target, sampai bulan lima dia sudah tidak menghandle perusahaan lagi. Karena pria itu akan berangkat ke kota B. Untuk mengatur strategi. Dan perusahaan kembali di alihkan ke Papi Devan.
"Mommy kak Al mana" Tanya Meysa tidak melihat keberadaan Renaldy.
"Kakak kamu sibuk kerja" Ucap Mommy Liona apa adanya.
Meysa mengangguk kepalanya paham.
"Luziana makan.." Ucap Papi Devan ramah.
Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan. Tingkah laku Luziana tidak luput dari pandangan Bibi Mirna yang sedang menghidangkan makanan.
Kayaknya perempuan itu memang tidak nyaman. Bukan tidak nyaman, Luziana masih menganggap mereka orang asing. Begitu dengan Renaldy, dengan suaminya sendiri. Dia masih menganggap suaminya orang asing. Walaupun mereka terlihat dekat akhir ini. Tapi tetap saja Luziana tidak nyaman dengan keadaan ini. Perempuan itu masih menganggap pernikahan ini, nikah paksa bukan atas kemauan sendiri. Dan menganggap pernikahan seperti nikah kontrak. Akan berakhir.
Meysa yang ingin mencibir Luziana. Tapi tidak berani secara terang-terangan. Karena Mommy Liona sudah memperingatkannya. Walaupun sudah di kasih peringatan tegas. Bukan berarti Meysa tidak mengejek Luziana lagi. Tapi berubah taktik, dia tidak akan mengejek Luziana lagi di depan keluarganya lagi, tapi secara sembunyi-sembunyi. Sebelum perempuan itu keluar dari rumah. Permainan tidak akan selesai.
Sekarang dia akan bermain lembut terdahulu.
...----------------...
__ADS_1
Para readers jangan marah 🤣😔. author ingin membuat cerita ini lebih serius. Hamil di bumbui konflik gimana?