
"Kayaknya ada niat ingin membunuh Lo sya!" Ucap Langit dengan ekspresi serius. Membuat Meysa terdiam seribu bahasa.
"Gue cuman becanda hey, gausah serius amat" Langit tergelak tertawa melihat ekspresi ketakutan Meysa.
"Mana mungkin orang berani bunuh Lo, yang ada orang niatnya yang ingin bunuh Lo itu, di bunuh ya kan. Dengar nama keluarga Hervandez aja dah ketar-ketir apalagi ketemu orangnya kan" Langit tersenyum tipis.
Meysa memutar bola matanya malas. Mendengar candaan sepupunya itu.
"Gue serius anjir, ada tikus di tusuk pisau di loker gue" Ucap Meysa kesal.
"Ouh yaudah kita lihat apa benar loker Lo, ada tikus di tusuk pisau atau tidak" Tukas langit. Meysa pun mengangguk menyetujui. Saat mereka di sampai di loker Meysa, tidak ada pun, tikus di tusuk pisau. Dan tidak ada bekas darah di loker cewek itu. Kemudian untuk melebih memastikan mereka melihat di cctv. Namun di cctv itu lagi dalam perbaikan.
"Kayaknya Lo halusinasi dah sya?" Ucap Langit.
"Gue mana mungkin halusinasi, jelas-jelas gue ada lihat" Balas Meysa jutek. Masa tiba-tiba saja, tikus di tusuk pisau itu tidak ada lagi di lokernya. Padahal sebelumnya dia ada lihat. Anehkan?
"Ya mungkin aja Lo karena kecapean, Lo kan dah ikut Les bimbel, terus Les musik lagi. Kayak gimana gak capek coba tubuh Lo itu" Ujar langit dengan ekspresi datar.
"Lo perhatian sama gue?" Meysa menaikkan alisnya.
"Enggak.."
Tiba-tiba Luziana terbangun di tengah malam. Karena merasa lapar, sebab dia belum makan malam. Gara melakukan perintah Mommy Liona. Membuatnya sangat kecapean dan sampai melewatkan makan malam.
"Mas.." Luziana membangun Renaldy yang tidur berada di sampingnya sembari menggoyang kan tubuh suaminya itu. Namun tidak ada sahutan dari Pria itu.
"Mas.." Ucap Luziana dengan suara meninggi. Renaldy yang sedang tertidur merasa terusik.
"Hmm apa.." Sahut Renaldy dengan mata yang masih terpejam.
"Saya lapar.. masakan nasi goreng boleh" Pinta Luziana dengan memelas.
"Besok aja saya ngantuk.." Balas Renaldy dengan suara parau.
"Gak mau.. akunya dah lapar banget. Tadi belum makan malam, dari tadi siang dah belum makan. Kalau nunggu besok kelamaan" Gara lapar membuat Luziana tidak bisa tidur. Biasanya Luziana walaupun gak makan malam, bisa tidur. Tapi ntah kenapa sekarang ia sulit untuk tidur kalau lagi lapar. Kayak ada kehidupan lain dalam diri perempuan itu, yang minta di isi juga perutnya.
Renaldy dengan masih sangat ngantuk. Langsung bangun, lalu mengusap wajahnya. Dia harus banyak bersabar ini adalah cobaan.
Pria itu pun beranjak dari kasur menuju ke dapur. Begitu juga Luziana. Saat di dapur Renaldy pun memulai memotong bahannya dulu. Kemudian mengeluarkan udang di dalam kulkas dan telur. Setelah beberapa menit, nasi goreng pun siap dimakan.
__ADS_1
Renaldy pun menghidangkan nasi goreng di atas meja makan. Luziana menatap kagum dengan olahan nasi goreng yang di masak suaminya. Dari kita lihat aja kayaknya sudah enak.
Luziana pun menyuapkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya. Matanya langsung berbinar-binar.
"Hmm enak banget nasi gorengnya" Puji Luziana dengan mulutnya masih terisi dengan nasi goreng. Ia pun makan dengan lahap.
"Gausah cepat-cepat makannya, saya gak bakal ambil kok" Tegur Renaldy yang melihat istrinya makannya terlalu buru-buru. Luziana menanggapinya hanya tersenyum kikuk.
"Kalau mau nambah masih ada itu di panci" Ucap Renaldy datar.
"Serius masih ada saya pengen nambah lagi?" Tanya Luziana dengan pipi mengembung. Padahal Renaldy hanya asal bilang aja, tetapi ternyata nya istrinya mau nambah lagi.
"Makan jangan sambil ngomong, kebiasaan buruk dari mana kau belajar yang seperti itu" Ujar Renaldy datar. Luziana menanggapi hanya menyengir lebar.
"Kamu gak makan padahal nasi gorengnya enak loh?" Kadang-kadang Luziana memangil suaminya dengan embel-embel mas atau kamu.
"Bagi resepnya dong, bisa buat nasi goreng seenak ini" Pinta Luziana, perempuan kira suaminya tidak pandai masak. Ternyata di luar dugaan. Pria itu sangat pandai masak, dan mengolah makanan. Jangan sampai kira, udah kerja tentara pangkatnya jenderal, bagus juga menjadi seorang pemimpin perusahaan. Terus pandai memasak. Dahlah, jenderal, CEO, chef, kalau bisa borong semua profesi.
Renaldy tetap tidak merespon.
"Kayaknya ngomong sedikit aja susah ya?" Tanya Luziana seraya menaikkan alisnya. Biasa kulkas tujuh belas pintu.
Renaldy mengehela nafas panjang.
"Resepnya ya seperti nasi goreng biasa." Sahut Renaldy datar.
"Ouh.. tapi kok bisa enak ya.." Ucap Luziana seraya tersenyum, hingga menampilkan lesung pipinya. Renaldy dapat melihat lesung pipi istrinya. Lumayan cantik sih ni perempuan.
"Kamu bisa masak apa aja" Semuringah Luziana. Jangan kira, Luziana cari topik, hanya ingin romantis itu salah. Karena dia takut, soalnya rumah sebesar bak istana ini gelap, cuman beberapa ruang saja di hidupkan lampunya. Jadi biar gak takut, Luziana ngomong sama suaminya untuk menghilangkan rasa takutnya.
__ADS_1
Renaldy mengehela nafas berat. "Gini ya justru saya nanya sama kau. Kamu pandai masak gak?.." Tanya Renaldy.
"Ya pandai lah... gak mungkin kan aku nikah gak pandai masak" Jawab Luziana santai.
Renaldy meredam emosinya. "Terus kamu kenapa suruh saya masak, sedangkan kamu bisa memasak untuk makan kamu sendiri" Tanya Renaldy dengan tenang.
"Emang mas gak suka, saya suruh masak untuk saya" Tanyak balik Luziana.
"Iya! saya tidak suka" Sebenarnya Renaldy mau masak untuk istrinya. Tapi bukan tengah malam gini, Luziana bangunin, dia baru pulang kerja, dah sangat capek dengan urusan perusahaan yang tidak ada habis-habisnya. Dan baru satu menit tidur tiba-tiba di bangunin sama istrinya. Namanya juga manusia ya pasti marahlah. Renaldy memasak untuk istrinya dia kirain istrinya tidak pandai masak. Makanya dia masakin makanan untuk istrinya. Ternyata istrinya pandai masak.
Dan Luziana juga capek, melakukan perintah Mommynya suaminya. Karena kelelahan melakukan perintah itulah, mengakibatkan Luziana melewati makan malam. Kalau dah makan malam, mana ada dia harus bangunin suaminya yang dingin itu. Biar deal Mommy perintah Luziana, Luziana perintah anaknya. Pas-kan.
"Kau tinggal masak aja, bahan sudah tersedia di rumah ini" Sambung Renaldy sembari meminum teh untuk meredam emosinya. Sedangkan sandwich nya sudah habis.
"Yaudah nantik aku bisa masak sendiri kok" Jawaban jauh perkiraan, minimal minta maaf. Ini jawaban yang gak enak di dengar.
Renaldy menghembuskan nafas berat. Pria itu baru sadar, kalau dia menikah sama bocah SMA. Meskipun Luziana sudah di perlakukan semena, oleh keluarga suaminya, dia tidak ada niat kabur dari rumah, ada niat kaburnya tapi kaburnya balik kerumah orang tuanya. Kan tolol, kalau kabur pun ia harus tinggal di mana? gak mungkin kan Luziana harus tinggal di kolong jembatan. Apalagi dia masih kelas sebelas SMA, gimana mau cari pekerjaan ijazah aja gak ada. Lagipun punya ijazah SMA aja masih susah mencari pekerjaan. Daripada dia nanti jadi gembel, mending dia cari aman. Untuk sementara dia tinggal di rumah suaminya. Misalnya ada uang ia bakal kabur. Luziana ada seorang anak perempuan pertama yang masih bergantung.
Berlama diam. Akhirnya Luziana membuka suara.
"Boleh buatin susu gak?" Pinta Luziana yang nasi gorengnya sudah mau hampir habis.
"Buat sendiri pandai kan? kalau malas buat itu air bak mandi ada" Ujar Renaldy tenang, kemudian dia beranjak dari kursi menuju ke kamarnya. Karena dia sudah sangat ngantuk. Dan besok ada meeting pagi-pagi lagi.
"Iiih... kalau bukan suami gue. Gue injak-injak Lo dasar bangkeeee. Dah rumah segede bak hantu lagi" Luziana mengusap tengkuknya yang merasa merinding. Ia pun cepat-cepat menaruh piring bekas nasi goreng di tempat cuci piring.
Melihat di panci masih ada nasi goreng. Luziana melanjutkan makannya, dengan panci sebagai piring, spatula sebagai sendok. Kasian kan nasi goreng seenak ini di buang.
...----------------...
Rekomendasi mau kerjain Renaldy kayak gimana ni? komentar dong😍
__ADS_1