
"Gimana kerja kelompok tentang biologinya udah siap?" Tanya Karina kepada Luziana yang sedang meletakan tasnya di atas kursi.
"Udah," Balas Luziana sembari duduk di kursi.
"Heih, Karina tau gak sih. Aku liat penampakan di toilet cafe. Sumpah aku takut banget tau, terus pintunya gak bisa di buka. Dan juga mati lampu di cafe sialan itu" Ujar Luziana sambil membayangkan kejadian yang semalam. Yang begitu menakutkan baginya.
Karina yang mendengar cerita Luziana menaikkan alisnya. "Kok bisa, pintu toiletnya gak bisa di buka"
Luziana mengedikkan bahunya. "Gak tau, katanya macet pintunya. Terus di dalamnya ada hantu, hantunya ngeri pula lagi, ingin lupain kejadian semalam yang mengerikan itu rasanya susah banget" Luziana yang berusaha melupakan kejadian semalam tetap saja tidak bisa, dan terus terngiang-ngiang di dalam otaknya.
"Di Cafe mana kalian pergi kerja kelompoknya?" Tanya Karina penasaran.
"Cafe kolinor" Jawab Luziana.
"Pantesan, cafe kolor toh!" Celetuk Karina. Dia kira cafe mewah pergi, ternyata cafe biasa aja. Karina berpikir kalau mereka pergi itu pergi ke cafe mahal. Soalnya satu anggota mereka itu ada anak paling kaya, di pastikan mereka akan pergi ke cafe paling mahal. Ternyata cafe yang biasa aja, gak heran juga sih tempat cafe itu ada penampakannya. Karena kan di sampingnya rawa-rawa.
"Cafe kolor?" Luziana mengeryitkan dahinya heran. Dengan celetukan Karina menyebut cafe kolor, padahal jelas-jelas dia sebut cafe kolinor.
"Ya cafe kolor, nama cafenya kolinor kan?. Di singkat jadi kolor. Di situ angker oi, ngapain kalian pergi ke cafe jauh pula lagi dekat pelosok-pelosok desa." Kenapa Karina tahu bahwa cafe itu angker dia tau dari sosmed. Mengapa cafe kolinor, di singkat jadi cafe kolor. Banyak di sosmed bilang cafe kolinor itu kurang bagus, jadi gak heran sih mereka bisa ke kunci di toilet terus nampak penampakan.
"Kerja kelompok kan?" Balas Luziana kepada Karina yang menanyakan ngapain mereka pergi ke cafe.
"Ouh iyaaa" Karina pun menyengir bodoh.
Kalau di pikir kenapa Vian memilih cafe itu karena harga makanannya murah, jadi pas untuk keadaan uang Luziana. Kalau cowok itu memilih cafe mahal yang ada nantik urusannya bakal panjang. Karena apa? pasti Meysa bakal merendahkan Luziana.
Bel masuk pun berbunyi.
Guru terkait pelajaran hari pun masuk ke kelas. Dan memulai mata pelajarannya.
...***...
__ADS_1
Pria yang bertubuh kekar, tidak henti-hentinya berkutat dengan perkerjaannya. Padahal dirinya sedang berada di kamar, bukan di kantor. Renaldy yang merasa pusing sedikit memijit pelipisnya pelan.
Luziana berjalan mendekati suaminya dengan tangannya membawa nampan. Di atas nampan itu ada gelas berisi teh. Ia pun melentakan gelas berisi teh di atas meja.
"Silahkan di minum tehnya." Renaldy melirik sekilas istrinya lalu kembali fokus pada berkas-berkasnya. Pria itu tampak acuh seperti tidak menghiraukan keberadaan istrinya.
Luziana pun duduk di sofa yang tak jauh dari suaminya. Perempuan ada hal yang penting yang ia ingin bicarakan pada pria itu yang berstatus suaminya.
Hubungan mereka sebenarnya baik-baik saja. Tidak ada kekerasan di rumah tangga yang mereka bina. Cuman Renaldy seperti menjaga jarak pada istrinya, kayak membangun tembok di antara hubungan mereka.
Lalu Luziana hanya coba mengikuti alurnya saja. Dia gak tau harus berbuat apa. Di dalam rumah tangga mereka.
Status aja suami istri, padahal kenyataannya hubungan mereka layaknya bukan pasangan suami istri. Interaksi antara mereka sangatlah kurang. Renaldy maupun Luziana tidak pernah namanya ngomong panjang lebar. Atau menceritakan apa saja kegiatan mereka lakukan. Memang tidak pernah.
Luziana menautkan jarinya. Perempuan begitu canggung pada Pria yang sudah sah menjadi suaminya.
"Hm kak Al," Panggil Luziana pada suaminya. Kenapa Luziana memangil suaminya dengan sebutan kak? karena perempuan itu tidak tahu harus memanggil nama suaminya dengan sebutan apa? gak mungkin panggil sayang dengan status hubungan mereka yang dingin.
Membuat Luziana semakin canggung. "Hmm saya minta uang boleh sama kamu. Te-ang nan-tik saya ganti kok" Pintanya dengan terbata-bata. Luziana meminta uang pada suaminya karena dirinya ingin membeli kebutuhan yang sangat diperlukan. Terus Renaldy selama ini tidak pernah kasih uang padanya. Sampai di sekolah dia tidak ada jajan apa-apa.
Renaldy bukannya gak kasih uang pada istrinya, Pria itu lupa kalau dirinya harus menafkahi istrinya. Karena saking dingin hubungan mereka.
Pria itu melirik sekilas istrinya. Lalu beranjak dari sofa nya menuju lemarinya.
"Kalau gak punya uang gak papa sih gausah di kasih, lagipun gak perlu-perlu amat." Seorang CEO seperti Renaldy yang sekarang sedang terkenal dalam dunia bisnisnya. Gak punya uang, itu gak mungkin pria itu tidak punya uang.
Renaldy pun mengambil sebuah kartu black card. "Gausah kau ganti! ini memang sudah tugas saya menafkahi kau" Tutur Renaldy dengan formal seraya mengasih kartu black card itu pada istrinya.
Luziana tersenyum lebar hingga menampakkan lesung pipi diwajahnya. "Makas-" Seketika senyuman Luziana seketika luntur melihat suaminya mengasih sebuah kartu bukan uang.
Dia mengerutkan dahinya bingung. Perempuan itu minta uang bukan minta sebuah kartu. Luziana belum tahu kalau dengan kartu itu kita bisa beli apa-apa pun dengan membayarnya lewat dari kartu black card tersebut. Dan hanya orang yang tajir melintir mempunyai kartu black card tersebut.
__ADS_1
Meysa pun yang mengakui dirinya sangat kaya tidak punya kartu black card tersebut. Karena apa Meysa tidak punya padahal dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri, karena orang tuanya tidak mengizinkan putri bungsunya memilki kartu black card nantik takut putrinya itu boros dan foya-foya dengan hanya kartu black card tersebut.
Jadi lebih baik cewek itu kalau pengen uang hanya bisa di transfer oleh orang tuanya melalui ATM.
Kemudian bisa dibilang Luziana sangat beruntung bisa mendapatkan kartu black card tersebut. Dari suaminya. Meysa yang adiknya sendiri juga gak dikasih sama Pria itu.
Dan kartu black card punya Pria itu ada beberapa. Kalau di hitung jumlah keuangannya lebih banyak daripada orang tuanya sendiri.
Tapi semua keuangan itu dia sedekah kan itu orang yang kurang mampu. Dan untuk-untuk anak panti.
Luziana hanya terpaku menatap kartu black card itu. Pria itu melihat istrinya hanya diam dia segera membereskan berkasnya. Lalu keluar dari kamarnya.
Luziana yang hendak ingin bertanya tentang kartu pada suaminya. Tapi suaminya itu sudah pergi.
Luziana mengehela nafas panjang. "Gak papa deh mungkin dia tidak punya uang" Monolog Luziana mungkin suaminya itu tidak punya uang, dan mengasih sebuah kartu yang tidak tau kegunaannya apa.
Perempuan itu menyimpan di nakas. Siapa tahu black card itu tiba-tiba
...----------------...
Pengen up doubel tapi malas🥺 tunggu update besok aja ya 🤗♥️
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA
LIKE
VOTE
HADIAH
KOMENTAR
__ADS_1
RATING LIMA NYA JANGAN LUPA 😍